 |
 |
|
|
 |
 |
|
|
|
|
|
 |
|
Derap Remaja Edisi 30.
Pembayaran dapat dilakukan
dengan 2 cara :
1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053,
an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan
pemberitahuan pengiriman
bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan
cara memakai blangko yang
dilampirkan dalam surat
pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho,
Samirono Baru 71 Kompleks
LPPS Yogyakarta 55281
Alamat Sekretariat &
Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks
LPPS Yogyakarta 55281
Harga per eksemplar Rp.
25.000,-
|
|
|
|
|
Agustus 2011 |
1.
Keadilan Sosial
Imamat 25:1-10, 18-22
2. WNI: Warga Negara
Istimewa
Matius 22:15-22
3. Identitas Gereja dalam
Ekumene
1 Korintus 12:12-27
4. Berbagi Kasih: Belajar
dari Gerakan
Kemanusiaan Indonesia
2 Korintus 8:1-15
|
WNI :
Warga Negara Istimewa |
Bacaan: Matius 22:15-22
Bahan yang diperlukan:
Fotokopi bahan diskusi
|
|
Semua orang yang
identitasnya tercantum WNI
sebagai kewarganegaraannya
pastilah terdaftar sebagai
Warga Negara Indonesia (WNI).
Sebagai warga negara, ada
hak dan kewajiban yang harus
dipenuhi sebagai andil dalam
kesejahteraan bersama.
Demikian juga dengan
kewarganegaraan khusus yang
dimiliki oleh orang kristen,
yakni warga Kerajaan Allah.
Warga Kerajaan Allah adalah
Warga Negara Istimewa (WNI).
Istimewa sebab
kewarganegaraan itu tidak
diperoleh dengan usaha
sendiri, melainkan diberi
dengan cuma-cuma oleh Allah.
Meski demikian, bukan lalu
orang kristen dapat hidup
seenaknya sebagai warga
negara dunia. Orang kristen
punya kewajiban menyebarkan
nilai-nilai hidup kristiani
di tengah-tengah kehidupan
berbangsa dan bernegara
dengan menjadi warga negara
yang bertanggung jawab.
Pelajaran hari ini
diharapkan dapat memotivasi
remaja untuk menjadi warga
negara yang bertanggung
jawab sebagai upaya
mewujudkan nilai-nilai
Kerajan Allah di bumi. |
Penjelasan Teks
1. Perikop ini diawali
dengan penjelasan tujuan
kedatangan para murid
orang-orang Farisi
kepada Tuhan Yesus,
yaitu untuk menjerat Dia.
Sejak awal memang
orang-orang Farisi sudah
berniat untuk
menyingkirkan Yesus
karena Yesus melakukan
hal-hal yang mereka
anggap dapat
membahayakan kedudukan
dan popularitas mereka
sebagai pemimpin agama (lihat
Mat.12:14, 22:15).
Mereka memulai
percakapan dengan
kata-kata pujian yang
manis kepada Yesus.
Mungkin agar Yesus
tersanjung dan merasa
senang sehingga terjebak
untuk mengeluarkan
kata-kata yang dapat
membahayakan diri-Nya
sendiri. Perkiraan
mereka jelas keliru.
Yesus tidak pernah
mencari muka (sebagaimana
sanjungan mereka sendiri,
"...Engkau tidak mencari
muka.." pada ayat 16).
Orang yang tidak mencari
muka tidak akan pernah
mau melakukan sesuatu
hanya demi menyenangkan
hati orang yang
menyanjung-Nya.
2. Masalah yang diangkat
adalah mengenai
diperbolehkan atau tidak
membayar pajak kepada
kaisar. Yang dimaksud
adalah kaisar Roma yang
pada waktu itu menjajah
Israel. Secara rutin,
setahun sekali orang
Israel membayar pajak
kepada kaisar, yaitu
berupa 1 keping mata
uang dinar (1 dinar =
upah sehari bekerja).
Dinar adalah mata uang
Romawi. Pada mata uang
itu ada gambar kepala
Tiberius, dan ada
tulisan "Kaisar
Tiberius, Putra Agung
Augustus" (Augustus
adalah kaisar Roma yang
terkenal). Yang mereka
harapkan adalah Yesus
menjawab boleh atau
tidak. Kalau boleh,
berarti Yesus menentang
Allah, kalau tidak
berarti Yesus menentang
kaisar. Kedua jawaban
itu beresiko sama, yaitu
Yesus ditangkap dan
diserahkan kepada
penguasa. Itulah
sebabnya orang Farisi
bersekongkol dengan
orang Herodian,yaitu
orang-orang yang
mempertahankan
pemerintahan Israel di
bawah dinasti Herodes
daripada diperintah
langsung oleh penjajah.
Menjawab boleh membayar
pajak berarti
bersekongkol dengan
penjajah dan
pemberontakan kepada
Herodes. Menjawab tidak,
dapat membuat orang
Farisi dengan segera
melapor pada pihak yang
berwajib Roma dan Yesus
akan dltangkap dengan
tuduhan pemberontakan
terhadap kaisar Roma.
3. Jawaban Yesus diawali
dengan pertanyaan, "Gambar
dan tulisan siapakah ini?"
(ayat 20). Mereka lalu
menyerahkan mata uang
untuk pajak itu (ayat
19). Lalu Yesus menjawab,
"Berikanlah kepada
Kaisar apa yang wajib
kamu berikan kepada
Kaisar dan kepada Allah
apa yang wajib kamu
berikan kepada Allah." (ayat
21). Realita yang
berlaku pada waktu itu
memang pajak kepada
kaisar dibayar dengan
mata uang Romawi dan
pajak kepada Bait Allah
dibayar dengan mata uang
Yahudi. Dengan meminta
mata uang pembayar pajak
(dinar) sebenarnya
jawabnya sudah jelas
bahwa pajak terhadap
kaisar wajib dibayar..
4. Namun Yesus menjawab
jauh lebih dalam dari
sekadar jawaban boleh
atau tidak boleh. Setiap
umat Allah punya
kewajiban menaati Allah.
Itulah sebabnya
sekalipun hidup dalam
penjajahan dan pengaruh
budaya asing, umat Allah
tidak boleh terseret
arus dan harus berani
hidup sesuai perintah
Allah. Namun itu tidak
berarti bahwa mereka
lalu harus hidup secara
eksklusif dan bersikap
memberontak pada
penjajah. Kewajiban
sebagai warga negara
juga mesti dijalankan,
salah satunya adalah
dengan membayar pajak.
Dengan demikian orang di
luar umat Allah tidak
punya alasan untuk
mencela kehidupan umat
Allah atau menuduh umat
Allah sebagai
pemberontak.
5. Sangat disayangkan
sebenarnya bahwa dengan
mudah mereka mengenali
gambar kaisar di mata
uang dinar, tetapi
mereka tidak mengenali
gambar Allah dalam diri
Yesus, sehingga mereka
memperlakukan Yesus
dengan semaunya. Mereka
seharusnya sudah
menyadari hubungan Yesus
dengan Allah melalui
pernyataan mereka
sendiri, "Engkau
mengajarkan Jalan Allah"
(ayat 16), namun mereka
tidak mau mengakui
hubungan itu. Itu
sebabnya Yesus menyebut
mereka orang munafik (ayat
19). Di sisi lain, Yesus
yang datang dari Allah,
tidak memilih mengajak
orang memberontak,
sekalipun la mampu
melakukannya. la memilih
untuk "menderita
sengsara di bawah
pemerintahan Pontius
Pilatus (gubernur
Roma)". Yesus tetap
mengabdi kepada Allah
sementara kaisar
bertahta. Hanya dengan
kerendahan hati semacam
itulah Yesus "membayar
pajak" kepada Allah
dengan menebus umat
manusia dari dosa.
Pengenaan
Remaja adalah bagian
dari warga negara
Indonesia sekaligus
warga negara Kerajaan
Allah. Pada umumnya
remaja masih bingung
bagaimana caranya
menjadi warga negara
yang bertanggung jawab
atau mungkin belum
memikirkannya. Itulah
sebabnya perlu untuk
mengajak remaja melihat
kehidupan masyarakat di
sekitarnya dan
memikirkan tanggung
jawab apa yang
dimilikinya sebagai
orang muda. Contohnya
dengan menjadi siswa
yang bertanggung jawab
dalam mengerjakan
tugas-tugasnya, tidak
berbohong mengenai usia
saat hendak membuat SIM
(Surat Ijin Mengemudi)
kendaraan bermotor,
tidak melanggar
peraturan lalu lintas,
dsb. Remaja perlu tahu
bahwa menjalankan
tanggung jawab sebagai
warga negara adalah
bagian dari upaya
mewujudkan nilai-nilai
kekristenan di tengah
dunia.
Langkah-langkah
Penyampaian
1. Ceritakanlah
ilustrasi di bawah.
Bahaslah sejenak bersama
remaja apakah orang yang
dicari detektif dalam
ilustrasi tersebut sudah
menunjukkan cara hidup
seorang warga negara
yang bertanggung jawab?
Kemudian tanyakan kepada
remaja apa artinya
menjadi warga negara
yang bertanggung jawab
bagi mereka. Tegaskan
makna ilustrasi tersebut,
buah tanggung jawab
menjadi warga negara
tidak bisa mendua: di
satu sisi bertanggung
jawab, di sisi lain
tidak.
2. Sampaikanlah bahwa
sebagai warga negara,
setiap orang punya
tanggung jawab seperti
memiliki KTP di usia 17
tahun ke atas, menaati
peraturan lain lintas,
membayar pajak, dsb.
Namun di sisi lain,
orang kristen punya
kewarganegaraan yang
berbeda, yakni warga
negara istimewa.
Jelaskan apa maksudnya (lihat
fokus).
3. Masuklah dalam
penjelasan teks.
Tegaskan bahwa jawaban
Yesus menunjukkan bahwa
menjadi warga negara
istimewa tidak berarti
memberontak pada
pemerintah. Relevansinya,
justru dengan menjadi
warga negara yang
bertanggung jawab, orang
kristen dapat mewujudkan
nilai-nilai kekristenan
dan orang di luar
kristen tidak mempunyai
alasan untuk menuduh
orang kristen tidak taat
pada pemerintah.
4. Sampaikan pengenaan.
5. Akhiri dengan
kegiatan.
Kegiatan Diskusi
1. Bagi remaja dalam
beberapa kelompok,
sesuaikan jumlah anggota
kelompok dengan jumlah
remaja setempat (sebaiknya
tidak terlalu banyak
kelompok).
2. Bagikan fotokopi
bahan diskusi
3. Minta remaja
memberikan pendapatnya
terhadap kasus yang ada
pada bahan diskusi.
Pembimbing dapat
diberikan pertanyaan
panduan, seperti:
- Menurut Anda siapakah
yang bersalah dalam
kasus tersebut? Mengapa?
- Jika kamu menjadi
pemuda itu, tindakan apa
yang akan kamu lakukan?
Bahan Diskusi
Seorang pemuda
mengendarai sepeda motor
dengan posisi berada di
sebelah kanan badan
jalan karena ia berniat
menyeberang. la
berkendara dengan
kecepatan tinggi karena
buru-buru mau menjemput
pacarnya. Tanpa
disangka-sangka dari
arah yang berlawanan
muncul sebuah mobil yang
dikendarai seorang bapak.
Karena buru-buru, pemuda
ini tidak mengurangi
kecepatan, melainkan
menambah kecepatan dan
berpikir bahwa ia dapat
menyeberang sebelum
mobil tersebut lewat.
Bapak yang mengendarai
mobil sudah memperpelan
laju mobilnya dan
beberapa kali
membunyikan klakson.
Namun sang pemuda tetap
nekat. Akibatnya
tabrakan tidak dapat
dihindarkan. Baik sepeda
motor maupun mobil
sama-sama mengalami
kerusakan. Meski
demikian sang pemuda
tetap marah dan meminta
ganti rugi. Namun sang
bapak tidak terima
karena selain
mengendarai di posisi
yang salah, ternyata
pemuda tersebut juga
tidak memakai helm,
tidak membawa SIM dan
juga STNK (Surat Tanda
Nomor Kendaraan).
Ilustrasi
BENARTAPI SALAH
Seorang detektif sedang
mencari seorang penduduk
setempat yang beberapa
tahun lalu melarikan
diri dari penjara.
Ketika masuk ke sebuah
toko obat, detektif itu
melihat laki-laki yang
dicarinya tersebut
sedang berada di sana.
Detektif tersebut
meletakkan tangannya di
pundak orang itu dan
berkata, "Engkau ditahan,
pergilah bersamaku!"
"Apa salahku dan apa
yang kulakukan?"
Laki-laki itu membantah.
"Kau tahu apa yang kau
lakukan? Engkau
melarikan diri dari
penjara beberapa tahun
yang lalu. Engkau
melarikan diri ke luar
negeri, menikah, dan
kemudian kembali dan
tinggal di sini lagi, "
jawab sang detektif
dengan tenang.
"Kami sudah mengawasimu
sejak engkau kembali,"
terusnya.
"Benar, tetapi saya
yakin bahwa engkau tidak
dapat menemukanku.
Sebelum Anda menawanku,
dapatkah kita berhenti
sebentar di rumahku
sehingga aku dapat
berbicara dengan
keluargaku?"
Detektif itu setuju dan
mereka berdua menuju ke
rumah laki-laki itu.
Ketika sampai di
rumahnya, laki-laki itu
bertanya kepada istrinya,
"Bukankah aku telah
menjadi suami yang baik?
Bukankah aku telah
bekerja keras untuk
menghidupi keluarga?"
"Tentu saja, tetapi
mengapa engkau
menanyakan pertanyaan
ini kepadaku?" Tanya
istrinya.
Suaminya kemudian
menerangkan apa yang
telah terjadi. Rupanya
ia berharap bahwa
reputasinya sebagai
suami dan ayah yang baik
akan mengesankan
detektif itu. Namun
ternyata ia tetap harus
masuk penjara. Sang
detektif berkata, "Meskipun
engkau benar di hadapan
keluarga, engkau masih
tetap bersalah kepada
hukum!"
|
 |
A R S I P
|
 |
 |
|
|
|
|