Home | Tentang Kami | Kesaksian | Acara rohani | Link
 
Swara Surgawi
Video Streaming
Gratis CD Sabda
Alkitab Elektronik
Hollypower.net
E-mail Gratis
 
eXTReMe Tracker
  DERAP REMAJA


derap remaja adalah bahan pembinaan untuk remaja. disusun secara tematis.
setiap tema didasarkan satu bacaan alkitab.
dilengkapi pula dengan metode penyampaian.
telah terbit edisi 21. satu edisi per enam bulan.
para penulis derap remaja 2007 : pdt. addi soselia patriabara,
pdt. tri santoso, pdt. natan kristiyanto,  pdt. widi artanto, pdt. didik tridjatmiko,
pdt.waskito wibowo, anna marsiana, pdt. tabita kartika christiani
kontak: widi artanto, samirono baru 72 komp. lpps, yogyakarta, 55281.
telp.(0274) 514721-551592 fax. 0274) 543001
 e-mail: w_artanto@yahoo.com

Harga Rp. 20.000,-
Cara pengiriman ongkos cetak:
1. Lewat POS WESEL dengan memakai blangko yang dilampirkan
dalam surat pengantar
2. Lewat Bank ke TAHAPAN BCA cab. Sudirman Yogyakarta
No. 0371994881 a.n. Widi Artanto.
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
 

       Bagaimana menggunakan Derap Remaja?

Seni Hidup


november 2007

Cara Baptis yang Bener Kaya' Apa Sih?

Follow Me, I Have Jesus

Menyingkap yang Terselubung

Apokrif

 


november 2007minggu2
FOLLOW Me, I Have Jesus

bacaan; kisah para rasul 1:6-8
bahan: globe (jika mungkin)
 

                                                                        
                                                                                        
SEKILAS
Kesaksian kerap dipahami sebagai ajakan agar seseorang berpindah keyakinan dan menjadi kristen. Pemahaman ini membuat remaja berpikir, kalau begitu kesaksian adalah urusan orang tua atau orang dewasa. Bukankah mereka yang dianggap lebih pandai mengajak? Atau sebatas ajakan melalui ungkapan kata. Seperti terlihat pada sticker yang ditempel di kendaraan. Misalnya sticker yang bertuliskan: "Follow Me, I Have Jesus." Apakah benar demikian? Pelajaran ini dirancang agar remaja mengerti makna kesaksian yang utuh dan mempraktikkannya dalam kehidupannya sehari-hari.

PENJELASAN TEKS
Kisah Para Rasul (Kisah) adalah tulisan kedua dari seorang yang sama. Kedua tulisannya adalah Injil Lukas dan Kisah Para Rasul. Kesamaan terlihat, misalnya, pada sebutan nama penerima suratnya, yaitu Teofilus (lihat Luk. 1:1 bandingkan dengan Kis. 1:1). Juga pada berkesinambungannya penceritaan antar keduanya. Lukas menceritakan gerak pelayanan Yesus. Kisah, melanjutkan ide Lukas, menceritakan gerak pelayanan Roh Kudus yang berkarya melalui para murid.
Teks kita dimulai dengan cerita persiapan sebelum terangkatnya Yesus ke sorga. Dalam acara pamitan itu, para murid bertanya: "Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel" (ay 6). Agak sulit kita memahami kata-kata para murid. Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) mungkin dapat membuat kita lebih mudah mengerti. Pertanyaan para murid adalah: "Tuhan, apakah sekarang Tuhan mau mendirikan kembali Pemerintahan bangsa Israel?" Jadi, para murid ingin, sebelum Yesus pergi, pemerintahan Israel dipulihkan kembali.
Dalam catatan Injil, memang para murid kerap salah soal pemerintahan Allah (atau Kerajaan Allah). Mereka berpikir, Kerajaan Allah seperti pemerintahan dunia (the Kingdom of God). Yesus tidak bermaksud seperti itu. Pemerintahan Allah bagi Yesus adalah ketika berkuasanya Allah (the Kingship of God). Itu dimungkinkan terjadi ketika kedatangan Roh Kudus disambut dengan penuh syukur (Kis. 2).
Pertanyaan selanjutnya berkisar soal waktu. Yesus menjawab dengan mengatakan bahwa hal itu akan ditentukan oleh Tuhan sendiri berdasarkan kuasaNya. Kata kuasa di sini memakai kata eksousia, yang bermakna bahwa penentuan waktu adalah hak Allah sendiri.
Untuk para murid, dalam menunggu waktu itu, akan diberikan kuasa. Kata kuasa di sini menggunakan kata dunamis. Dari kita itu, kita mengenal kata dinamika yang bisa berarti semangat. Juga kata dinamo, yang bisa berarti penggerak atau pendorong. Dengan demikian, yang diberikan kepada manusia bukan kuasa yang sama dengan Allah. Tetapi semangat dan penggerak untuk bersaksi kepada dunia. Hal itulah yang membuat berita Injil menyebar dari Yerusalem, Yudea, Samaria dan sampai ke ujung bumi. Gerakan penyebaran itu, secara geografis, membentuk lingkaran yang makin lama makin membesar dan meluas (sentrifugal).
Apa yang disebut ujung bumi? Pada waktu itu, dipahami ujung bumi adalah Roma. Dan Kisah berakhir dengan sampainya Injil ke Roma (Kis. 28:11 dst). Dengan demi¬kian, pekabaran Injil sukses sampai ke ujung bumi (Kis. 28:30-31).
Jika demikian, apakah penyebaran Injil tidak diperlukan lagi? Kan sudah sampai pada tujuannya? Secara luas kita bisa memikirkan hal berikut ini. Dalam ilmu pengetahuan modern, amat jelas bahwa bumi tidak ada ujungnya. Sebab bumi ini bulat. Jika demikian, kalau kita berdiri di sebuah tempat dibumi ini, maka ujung buminya adalah tepat di mana kita berdiri. Kesaksian, karena itu, tak bisa lepas dari diri kita.
Kata kesaksian sendiri dalam bahasa Yunani adalah marturia. Dari kata itu kita mengenal kata martir. Orang yang mati demi pemberitaan Injil. Sehingga kita bisa menyim-pulkan, bahwa kesaksian itu, adalah diri kita (lihat 2 Kor. 3:3). Kesaksian berarti dilakukan dengan hidup kita, yang berupaya menyaksikan Yesus secara utuh. Dengan demikian, kesaksian bukan sekedar kata-kata. Bukan juga sekedar ajakan dalam bentuk spanduk atau sticker. Melainkan secara utuh terlihat dalam hidup kita.

LANGKAH-LANGKAH PENYAMPAIAN
1. Mulailah dengan mengajak remaja berdiskusi. Saat ini banyak terlihat sticker-sticker kristen. Misalnya, Follow Me, I Have Jesus. Tanyakan, apakah ini sebuah bentuk kesaksian? Tekankan, hal itu bisa menjadi kesaksian ketika sikap pengendara juga baik dan sopan.
2. Kerap orang berpikir, kesaksian itu mengabarkan Injil secara verbal. Atau, seseorang yang ke sebuah tempat (biasanya jauh dan masih tradisional) dan mem-perkenalkan Yesus di sana. Kesaksian se-perti itu boleh-boleh saja. Ingatkan bahwa dalam Alkitab kata kesaksian memakai kata marturia. Kata itu yang mendasari kata martir. Yaitu orang yang mati demi pemberitaan Injil. Itu berarti, kesaksian bukan sekedar kata-kata, tetapi hidup.
3. Jelaskan, bahwa berita Injil menyebar hingga ke ujung dunia. Jelaskan pula bahwa pada waktu itu ujung bumi adalah Roma. Dalam Kisah Para Rasul, Injil sampai ke Roma. Apakah dengan demikian kita sudah tidak perlu mengabarkan Injil lagi? Jelaskan, kita bisa memberi makna lain pada teks ini. Ajak remaja memahami bahwa ujung bumi adalah tempat di mana kita berdiri, sebab bumi berbentuk bulat (tunjukkan Globe atau bola dunia). Ujung bumi adalah kita. Kesaksian adalah diri kita (lihat Penjelasan Teks).
4. Berikan contoh-contoh sederhana tentang diri kita sebagai kesaksian. Misalnya, remaja memakai kalung salib, tetapi tidak mampu menahan diri dari kecenderungan memakai kata-kata yang kotor. Atau, etos hidupnya sebagai pelajar kacau, mencontek dan malas-malasan. Padahal ia adalah seorang pengurus remaja. Tekankan pekabaran Injil yang sebenarnya, yaitu pekabaran Injil yang utuh yang tercermin lewat hidup kita.

Ilustrasi:
Seorang anak muda yang baru bertobat memiliki tekad akan menjadi saksi Kristus. Suatu ketika, di sebuah perempatan, dilihatnya kerumunan massa. Mereka saling bergumam, "Aduh kasihan ya..." "Kok yang nabrak lari ya" dan gumaman lain. Tetapi tidak ada yang menolong. Sang pemuda berkata, ini kesempatan buat saya memberitakan Injil. Ia pun berusaha menerobos kerumunan massa itu. Susah payah ia berusaha, tetapi agaknya kurang berhasil. Ia pun mencari akal dan berkata: "Permisi pak, ibu, permisi, itu Papa saya." Orang dengan segera memberi jalan sambil menunjukkan wajah heran. Akhirnya sampailah si pemuda pada korban tabrak lari itu. Yang ternyata seekor anjing.

Catatan: Kerap kali kita melupakan cara demi tujuan. Tujuan pekabaran Injil harus didukung cara yang menggambarkan karya Yesus juga.

KEGIATAN
Konon, menurut penelitian, kata-kata manusia menentukan bentuk air. Dalam penelitian itu dibuktikan betapa efektifnya kata-kata dalam mempengaruhi bentuk air. Bentuk air terlihat lewat pembekuan air (dikristalkan) dan diamati lewat alat pengamat (mikroskop). Dari pembekuan air itu terlihat, jika kita mengucapkan/menempelkan kata-kata yang baik, maka air akan membentuk kristal yang indah. Sebaliknya, jika kita mengucapkan/menempelkan kata-kata yang buruk, maka air akan membentuk kristal yang buruk atau hancur.
Jika air saja dibentuk oleh kata-kata, apalagi hidup kita. Kata-kata mampu mem¬bentuk diri kita. Mintalah remaja membandingkan kata-kata baik dan bermanfaat dengan kata-kata buruk dan tidak bermanfaat yang mereka lontarkan satu hari yang lalu. Buatlah catatan. Di akhir kertas mintalah remaja menyatakan janjinya untuk senantiasa mengatakan hal-hal yang baik dan bermanfaat. Itulah pekabaran Injil yang utuh.

                 
KATA-KATAKU SELAMA SATU HARI YANG LALU

Kata-kata yang bermanfaat

Kata-kata yang tidak bermanfaat

 

 

 

                                                        
                                                                     
                                

Juli0107

Juli0207

Juli0307

Juli0407

Juli0507

Agustus0107

Agustus0207

Agustus0307

Agustus 0407

September 0107

September 0207

September 0307

September 0407

 September 0507

Oktober 0107

Oktober 0207

Oktober 0307

Oktober 0407

November 0107

 
  Sahabat Surgawi, Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright © 2002-2007,
Tim Sahabat Surgawi