 |
 |
|
|
 |
 |
|
|
|
|
|
 |
|
Derap Remaja Edisi 30.
Pembayaran dapat dilakukan
dengan 2 cara :
1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053,
an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan
pemberitahuan pengiriman
bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan
cara memakai blangko yang
dilampirkan dalam surat
pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho,
Samirono Baru 71 Kompleks
LPPS Yogyakarta 55281
Alamat Sekretariat &
Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks
LPPS Yogyakarta 55281
Harga per eksemplar Rp.
25.000,-
|
|
|
|
|
Februari 2012 |
Aku Ciptaan Unik
Mazmur 139:13-16
Aku Berharga di Mata Tuhan
Yesaya 49:14-16
Setara Sekalipun Berbeda
Kejadian 1:26-27,
2:18-25
Aku Makhluk Sosial
Pengkhotbah 4:7-12
|
Aku Makhluk Sosial
|
|
Bacaan :
Pengkhotbah 4:7-12
|
Bahan yang diperlukan
Kertas
Alat tulis |
Fokus
Manusia adalah mahluk sosial.
Pernyataan ini sudah sering
didengarkan oleh kita. Namun,
persoalannya, apakah kita
tahu implikasi pernyataan
itu? Tak jarang pernyataan
itu hanya sebatas ucapan
belaka. Dalam keseharian
keberadaan orang lain
dianggap angin lalu, tak
berharga. Atau bahkan orang
lain dijadikan alat untuk
kesenangan pribadi. Melalui
pelajaran ini remaja perlu
menyadari keberadaannya juga
terkait dengan relasi dengan
sesamanya.
|
Penjelasan Teks
Kitab Pengkhotbah
termasuk kitab hikmat
atau kebijaksanaan.
Secara umum kitab ini
menampilkan sudut kelam
kehidupan. Cara
pandangnya pesimis.
Hidup, bagi penulis
pengkhotbah, adalah
kesia-siaan (bahasa
Ibrani: hebel).
Bagai menjaring angin
(1:14). Kata sia-sia
berulang kali muncul
sebanyak 37 kali dalam
kitab Pengkhotbah.
Sekalipun demikian,
berbagai hikmat dapat
kita petik dalam kitab
ini. Salah satunya
adalah pentingnya
kebersamaan, sebagaimana
teks kita hari ini.
Ayat 7; kata kesia-siaan
yang menjadi kata
favorit Pengkhotbah
muncul. Ayat ini menjadi
pengantar ada satu lagi
hal yang sia-sia dalam
hidup ini.
Ayat 8 kesia-sian yang
dimaksud adakan
kesendirian. Gambarannya
adalah seseorang yang
tidak memiliki pewaris,
yaitu saudara laki-laki
atau anak laki-laki. Dia
rajin mengumpulkan
kekayaan, karena tidak
puas dengan apa yang
sudah dimilikinya. Di
balik kerja keras itu
ada pertanyaan yang
menghantuinya: kerja
keras ini untuk siapa?
Kerja keras semestinya
dinikmati (bdk. 3:22)
dan juga membawa
kesejahteraan bagi orang
lain. Tetapi dalam kasus
ini kedua sasaran itu
tidak terjangkau
sehingga dinilai sebagai
"kesia-siaan dan hal
yang menyusahkan."
Ayat 9-12 merupakan
refleksi agar hidup ini
tidak sia-sia. Yaitu
ketika hidup membangun
relasi sosial dengan
sesama. Menurut
Pengkhotbah kebersamaan
menguntungkan dalam
berbagai segi kehidupan.
Perubahan terjadi di
akhir ayat 12. Setelah
Pengkhotbah berbicara
tentang 2 (dua) orang,
ia menutupnya dengan
kalimat: "Tali tiga
lembar tidak mudah
diputuskan." Hal itu
menunjukkan bahwa relasi
sosial yang dimaksudnya
bukan hanya terbatas
untuk 2 orang. Dengan
demikian dengan cara
yang sederhana
Pengkhotbah mau
mendorong pembaca untuk
menghargai kebersamaan.
Pengenaan
Manusia adalah mahluk
individual sekaligus
sosial. Individual
berarti ia diciptakan
sebagai individu yang
unik. Berbeda dari yang
lain. Sosial berarti
sekalipun ia berbeda,
tidak mungkin hidup
tanpa orang lain.
Sayangnya dalam
kehidupan ini, sisi
individual yang lebih
menonjol. Karena itu,
yang lain kemudian
dianggap sebagai lawan,
bukan kawan.
 |
Sebaliknya, ada
pula yang
menekan relasi
sosial sehingga
keunikan dirinya
tak lagi
terlihat.
Remaja perlu
belajar melihat
dua sisi
hidupnya ini
sekaligus.
Sebagai individu
yang unik, ia
harus mengenali
dirinya dan
mengembangkannya
seoptimal
mungkin.
Pengembangan
diri ini tidak
mungkin terjadi
tanpa relasi
dengan orang
lain. Jika
demikian, hidup
bersama adalah
untuk membangun. |
Langkah-langkah
Penyampaian
1. Tanyakan kepada
remaja: "Lebih enak mana
rame-rame atau
sendirian?" Pada umumnya
remaja akan menjawab
rame-rame lebih enak
daripada sendiri. Jika
jawabannya demikian,
lanjutkan dengan kembali
bertanya: "Kalau mobil
mogok, enaknya didorong
rame-rame atau
sendirian?" Jawabannya
pasti rame-rame.
Kalau diberi uang enak
dihabiskan rame-rame
atau sendirian?
Jawabannya mungkin
sendirian. Jelaskan
inilah model kebersamaan
manusia. Bersama-sama
kalau ada maunya.
Kebersamaan model
kampret, binatang
sejenis kelelawar. Yang
kerjanya mencari buah
segar dan manis, lalu
meninggalkannya kalau
sudah tak segar dan tak
manis lagi.
2. Jelaskan berdasarkan
Penjelasan Teks di atas
betapa pentingnya hidup
bersama dengan orang
lain. Hidup bersama
orang lain seharusnya
menjadi sarana untuk
membangun dan
mengembangkan diri. Itu
berarti orang lainadalah
kawan dan bukan lawan.
3. Sayangnya, kita tidak
terbiasa bekerja sama,
Kutiplah ilustrasi di
bawah. Ajak remaja
mendiskusikan benarkah
pendapat itu? Sebagai
penjelasan pembantu,
berilah contoh-contoh
peristiwa konflik yang
pernah terjadi di
Indonesia,seperti
kerusuhan Ambon, Poso,
dll. Mintalah mereka
menunjukkan pola-pola
kerjasama dengan orang
lain yang telah mereka
lakukan!
4. Masuklah dalam
kegiatan. Tegaskan
melalui kegiatan
tersebut bahwa ketika
bersama orang lain, ada
hal-hal yang perlu kita
kurangi dan tambahkan
dalam hidup kita.
Kegiatan
Membangun Kamarku
1. Bagikan selembar
kertas kosong pada
remaja. Pada kertas itu
mintalah mereka
merancang gambar desain
denah kamar pribadi
mereka seideal mungkin (lihat
gambar di bawah sebagai
contoh, jika diperlukan).
2. Setelah selesai,
mintalah 2 remaja
bergabung dalam satu
kamar. Minta mereka
mendesain ulang kamar
mereka berdua dengan
syarat: properti/ barang
kesukaan mereka harus
dibawa.
3. Tanyakan perasaan
mereka. Apa saja
kesulitannya? Apakah
mereka merasa lebih
senang atau tidak?
Pembimbing diminta
menambahkan sendiri
dengan pertanyaan yang
relevan.
Pembimbing menyimpulkan:
untuk membangun relasi
bersama dengan orang
lain, perlu ada hal-hal
yang kita kurangi dan
tambahkan. Misalnya,
kita mengurangi
keegoisan kita dan
menambahkan ruang
memaafkan dalam diri
kita, dan sebagainya.
Ilustrasi
Pikiran orang Indonesia
dikuasai oleh budaya
konflik. Kita lebih tahu
cara, teknik, dan
strategi berkonflik
ketimbang cara dan
strategi berkolaborasi
atau bekerja sama dengan
pihak lain. Demikian
disertasi Prudensius
Maring yang berjudul "Hubungan
Kekuasaan: Konflik,
Perlawanan, dan
Kolaborasi dalam
Penguasaan Hutan di Egon,
Flores" (Kompas, 7
November 2008).
|

|
A R S I P
|
 |
 |
|
|
|
|