Home | Tentang Kami | Kesaksian | Acara rohani | Link
 
Swara Surgawi
Video Streaming
Gratis CD Sabda
Alkitab Elektronik
Hollypower.net
E-mail Gratis
 
eXTReMe Tracker
  DERAP REMAJA 2011

Derap Remaja Edisi 29.
Pertama-tama, kami mohon maaf jika Derap Remaja kali ini terlambat sampai di tangan Anda.
Bencana letusan gunung Merapi yang tidak terduga ternyata cukup mengganggu proses akhir pengerjaan
Derap Remaja kali ini. Seperti yang mungkin Anda sudah ketahui, proses tata letak dan pencetakan dilakukan di Yogyakarta. Selama berhari-hari menyusul letusan gunung Merapi, PLN cukup sering mematikan listrik guna menghindari arus pendek karena abu dari gunung Merapi yang memang merupakan penghantar arus yang baik. Seringnya listrik mati inilah yang akhirnya cukup mengganggu proses tata letak. Untuk itu,
kami sekali lagi mohon maaf sebesar-besarnya.
Kedua, berhubung Pdt. Widi Artanto sudah memasuki masa persiapan emeritus,
tugas pada Bagian Distribusi Derap Remaja digantikan oleh Pdt. Wisnu Sapto Nugroho.
Karena itu, mulai edisi 29 ini terjadi perubahan
alamat sekretariat & pengiriman uang sebagai berikut:

1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
2. Via Pos Wesel:
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281
Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Selamat Melayani!
Tim Derap Remaja

cara membayar ongkos cetak:
Pembayaran dapat dilakukan dengan dua cara:
- Lewat POS WESEL dengan cara memakai blangko yang
dilampirkan dalam surat pengantar.
- Lewat BANK: BCA no. 0372999053 a.n. Wisnu Sapto
Nugroho. Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman
bank.

Harga per eksemplar Rp. 25.000,-
 

Cara penggunaan Derap Remaja

Anatomi Materi

Juni 2011


1. Iman yang hidup dalam Perbuatan
Yakobus 2:14-18

2. Persekutuan
Kisah Para Rasul 2:37-47

3. Rekonsiliasi
Kejadian 33:1-20

4. Pengampunan: Ada Batasnya?
Matius 18:21-35
 

Pengampunan : Ada Batasnya?


Bacaan: Matius 18:21-35
Bahan yang dibutuhkan: fotokopi lembar ilustrasi,
kertas, alat tulis
 

FOKUS
Di tengah menjalani kehidupan sehari-hari, seseorang akan bertemu dengan orang lain yang tidak selalu sepaham bahkan bisa berselisih dengannya. Tidak
jarang timbul konflik dan hal-hal yang tidak mengenakkan terjadi dalam pergaulan dengan sesama. Hal seperti itu adalah fakta dan realita yang tidak bisa dihindari. Karenanya diperlukan pengampunan jika terjadi kesalahan. Dengan pengampunan, hubungan tetap bisa dijalin sekalipun pernah ada hal-hal yang menyakitkan. Melalui pelajaran hari ini, remaja didorong untuk mengampuni ketika terjadi konflik.

Penjelasan Teks
Perikop hari ini diawali percakapan Yesus dengan Petrus soal sampai berapa kali seseorang dapat mengampuni orang yang bersalah kepadanya. Menurut pengajaran ranik seseorang harus mengampuni saudaranya sampai tiga kali. Seorang rabi bernama Yose bin Hanina mengatakan demikian: "Orang tidak boleh minta pengampunan dari sesamanya lebih dari tiga kali." Maka saat Petrus menanyakan apakah mengampuni orang lain perlu sebanyak tujuh kali, ia bisa jadi merasa sudah lebih baik daripada yang diajarkan para rabi di Israel. Menanggapi persoalan seperti itu, Yesus memberikan jawaban yang secara matematis jauh lebih besar daripada jumlah yang disyaratkan dalam pengajaran para rabi maupun Petrus. Untuk melandasi jawaban-Nya, la memakai sebuah perumpamaan tentang hamba yang berhutang dan dihapuskan hutangnya, namun ia tidak mau memberikan waktu bagi temannya yang berhutang kepadanya. Melalui perumpamaan ini, Yesus mengajarkan beberapa hal.

Pertama, Allah memberi anugerah yang besar, yaitu pengampunan bagi manusia.
Hamba yang pertama dalam perumpamaan tadi berhutang begitu banyak pada seorang raja, yaitu sebesar 10.000 talenta (1 talenta = 6000 dinar, 1 dinar = upah kerja satu hari - UMR 1 hari kerja 2010 ± Rp 40.000), jumlah tersebut dalam rupiah = 10.000 x 6.000 x Rp 40.000 = Rp 2.400.000.000.000 atau 2,4 trilyun rupiah. Hutangnya begitu besar sehingga ia tidak sanggup untuk melunasinya. Lazimnya sebagai bayarannya adalah ia harus dijual beserta seluruh anak dan isterinya sebagai budak belian. Sang hamba ini tahu ia tidak akan dapat membayar hutangnya, untuk itu ia memohon keringanan dan perpanjangan waktu supaya bisa mencari uang untuk membayar hutangnya. Rupanya sang raja tergerak hatinya oleh belas kasihan kepada hamba itu sehingga ia tidak hanya memberi perpanjangan waktu tetapi sekaligus menghapuskan hutang hamba itu.

Dosa manusia yang tak terkira kuantitas dan kualitasnya, yang tak sanggup ditebus dengan upaya apapun, justru ditebus dan diampuni oleh Tuhan Yesus dengan cara memberikan tubuh dan darah-Nya sendiri. Manusia yang mestinya mendapatkan hukuman, jadi budak dosa, justru diampuni dan dibayar-dilunasi hutang-hutangnya sehingga menjadi orang merdeka.

Kedua, diampuni untuk kemudian mengampuni.
Setelah dibebaskan dari beban hutang yang amat besar, hamba dalam perumpamaan itu sekarang punya hidup baru dan kesempatan baru. la datang sebagai orang berhutang, tapi ia keluar dari rumah sang raja sebagai orang yang bebas dari hutang. Saat keluar itulah ia bertemu rekannya yang berhutang kepadanya sebesar 100 dinar (= 100 x Rp 40.000 = Rp 4.000.000). Hutang temannya itu sangat kecil dibandingkan hutangnya tadi terhadap sang raja. Tetapi ia memaksa supaya temannya itu membayar segera. la juga tidak menghiraukan permohonan temannya untuk memberinya perpanjangan waktu seperti yang ia mintakan kepada sang raja. Perhatikan ucapan sang teman itu sama seperti ketika ia meminta keringanan dari sang raja: "Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan" (ay. 26, 29). Sebaliknya hamba yang baru dibebaskan dari hutang itu justru memenjarakan temannya sampai temannya itu melunasi hutangnya.

Hamba pertama ini lupa bahwa dirinya sudah mendapatkan anugerah yang amat besar, yaitu dibebaskan dari hutang yang berpotensi menjadikan dirinya dan keluarganya budak. la tidak punya belas kasihan dan rasa syukur sedikitpun sehingga tidak mengindahkan permohonan keringanan dari temannya, sesama hamba raja.
Manusia berdosa pun mendapatkan anugerah pengampunan dari Tuhan. Pengampunan dari dosa itu membuat seseorang bebas dari penghukuman. Itu terjadi bukan karena kerja dan usaha manusia, tapi semata-mata karena pemberian dan anugerah dari Tuhan. Karenanya hidup orang yang sudah diampuni seharusnya diliputi sukacita dan syukur. Hal itu bisa dilakukan dengan cara mengampuni orang lain yang bersalah. Pengampunan yang diberikan itu harus dilandasi belas kasihan, bukan supaya mendapatkan keuntungan (ay. 27).

Ketiga, hal mengampuni tidak dihitung dan dilakukan berdasarkan jumlah tertentu.
Ketika Petrus bertanya berapa kali semestinya ia mengampuni seseorang, Yesus menjawab 70 x 7 kali. Jawaban Yesus ini bukanlah perhitungan matematis hingga jumlahnya genap 490 kali. Tapi "tujuh puluh kali tujuh kali" merupakan angka simbolis. Angka 7 adalah angka sempurna, besar, banyak; sementara angka 10 adalah lambang kegenapan. Jadi 70 x 7 kali berarti jumlah yang tak terhitung secara matematis atau dengan arti lain, kita mengampuni sebanyak-banyaknya dan sebesar-besarnya, tanpa dibatasi jumlah tertentu.

Pengenaan
Remaja sebagai bagian umat Tuhan merupakan orang-orang yang mendapatkan anugerah pengampunan yang besar dari Tuhan, laksana hamba pertama yang berhutang besar dalam perumpamaan yang Yesus sampaikan. Sebagai orang yang sudah mendapatkan anugerah yang besar, maka ada hidup baru yang perlu diisi dengan penuh syukur. Salah satunya dengan punya hati yang juga terbuka mengampuni orang yang bersalah kepadanya. Seorang yang bernama Robert Frost berkata,”To be social is to be forgiving", artinya: menjadi mahluk sosial itu, syaratnya adalah mengampuni. Dengan pengampunan, hidup di tengah masyarakat dipenuhi kedamaian.

Langkah-langkah Penyampaian
1. Awali kegiatan dengan menanyakan pelajaran apa yang mereka dapatkan dari perikop yang mereka baca hari ini (ajak mereka untuk membaca kembali secara pribadi dengan tenang dan tidak terburu-buru).
2. Kemudian ajak peserta mendalami arti perkataan Yesus tentang mengampuni sesama sebanyak tujuh puluh kali tujuh kali. Tanyakan apa yang mereka pahami dengan pernyataan Yesus itu. Mintalah seluruh peserta untuk mendengarkan dan tidak memberi komentar atau tanggapan atas pendapat dan pemahaman rekannya.
3. Lanjutkan dengan penjelasan teks, khususnya bagian pengajaran Yesus soal pengampunan sebanyak tujuh puluh kali tujuh kali sebagai penegasan bahwa pengampunan diberikan tanpa batasan jumlah tertentu.
4. Akhiri dengan bagian Kegiatan.

Kegiatan
1. Bagikan kertas berisi ilustrasi "Belajar Naik Sepeda 70x7 kali".
2. Berikan peserta waktu untuk merenungkan perikop hari ini dengan bantuan ilustrasi yang dibagikan. Dorong mereka untuk menjadi orang-orang yang mengisi hidup baru yang sudah diampuni dari dosa ini dengan menjadi pengampun bagi sesama yang bersalah kepadanya.
3. Mintalah masing-masing menuliskan tekad untuk hidup saling mengampuni jika terjadi kesalahan.

Ilustrasi
Belajar Naik Sepeda 70x7 kali

(Pdt. Kuntadi Sumadikarya)

Pertama kali naik sepeda,
Harus kau ingat,
Kemudi kanan dan kiri, kayuh kanan dan kiri,
Ayunkan badan, jaga keseimbangan.
Teruskan naik sepeda kalau mau bisa.

Pertama kali naik sepeda,
Harus kau ingat,
Kau pasti jatuh, lututmu luka;
Rasanya perih, sikumu berdarah.
Teruskan naik sepeda kalau mau bisa.

Pertama kali naik sepeda,
Harus kau ingat,
Jika kau takut jatuh, takut lutut luka;
Kalau kau takut perih dan takut siku berdarah;
seumur hidupmu kau tak bisa naik sepeda.

Kedua kali naik sepeda,
Harus kau ingat,
Kau akan jatuh lagi, lutut luka lagi;
Rasanya perih lagi dan siku berdarah lagi.
Teruskan naik sepeda kalau mau bisa.

Kedua puluh kali naik sepeda,
Harus kau ingat,
Kini tak jatuh lagi, lutut tak luka lagi;
Rasanya tak perih lagi dan siku tak berdarah lagi;
Teruskan naik sepeda... kau mulai bisa.

Kedua ratus kali naik sepeda,
Tak harus kau ingat lagi,
Kemudi kanan dan kiri, kayuh kanan dan kiri;
Ayunkan badan, jaga keseimbangan.
Naik sepeda sudah jadi bagian hidupmu.

Belajar mengampuni sama seperti naik sepeda,
Pertama kali kau jatuh dan terluka,
Hatimu perih dan berdarah.
Jika sudah sering mengampuni,
Kau jadi kuat dan kebal,
Hatimu penuh sukacita.

Belajar mengampuni, kata Yesus 70x7 kali.
Matematik Yesus sungguh ampuh,
Sebelum jumlah itu, kau jadi manusia baru;
Kuat dan kebal, tegap dan tegar.
Hati berdarah jadi hati mulia.
Syukur, ya Allah, Kau beri kami sepeda.
Syukur, ya Allah, Kau beri kami ampun.

 

A R S I P



 
Sahabat Surgawi, Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright © 1999
Tim Sahabat Surgawi