Home | Tentang Kami | Kesaksian | Acara rohani | Link
 
Swara Surgawi
Video Streaming
Gratis CD Sabda
Alkitab Elektronik
Hollypower.net
E-mail Gratis
 
eXTReMe Tracker
  DERAP REMAJA


derap remaja adalah bahan pembinaan untuk remaja. disusun secara tematis.
setiap tema didasarkan satu bacaan alkitab.
dilengkapi pula dengan metode penyampaian.
telah terbit edisi 21. satu edisi per enam bulan.
para penulis derap remaja 2007 : pdt. addi soselia patriabara,
pdt. tri santoso, pdt. natan kristiyanto,  pdt. widi artanto, pdt. didik tridjatmiko,
pdt.waskito wibowo, anna marsiana, pdt. tabita kartika christiani
kontak: widi artanto, samirono baru 72 komp. lpps, yogyakarta, 55281.
telp.(0274) 514721-551592 fax. 0274) 543001
 e-mail: w_artanto@yahoo.com

Harga Rp. 20.000,-
Cara pengiriman ongkos cetak:
1. Lewat POS WESEL dengan memakai blangko yang dilampirkan
dalam surat pengantar
2. Lewat Bank ke TAHAPAN BCA cab. Sudirman Yogyakarta
No. 0371994881 a.n. Widi Artanto.
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
 

       Bagaimana menggunakan Derap Remaja?

Seni Hidup


september 2007

Wajah Berseri vs, Muram Durja

Membangun Impian

Give Me Home

Aku Ingin Mati

Life Must Go On
 


september 2007minggu 3
Give Me Home

bacaan: lukas 19:1-10
bahan: kertas surat, bahan poster, kertas gambar, cat, spidol, dll.

 

                                 
                                          
                                                      
SEKILAS
Salah satu penderitaan masyarakat modern adalah tidak punya "rumah"! Rumah yang dimaksud di sini adalah rumah dalam pengertian "home" bukan "house". Bukan gedung tetapi sebuah relasi yang memberi rasa aman dan nyaman. Gaya hidup individualistis dan penuh persaingan membuat manusia mengalami aleniasi/keterasingan seorang dengan yang lain. Bisa saja orang punya kekayaan dan bangunan rumah yang megah, namun tidak memiliki "home". Hidupnya digerogoti oleh rasa takut, terasing, dan kesepian. Pelajaran ini dirancang untuk mengingatkan remaja agar dapat menolong sesamanya yang menderita aleniasi, dengan cara belajar memberi "home" bagi mereka.

PENJELASAN TEKS
Zakeus Menderita Alienasi

Ketika Yesus memasuki kota Yerikho, Zakeus ingin melihatnya. Mungkin ia sudah sering mendengar cerita tentang "orang apakah Yesus itu". Sekarang ia ingin menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Apa yang ia lakukan? Ia berusaha berlari mendahului orang banyak. Tapi sayang ia gagal. Ia tetap tidak dapat melihat Yesus. Kemudian ia nekat memanjat pohon ara agar dapat melihat Yesus. Peristiwa ini sungguh lucu. Bayangkanlah: Zakeus orang kaya dan berbadan pendek. Sebagai kepala pemungut cukai, tentu ia bukan anak-anak lagi. Orang kaya berbadan pendek: kemungkinan besar tubuhnya gendut. Coba bayangkan! Orang dewasa, gendut, pendek, dan berperut buncit, berlari dan memanjat pohon ara di depan umum. Bukankah ini tindakan kekanak-kanakan?
Bukankah ini konyol? Bahan tertawaan? Apakah Zakeus tidak memikirkan apa komentar orang terhadap kelakuannya? Apakah ia tidak merasa malu?
Agaknya Zakeus tidak peduli lagi apa kata orang tentang dirinya. Mungkin karena ia sudah terlalu sering mendapat komentar miring. Mungkin ia sudah kebal: muka tembok! Pekerjaannya sebagai kepala pemungut cukai membuatnya dibenci rakyat banyak. Karena itu, makian, cacian, dan dianggap najis sudah menjadi makanan sehari-hari. Akibatnya: Ia tidak peduli apakah orang lain mempedulikan dirinya. Tentu ini adalah pen¬deritaan psikologis yang dahsyat. Ia mengalami krisis relasi. Eric Form mengatakan bahwa umumnya manusia mempunyai kerinduan untuk dikasihi, diterima, dan dipedulikan. Jika manusia tidak lagi memiliki pengharapan untuk dipedulikan dan mempedulikan orang lain, maka ia berada dalam tahap akhir untuk berhenti menjadi manusia. Nah, itulah keadaan Zakeus. Ia terlalu sering mengalami "penolakan" dari sesamanya, hingga akhimya ia tidak punya lagi pengha¬rapan untuk dipedulikan. Ia menderita alienasi. Ia memang punya segala-galanya. Namun ia tidak memiliki "rumah" batin yang memberi bahagia. Ia mengalami krisis relasi yang paling dahsyat. Ia menderita keterasingan.

Yesus Memberi "Home"
Melihat keadaan mental dan psikis Zakeus ini, maka Yesus bertindak. Ia tidak melewati Zakeus lalu pergi begitu saja. Kepada Zakeus Yesus berkata: "Zakeus segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu " (ay. 5)
Yesus memanggil nama Zakeus

Zakeus artinya murni. Karena dibakar oleh kebencian, maka orang banyak tidak memanggil Zakeus dengan nama itu. Sebutan-sebutan lain yang menyakitkan seperti: pemeras, penindas, antek romawi, dan sejenisnya mungkin lebih biasa dikenakan pada Zakeus. Dalam ayat 7, ia dipanggil oleh orang banyak bukan dengan nama dirinya, melainkan dengan sebutan "orang berdosa". Namun tidak demikian cara Yesus memanggilnya. Yesus dengan sengaja memanggil namanya: Zakeus. Tentu panggilan tersebut bagi Zakeus terasa nyaman. Namanya dikenali dan disebut Yesus? Padahal biasanya namanya tidak diingat orang, dan ia hanya dikenali sebagai orang berdosa. Kini ia diingat dan diperhatikan.

"Aku harus menumpang di rumahmu"
Mengapa harus? Siapa yang mengharuskan? Kata "harus" menunjukkan bahwa Tuhan Yesus melihat ada sesuatu yang sangat urgen dan mendesak. Dengan memandang mata Zakeus, Tuhan Yesus tahu bahwa Zakeus adalah sosok yang sangat menderita. Ia mungkin punya kekayaaan dan rumah yang megah, bahkan ia punya segalanya. Tetapi ia tidak punya "home". Ia mengalami krisis relasi dan penderitaan aleniasi yang dahsyat. Penderitaan ini harus segera ditangani. Jika tidak, maka Zakeus terancam untuk berhenti disebut sebagai manusia? Jika bukan manusia lalu apa? Lebih rendah dari manusia. Itu sebabnya Yesus merelasikan diri dengan Zakeus. Ia bergaul dengan Zakeus, bahkan menumpang di rumah Zakeus. Ia tidak mendekati Zakeus dengan banyak syarat dan tuntutan, melainkan dengan sentuhan kasih. Dengan tindakan itu Yesus menjawab kebutuhan paling hakiki dalam diri Zakeus. Yakni: perasaan diterima, diperhatikan dan dicintai. Ia memberi "home" kapada Zakeus. Dengan itu Ia menyembuhkan Zakeus dari penderitaannya.

Zakeus Membangun "Home" bagi Orang Lain
Tindakan Yesus menyembuhkan Zakeus. Ia berubah dari seorang yang tidak peduli dan tidak mengharapkan kepedulian orang lain, menjadi sosok yang sedia memberi "home" kepada orang lain. Setengah dari miliknya dibagi-bagikan kepada orang miskin. Ia mengembalikan empat kali lipat lebih besar kepada orang yang pernah diperasnya. Ini adalah perubahan yang sangat radikal. Ia yang biasa hadir menebar ancaman dan penindasan, kini hadir memberi rasa aman dan kasih. Zakeus sudah mendapatkan "home" dari Yesus, maka kini ia membangun "home" bagi sesamanya. Ia berjuang untuk menyembuhkan luka-luka sesamanya. Ia tidak lagi teralienasi, tapi terikat dalam relasi kasih dengan sesamanya. Meneguhkan kesembuhan itu maka Yesus berkata: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham".

LANGKAH-LANGKAH PENYAMPAIAN
Komunitas Tanpa Rumah

Tanyakan kepada remaja: jika mendengar kata "RUMAH" apakah yang terlintas dalam pikiran saudara? Kampung halaman? Bangunan? Keluarga? Atau apa? Rumah adalah simbol kehangatan dan kebahagiaan. Rumah adalah tempat di mana kita menemukan rasa aman dan tidak merasa takut. Di rumah kita dapat menanggalkan semua pagar kita dan menjadi bebas. Bebas dari kecemasan, bebas dari ketegangan dan bebas dari tekanan. Rumah adalah tempat di mana kita dapat tertawa, berteriak, merangkul, menari, tidur lama, bermimpi, makan, membaca, bermain, mendengarkan musik, dan bercanda. Rumah adalah tempat kita beristirahat dan  disembuhkan. Rumah adalah tempat di mana kita menemukan rasa aman.
Henry Nouwen mengatakan bahwa tidak ada ungkapan yang paling cocok untuk melukiskan penderitaan manusia di zaman kita ini, kecuali "hidup tanpa rumah". Tidak punya "home": tempat yang memberikan rasa aman, tenteram, diperhatikan, dilindungi dan dicintai. Sebaliknya hidup dipenuhi rasa takut, cemas, ketidakpedulian dan pada akhirnya alienasi. Ini adalah krisis yang menyingkapkan keadaan kita yang paling mendasar. "Home sweet home" tinggal menjadi slogan yang kosong.

Zakeus: Sosok Tanpa "Home"
Lanjutkan dengan menjelaskan kepada remaja bahwa Zakeus adalah salah satu contoh dari orang yang tidak punya "home". Hartanya banyak tetapi ia menderita alienasi /keterasingan. Ia dibenci oleh semua orang. Dalamilah keterasingan Zakeus, dengan menunjukkan bahwa Zakeus sudah "mati rasa" untuk mempedulikan sesama dan kehilangan pengharapan untuk dipedulikan orang lain (lihat Penjelasan teks). Eric Form mengatakan bahwa manusia yang tidak lagi punya kepedulian kepada sesamanya dan kehilangan pengharapan untuk dipedulikan orang lain adalah manusia yang berada pada tahap terakhir untuk berhenti sebagai manusia. Lazimnya manusia, ingin dicintai, diterima, dihargai, dan dipedulikan. Jika Zakeus tidak lagi peduli terhadap hal itu, maka selangkah lagi ia tidak dapat disebut sebagai manusia. Martabat kemanusiaannya melorot.

Memberi "Home": Bukan Menuntut Melainkan "Menyentuh"
Mengapa Zakeus mengalami alienasi? Itu adalah buah kesalahan sendiri. Ia seorang pemeras dan penindas. Semua orang menolak dan membencinya. Namun Yesus memberinya "home". Ia sedia menyembuhkan Zakeus dari penderitaan keterasingan dengan cara sedia menjadi sahabat. Ia tidak mendekati Zakeus dengan seribu satu macam tuntutan melainkan dengan "sentuhan" kasih. Ia tidak menuntut agar Zakeus berubah dulu, dan baru kemudian Ia sedia bersahabat dengannya. Tidak! Tetapi, Ia memanggil nama Zakeus, dan menumpang di rumahnya. Yesus menjalin relasi kasih yang intens dengan Zakeus. Bersama Yesus Zakeus mendapatkan “home". Sebagai akibatnya: ia berubah. Pada akhirnya ia juga dapat memberi "home" kepada sesamanya. (Eksplorasilah perubahan sikap Zakeus, lihat penjelasan teks). Ia terbebas dari perasaan terasing. Kemudian berubahlah ia menjadi sosok yang mampu menga sihi sesamanya. Ia sedia berbagi dan menebus segala kesalahannya. Ia tidak lagi hidup dengan dan untuk diri sendiri, melainkan sedia bertumbuh dan berkembang bersama orang lain. Ia sembuh. Maka Yesus berkata: "orang inipun Anak Abraham".

Relevansi dan Aktivitas
Ajaklah remaja menyadari bahwa efek gaya hidup individualistis dan penuh persaingan dalam masyarakat modern sering menghasilkan penderitaan tidak punya "home". Keluarga seringkali juga gagal dalam memberi "home" kepada anggotanya. Itulah sebabnya banyak orang mencari "rumah" di luar rumah. Kebut-kebutan di jalan, diskotik, obat terlarang, gaya hidup selingkuh dijadikan sumber rasa aman. Angkat juga isu-isu tentang fenomena adanya orang asing di negeri sendiri. Yakni penderitaan orang-orang yang disingkirkan dan dipinggirkan oleh kebanyakan orang. Seperti halnya para penderita AIDS, kusta, dll. Ingatkan remaja bahwa mereka dipanggil untuk memberi "home" di manapun Tuhan menempatkan mereka. Baik di rumah, di sekolah, di gereja dan di masyarakat.
Akhiri perlajaran dengan mengajak remaja menulis surat, puisi, pamflet, poster atau gambar tentang penderitaan orang-orang yang tersingkir dan menderita keterasingan. Jika mungkin, muatlah hasil karya mereka pada "buletin remaja", majalah dinding, warta jemaat, dan pajanglah di ruang kebaktian remaja untuk beberapa minggu.
                            
                                     
                                

Juli0107

Juli0207

Juli0307

Juli0407

Juli0507

Agustus0107

Agustus0207

Agustus0307

Agustus 0407

September 0107

September 0207

 
  Sahabat Surgawi, Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright © 2002-2007,
Tim Sahabat Surgawi