|
derap remaja
adalah bahan pembinaan untuk remaja. disusun secara tematis.
setiap tema didasarkan satu bacaan alkitab.
dilengkapi pula dengan metode penyampaian.
telah terbit edisi 21. satu edisi per enam bulan.
para penulis derap remaja 2007 : pdt. addi
soselia patriabara,
pdt. tri santoso, pdt. natan kristiyanto, pdt. widi
artanto, pdt. didik tridjatmiko,
pdt.waskito wibowo, anna marsiana, pdt. tabita kartika
christiani
kontak: widi artanto, samirono baru 72 komp. lpps, yogyakarta,
55281.
telp.(0274) 514721-551592 fax. 0274) 543001
e-mail: w_artanto@yahoo.com
Harga Rp. 20.000,-
Cara pengiriman ongkos cetak:
1. Lewat POS WESEL dengan memakai blangko yang dilampirkan
dalam surat pengantar
2. Lewat Bank ke TAHAPAN BCA cab. Sudirman Yogyakarta
No. 0371994881 a.n. Widi Artanto.
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
|
|
|
 |
SEKILAS
Belakangan, banyak orang kristen bertanya-tanya tentang
Alkitab. Salah satu persoalannya adalah, munculnya kitab
Injil Yudas di pasar buku. Menurut informasi, buku itu
termasuk kitab yang penulisannya dapat disejajarkan dengan
zaman penulisan Alkitab. Bagaimana kita dapat menyikapi hal
itu? Pelajaran ini dirancang untuk memberikan sedikit
informasi bagi remaja tentang keberadaan kitab-kitab lain di
sekitar Alkitab kita.
PENJELASAN TEKS
Teks kita merupakan tujuan dari pem-beritaan, sekaligus
penutup Injil Yohanes. Sebagaimana penutup yang lazim pada
waktu itu, tujuan penulisan ditegaskan: yaitu supaya orang
percaya pada Yesus.
Ayat 30 mengatakan: "memang masih banyak tanda lain yang
dibuat Yesus di depan murid-muridNya, yang tidak tercatat
dalam kitab ini." Hal ini menunjukkan bahwa Injil
Yohanes (dan juga Injil yang lainnya) bukanlah sebuah
biografi atau autobiografi tentang Yesus. Yang dicatat oleh
Injil Yohanes adalah tanda (Yunani: semeia) yang dibuat
Yesus. Dengan demikian, Injil Yohanes adalah tulisan yang
ditulis berdasarkan iman dan bertujuan mengajak orang
percaya kepada Yesus.
Adakah orang yang mencatat hal lain di luar yang dicatat
Yohanes? Ya! Menurut analisa ahli tafsir Alkitab, pasal 21
dari kitab Yohanes berasal dari sumber tulisan lain, yang
kemudian dihimpun menjadi satu. Alhasil ada kalimat
penutupan kitab lagi dalam kitab Yohanes, yaitu pada Yohanes
21:30.
Dengan demikian, dari Injil Yohanes kita dapat menduga
adanya banyak cerita lain, atau tulisan lain, di luar
kitabnya. Tulisan-tulisan atau kitab-kitab lain itulah yang
disebut sebagai apokrif.
Seputar Apokrif
Apokrif (atau apokrifa) berasal dari bahasa Yunani
apokryphos (krypto artinya menyembunyikan
dan apo: "jauh dari, di luar...") yang berarti:
"disembunyikan dari pandangan atau rahasia" [Xavier Leon-Dufour,
Ensiklopedi Perjanjian Baru], Dengan demikian, kitab
apokrif adalah kitab yang dianggap rahasia atau memuat
berita dalam bahasa rahasia. Tulisan-tulisan apokrif memang
beredar di masa itu. Jumlahnya juga cukup banyak. Di Alkitab
Gereja Katholik terdapat beberapa. Yaitu kitab-kitab: Tobit,
Yudit, 1 dan 2 Makabe, Kebijaksanaan, Sirakh dan Barukh.
Gereja Katholik sendiri menyebutnya dengan istilah
deuterokanonika (artinya, kanon yang kedua).
Mengapa di kalangan Gereja Protestan kitab-kitab itu tidak
termasuk dalam Alkitab? Inilah akibat dari proses kanonisasi.
Kanon dalam bahasa Yunani, berarti alat pengukur. Kanon
Alkitab adalah sebuah daftar tulisan-tulisan yang dinilai
memenuhi patokan yang sesuai dengan ketetapan/keyakinan iman.
Patokan iman yang dimaksud di atas tentu saja iman yang
bertumbuh pada waktu itu. Umumnya standar yang digunakan
adalah: popularitas, klaim kewibawaan (misalnya melalui nama
penulis), kesepakatan, dukungan tokoh-tokoh gereja, isi
kitab dalam menangani isu kekristenan yang muncul saat itu.
Dengan melihat itu, kita bisa menduga bahwa penyusunan kanon
Alkitab tidaklah mudah. Sejarah mencatat daftar susunan yang
senantiasa mengalami perubahan.
Kanonisasi Alkitab dimulai pada
Perjanjian Lama (PL). Sebenarnya sulit mengetahui kapan
proses itu berlangsung. Yang perlu mendapat catatan adalah
proses kanonisasi Perjanjian Lama berakhir lewat sebuah "penutupan"
dalam Sidang Raya di Jamnia (+/- 100 M). Penutupan itu
muncul didorong hadirnya terjemahan PL dalam bahasa Yunani (Septuaginta).
Di dalam terjemahan itu terdapat kitab lain yang kemudian
masuk dalam daftar Alkitab gereja Katholik. Jadi, kita bisa
menyimpulkan, Gereja Katholik berpegang pada kanon Yunani (Septuaginta),
sedangkan gereja protestan pada kanon Ibrani.
Sedangkan kanon Perjanjian Baru (PB) terjadi karena didorong
oleh kenyataan kebencian orang Yahudi kepada orang kristen.
Lebih-lebih setelah peristiwa penghancuran Yerusalem di
tahun 70 M. Dampak peristiwa itu dituduhnya orang kristen
sebagai biang keladi kehancuran itu. Di sisi lain, di
kalangan kelompok kristen sendiri muncul berbagai macam
aliran. Kanon kemudian dipakai sebagai salah satu senjata
gereja melawan aliran yang dianggap sesat tersebut. Kanon
Perjan¬jian baru dinyatakan selesai tahun 380 M.
|
 |
LANGKAH-LANGKAH PENYAMPAIAN
1. Mulailah dengan menunjukkan buku Injil Yudas (atau kitab
apokrif lain) atau kitab Gereja Katholik. Tanyakan komentar
mereka atas perbedaan (dengan kitab Gereja Katholik) dan
ketiadaan (Injil Yudas) dalam Alkitab. Apakah mereka tahu,
mengapa terjadi perbedaan?
2. Jelaskan pola - dalam bahasa remaja yang sederhana -
proses perbedaan Alkitab Gereja Protestan dengan Alkitab
Gereja Katholik. Perbedaan itu tidaklah seharusnya menjadi
persoalan. Sebab tujuannya adalah - seperti yang terdapat
dalam kitab Yohanes - membuat orang percaya pada Yesus.
3. Masuklah dalam penjelasan Injil Yohanes (lihat Penjelasan
Teks). Tekankan bahwa kehidupan Yesus terlalu sukar ditulis
hanya dalam beberapa kitab. Sebagai contoh dapat dipakai
kitab Injil. Satu cerita ditulis 4 orang berbeda,
menghasilkan berita yang berbeda. Itu berarti, semua orang
punya cara pandang yang berbeda terhadap kehidupan Yesus.
Kekayaan tulisan yang ada harus juga dihargai, sebab
menyiratkan kenyataan sejarah pada waktu itu.
Tulisan-tulisan yang kemudian tidak masuk dalam Alkitab
itulah yang disebut sebagai apokrifa (lihat Seputar Apokrifa).
4. Jelaskan pula bahwa memang ada kitab-kitab lain, yang
usia penulisaannya sama tuanya dengan kitab-kitab yang
terdapat dalam Alkitab. Contoh yang ada Injil Yudas (tunjukkan
buku Injil Yudas jika ada). Tetapi gereja tidak mengakuinya
sebagai sumber kebenaran. Kitab itu bisa dipakai sebagai
sumber informasi, tetapi bukan sebagai sumber kebenaran.
5. Tekankan pada para remaja, jangan bingung dengan begitu
banyaknya informasi tentang keberadaan kitab-kitab lain.
Semua itu telah dianggap selesai dengan adanya kanonisasi.
Saat ini, yang penting adalah, bagaimana berita Alkitab itu
terlihat dalam keseharian para remaja. Masuklah dalam
ilustrasi di bawah.
Ilustrasi:
Tiga orang ahli Alkitab berdebat seputar terjemahan Alkitab
terbaik. Semua punya argumentasi yang hebat. Mereka terus
berde¬bat, sampai agak kelelahan. Tiba-tiba seorang ahli
mengatakan: "Menurutku, terjemahan yang paling baik adalah
terjemahan ibuku!" Ketiga temannya terkejut dan bertanya: "Apakah
ibumu seorang penerjemah Alkitab? Apa nama versi terjemahan
ibumu?" Dengan tersenyum, ahli kitab itu mengatakan, "Ibuku,
menerjemahkan Alkitab dalam kehidupannya sehari-hari" (disadur
dari Renungan Harian).
KEGIATAN
Tanya jawab
Berikan kesempatan buat remaja untuk bertanya. Pancing
mereka dengan pertanyaan-pertanyaan yang menantang. Misalnya,
menurut Anda mana yang benar, Alkitab versi protestan atau
katholik. Jika kemudian pertanyaan berkembang dan pembimbing
tidak mampu menjawab, dapat meminta bantuan pendeta.
|
 |
|