Home | Tentang Kami | Kesaksian | Acara rohani | Link
 
Swara Surgawi
Video Streaming
Gratis CD Sabda
Alkitab Elektronik
Hollypower.net
E-mail Gratis
 
eXTReMe Tracker
  DERAP REMAJA 2011

Derap Remaja Edisi 30.
Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :

1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Harga per eksemplar Rp. 25.000,-
 

Cara penggunaan Derap Remaja

Anatomi Materi

Oktober 2011


1. Lapar dan Haus akan Kebenaran
Matius 5:6

2. Murah Hati
Matius 5:7

3. Suci Hati
Matius 5:8

4. Pembawa Damai
Matius 5:9

5. Dianiaya karena Kebenaran
Matius 5:10-12
 

Dianiaya Karena Kebenaran


 Bacaan: Matius 5:10-12
Bahan yang diperlukan: Gambar beberapa tokoh yang mengalami penganiayaan karena memperjuangkan kebenaran
(cth. Oscar Romero, Aung San Suu Kyi, Gandhi, Munir,
Martin Luther King Jr, dsb.),
alat-alat untuk menyatakan komitmen (mis. kertas & alat tulis, was/malam, atau benda lain untuk membuat simbol


 
Dalam masyarakat yang sudah sangat kapitalistik ini, kebahagiaan sering diukur hanya dengan materi atau uang. Prinsip-prinsip hidup yang mengandung kebenaran (misalnya keadilan hukum, demokrasi, keadilan ekonomi dan sosial, kesetaraan) seringkali tersingkir, sehingga orang-orang yang memperjuangkannya beresiko mengalami penganiayaan. Melalui pelajaran ini remaja dapat menjelaskan arti "dianiaya (dediogmenoi) oleh sebab kebenaran (dikaiosune)" dan belajar untuk berani memperjuangkan kebenaran.


Penjelasan Teks
Bagian ini merupakan sabda bahagia kedelapan atau terakhir dari seri "berbahagialah." Injil Matius sering memakai kata "kebenaran," yaitu pada 5:6,10,45; 6:1,33; 11:19; 21:32. Bahasa Yunaninya dikaiosune, yang berasal dari kata dike yang berarti benar dan adil, atau keadilan. Kata "kebenaran" tak terpisahkan dari keadilan. Yang menjadi ukuran kebenaran yang berkeadilan adalah yang mendatangkan damai sejahtera bagi semua orang dan seluruh alam semesta, seperti yang diberitakan Yesus dengan Kerajaan Allah-Nya.

Dunia yang mengutamakan kekuasaan dan materi di atas keadilan dan kebenaran dapat menyebabkan orang yang memperjuangkan keadilan dan kebenaran itu menderita penganiayaan. Sebab ada pihak-pihak (yaitu para pelaku pelanggaran kebenaran dan keadilan) yang merasa terancam, dan karenanya mereka akan 'membela diri' dengan menganiaya orang yang memperjuangkan kebenaran itu. Kata dianiaya (dediogmenoi) berasal dari kata dioko yang berarti dengan cara apapun melecehkan, menyiksa, membuat orang menderita.

Gereja perdana mengalami penganiayaan yang hebat, karena orang-orang Kristen tidak mau menyembah kaisar Roma. Mereka menempatkan Tuhan di atas kaisar. Keyakinan ini tidak dapat diterima oleh penguasa Romawi. Di tengah masyarakat non Kristen mereka juga dituduh dan difitnah sebagai orang-orang kanibal (karena dalam Perjamuan Kudus mereka makan tubuh dan minum darah); orang-orang amoral (karena pertemuan mereka disebut pesta kasih/cinta); pembuat onar/huru hara; pemecah belah keluarga (karena ada konflik ketika salah satu anggota keluarga yang menjadi Kristen) dsb. Maka orang-orang Kristen dianiaya dengan berbagai cara, seperti ditangkap dan dipenjara, disiksa, diadu dengan binatang buas, dibakar hidup-hidup dsb.

Yesus mengajarkan bahwa orang yang dianiaya karena memperjuangkan kebenaran disebut berbahagia, karena merekalah yang empunya kerajaan sorga. Kerajaan sorga (Matius biasa memakai istilah kerajaan sorga, bukan kerajaan Allah seperti Markus dan Lukas) adalah pemerintahan Allah yang membawa kebenaran dan keadilan. Maka setiap orang yang memperjuangkan kebenaran dan keadilan adalah orang yang memiliki kerajaan sorga.

Yesus yang mengajarkan dan melakukan kebenaran itu pun harus menderita penganiayaan dan kematian di kayu salib. Itulah sebabnya la mengingatkan semua pengikut-Nya untuk siap menderita penganiayaan karena Dia, karena kebenaran yang mereka perjuangkan.
Yesus juga memberitakan penghiburan dan pengharapan kepada orang yang dianiaya karena kebenaran, yaitu mereka akan mendapat upah di sorga. Apa yang dialami oleh murid-murid Yesus juga telah dialami nabi-nabi Perjanjian Lama yang juga mengalami penganiayaan. Maka mereka yang dianiaya dapat bergembira dan berbahagia.

Pengenaan
Melakukan dan memperjuangkan kebenaran dan keadilan seringkali harus melawan arus. Akibatnya mungkin kita dicela, disingkirkan, dikucilkan. Ini merupakan sebuah penganiayaan secara tidak langsung. Bandingkan dengan orang jujur yang hidup di tengah masyarakat yang suka KKN seperti di Indonesia. Seringkali dengan alasan tidak siap diolok-olok dan dikucilkan, banyak orang memilih untuk ikut KKN. Orang yang bertahan berlaku jujur di lingkungan yang sarat KKN adalah contoh orang yang melakukan kebenaran. Sedangkan orang yang berani mengungkapkan KKN yang dia ketahui walaupun resikonya ia sendiri akan dipecat dari kerja, adalah contoh orang yang berani menyatakan kebenaran itu. Lebih jauh lagi, orang yang berani bertindak tegas atas para pelaku KKN adalah contoh orang yang bukan hanya melakukan dan menyatakan, melainkan juga memberlakukan kebenaran. Dalam dunia remaja seringkali ada tekanan dari teman-teman sebaya untuk melakukan tindakan yang tidak benar dan tidak adil. Misalnya bullying, keroyokan, tawuran, membolos, mencontek, mendaur ulang karya tulis orang lain, berbohong dsb. Jika seorang remaja tidak mau melakukannya, ia dianggap tidak kompak, penakut, dsb. Inilah tantangan bagi remaja, beranikah mereka menyatakan dan melakukan kebenaran dan keadilan itu dalam hidup sehari-hari.

Langkah-langkah Penyampaian
1. Lakukan Kegiatan diskusi kelompok seperti dijelaskan di bawah ini. Bisa juga memakai bahan dari llustrasi di bawah ini (tentang Oscar Romero).
2. Ajak remaja membaca Matius 5:10-12. jelaskan arti kata 'dianiaya oleh karena kebenaran' dan mengapa Yesus mengajarkannya sebagai bagian dari 'berbahagialah' (lihat PenjelasanTeks).
3. Alihkan perhatian remaja ke dalam hidup sehari-hari, bicarakan apa yang terjadi di lingkungan sekitar dan dalam dunia remaja sendiri (lihat bagian Pe¬ngenaan).
4. Ajak remaja berkomitmen untuk berani menyatakan, memperjuangkan dan mewujudkan kebenaran dan keadilan. Komitmen ini dapat ditulis, diwujudkan dalam simbol, atau diucapkan.

Kegiatan
Bagilah remaja dalam kelompok @ 5-6 orang, lalu minta mereka menyebutkan nama tokoh (bisa pahlawan, martir atau orang yang masih hidup) yang terkenal rela berjuang dan menanggung resiko yang berat, bahkan harus mengorbankan diri sendiri untuk membela kebenaran yang mereka yakini. Untuk membantu memancing diskusi, ilustrasi di bawah ini (tentang Oscar Romero) dapat dipakai. Beberapa tokoh yang mungkin disebut adalah Munir (pejuang Hak Azasi Manusia di Indonesia yang mati dibunuh dalam pesawat), Aung San Suu Kyi (pejuang demokrasi Myanmar yang dikenai tahanan rumah lebih dari 20 tahun), Mahatma Gandhi (pejuang kemerdekaan India dan pluralisme agama nirkekerasan yang mati ditembak), Martin Luther King Jr. (pejuang kesamaan hak kulit hitam terhadap kulit putih di Amerika Serikat yang mati ditembak). Diskusikan: apa yang menyebabkan mereka rela menanggung resiko yang berat itu?

Ilustrasi
Uskup Agung Oscar Romero dari El Salvador
Oscar Romero semula dikenal sebagai seorang penakut yang lebih berpihak kepada pemerintah militer El Salvador, sampai dia melihat dengan mata kepalanya sendiri kawannya yang tidak bersalah ditembak mati bersama seorang remaja yang tidak tahu apa-apa, dalam perjalanan merayakan misa (kebaktian) Minggu. Sejak itu dia menyadari betapa kejamnya pemerintah militer, dan betapa lemahnya posisi rakyat jelata. Bahkan rakyat tak mampu mengungkapkan fakta tentang pembunuhan atau penculikan yang dilakukan militer atas keluarga mereka.

Sejak saat itulah Romero yang baru dilantik menjadi uskup agung bertekad menyuarakan kebenaran dan keadilan yang dirampas dari rakyat El Salvador, sekalipun ia harus mempertaruhkan jabatan, bahkan nyawanya sendiri. Sang uskup akhirnya mati ditembak tentara pada tanggal 24 Maret 1980, ketika sedang memimpin misa di sebuah kapel kecil di lingkungan sebuah rumah sakit. Penggalan khotbah terakhir yang ia sampaikan pada hari dia ditembak mati menjadi terkenal: "Aku tidak percaya akan kematian tanpa kebangkitan: kalau mereka membunuhku, aku akan bangkit lagi dalam rakyat Salvador."

(disarikan dari kisah Uskup Agung Romero yang dimuat di Majalah Basis, Maret-April 2002).

A R S I P



 
Sahabat Surgawi, Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright © 1999
Tim Sahabat Surgawi