 |
 |
|
|
 |
 |
|
|
|
|
|
 |
|
Derap Remaja Edisi 30.
Pembayaran dapat dilakukan
dengan 2 cara :
1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053,
an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan
pemberitahuan pengiriman
bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan
cara memakai blangko yang
dilampirkan dalam surat
pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho,
Samirono Baru 71 Kompleks
LPPS Yogyakarta 55281
Alamat Sekretariat &
Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks
LPPS Yogyakarta 55281
Harga per eksemplar Rp.
25.000,-
|
|
|
|
|
Januari 2012 |
1. Carpe Diem: Seize Your
Day!
Efesus 5:15-17
2. Manusia Berusaha,
Tuhan Menentukan
Yakobus 4:13-17
3. Tidak Ada Noda, Tidak
Belajar
Yosua7:1-26
4. Ukuran Keberhasilan
1 Korintus 9:24-27
5. Belajar Tanpa
Akhir
Pengkhotbah 12:9-14
|
Tidak
Ada Noda, Tidak Belajar |
|
Bacaan: Yosua 7:1-26 |
Bahan yang diperlukan:
Fotokopi puisi "Resiko"
Spidol warna-warni |
|
Fokus
Manusia harus mengambil
keputusan dalam menata masa
depan. Setiap keputusan sela
lu ada resikonya, termasuk
resiko kegagalan. Itulah
sebabnya remaja perlu
hati-hati, berpikir sebelum
bertindak. Jangan sampai
tergelincir pada kegagalan
yang semestinya tidak perlu
terjadi. Melalui pelajaran
ini remaja diajak untuk siap
menanggung resiko dari
setiap keputusannya.
Sekaligus berhati-hati agar
tidak mengalami kegagalan
yang semestinya tak perlu
terjadi. |
Penjelasan Teks
Saat itu bangsa Israel
ada dalam perjalanan
dari Mesir, tanah
perbudakan, masuk ke
Kanaan, tanah perjanjian.
Karena tanah Kanaan
sudah berpenghuni dan
tidak semua bersedia
untuk menerima bangsa
Israel, maka mereka
harus berperang melawan
beberapa kota. Baru saja
mereka mengalahkan kota
Yerikho, dan kini mereka
harus berhadapan dengan
kota Ai. Dibandingkan
dengan Yerikho, Ai
adalah kota yang lebih
kecil. Secara manusia,
jika Israel dapat
mengalahkan Yerikho,
mereka pasti dapat
mengalahkan Ai.
Maka Israel berperang
melawan Ai. Dalam
peperangan ada pihak
yang kalah dan ada yang
menang. Berperang
berarti beresiko untuk
kalah. Tentu saja Israel
berperang dengan harapan
untuk menang, sehingga
resiko kalah hanya
sekedar resiko saja,
tidak menjadi kenyataan.
Yosua mengatur strategi.
Pertama, ia mengirim
pengintai untuk
memperkirakan kekuatan
musuh. Kedua,
mendengarkan laporan
dari para pengintai,
yang mengatakan bahwa Ai
kecil dan lemah,
sehingga tidak
dibutuhkan banyak
pasukan penyerang.
Ketiga, mengirimkan
pasukan sekitar 3.000
orang.
Namun apa yang terjadi?
Ternyata Israel kalah!
Tentara Israel
kocar-kacir setelah 36
tentara Israel tewas dan
tentara Ai mengejar
tentara Israel.
Kekalahan ini membuat
Israel sedih, pesimis,
dan tawar hati. Bahkan
melihat kekalahan ini
Yosua mengoyakkan jubah
dan menaburkan abu di
atas kepalanya (tanda
berduka cita), lalu
sujud dengan mukanya
sampai ke tanah dan
mengutarakan
kekecewaannya kepada
Tuhan, mengapa Tuhan
menyuruh mereka
menyeberang sungai
Yordan dan berperang;
lebih baik tinggal di
seberang sungai Yordan.
Keluhan ini sama dengan
keluhan Israel sepanjang
perjalanan setiap kali
menghadapi kesukaran dan
bahaya. Israel tidak
siap menanggung resiko
dari perjalanan menuju
kebebasan itu.
Kemudian Tuhan
menyatakan kepada Yosua
penyebab kekalahan
Israel, yaitu ada orang
Israel yang telah
melanggar perintah Tuhan.
Semestinya tidak seorang
pun dari bangsa Israel
diperbolehkan mengambil
barang jarahan sesudah
mengalahkan Yerikho,
sebab barang-barang itu
dikhususkan bagi Tuhan (Yos
6:17-19). Namun ternyata
ada yang melanggar
perintah itu. Tuhan
tidak menyebut nama
orang yang telah
melakukan larangan Tuhan
itu, namun akhirnya
Yosua menemukannya;
namanya Akhan. Ia lalu
dihukum mati.
Di satu sisi, kegagalan
menaklukkan Ai memang
menyakitkan. Kegagalan
itu tidak semestinya
terjadi. Belajar dari
peristiwa-peristiwa yang
telah dialami sepanjang
perjalanan, semestinya
bangsa Israel tahu jika
mereka taat kepada Tuhan,
pastilah mereka berhasil
mengatasi tantangan dan
hambatan. Namun jika
tidak taat, mereka
dihukum. Bukankah Akhan
juga mengetahui hal ini?
Kecerobohan yang
dilakukannya telah
menyebabkan terjadinya
kegagalan besar yang
sebenarnya tak perlu
terjadi.
Di sisi yang lain,
kegagalan ini memberikan
pelajaran berharga. Yang
penting bukan hanya
perencanaan yang matang,
namun juga ketaatan
kepada Tuhan. Semua
rakyat, tanpa kecuali,
harus taat kepada Tuhan.
Satu saja tidak taat,
fatal akibatnya bagi
seluruh bangsa. Setelah
persoalan itu dibereskan,
dalam penyerangan kedua
Ai berhasil dikalahkan (Yos.
8).
Pengenaan
Remaja perlu belajar
untuk siap menghadapi
resiko apapun dalam
hidupnya, baik dalam hal
tindakannya maupun
rencana hidupnya. Namun
hal itu tidak berarti
mereka boleh bertindak
seenaknya. Mereka mesti
belajar untuk
menghindari resiko buruk
yang tidak perlu terjadi.
Namun mereka harus siap
jika tindakan yang sudah
baik dan benar tetap
beresiko hal yang tidak
menyenangkan.
Langkah-langkah
Penyampaian
1. Awali dengan
ilustrasl yang
dituliskan di papan
tulis atau ditayangkan
melalui LCD. Tanyakan
kepada remaja bagaimana
reaksi mereka terhadap
kata-kata bijak tersebut.
Apakah mereka setuju dan
pernah mengalami?
Ataukah mereka ragu-ragu?
Ataukah mereka tidak
setuju?
2. Jelaskan bahwa hidup
selalu beresiko. Berilah
contoh-contoh. Misalnya
pacaran beresiko putus.
Ujian beresiko tidak
lulus. Mengendarai
sepeda motor beresiko
kecelakaan. Jika kita
tidak mau menanggung
semua resiko itu, pasti
kita tidak pacaran,
tidak sekolah, dan tidak
bepergian. Mungkinkah
kita hidup seperti itu?
3. Ajak remaja membaca
Yosua 7:1-26. Tekankan
bahwa perang mengandung
resiko kalah. Benar saja,
Israel kalah. Namun
semestinya kekalahan itu
tidak perlu terjadi,
jika seluruh bangsa
Israel taat kepada Tuhan
dan tidak melanggar
larangannya (lihat
Penjelasan Teks).
4. Masuklah pada
kegiatan.
5. Akhiri dengan
penekanan bahwa hidup
selalu beresiko; maka
kita harus hati-hati
agar terhindar dari hal
yang tidak perlu terjadi.
Tetapi jika resiko itu
tetap terjadi, sekalipun
kita sudah berhati-hati,
belajarlah dari
kegagalan itu. Berilah
contoh:
•
Ketika
bersekolah,
pasti ada resiko
putus sekolah.
Misalnya, karena
tidak sanggup
lagi membayar
SPP. Namun
jangan sampai
kita mengalami
putus sekolah
karena hal-hal
yang tidak perlu
terjadi,
misalnya karena
terlibat
penggunaan
narkoba, hamil
atau menghamili.
Jika kita
mengalami putus
sekolah karena
hal yang tak
bisa dihindarkan,
janganlah
berputus asa.
Belajarlah dari
kegagalan itu.
• Ketika
menempuh ujian
akhir, ada
resiko kita
tidak lulus.
Namun jangan
sampai terjadi
kita tidak lulus
ujian karena
ketahuan
mencontek.
|
 |
Ini adalah hal yang
semestinya dapat
dihindari dan tak perlu
terjadi. Jika kenyataan
pahit terjadi bukan
karena hal yang dapat
kita hindari, terimalah
dan berusahalah
memperbaiki diri.
Belajarlah dari
kegagalan itu.
* Ketika mengendarai
sepeda motor, ada resiko
kita mengalami
kecelakaan. Tetapi
jangan sampai kecelakaan
terjadi karena kita
ngebut atau melanggar
peraturan lalu-lintas.
Kegiatan
Bagikan fotokopi puisi
di bawah ini. Minta
remaja membacanya dalam
hati untuk menemukan
kalimat-kalimat yang
berkesan atau mengena
bagi mereka, lalu
digarisbawahi dengan
spidol. Tanyakan mengapa
kalimat-kalimat itu
berkesan. Pembimbing
juga memberikan kesannya
terhadap puisi itu.
Resiko. Siapa Takut?
Risk
To laugh is to risk
appearing the fool
To weep is to risk
appearing sentimental
To reach out for another
is to risk involvement
To expose feelings is to
risk exposing your true
self
To place your ideas,
your dreams before the
crowd is to risk their
loss
To love is to risk not
being loved in return
To live is to risk dying
To hope is to risk
despair
To try is to risk
failure
Resiko
Tertawa berarti
mengambil resiko tampil
bodoh
Meratap berarti
mengambil resiko tampil
sentimental
Meraih orang lain
berarti mengambil resiko
terlibat
Menyampaikan perasaan
berarti mengambil resiko
memperlihatkan diri
yang sejati
Memaparkan gagasan,
impian di depan orang
berarti mengambil resiko
kehilangan mereka
Mencintai berarti
mengambil resiko tidak
mendapat balasan cinta
Hidup berarti mengambil
resiko mati
Berharap berarti
mengambil resiko
keputuasaan
Mencoba berarti
mengambil resiko gagal
(diambil dari buku
Transformasi" tulisan
Robby I. Chandra,
Binawarga 2000, p.
147-148)
Ilustrasi
Mencoba selalu mempunyai
resiko gagal. Namun
resiko mesti diambil.
Orang yang tidak berani
menanggung resiko apapun,
tidak akan berbuat
apa-apa, tidak mempunyai
apa-apa, dan bukan
apa-apa.
(diambil dari buku "Untaian
Kata Bijak Hari ini"
yang diterbitkan majalah
Intisari)
|
 |
A R S I P
|
 |
 |
|
|
|
|