Penjelasan Teks
Pada awalnya Nehemia adalah seorang pelayan minum raja Persia, Artahsasta. Ketika bangsanya bebas dari perbudakan Babilonia, ia memohon kepada raja Persia untuk kembali ke tanah airnya untuk membangun negaranya. Atas perkenan raja, ia pulang ke tanah airnya dan memimpin pembangunan tembok Yerusalem yang rusak karena invasi Babel. Beberapa waktu lamanya pembangunan itu dilaksanakan, hingga akhirnya pembangunan diselesaikan.
Menjelang diselesaikannya pembangunan tembok Yerusalem, datanglah ancaman terhadap Nehemia. Tobia, Sanbalat dan Gesyem, orang-orang yang memusuhi Nehemia berniat mencelakainya dengan muslihat (ayat 2). Rencana jahat Tobia, Sanbalat, dan Gesyem itu diketahui Nehemia sehingga ia mengabaikan undangan mereka untuk berjumpa dalam sebuah pertemuan. la tahu bahwa undangan mereka adalah upaya untuk menjebak dan mencelakai Nehemia. Rupanya dalam merencanakan skenario jahat bagi Nehemia itu, Tobia, Sanbalat dan Gesyem tidak pantang menyerah. Empat kali mereka mengundang Nehemia, tetapi empat kali pula undangan itu ditolaknya. Kali kelima, Tobia, Sanbalat dan Gesyem mencoba mencelakai Nehemia dengan cara yang agak berbeda. la mengirim utusan untuk menyampaikan surat yang berisi hasutan, fitnah dan adu domba. Tetapi Nehemia yang mengetahui rencana jahat orang-orang itu menepis fitnahan itu.
Upaya mencelakai Nehemia dengan berbagai cara yang sudah ditempuh Tobia, Sanbalat dan Gesyem selalu gagal. Mereka mencoba cara lain yaitu dengan cara menggunakan pelayan-pelayan di bait Allah agar membusukkan nama baik Nehemia. Orang-orang di bait Allah yang disuap Tobia, Sanbalat dan Gesyem dianggap memiliki daya serang yang mematikan bagi Nehemia. Serangan atas nama agama pasti menimbulkan dampak psikologis yang berat, apalagi di tengah situasi hidup keagamaan yang fanatis. Tetapi keteguhan hati dan kebenaran yang dipegang Nehemia membuat serangan-serangan itu mental.
Apa tujuan dari serangan dan an¬caman Tobia, Sanbalat dan Gesyem? Dari keterangan dalam Nehemia 6: 15-16 diketahui bahwa mereka ingin menggagalkan pembangunan tembok Yerusalem. Pembangunan tembok berjalan 52 hari. Setelah pembangunan selesai, mereka ketakutan dan malu. Tetapi Tobia yang sejak semula benci terhadap Nehemia tidak pernah berhenti menabur ancaman-acaman yang menakutkan terhadap Nehemia. Kebencian adalah akar tindakan teror. Dari kebencian itu, orang menciptakan pembeda-pembeda, termasuk ideologi, untuk melangsungkan teror.
Pengenaan
Teror dilakukan oleh Tobia, Sanbalat dan Gesyem karena mereka benci terhadap Nehemia. Tetapi Nehemia tidak membalas teror mereka dengan aksi teror yang lain (misal dengan kebencian, fitnah atau kekerasan). Nehemia melawan terorisme dengan tindakan yang benar yakni dengan bekerja sekuat tenaga. Demikian juga dengan remaja, teladan Nehemia yang terus bekerja dengan keras menjadi inspirasi agar remaja tidak terganggu oleh ideologi, pengajaran, dan ejekan (teror); sebaliknya, mereka tetap beraktivitas positif.
Langkah-langkah Penyampaian
1. Terangkan kepada remaja apakah teror, teroris, terorisme itu serta apa tujuannya. Dari definisi itu dapat disimpulkan sebenarnya siapapun bisa menjadi penebar teror demi tercapainya tujuan.
2. Sampaikan kisah teror yang dialami oleh Nehemia (lihat Penjelasan Teks). Akar dari teror yang lakukan oleh musuh-musuh Nehemia adalah kebencian.
3. Terorisme tidak akan terjadi bila dunia hidup dalam cinta, dan manusia saling memahami (sampaikan ilustrasi).
4. Akhiri dengan ajakan kepada remaja agar mengecam tindakan terorisme dengan jalan damai, bukan dengan jalan kekerasan, sebab penggunaan kekerasan untuk melawan terorisme sama dengan menebarkan teror yang baru bagi orang lain.
Kegiatan
Surat Cinta Buat Teroris
1. Mintalah remaja menulis surat cinta kepada para pelaku teror dalam selembar kertas
2. Mintalah satu atau dua relawan membacakan suratnya di hadapan teman-temannya yang lain.
Ilustrasi
Bom Bunuh Diri
Seorang anggota teroris yang sedang mengemban tugas membawa bom bunuh diri tertangkap di bandara. Selama setengah jam lebih, ia diperiksa polisi sehingga diketahui sasaran yang akan diledakkan. Selain itu polisi juga menanyakan jam berapa bom akan diledakkan. Setelah keterangan yang dihimpun dirasa cukup, tim penjinak bom pun didatangkan untuk mencegah bom tersebut meledak. Mengetahui bahwa bom yang ada padanya sudah jinak, teroris tersebut protes habis-habisan. la mengancam polisi yang tega menjinakkan bom tersebut sehingga misi mulianya gagaI. la menangis keras-keras sehingga menghebohkan orang-orang yang ada di bandara. Kini polisi kebingungan, setelah berhasil menjinakkan bom, harus menjinakkan pemiliknya. Ternyata lebih repot.
Akhirnya diputuskan untuk mengaktifkan kembali bom tersebut supaya pemiliknya jinak. Teroris itupun merasa lega. Polisi hanya berpesan bahwa bom bunuh diri itu hanya boleh digunakan untuk diri sendiri, tidak untuk mencelakai orang lain. Teroris itupun setuju. Setelah bom aktif itu dikembalikan kepada teroris itu, ia berlari jauh untuk mencari lokasi yang aman untuk meledakkan diri tanpa mencelakai orang lain. Tugas muliapun terlaksana, teroris lega, polisi juga. Kasus ditutup. (I.B. Sakuntala, Pariwisata Terosisme, 2003).
Lelucon ini menarik, sebab terorisme tidak hanya melulu pada bom, melainkan orangnya...
Lampiran
Remaja dan Terorisme
JAKARTA,KOMPAS.com - Sasaran rekrutmen yang dilakukan oleh gembong teroris Noordin M Top diyakini masih akan berpusat pada anak usia remaja. Pengamat terorisme Al Chaidar mengatakan bahwa remaja merupakan sasaran utama Noordin dalam jaringan teroris baru yang sedang dibangunnya. "Dia akan akan terus rekrut anak muda sebagai regenerasi dari jaringan teroris lama yang selama ini kita kenal," kata Al Chaidar dalam diskusi Generasi Muda dan Terorisme, di Museum Keprajuritan, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Sabtu (15/8).
Menurutnya anak muda memiliki kondisi psikologis yang labil sehingga lebih mudah dipengaruhi secara cepat oleh Noordin M Top. Terlebih jika remaja tersebut secara kondisi sosialnya sudah memiliki pandangan yang cenderung negatif terhadap dunia barat. "Caranya adalah dengan memberikan pemahaman-pemahaman agama yang ilusif. Berikan saja jaminan akan masuk surga maka akan langsung diikuti," ujar pengamat dari Universitas Malikussaleh ini.
la juga menekankan, tak selamanya penyebab terorisme terkait dengan masalah ekonomi. "Pemahaman agama yang salah me¬miliki pengaruh yang lebih kuat terhadap aksi-aksi radikal. Masalah ekonomi menjadi salah satu fondasi untuk membentuk pema-haman tersebut," ungkapnya.
Diakses dari:
http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/08/15/23583472/jaringan.
Baru.Noordin.Mengincar.Remaja
A R S I P