Home | Tentang Kami | Kesaksian | Acara rohani | Link
 
Swara Surgawi
Video Streaming
Gratis CD Sabda
Alkitab Elektronik
Hollypower.net
E-mail Gratis
 
eXTReMe Tracker
  DERAP REMAJA 2009


derap remaja adalah bahan pembinaan untuk remaja. disusun secara tematis.
setiap tema didasarkan satu bacaan alkitab.
dilengkapi pula dengan metode penyampaian.
telah terbit edisi 25. tahun XIII
para penulis derap remaja 2008 : pdt. addi soselia patriabara,
pdt. tri santoso, pdt. widi artanto, pdt. didik tridjatmiko, pdt. wisnu sapto nugroho,
pdt. tabita kartika christiani, margaritifera lystiakusumadewi
tata letak: abiya wyanto
kontak: widi artanto, samirono baru 72 komp. lpps, yogyakarta, 55281.
telp.(0274) 514721-551592 fax. 0274) 543001

Harga per eksemplar Rp. 25.000,-
Cara pengiriman ongkos cetak:
1. Lewat POS WESEL dengan memakai blangko yang dilampirkan
dalam surat pengantar
2. Lewat Bank ke TAHAPAN BCA cab. Sudirman Yogyakarta
No. 0371994881 a.n. Widi Artanto.
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank
.
 

Cara penggunaan Derap Remaja

Anatomi Materi

april 2009


Minggu 1: Salib Solusi llahi
Lukas 23:33-43

Minggu 2: Selanjutnya Terserah Anda
Kisah Para Rasul 17:29-34

Minggu 3: Berita Dusta, Integritas, dan Moralitas
Matius 28:11-15 dan Matius 5:37

Minggu 4: Ini Aku, Jangan Takut
Matius 14:22-33




Salib Solusi Ilahi


Bacaan: Lukas 23:33-43
Bahan yang diperlukan:alat tulis dan kertas,fotocopy lagu
KJ 169 "Memandang Salib Rajaku"


FOKUS




Sampai saat ini salib tetap menjadi misteri yang sulit terselami. "Mengapa harus salib?" Inilah pertanyaan yang sulit dijawab menurut akal manusia. Tetapi satu yang pasti: salib juga terus menimbulkan perasaan takjub dalam setiap generasi manusia. Salib yang identik dengan penderitaan dan pengorbanan itu menantang manusia untuk terus menerus mencari jawab atas misteri yang menyelimutinya. Pelajaran ini mengajak remaja untuk takjub, kagum dan tentunya menghayati makna hakiki dari salib, yaitu pengampunan dari Tuhan untuk manusia, agar ia tetap setia kepada Tuhan sepanjang hidupnya.

Penjelasan Teks
a. Kasih itu Mahal Harganya
Penyaliban Tuhan Yesus senantiasa mengingatkan manusia pada tindakan Allah yang memilih jalan penderitaan dalam rangka menyelamatkan dunia. Ini terjadi bukan karena Allah harus begitu, tetapi karena Allah mau begitu.
Tuhan Yesus disalibkan di tempat yang bernama Tengkorak (ay.33). Bukit Tengkorak di mana Tuhan Yesus di salib sudah menghadirkan rasa ngeri. Tempat di mana aroma kematian dan kengerian begitu kentara. Penderitaan dan ketakutan sangat kental terasa. Harapan akan kehidupan jelas tidak bisa didapatkan dari tempat ini. Siapa yang datang ke tempat ini, tentu hanya satu jawaban yang ada kematian serta kengerian. Inilah yang terjadi dengan Tuhan Yesus dan dua orang penjahat yang juga disalibkan. Teriakan dan cacian yang lahir dari nafsu liar manusia yang menyukai kekerasan mengalir bersama ratapan dan isak tangis pilu menjadi nyanyian di tempat kematian itu
Tetapi di tempat yang tidak ada pengharapan inilah Allah berkarya, mempersembahkan AnakNya yang Tunggal. Bukan manusia yang membawa korban kepada Allah sebagai penghapus dosa. Pada peristiwa salib justru sebaliknya Allah mengorbankan Anak-Nya untuk keselamatan manusia.
Di bukit Tengkorak Tuhan Yesus dikorbankan oleh pihak-pihak yang membenci dan memusuhi-Nya, Tuhan Yesus menjadi korban konspirasi para pemimpin politik dan keagamaan. Mereka mengorbankan Yesus untuk melindungi kepentingan mereka. Namun apa yang dirancang oleh ma¬nusia yang terselubung; kejahatan itu dipakai oleh Allah untuk menggenapkan rencana-Nya. Pada peristiwa salib justru Allah melakukan karya penebusan dengan mengorbankan Anak-Nya yang Tunggal, demi keselamatan manusia - termasuk orang-orang yang membenci dan memusuhi-Nya (ay. 34).
Di tengah kecenderungan manusia yang lebih menyukai jalan pintas, instan dan mudah, dari pada jalan panjang yang berliku dan sulit, karya Allah ini terasa lain dan luar biasa. Pada peristiwa penyaliban Tuhan Yesus di bukit Tengkorak, Allah memilih jalan yang sulit dan cawan minuman yang pahit.
Pada bukit Tengkorak, dalam kebebasan dan kedaulatan-Nya, Allah memilih kematian. Berbeda dengan nalar yang wajar, bertahan hidup adalah segala-galanya. Manusia akan melakukan apa saja, kalau perlu membunuh sesamanya, agar bisa bertahan hidup. Tuhan Yesus menunjukkan cinta-Nya kepada manusia di bukit Tengkorak, agar aroma kematian menjadi nikmatnya pengharapan bagi manusia. Mahal memang, tetapi itulah yang dibayar Allah sendiri: salib.

b, Pengampunanpun Tersedia
Penyaliban Tuhan Yesus di bukit Tengkorak disertai oleh orang banyak, baik yang memusuhi-Nya maupun yang mengasihi-Nya. Orang-orang yang menempatkan diri sebagai musuh datang ke tempat itu dengan kepala tegak dan congkak. Mereka merasa menang. Mereka terus menghujat, menghina dan menantang-Nya (ay. 35-36).
Pada kondisi yang wajar dan menurut nalar manusia, sah-sah saja kalau Yesus membenci dan ingin menghukum mereka. Pada puncak penderitaan ada batas kesabaran dari manusia untuk menanggung beban yang begitu hebat. Dalam batas kesabaran itulah manusia sering dituntut un¬tuk memahami kalau kemudian yang dianiaya itu melakukan balas dendam.
Namun ternyata sang tokoh utama, yaitu Yesus, tidak membalas dendam - me-lainkan mengampuni. Yesus berkata, "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." Duh Gusti, apa yang terjadi? Bukan kepuasan nafsu manusia yang dipertontonkan, tetapi kasih llahi yang mengalir. Seakan ingin menyejukkan panasnya hati orang-orang yang memusuhi-Nya, dan sekaligus menumbuhkan pengharapan akan kehidupan di bukit Tengkorak.Salib mengalirkan pengampunan dari yang Mahatinggi. Salib menyediakan pengampunan dan mengalir kepada siapapun yang bersedia menerimanya. Pun salah satu penjahat yang disalibkan bersama Yesus merasakan haI itu pada detik-detik akhir hidupnya (ay. 43).
Penyaliban Tuhan Yesus di bukit Tengkorak justru menjadi jalan pulang bagi manusia untuk mendapatkan pengampunan dan pendamaian dengan Tuhan Allah. Hal ini menjadi mungkin karena terjadi dari pihak Allah, bukan manusia. Lautan pengampunan telah tercipta dari salib yang terpancang di atas bukit Tengkorak.

c. Mengalahkan Diri sendiri
Pada peristiwa salib keegoisan dan kepentingan diri sendiri sungguh dikalahkan. Tidak sulit bagi Allah untuk mengalahkan Iblis dan kuasa dosa yang ada pada manusia. Kapan pun Allah mau, itu bisa dilakukan. Tetapi Allah tidak main kuasa, dan bukannya tidak adil. Dosa harus dihukum. Pengampunan membutuhkan pengorbanan. Pengalaman membuktikan bahwa manusia tidak mampu memenuhi itu. Disinilah Allah memutuskan untuk mengorbankan diri-Nya, sekali untuk selamanya bagi manusia.
Pada peristiwa salib Allah mengorbankan diri-Nya sendiri melalui Tuhan Ye¬sus. Bukit Tengkorak dan dua pejahat di kanan serta kiri-Nya adalah tempat yang pas bagi Allah untuk menyatakan kasih-Nya. Bukan orang sehat yang membutuhkan tabib, tetapi orang yang sakit. Pengorbanan Allah melahirkan pengampunan yang memulihkan kehidupan manusia, dan mengangkat kembali semangat yang telah layu dan kering. Bahkan pengorbanan Allah menghidupkan kembali pengharapan yang hampir pudar. Itulah yang terbersit dalam percakapan Tuhan Yesus dengan penjahat yang percaya kepada-Nya. Penjahat itu berkata, "Yesus, ingatlah akan aku apabila Engkau datang sebagai Raja" (ay. 42). jawaban Tuhan Yesus sungguh melegakan, "Hari ini juga engkau bersama-sama dengan Aku dalam Firdaus" (ay. 43). Pengorbanan Allah tidak sia-sia. Pengharapan manusia kembali menyala. Pendamaian sungguh telah terjadi. Manusia kembali bergaul akrab dengan Allah. Hubungan yang putus kini telah tersambung kembali: saliblah jembatannya.
Tunggu dulu, sebagai orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus, pengampunan itu pasti ada! Tetapi perlu diingat bahwa jiwa pengampun itu juga harus ada dalam diri murid-muridNya (ingat Doa Bapa Kami).
Salib Tuhan Yesus bukan hanya mendamaikan Allah dan manusia, Tetapi juga mendamaikan manusia dan sesamanya. Agar hal ini bisa terjadi, tindakan mengampuni jangan menjadi tuntutan pada pihak lain tetapi terlebih dahulu harus menjadi tuntutan bagi diri sendiri. Memang tidak mudah, karena harus mengalahkan ego diri sendiri. Mengalahkan diri sendiri agar tercipta kemenangan dan perdamaian memang bukan gaya dunia, melainkan jalan yang dirintis oleh Yesus.

d. Penegasan
- Salib menjadi tempat dimana Allah membuktikan cinta kasih-Nya kepada manusia. Cinta yang harus dibayar dengan mahal oleh Allah dengan mengorbankan Anak-Nya yang Tunggal. Cinta sejati tidak menuntut orang lain, melainkan menuntut diri sendiri untuk memberi.
- Salib mengalirkan pengampunan dari Allah untuk manusia, tanpa terkecuali. Siapapun yang percaya pada Anak Allah yang disalibkan mendapatkan pengampunan. Salib menjadi jalan pulang bagi setiap manusia yang sudah tersesat. Pulanglah anakKu, Bapa rindu padamu.
- Pada salib harga diri dan keegoisan ditanggalkan. Allah merendahkan diri se-demikian rupa agar manusia berdamai kembali dengan-Nya. Tidak mudah untuk menanggalkan harga diri dan ego, tetapi Allah menunjukkan-Nya pada salib agar pendamaian sungguh terjadi.

Langkah-langkah Penyampaian
1. Awali pertemuan dengan kisah, "Salib di Mata Mahatma Gandhi" (lihat llustrasi). Tokoh Yesus yang dikagumi Gandhi telah menginspirasinya untuk berjuang dengan damai tanpa kekerasan. Yesus yang disalib menjadi panutan dan teladan dalam kehidupannya.
2. Mengapa harus salib? Uraikan pokok-pokok yang ada dalam Penjelasan Teks. Pertama Kasih itu mahal. Kedua: Pengampunan tersedia. Ketiga: Mengalahkan diri sendiri. Untuk aplikasi ambil contoh dari kehidupan sekitar yang dikenal oleh remaja. Jika perlu tegaskan kembali apa yang sudah diuraikan dengan penegasan seperti yang ada pada Penjelasan Teks.
3. Ajak remaja untuk membuat daftar kehidupan mereka yang tidak sesuai dengan keteladanan Tuhan Yesus. Jangan sampai sikap-sikap mereka yang bertolak belakang menjadi batu sandungan bagi sesama untuk datang kepada Yesus. Bisa juga remaja diajak mengkritisi sikap-sikap gereja yang tidak sesuai dengan ajaran Tuhan Yesus. Tentu diarahkan dan dilihat dari tema hari ini.
4. Lakukan kegiatan kreatif.
5. Akhiri kegiatan dengan menyanyikan lagu Kidung Jemaat 169, "Memandang Salib Ra jaku," dalam suasana kontemplasi. Nyanyikan semua bait.

Memandang salib Rajaku
Yang mati untuk dunia
Kurasa hancur congkakku
Dan harta hilang harganya

Tak boleh aku bermegah
Selain di dalam salib-Mu
Kubuang nikmat dunia
Demi darah-Mu yang kudus

Berpadu kasih dan sedih
Mengalir dari lukanya
Mahkota duri yang pedih
Menjadi keagungan-Mu

Melihat darah luka-Nya
Membalut tubuh Tuhanku
'Ku mati bagi dunia
Dan dunia mati bagiku

Andaikan jagad milikku
Dan kuserahkan pada-Nya
Tak cukup bagi Tuhanku
Diriku yang dimintanya

Kegiatan Kreatif
Bagikan sepotong kertas kepada peserta, ajak mereka untuk menuliskan nama orang yang selama ini mereka rasakan menyakiti dan sekarang hendak mereka ampuni. Kemudian ajak remaja menuliskan doa mereka kepada Tuhan untuk usaha mereka mengampuni orang yang telah menyakiti mereka. Ajak remaja untuk berani melakukan apa yang sudah mereka tuliskan.

Ilustrasi
Salib di Mata Mahatma Gandhi
Yesus yang mati di kayu salib sungguh mempengaruni hidup Gandhi. Setiap hari Gandhi bersaat teduh dan menyanyikan lagu kesayangannya yaitu "When I Survey the Wondrous Cross" (terjemahan Kidung Jemaat 169: "Memandang Salib Rajaku)."
"Saya diilhami oleh Kotbah di Bukit yang diucapkan Kristus: Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran.... Segeralah berdamai dengan lawanmu.... Janganlah kamu , melawan orang yang berbuat jahat kepadamu.... (dari Matius 5 dan 6). Diri Yesus sungguh menyentuh Gandhi. Pernah Gandhi bertanya kepada perawatnya, "Apakah kamu bisa menyanyi When I survey the Wondrous Cross? Itu nyanyian yang berakhir dengan kalimat "Love so amazing, so divine, demands my soul, my live, my all." Perjumpaan Gandhi dengan Yesus sangat berpengaruh dalam hidup dan perjuangannya. Satyagraha adalah pedoman hidup yang berpegang pada kebenaran, kasih dan kejujuran. Ahimsa adalah pedoman memperjuangkan sesuatu tanpa kekerasan, kebencian dan pemaksaan. Kalau begitu mengapa ia tidak menjadi Kristen? Di depan Pertemuan Pemuda Kristen di Kolombo Gandhi menjawab, "Seandainya yang saya lihat hanya Kotbah di Bukit, tanpa ragu-ragu saya mengaku diri Kristen, tetapi sungguh sayang apa yang saya lihat dalam agama Kristen justru sering merupakan ingkaran dari Kotbah di Bukit."
K. George, seorang pemikir gereja India menulis buku berjudul Gandhi's Challenge to Christianity, dan di halaman pertamanya tertulis bahwa buku ini dipersembahkan "Kepada Mahatma Gandhi yang membuat Yesus dan pesan-Nya menjadi nyata bagi saya." (diringkas dari buku "Selamat Berbakti" karangan Dr. Andar Ismail, p. 24-27).

"PENGAMPUNAN TIDAK PERNAH MUDAH DILAKUKAN KARENA PENGAMPUNAN MAHAL (SALIB) HARGANYA"

| derap desember 0408 | derap januari 0109 | derap januari 0209 |
| derap januari 0309 | derap
januari 0409 | derap februari 0109 |
| derap februari 0
209|derap februari 0309 | derap februari 0409 |
| derap maret 0109 | derap maret 0209 | derap maret 0309 |

|
derap maret 0409| derap maret 0509 |



 
 
 
Sahabat Surgawi, Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright © 2002-2007,
Tim Sahabat Surgawi