|
derap remaja
adalah bahan pembinaan untuk remaja. disusun secara tematis.
setiap tema didasarkan satu bacaan alkitab.
dilengkapi pula dengan metode penyampaian.
telah terbit edisi 21. satu edisi per enam bulan.
para penulis derap remaja 2007 : pdt. addi
soselia patriabara,
pdt. tri santoso, pdt. natan kristiyanto, pdt. widi
artanto, pdt. didik tridjatmiko,
pdt.waskito wibowo, anna marsiana, pdt. tabita kartika
christiani
kontak: widi artanto, samirono baru 72 komp. lpps, yogyakarta,
55281.
telp.(0274) 514721-551592 fax. 0274) 543001
e-mail: w_artanto@yahoo.com
Harga Rp. 20.000,-
Cara pengiriman ongkos cetak:
1. Lewat POS WESEL dengan memakai blangko yang dilampirkan
dalam surat pengantar
2. Lewat Bank ke TAHAPAN BCA cab. Sudirman Yogyakarta
No. 0371994881 a.n. Widi Artanto.
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
|
|

SEKILAS
Cahaya lilin memiliki arti yang penting bukan pada siang
hari, atau pada saat lampu listrik menyala. Melainkan pada
malam hari, pada saat listrik padam. Memang cahayanya kecil.
Tetapi sekecil apapun cahayanya, dalam kegelapan ia sangat
dibutuhkan. Ketika lilin dinyalakan dan cahayanya memancar,
apakah yang terjadi dengan lilin? Lilin hancur karena
meleleh. Ia sangat berarti meski harus mengorbankan diri.
Sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk memberi arti
kepada sesama. Meskipun untuk itu terkadang dibu¬tuhkan
pengorbanan. Apakah remaja dapat memberi arti bagi sesama?
Tentu saja, dan itu diawali dari dalam keluarga
masing-masing.
PENJELASAN TEKS
Seruan Untuk Meninggalkan Dosa
Rasul Paulus mengingatkan kita untuk waspada dalam hidup di
dunia ini. Nasihat untuk selalu berjaga-jaga selalu
dinyatakannya agar orang Kristen dapat hidup kudus dan
menjadi teladan bagi sesamanya. Hidup kudus yang dimaksud
Rasul Paulus dimulai dari kesediaan menanggalkan manusia
lama atau perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan
senjata terang yakni kesopanan. Kesopanan bukan hanya
sekedar etiket sopan santun saja. Kata sopan dikaitkan
dengan kehidupan pada siang hari. Artinya, kehidupan orang
kristen harus dilihat dan menjadi teladan orang lain.
Kehidupan yang "terang." Rasul Paulus mempertentangkan
kehidupan "terang" dan kehidupan "gelap." Kehidupan gelap
ditandai dengan berbagai tindakan yang menunjukkan
ketidakmampuan manusia mengendalikan diri. Paulus memaparkan
enam dosa. Keenam dosa itu terkait pada tiga pokok dosa:
Pertama: pesta pora dan kemabukan.
Bahasa Indonesia sehari-hari (BIS) menerjemahkan kata
komos dengan berpesta pora melampaui batas. Pesta
semacam ini akan mengganggu orang lain. Pesta pora semacam
ini memiliki arti yang lebih luas yaitu memuja gaya hidup
hedonis. Hanya peduli pada kesenangan sendiri dan menutup
mata pada kepentingan orang lain. Pesta semacam itu berkait
dengan kemabukan. Bagi orang Yunani, kemabukan adalah hal
yang memalukan, sebab mereka terbiasa dengan minuman
beralkohol. Makna yang lebih dalam lagi dari kata kemabukan
ini adalah jangan mempermalukan diri dengan hal-hal yang
tidak pantas. Sebab biasanya orang yang mabuk tidak sadar
diri.
Kedua: percabulan dan hawa nafsu. Kata percabulan
(koite) berarti tempat tidur dan/atau keinginan akan
tempat tidur yang terlarang. Kata ini menggambarkan
hilangnya kesetiaan akibat keinginan untuk menikmati
kesenangan sesaat dan ketidakmampuan mengekang hawa nafsu.
Ketidakmampuan mengekang hawa nafsu membuat manusia
seperingkat dengan hewan.
Ketiga: perselisihan dan iri hati. Perselisihan
timbul dari adanya persaingan yang kotor. Dalam persaingan
yang kotor, segala hal boleh dipergunakan asal tujuan
tercapai. Itu semua berangkat dari iri hati. Sikap iri hati
muncul atas ketidakpuasan dalam diri jika membandingkan diri
dengan orang lain.
Dosa itu harus ditinggalkan. Sebab mereka yang hidup dalam
dosa seperti itu adalah manusia kegelapan dan kegelapan
tidak akan memancarkan terang.
Mengenakan Kristus sebagai senjata terang agar
memancarkan terang
Pada ayat 14, Rasul Paulus mengatakan; "Kenakanlah Kristus
sebagai senjata terang" . Dalam beberapa perikop, Rasul
Paulus menyatakan bahwa terang adalah lambang kekudusan
hidup. Jadi jika kita dipanggil untuk mempergunakan Kristus
sebagai senjata terang, maka kita dipanggil untuk hidup
kudus di dalam Tuhan. Bagaimanakah senjata terang itu
didapat? Terang itu didapatkan dari kesediaan menyangkal
diri (dalam Roma 13:14 disebut dengan merawat tubuh agar
tidak terjatuh pada keinginan untuk memuaskan diri) dan hal
itu dilakukan dengan menghindarkan diri dari kehidupan dalam
dosa seperti yang ditulis dalam Roma 13:12-13. Mengenakan
Tuhan Yesus Kristus sebagai senjata terang juga memiliki
makna agar kita memancarkan terang Kristus kepada banyak
orang.
Untuk menjadi terang, berarti dibutuhkan pengorbanan. Salah
satunya adalah melawan kesenangan diri sendiri. Sebab,
menjadi terang juga berarti bersedia menjadi teladan bagi
sesama. Bisa dibayangkan, apalagi buat remaja, betapa tidak
mudah tampil melawan larus. Tetapi, itulah yang Tuhan minta.
Seperti sebuah lilin yang memberi terang dan harus meleleh
karenanya, demikianlah anak-anak terang.
LANGKAH-LANGKAH PENYAMPAIAN
1. Mulailah dengan permainan adu cepat memegang anggota
tubuh. Aturan mainnya, minta remaja memperhatikan pemimpin
yang akan mengecohkan mereka. Lalu mereka diminta melakukan
sesuai dengan apa yang dikatakan pemimpin. Misalnya,
pemimpin berkata pegang telinga, dia sendiri memegang hidung.
Perhatikan berapa banyak remaja yang salah. Katakan pada
remaja, sering dalam hidup kita mengikuti apa yang terjadi
di sekitar kita. Tak jarang, itu justru menjerumuskan remaja
pada persoalan besar.
2. Remaja diajak melihat panggilan orang Kristen yaitu
menjadi terang bagi sesamanya dengan jalan meninggalkan
kehidup¬an dalam dosa dan memasuki kehidupan Kristus,
seperti yang terdapat dalam Roma 13:12-14. Berikan penekanan
bahwa kita dipanggil untuk mengenakan Tuhan Yesus Kristus
sebagai senjata terang.
Dengan menjadikan Kristus sebagai senjata terang, maka hidup
kita pun akan memancarkan terang Kristus.
3. Untuk menjadi terang tidak mudah, sebab dibutuhkan
kesediaan untuk "melelehkan diri" dengan menyangkal diri.
4. Ajak remaja belajar menjadi terang, pertama-tama dalam
lingkup terkecil, yaitu dari dalam keluarga masing-masing.
Mencoba untuk tidak bersikap egois, mulailah untuk tidak
mudah menjadi pribadi yang senang dengan perselisihan,
mulailah dengan membuang segala bentuk iri hati terhadap
sesama anggota keluarga. Berikanlah contoh-contoh praktis.
Tekankan, terang tidak mungkin disembunyikan. Ketika kita
menjadi terang, mereka yang ada di sekitar kita akan
melihatnya.
KEGIATAN
1. Pemandu dapat mengajak remaja mem¬perhatikan lilin yang
dinyalakan. Jika persekutuan dilakukan pada siang hari,
tunjukkanlah bahwa cahaya lilin itu tidak memiliki arti.
Jika persekutuan dilakukan pada malam hari, ajaklah remaja
mengamati lilin yang dinyalakan bersamaan dengan lampu
listrik dinyalakan. Cahaya itu juga tidak memiliki arti.
Matikanlah lampu dan lihatlah, dalam kegelapan lilin yang
kecil dengan cahaya yang kecil itu ternyata memiliki arti
yang besar bagi kita.
2. Ajaklah remaja mengamati, bagaimana lilin itu meleleh
ketika dinyalakan. Apa yang akan terjadi jika lilin itu
tidak meleleh? Tentu tidak akan ada terang, sebab untuk
dapat menghasilkan cahaya, lilin harus dibakar dan meleleh.
Dari aktivitas ini, ajaklah remaja untuk menarik kesimpulan
dari pertanyaan ini: bagaimana dengan diri kita, beranikah
kita melelehkan diri untuk menyalakan hidup yang benar?
Maukah kita memulainya dari dalam rumah kita masing-masing?
|