|

SEKILAS
Masalah dalam keluarga bukan hanya "beban" bagi orang tua,
tetapi juga bagi seluruh anggota keluarga. Jika keluarga
ibarat tubuh, luka di jari manis juga pasti dirasakan lengan.
Kepala turut terasa nyut-nyutan akibat gigi yang berlobang
dan sakit. Masalah keluargaku adalah masalahku juga. Hal ini
menunjukkan bahwa kita tidak boleh lepas tangan dari
problematika dalam keluarga kita. Pelajaran ini dirancang
agar remaja memiliki kepedulian atas persoalan keluarganya.
PENJELASAN TEKS
Masalah adalah kenyataan hidup
Elimelekh dan Naomi adalah orang Efrata, dari
Betlehem-Yehuda. Pada jaman hakim-hakim memerintah,
terjadilah kelaparan di tanah Israel. Mereka bersama kedua
anaknya, Mahlon dan Kilyon, meninggalkan tanah airnya dan
pergi ke Moab. Tak lama setelah Elimelekh dan keluarganya
menetap di Moab, matilah Elimelekh. Naomi tinggal di Moab
dengan kedua anaknya. Di Moab, Mahlon dan Kilyon menikah
dengan wanita dari Moab. Nama mereka adalah Orpa dan Rut.
Setelah 10 tahun mereka menetap di sana, matilah Mahlon dan
Kilyon. Naomi, Orpa, dan Rut menjadi janda. Sebuah
perso¬alan keluarga terlihat di sana. Namun, dari cerita
selanjutnya, tampak bahwa kematian para suami tidaklah
membuat mereka patah semangat. Masalah adalah kenyataan
hidup yang harus dihadapi bersama. Bagaimana mereka
menghadapinya?
Mencari solusi adalah jalan terbaik mengatasi masalah
Setelah kematian Mahlon dan Kilyon, Naomi berniat pulang ke
tanah airnya bersama kedua menantunya. Pernyataan ini
menunjukkan mereka kompak menghadapi persoalan bersama.
Mereka bersatu sebagai sebuah keluarga untuk mengatasi
persoalan.
Kepulangan mereka oleh sebab ada kabar bahwa Tuhan telah
memulihkan keadaan Betlehem. Ketika mereka berada di tengah
jalan, berkatalah Naomi kepada kedua menantunya: "Pergilah,
pulanglah masing-masing ke rumah ibunya, Tuhan kiranya
menunjukkan kasih-Nya". Apakah Naomi tidak sayang pada kedua
menantunya? Tentu saja tidak. Ia sayang dan karena itu
memikirkan masa depan menantunya. Ia pernah merasakan
tinggal di negeri asing. Ia merasakan ketidaknyamanan,
homesick. Ia menyuruh pulang agar kedua menantunya dapat
hidup lebih baik.
Namun, kedua menantunya menolak, Mereka tidak ingin
meninggalkan Naomi sen-dirian. Siapa lagi yang dimiliki
Naomi kalau bukan mereka berdua? Karena itu berkatalah Orpa
dan Rut: "Tidak, kami akan ikut dengan engkau, pulang ke
bangsamu". Naomi memberi argumentasi lain. Katanya: "Pulanglah
anak-anakku, pergilah, sebab aku tidak mungkin lagi
melahirkan laki-laki bagi kalian, seandainyapun aku punya
anak, masakan engkau akan menantinya sampai dewasa?
Janganlah kiranya demikian anakku, bukankah jauh lebih pahit
yang aku alami dari pada kamu, sebab tangan Tuhan teracung
padamu?" (ayat 10-13). Argumentasi Naomi berkaitan dengan
aturan perkawinan levirat. Levirat (dari kata Ibrani
levir, artinya saudara laki-laki suami) adalah aturan
menggantikan kedudukan suami yang meninggal jika tidak
memiliki anak. Penggantinya adalah saudara laki-laki itu.
Penjelasan Naomi menunjukkan bahwa Orpa dan Rut tidak
memiliki anak. Dalam tradisi Yahudi, kedudukan perempuan
sangat rendah. Ditambah lagi kalau ia seorang janda tanpa
anak. Dengan demikian, perkataan Naomi menegaskan
kemungkinan penderitaan yang menimpa Orpa dan Rut jika
memutuskan hendak mengikutinya.
Dialog antara mertua dan menantu di atas menunjukkan bahwa
komunikasi dalam rumah tangga sangat diperlukan. Dengan itu,
persoalan sebesar apapun dapat dibicarakan.
Darinya keputusan terbaik dapat dipilih.
Pilihan Yang Terbaik
Mendengar penjelasan itu, Orpa meninggalkan Naomi dan
kembali ke tanah airnya. Kepergiannya bukan karena ia tidak
mengasihi Naomi. Justru karena ia mendengar kata-kata Naomi,
ia mengasihi Naomi, untuk itu ia memutuskan pulang. Bagi
Orpa inilah solusi yang terbaik untuknya dan untuk Naomi,
mertuanya.
Sedangkan Rut memilih tetap mengikuti perjalanan Naomi.
Solusi yang diambil Rut tidak langsung diterima oleh Naomi,
karena itu ia berkata: "Telah pulang iparmu kepada bangsanya
dan kepada allahnya, pulanglah dan ikuti iparmu itu" (ayat
15).
|Naomi berusaha menyakinkan Rut bahwa meninggalkan dirinya
adalah lebih baik.
Tetapi Rut berkeras, katanya: "Jangan desak aku meninggalkan
engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau, sebab ke
mana engkau pergi, ke situ juga aku pergi, dan ke mana
engkau bermalam, ke situlah aku akan bermalam: bangsamulah
bangsaku dan Allahmulah Allahku, di mana engkau mati, akupun
mati di sana dan di sanalah aku dikuburkan. "Beginilah
kiranya Tuhan menghukum aku, bahkan lebih lagi daripada itu,
jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain
daripada maut!" (ayat 16-18). Rut tetap pada pendiriannya.
Bukan karena ia mengeraskan hati, tetapi karena ia memang
ingin mendampingi ibu mertuanya dalam segala keadaan.
Keputusan Rut tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga
untuk Naomi, Ia mengasihi ibu mertuanya. Untuk itu, ia
menyatakan tekadnya: "Beginilah kiranya Tuhan menghukum
aku, bahkan lebih lagi daripada itu...". Setelah Naomi
mendengar pernyataan Rut, ia pun menerimanya. Mereka berdua
berjalan menuju tanah Betlehem.
LANGKAH-LANGKAH PENYAMPAIAN
1. Sebagai pembuka, ceritakanlah Kisah Yanto (lihat di bawah).
Ajak remaja mendiskusikan kisah ini dengan bertanya: Apakah
lari dari rumah adalah solusi yang terbaik? Apakah setelah
lari dari rumah, Yanto betul-betul terlepas dari persoalan?
Apakah dengan sepeninggal Yanto, keluarganya menjadi lebih
baik?
2. Tuntun remaja menyadari bahwa jalan keluar Yanto adalah
jalan keluar yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Padahal
masalah keluarga adalah masalah kita. Untuk itu remaja harus
berani menghadapinya, jangan mencari kambing hitam, tidak
menyalahkan orang lain/keadaan atau bahkan lari dari
kenyataan.
3. Tanyakan, apakah selama ini remaja mengetahui
masalah-masalah yang terjadi dalam keluarga? Tahukah mereka
berapa gaji orang tua mereka? Apakah dengan gaji itu sanggup
memenuhi kebutuhan sehari-hari atau malah kurang? Tahukah
mereka persoalan yang dihadapi adik atau kakak mereka?
Mungkin remaja berpikir, buat apa mikirin itu. Itu kan bukan
urusannya. Bisa pusing... pusing... pusing, deh. Daripada
jadi remaja Echa alias: E... Capek Deh... lebih baik mencari
pelampiasan lain. Main playstation, aktif di gereja, nge-band,
dll.
4. Tekankan bahwa remaja merupakan bagian dari keluarga.
Sebuah persoalan me¬nimpa seorang anggota keluarga, yang
lain terkena imbasnya. Misalnya Ayah di-PHK, pasti sangat
mempengaruhi kehidupan. Untuk itu ajak remaja untuk tidak
cuek, tetapi ikut memikirkan persoalan keluarganya.
Pembimbing memperlihatkan kisah Naomi, Rut, dan Orpa (lihat
penjelasan teks). Tegaskan bahwa keputusan Orpa dan Rut
adalah keputusan yang memikirkan orang lain (keluarga) dan
dirinya.
5. Berikan aplikasi kepada remaja. Misalnya, ketika keluarga
punya masalah ekonomi, tidak menuntut uang jajan. Malah
menabung dan memberikan uangnya untuk membeli beras.
Ingatkan, melarikan diri dari permasalahan keluarga artinya
turut "menghancurkan" keluarga.
|
RUTH, NAOMI
 |
Bahan Diskusi; Kisah Yanto
Yanto, seorang remaja yang berusia 14 tahun. Ia berasal dari
sebuah sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Sudah 2 tahun Yanto
meninggalkan rumahnya. Bersama-sama teman sebayanya ia
tinggal di sebuah gubug kecil dekat stasiun kota Jogja.
Sehari-hari Yanto ngamen di jalanan. Mengapa Yanto
meninggalkan rumahnya dan memilih tinggal di gubug kecil
dekat stasiun? Menurut pengakuannya, ia memilih meninggalkan
rumahnya karena tidak betah dengan permasalahan dalam
rumahnya. Ayahnya terkena PHK, kakaknya diperkosa laki-laki
tidak dikenal, ibunya meninggal dunia akibat sakit parah,
setiap hari ia hanya melihat kesedihan-kesedihan dalam
rumahnya dan semakin lama ia tidak kerasan dengan
masalah-masalah di rumahnya. Sejak 2 tahun yang lalu, ia
memilih meninggalkan rumahnya dan memilih tinggal di jalanan.
Yanto merasa bebas dari masalah-masalah setelah ia
meninggalkan masalah-masalah dalam keluarganya.
KEGIATAN
Permainan bolapanas
Bahan: sebuah bola (ukuran bebas) disebut dengan " Bola
Panas".
1. Remaja diminta duduk melingkar.
2.Salah satu peserta diminta duduk membe-lakangi lingkaran
peserta dan menyanyikan lagu atau memutar musik dari tape.
Sewaktu-waktu peserta yang menyanyikan lagu/memutar musik
dapat menghentikan nyanyiannya atau musiknya sesuai kehendak
hatinya.
3.Sementara musik diputar/dinyanyikan, peserta
mengelilingkan bola dengan tangan (mengoper dengan tangan)
dan bola berhenti dikelilingkan ketika nyanyian berhenti/tidak
ada nyanyian.
4.Jika terdapat peserta yang kedapatan memegang bola saat
nyanyian berhenti dinyanyikan, ia dikeluarkan dari lingkaran
dan permainan dilanjutkan lagi hingga terdapat 4 peserta
yang "tertangkap" dan terpisah dari lingkaran.
5.Setelah permainan berakhir, mereka yang kalah akan dihukum.
Sebelum dihukum mereka diminta membela diri menjawab
pertanyaan, mengapa mereka kok memegang bola?
Reaksi jawaban yang mungkin muncul: Menyalahkan orang lain
yang mengoper bola cepat-cepat. Menyalahkan pembimbing yang
menghentikan lagu. Atau menerima kalau dirinya kurang
tanggap. Pemimpin menerangkan makna permainan ini,
seringkali manusia bersikap menyalahkan orang lain sebagai
reaksi keinginan dirinya keluar dari masalah (hukuman). Pola
ini yang sering dipakai ketika persoalan datang, khususnya
dalam rumah tangga.
|
 |
|