|

SEKILAS
Salah satu penderitaan masyarakat modern adalah tidak punya
"rumah"! Rumah yang dimaksud di sini adalah rumah dalam
pengertian "home" bukan "house". Bukan gedung tetapi sebuah
relasi yang memberi rasa aman dan nyaman. Gaya hidup
individualistis dan penuh persaingan membuat manusia
mengalami aleniasi/keterasingan seorang dengan yang lain.
Bisa saja orang punya kekayaan dan bangunan rumah yang megah,
namun tidak memiliki "home". Hidupnya digerogoti oleh rasa
takut, terasing, dan kesepian. Pelajaran ini dirancang untuk
mengingatkan remaja agar dapat menolong sesamanya yang
menderita aleniasi, dengan cara belajar memberi "home" bagi
mereka.
PENJELASAN TEKS
Zakeus Menderita Alienasi
Ketika Yesus memasuki kota Yerikho, Zakeus ingin melihatnya.
Mungkin ia sudah sering mendengar cerita tentang "orang
apakah Yesus itu". Sekarang ia ingin menyaksikannya dengan
mata kepala sendiri. Apa yang ia lakukan? Ia berusaha
berlari mendahului orang banyak. Tapi sayang ia gagal. Ia
tetap tidak dapat melihat Yesus. Kemudian ia nekat memanjat
pohon ara agar dapat melihat Yesus. Peristiwa ini sungguh
lucu. Bayangkanlah: Zakeus orang kaya dan berbadan pendek.
Sebagai kepala pemungut cukai, tentu ia bukan anak-anak lagi.
Orang kaya berbadan pendek: kemungkinan besar tubuhnya
gendut. Coba bayangkan! Orang dewasa, gendut, pendek, dan
berperut buncit, berlari dan memanjat pohon ara di depan
umum. Bukankah ini tindakan kekanak-kanakan?
Bukankah ini konyol? Bahan tertawaan? Apakah Zakeus tidak
memikirkan apa komentar orang terhadap kelakuannya? Apakah
ia tidak merasa malu?
Agaknya Zakeus tidak peduli lagi apa kata orang tentang
dirinya. Mungkin karena ia sudah terlalu sering mendapat
komentar miring. Mungkin ia sudah kebal: muka tembok!
Pekerjaannya sebagai kepala pemungut cukai membuatnya
dibenci rakyat banyak. Karena itu, makian, cacian, dan
dianggap najis sudah menjadi makanan sehari-hari. Akibatnya:
Ia tidak peduli apakah orang lain mempedulikan dirinya.
Tentu ini adalah pen¬deritaan psikologis yang dahsyat. Ia
mengalami krisis relasi. Eric Form mengatakan bahwa umumnya
manusia mempunyai kerinduan untuk dikasihi, diterima, dan
dipedulikan. Jika manusia tidak lagi memiliki pengharapan
untuk dipedulikan dan mempedulikan orang lain, maka ia
berada dalam tahap akhir untuk berhenti menjadi manusia.
Nah, itulah keadaan Zakeus. Ia terlalu sering mengalami "penolakan"
dari sesamanya, hingga akhimya ia tidak punya lagi
pengha¬rapan untuk dipedulikan. Ia menderita alienasi. Ia
memang punya segala-galanya. Namun ia tidak memiliki "rumah"
batin yang memberi bahagia. Ia mengalami krisis relasi yang
paling dahsyat. Ia menderita keterasingan.
Yesus Memberi "Home"
Melihat keadaan mental dan psikis Zakeus ini, maka Yesus
bertindak. Ia tidak melewati Zakeus lalu pergi begitu saja.
Kepada Zakeus Yesus berkata: "Zakeus segeralah turun,
sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu " (ay. 5)
Yesus memanggil nama Zakeus
Zakeus artinya murni. Karena dibakar oleh kebencian, maka
orang banyak tidak memanggil Zakeus dengan nama itu.
Sebutan-sebutan lain yang menyakitkan seperti: pemeras,
penindas, antek romawi, dan sejenisnya mungkin lebih biasa
dikenakan pada Zakeus. Dalam ayat 7, ia dipanggil oleh orang
banyak bukan dengan nama dirinya, melainkan dengan sebutan
"orang berdosa". Namun tidak demikian cara
Yesus memanggilnya. Yesus dengan sengaja memanggil namanya:
Zakeus. Tentu panggilan tersebut bagi Zakeus terasa nyaman.
Namanya dikenali dan disebut Yesus? Padahal biasanya namanya
tidak diingat orang, dan ia hanya dikenali sebagai orang
berdosa. Kini ia diingat dan diperhatikan.
"Aku harus menumpang di rumahmu"
Mengapa harus? Siapa yang mengharuskan? Kata "harus"
menunjukkan bahwa Tuhan Yesus melihat ada sesuatu yang
sangat urgen dan mendesak. Dengan memandang mata Zakeus,
Tuhan Yesus tahu bahwa Zakeus adalah sosok yang sangat
menderita. Ia mungkin punya kekayaaan dan rumah yang megah,
bahkan ia punya segalanya. Tetapi ia tidak punya "home". Ia
mengalami krisis relasi dan penderitaan aleniasi yang
dahsyat. Penderitaan ini harus segera ditangani. Jika tidak,
maka Zakeus terancam untuk berhenti disebut sebagai manusia?
Jika bukan manusia lalu apa? Lebih rendah dari manusia. Itu
sebabnya Yesus merelasikan diri dengan Zakeus. Ia bergaul
dengan Zakeus, bahkan menumpang di rumah Zakeus. Ia tidak
mendekati Zakeus dengan banyak syarat dan tuntutan,
melainkan dengan sentuhan kasih. Dengan tindakan itu Yesus
menjawab kebutuhan paling hakiki dalam diri Zakeus. Yakni:
perasaan diterima, diperhatikan dan dicintai. Ia memberi
"home" kapada Zakeus. Dengan itu Ia menyembuhkan Zakeus dari
penderitaannya.
|
 |
Zakeus Membangun "Home" bagi Orang Lain
Tindakan Yesus menyembuhkan Zakeus. Ia berubah dari seorang
yang tidak peduli dan tidak mengharapkan kepedulian orang
lain, menjadi sosok yang sedia memberi "home" kepada orang
lain. Setengah dari miliknya dibagi-bagikan kepada orang
miskin. Ia mengembalikan empat kali lipat lebih besar kepada
orang yang pernah diperasnya. Ini adalah perubahan yang
sangat radikal. Ia yang biasa hadir menebar ancaman dan
penindasan, kini hadir memberi rasa aman dan kasih. Zakeus
sudah mendapatkan "home" dari Yesus, maka kini ia membangun
"home" bagi sesamanya. Ia berjuang untuk menyembuhkan
luka-luka sesamanya. Ia tidak lagi teralienasi, tapi terikat
dalam relasi kasih dengan sesamanya. Meneguhkan kesembuhan
itu maka Yesus berkata: "Hari ini telah terjadi
keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak
Abraham".
LANGKAH-LANGKAH PENYAMPAIAN
Komunitas Tanpa Rumah
Tanyakan kepada remaja: jika mendengar kata "RUMAH" apakah
yang terlintas dalam pikiran saudara? Kampung halaman?
Bangunan? Keluarga? Atau apa? Rumah adalah simbol kehangatan
dan kebahagiaan. Rumah adalah tempat di mana kita menemukan
rasa aman dan tidak merasa takut. Di rumah kita dapat
menanggalkan semua pagar kita dan menjadi bebas. Bebas dari
kecemasan, bebas dari ketegangan dan bebas dari tekanan.
Rumah adalah tempat di mana kita dapat tertawa, berteriak,
merangkul, menari, tidur lama, bermimpi, makan, membaca,
bermain, mendengarkan musik, dan bercanda. Rumah adalah
tempat kita beristirahat dan disembuhkan. Rumah
adalah tempat di mana kita menemukan rasa aman.
Henry Nouwen mengatakan bahwa tidak ada ungkapan yang
paling cocok untuk melukiskan penderitaan manusia di zaman
kita ini, kecuali "hidup tanpa rumah". Tidak punya
"home": tempat yang memberikan rasa aman, tenteram,
diperhatikan, dilindungi dan dicintai. Sebaliknya hidup
dipenuhi rasa takut, cemas, ketidakpedulian dan pada
akhirnya alienasi. Ini adalah krisis yang menyingkapkan
keadaan kita yang paling mendasar. "Home sweet home"
tinggal menjadi slogan yang kosong.
Zakeus: Sosok Tanpa "Home"
Lanjutkan dengan menjelaskan kepada remaja bahwa Zakeus
adalah salah satu contoh dari orang yang tidak punya "home".
Hartanya banyak tetapi ia menderita alienasi /keterasingan.
Ia dibenci oleh semua orang. Dalamilah keterasingan Zakeus,
dengan menunjukkan bahwa Zakeus sudah "mati rasa" untuk
mempedulikan sesama dan kehilangan pengharapan untuk
dipedulikan orang lain (lihat Penjelasan teks). Eric Form
mengatakan bahwa manusia yang tidak lagi punya kepedulian
kepada sesamanya dan kehilangan pengharapan untuk
dipedulikan orang lain adalah manusia yang berada pada tahap
terakhir untuk berhenti sebagai manusia. Lazimnya manusia,
ingin dicintai, diterima, dihargai, dan dipedulikan. Jika
Zakeus tidak lagi peduli terhadap hal itu, maka selangkah
lagi ia tidak dapat disebut sebagai manusia. Martabat
kemanusiaannya melorot.
|
 |
Memberi "Home": Bukan Menuntut Melainkan "Menyentuh"
Mengapa Zakeus mengalami alienasi? Itu adalah buah kesalahan
sendiri. Ia seorang pemeras dan penindas. Semua orang
menolak dan membencinya. Namun Yesus memberinya "home". Ia
sedia menyembuhkan Zakeus dari penderitaan keterasingan
dengan cara sedia menjadi sahabat. Ia tidak mendekati Zakeus
dengan seribu satu macam tuntutan melainkan dengan "sentuhan"
kasih. Ia tidak menuntut agar Zakeus berubah dulu, dan baru
kemudian Ia sedia bersahabat dengannya. Tidak! Tetapi, Ia
memanggil nama Zakeus, dan menumpang di rumahnya. Yesus
menjalin relasi kasih yang intens dengan Zakeus. Bersama
Yesus Zakeus mendapatkan “home". Sebagai akibatnya: ia
berubah. Pada akhirnya ia juga dapat memberi "home" kepada
sesamanya. (Eksplorasilah perubahan sikap Zakeus, lihat
penjelasan teks). Ia terbebas dari perasaan terasing.
Kemudian berubahlah ia menjadi sosok yang mampu menga sihi
sesamanya. Ia sedia berbagi dan menebus segala kesalahannya.
Ia tidak lagi hidup dengan dan untuk diri sendiri, melainkan
sedia bertumbuh dan berkembang bersama orang lain. Ia sembuh.
Maka Yesus berkata: "orang inipun Anak Abraham".
Relevansi dan Aktivitas
Ajaklah remaja menyadari bahwa efek gaya hidup
individualistis dan penuh persaingan dalam masyarakat modern
sering menghasilkan penderitaan tidak punya "home". Keluarga
seringkali juga gagal dalam memberi "home" kepada anggotanya.
Itulah sebabnya banyak orang mencari "rumah" di luar rumah.
Kebut-kebutan di jalan, diskotik, obat terlarang, gaya hidup
selingkuh dijadikan sumber rasa aman. Angkat juga isu-isu
tentang fenomena adanya orang asing di negeri sendiri. Yakni
penderitaan orang-orang yang disingkirkan dan dipinggirkan
oleh kebanyakan orang. Seperti halnya para penderita AIDS,
kusta, dll. Ingatkan remaja bahwa mereka dipanggil untuk
memberi "home" di manapun Tuhan menempatkan mereka. Baik di
rumah, di sekolah, di gereja dan di masyarakat.
Akhiri perlajaran dengan mengajak remaja menulis surat,
puisi, pamflet, poster atau gambar tentang penderitaan
orang-orang yang tersingkir dan menderita keterasingan. Jika
mungkin, muatlah hasil karya mereka pada "buletin remaja",
majalah dinding, warta jemaat, dan pajanglah di ruang
kebaktian remaja untuk beberapa minggu.
|