 |
 |
|
|
 |
 |
|
|
|
|
|
 |
|
Derap Remaja Edisi 30.
Pembayaran dapat dilakukan
dengan 2 cara :
1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053,
an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan
pemberitahuan pengiriman
bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan
cara memakai blangko yang
dilampirkan dalam surat
pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho,
Samirono Baru 71 Kompleks
LPPS Yogyakarta 55281
Alamat Sekretariat &
Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks
LPPS Yogyakarta 55281
Harga per eksemplar Rp.
25.000,-
|
|
|
|
|
November 2011 |
1. Imanku dan Iman
Sesamaku
Ezra 1:1-11
2. Iman dan Tradisi
1 Korintus 10:23-33
3. Iman dan Iptek
Amsal 2:1-9
4. Iman dan Modernitas
Kejadian 11:1-9
|
Iman
dan Modernitas |
Bacaan: Kejadian
11:1-9
Bahan yang diperlukan:
-
|
|
Sosiolog bernama Sarjono
Soekamto mendefiniskan
kehidupan modern dengan
kehidupan berkemajuan yang
rasional dalam segala bidang
dan meningkatnya taraf
penghidupan masyarakat
secara menyeluruh dan merata
(Pengantar Sosiologi,
Rajawali press, 2006).
Selain itu, modern dimaknai
juga dengan kehidupan yang
berperikemanusiaan tinggi,
beradab. Syarat-syarat
sebuah kehidupan disebut
modern bila memiliki aspek:
Cara berpikir yang ilmiah
yang berlembaga dalam kelas
penguasa ataupun masyarakat;
sistem administrasi negara
yang baik, yang benar-benar
mewujudkan birokrasi; sistem
pengumpulan data yang baik
dan teratur yang terpusat
pada suatu lembaga atau
badan tertentu; terciptanya
iklim yang menyenangkan dan
masyarakat terhadap
modernisasi dengan cara
penggunaan alat-alat
komunikasi massa; tingkat
organisasi yang tinggi yang
di satu pihak berarti
disiplin, sedangkan di lain
pihak berarti pengurangan
kemerdekaan serta
sentralisasi wewenang dalam
pelaksanaan perencanaan
sosial. Bila dilihat sekilas,
definisi modern itu tampak
bagus, tetapi ada satu hal
yang dilupakan yaitu
pendefinisian itu sangat
teknis dan hanya bertumpu
pada rasio manusia. Bahaya
dari penekanan rasio adalah
keserakahan, ketamakan,
kehendak berkuasa dalam diri
manusia. Melalui pelajaran
ini, remaja diajak untuk
melihat bahwa antara iman
dan modernitas bisa saling
melengkapi. Modernitas
melengkapi hidup beriman dan
sebaliknya iman melengkapi
kehidupan modern agar tidak
menjadi kehidupan yang
serakah, tamak, kehendak
berkuasa. Dengan dialog
antara iman dan modernitas
diharapkan muncul gerenasi
yang cerdas sekaligus hidup
dalam kasih kepada Allah dan
sesama. |
Penjelasan Teks
Kisah dalam Kejadian
11:1-9 sering disebut
sebagai kisah eitiologi,
atau kisah tentang
asal-usul terjadinya
tempat tertentu. Dalam
hal ini kisah terjadinya
nama kota Babel. Kisah
itu diawali dengan
pernyataan bahwa seluruh
bumi satu bahasa dan
logatnya serta hidup
sebagai bangsa yang
nomaden (berpindah-pindah).
Setelah mereka berangkat
ke timur dan menjumpai
sebuah tempat bernama
Sinear, mereka mencoba
menetap di sana. Rupanya
muncul pemikiran baru.
Merubah kehidupan yang
nomaden menjadi
kehidupan yang menetap.
Setelah melalui
musyawarah, diambillah
keputusan untuk
mendirikan kota dengan
pembuatan menara.
Pembuatan menara diawali
dengan membuat batu bata
serta perekat yang
disebut ter gala-gala.
Dengan bekerjasama
dibuatlah menara itu dan
ditetapkanlah rencana
besar (master plan)
dengan maksud agar
manusia tidak terserak
ke seluruh bumi. Mereka
cukup menempati sebuah
tempat dan disebut
dengan sentralisasi.
Bagi mereka, kemampuan
mendirikan menara sesuai
rencana itu akan membuat
diri diakui oleh orang
lain. Pengakuan oleh
orang lain membuat diri
menjadi bangga.
Melihat rencana besar
manusia itu, Tuhan
berfirman:"Mereka ini
satu bangsa dengan satu
bahasa untuk semua, ini
baru permulaan usaha
mereka. Mulai sekarang
semua yang dirancangkan
manusia tidak akan
berhasil, baiklah kita
turun dan mengacaukan di
sana bahasa-bahasa
mereka, sehingga mereka
tidak mengerti lagi
bahasa masing-masing".
Pemikiran manusia dengan
rasionya telah membuat
manusia lupa pada mandat
yang diberikan Tuhan
saat penciptaan manusia
yaitu: "Penuhilah
bumi!". Pemikiran
untuk menjadi masyarakat
yang terstruktur,
teradministrasi dengan
baik, teratur, terpusat
dan terlembaga menjadi
bumerang atau senjata
yang menyerang balik
kehidupan manusia.
Melihat semua itu, Tuhan
tidak berkenan dan Ia
menyerakkan manusia ke
berbagai belahan bumi
dengan bahasa-bahasa
yang berlainan. Itulah
sebabnya kota itu
disebut dengan Babel,
karena dari sana Tuhan
menyerakkan manusia ke
seluruh bumi, menjadikan
manusia tersebar,
memenuhi bumi.
Penyebaran manusia ke
seluruh bumi membuat
bumi dipenuhi
keunikan-keunikan yang
memperkaya hidup manusia.
Pengenaan
Modernitas selalu
menekankan rasio sebagai
titik pijak untuk
bertindak. Rasio adalah
akal budi atau sering
dipahami dengan kegiatan
manusia berpikir untuk
memahami dan mencari
pemahaman terhadap
segala sesuatu. Dengan
rasio yang kuat, manusia
dapat menciptakan
kemajuan teknologi untuk
menjadikan kehidupan
maju. Rasio memiliki
peran yang penting bagi
kehidupan manusia karena
melalui rasio manusia
mencari pemahaman dan
pemaknaan hidup. Dengan
rasio pula, manusia
dapat menciptakan
kehidupan yang merdeka,
tidak terikat pada
apapun, termasuk pada
Tuhan. Remaja perlu
memahami bahwa rasio
juga memiliki kelemahan.
Kelemahan rasio terkait
dengan kelemahan manusia
itu sendiri. Tidak ada
manusia yang sempurna,
karena itu tidak semua
rasio manusia sempurna
juga. Terkait dengan
iman dan modernitas,
remaja diajak untuk
beriman dengan
memanfaatkan rasionya
agar kehidupan makin
baik, tetapi remaja juga
diajak memperhatikan
peran Tuhan dalam
hidupnya. Rasio yang
benar terkait dengan ide
yang benar dan ide yang
benar itu bersumber dari
pencipta yang benar,
yaitu Tuhan.
Langkah-langkah
Penyampaian
1. Tanyakan pada remaja:
menurutmu apakah modern
itu? (berilah kesempatan
pada remaja untuk
memberikan jawaban).
Seringkali orang
berfikir bahwa
modernitas terkait
dengan kecanggihan
alat-alat teknologi saat
ini. Pendamping perlu
meluruskan kekeliruan
ini. Kemajuan teknologi
adalah akibat dari
modernitas. Moderintas
adalah pola berpikir
yang ditentukan oleh
nilai-nilai tertentu
seperti kebebasan,
penggunaan rasio dan
sebagainya (lihat
lampiran).
2. Tanyakan pada remaja
apa kekuatan rasio (akal
budi) dan kelemahannya
dalam kehidupan kita.
Ajaklah remaja
berdiskusi apakah di
jaman yang disebut
modern seperti sekarang
ini, Tuhan berperan
dalam kehidupan manusia?
(bisa dipertajam dalam
kegiatan).
3. Sampaikan kepada
remaja berita Alkitab
dari Kejadian 11:1-9
tentang gagalnya
pembangunan menara
Babel. Pembangunan yang
ambisius untuk memenuhi
keinginan manusia dan
mengabaikan perintah
Tuhan.
4. Sampaikan pada remaja
bahwa iman dan
moderintas sebenarnya
bisa seiring sejalan,
keduanya tidak perlu
dipertentangkan asal
digunakan secara
bijaksana.
5. Akhiri penyampaian
bahan dengan ilustrasi "Alkitab
dan percetakan". Melalui
ilustrasi ini, remaja
diajak memahami bahwa
antara iman dan
moderintas dapat seiring
dan sejalan untuk
mewujudkan kehidupan
yang baik dan
berperikemanusiaan.
Ajaklah remaja untuk
kritis terhadap segala
bentuk modernitas yang
ada saat ini dan pada
masa yang akan datang.
Lampiran [untuk
memperkaya Pembimbing
Remaja]
Modernitas
Istilah 'modern' berasal
dari kata Latin 'moderna'
yang artinya 'sekarang',
'baru' atau 'saat kini'.
Atas dasar pengertian
asli ini Hardiman
berpendapat bahwa
manusia senantiasa hidup
di zaman 'modern',
sejauh kekinian menjadi
kesadarannya. Apa yang
membedakan pemikiran
modern dengan pemikiran
zaman sebelumnya yang
disebut 'tradisional'
itu? Pemikiran abad
pertengahan ditandai
oleh kesatuan, keutuhan,
dan totalitas yang
koheren dan sistematis,
yang tampil dalam bentuk
metafisika atau ontologi.
Dalam corak pemikiran
ini kenyataan dilukiskan
sebagai sebuah tatanan
sistematis yang
hierarkial: mulai dari
kenyataan yang tertinggi
sampai terendah, dari
yang terabstrak sampai
yang paling konkret
(About faizmanshur
2005). Modernitas lahir
sebagai kritik terhadap
ketidakmampaun (dan
tidak mau) manusia
mempergunakan rasionya.
Anthony Gidden menyebut
modernitas sebagai imbas
dari adanya jarak antara
ruang dan waktu dan
melahirkan
techno-science, gaya
hidup bebas, emansipasi,
berpikir rasional dan
aktualisasi diri.
Semboyan yang digemakan
oleh modernitas adalah:
berpikirlah dengan bebas
dan engkau akan
menguasai bumi ini.
berpikir dengan bebas
adalah anugerah. Tetapi
pertanyaannya
adalah:"Apakah kita
dimungkinkan berpikir
bebas-sebebas-bebasnya
tanpa peduli pada sesama
dan etika hidup yang
baik?" Kebebasan
berpikir tanpa kendali
diri justru membahayakan
kehidupan baik bagi diri
sendiri dan sesama.
Rasio/akal tidak boleh
melupakan Tuhan. Dengan
rasio, seseorang
menjawab beberapa hal
sehubungan dengan
pertanggungjawaban
imannya. Misalnya dalam
kepentingan yang
berhubungan dengan
ketegangan-ketegangan
filosofis. Dengan iman,
rasio diletakkan
sedemikian rupa untuk
memahami hal-hal yang
beyond logic.
Pemahaman logis yang
mungkin memberi
validitas yang
diinginkan dengan
melihat konsistensi dan
konsekuensi logis dari
relasi seluruh
proposisi-proposisi yang
diberikan. Pembuktian
validitas logis (bagi
pembuktian sebagai benar)
yang lebih dibebankan
kepada
keterkaitan-keterkaitan
logis tertentu,
konsisten dan konsekuen.
Dengan rasio, seseorang
dimungkinkan untuk
memberikan pemahaman
penalaran yang terbaik
atas apa yang
diyakininya itu.
Pemahaman yang berkaitan
dengan pengenalan, di
mana oleh pengenalan
yang terbaik, seseorang
dapat menghidupi
keyakinannya tersebut
sebaik mungkin (Christianto
Densy Morya, 2010).
Perjumpaan iman dan
modernitas membuat
kehidupan makin dinamis,
makin kaya dan kebebasan
berfikir diletakkan
dalam kerangka kehidupan
yang lebih baik bersama
Tuhan (dikutip dari
berbagai sumber).
Kegiatan
Berpikir Bebas
Ajaklah remaja berpikir
sebebas-bebasnya. Dengan
rasionya, mereka diberi
kebebasan memikirkan
rancangan-rancangan yang
menurut mereka bagus.
Setelah itu mintalah
remaja membuat pembedaan:
berpikir bebas dalam
iman dan berpikir bebas
tanpa iman. Mintalah
mereka membuat diskripsi
perbedaan cara berpikir
itu.
| |
Berpikir Bebas
Tanpa Iman |
Berpikir Bebas
dalam Iman |
|
Yang Dipikirkan
|
|
|
|
Dampak |
|
|
|
Perilaku
|
|
|
|
Tujuan
|
|
|
Ilustrasi
Alkitab dan percetakan
Ini adalah kisah di
balik suksesnya penemuan
mesin cetak oleh
Johannes Gutenberg pada
tahun 1455!
Gutenberg bermaksud
merahasiakan penemuannya
hingga selesai kelak.
Namun seorang ahli waris
investornya
mengungkapkan apa yang
sedang ia kerjakan.
Berita itu merupakan
keajaiban teknologi yang
memungkinkan
dilakukannya pencetakan
literatur secara massal.
Ketika Gutenberg selesai
membuatnya, buku pertama
yang dicetaknya adalah
Alkitab. Hal itu tentu
saja membuat Alkitab
menjadi buku yang
tersebar paling luas di
dunia! Sebelum tahun
1455, Alkitab
diperbanyak dengan cara
kuno dan menghabiskan
banyak waktu untuk
sekali cetak, tetapi
sejak saat itu Alkitab
diproduksi secara massal.
Mengapa buku ini banyak
menarik perhatian?
Mengapa buku ini yang
menjadi pilihan pertama
Gutenberg? Dan mengapa
hingga kini Alkitab
masih saja dicetak
jutaan eksemplar setiap
tahun? Jawabannya mudah
saja: Alkitab adalah
buku yang dibutuhkan
manusia!
(disadur dan diubah dari
http://alkitab.sabda.org/illustration.php?id=3004)
|
 |
A R S I P
|
 |
 |
|
|
|
|