|
derap remaja
adalah bahan pembinaan untuk remaja. disusun secara tematis.
setiap tema didasarkan satu bacaan alkitab.
dilengkapi pula dengan metode penyampaian.
telah terbit edisi 21. satu edisi per enam bulan.
para penulis derap remaja 2007 : pdt. addi
soselia patriabara,
pdt. tri santoso, pdt. natan kristiyanto, pdt. widi
artanto, pdt. didik tridjatmiko,
pdt.waskito wibowo, anna marsiana, pdt. tabita kartika
christiani
kontak: widi artanto, samirono baru 72 komp. lpps, yogyakarta,
55281.
telp.(0274) 514721-551592 fax. 0274) 543001
e-mail: w_artanto@yahoo.com
Harga Rp. 20.000,-
Cara pengiriman ongkos cetak:
1. Lewat POS WESEL dengan memakai blangko yang dilampirkan
dalam surat pengantar
2. Lewat Bank ke TAHAPAN BCA cab. Sudirman Yogyakarta
No. 0371994881 a.n. Widi Artanto.
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
|
|

SEKILAS
Retret adalah kesempatan untuk menarik diri dari kesibukan
sehari-hari, belajar mengolah hidup rohani, sehingga kita
bisa menyadari diri, menemukan jati diri, dan mengenal diri
kita lebih jauh; juga mengenal Tuhan dan sesama. Kesadaran
diri dalam kaitan relasi dengan Tuhan dan sesama inilah yang
menjadi modal awal pegangan atau prinsip hidup kita
selanjutnya. Mungkin ada penguatan, teguran, pembaharuan,
penyegaran, dsb. melalui retret. Melalui pelajaran ini
remaja mengenal makna dan tujuan retret yang sesungguhnya.
PENJELASAN TEKS
Konteks cerita ini adalah Yesus mengutus keduabelas
murid-Nya untuk menyerukan pertobatan dan untuk menyatakan
kuasa Allah (Markus 6:7-13). Perikop Markus 6:30-34
menceriterakan apa yang terjadi setelah keduabelas murid
atau rasul-rasul (artinya: yang diutus) itu kembali dari
tugas mereka. Setelah mendengar laporan murid-murid-Nya
mengenai apa yang mereka lakukan dan ajarkan, Yesus mengajak
mereka pergi ke tempat sunyi, menghindari orang banyak, agar
dapat beristirahat. Tempat sunyi itu terletak di seberang
danau, sehingga Yesus mengajak murid-murid-Nya naik perahu.
Jaraknya kira-kira 4 mil (6 km) jalan air atau 10 mil (15
km) jalan darat.
Namun rencana ini gagal karena orang banyak yang melihat
Yesus dan murid-murid-Nya menuju ke tempat sunyi itu dengan
perahu, langsung menuju tempat yang sama melalui jalan darat.
Akhirnya : Yesus mengajar dan bahkan memberi mereka makan,
sebab hati Yesus tergerak oleh belas kasihan. Namun demikian,
bukan berarti Yesus meremehkan rencana pergi ke tempat sunyi.
Setelah selesai memberi makan 5000 orang, Yesus
memerintahkan murid-murid-Nya naik perahu. Sedang Yesus
sendiri pergi ke bukit untuk berdoa - suatu kebiasaan yang
sering dilakukan Yesus (Markus 1:35; Lukas 5:16).
Rencana Yesus dan murid-murid-Nya yang tidak kesampaian itu
merupakan rencana untuk melakukan retret, yaitu berada di
tempat sunyi untuk beristirahat dari pekerjaan yang
melelahkan yang telah mereka lakukan. Dengan beristirahat,
mereka dapat merenungkan apa yang telah mereka lakukan, dan
memperoleh kesegaran, kekuatan, dan semangat yang baru untuk
kembali bekerja. Beristirahat bukan hanya secara fisik, tapi
juga merenungkan karya Tuhan yang telah mereka alami selama
mengajar dan menyembuhkan. Dengan demikian mereka menyadari
dari, oleh, dan kepada siapa mereka melakukan semua itu.
Manusia membutuhkan waktu yang khusus untuk mengundurkan
diri dari kesibukan pekerjaan, agar dapat merenung¬kan siapa
diri mereka di hadapan Tuhan dan sesama serta dunia. Dengan
kembali kepada "fitrah" di hadapan Tuhan dan sesama serta
dunia, manusia semakin dapat hidup dengan benar dan menjadi
berkat bagi dunia. Inilah manfaat retret yang sesungguhnya.
LANGKAH-LANGKAH PENYAMPAIAN
1. Tanyakan kepada remaja apakah mereka pernah mengikuti
acara retret, baik yang diadakan oleh gereja maupun sekolah.
Tanyakan kepada mereka, apa yang mereka lakukan selama
retret. Jelaskan bahwa kadang-kadang gereja memakai istilah
retret tapi isinya ceramah-ceramah, latihan kepemimpinan,
dsb. Acara-acara seperti ini tidak tepat diberi nama retret;
semestinya disebut pembinaan. Lalu apakah retret itu?
2. Jelaskan pengertian retret yang sesung-guhnya. Menurut
definisi wikipedia, retret adalah suatu kesempatan untuk "sementara
waktu menjauhkan diri sendiri dari lingkungan biasanya."
Retret adalah kesempatan untuk menarik diri dari kesibukan
sehari-hari, belajar mengolah hidup rohani, sehingga kita
bisa menyadari diri, menemukan jati diri, dan mengenal diri
kita lebih jauh; juga mengenal Tuhan dan sesama. Kesadaran
diri dalam kaitan dengan relasi dengan Tuhan dan sesama
inilah yang menjadi modal awal pegangan atau prinsip hidup
kita selanjutnya. Mungkin ada penguatan, teguran,
pembaharuan, penyegaran, dsb. melalui retret.
3. Jelaskan lebih detil pengertian retret tersebut:
- menarik diri dari kesibukan sehari-hari: meninggalkan
dunia harian, baik yang rutin yaitu pekerjaan sehari-hari,
maupun hiruk-pikuk dunia (TV, shopping, hobby, HP, iPod,
game, dll.).
- belajar mengolah hidup rohani: masuk dalam kesunyian
hening, tenang, untuk berefleksi atas perjalanan hidup.
- menyadari diri, menemukan jati diri, mengenal diri: hasil
refleksi atas per¬jalanan hidup adalah kesadaran diri,
penemuan jati diri, dan pengenalan diri (siapakah aku di
hadapan Tuhan, sesama, dan dunia ini).
- mengenal Tuhan, sesama dan dunia: bagaimana relasi kita
dengan Tuhan, sesama, dan dunia.
4. Ajak remaja membaca Markus 6:30-34, dengan nas ayat 31.
Jelaskan rencana Yesus dan murid-murid-Nya untuk melakukan "retret"
yaitu pergi ke tempat sunyi untuk beristirahat dan merenung
(lihat Penjelasan Teks di atas). Jelaskan bahwa sekalipun
rencana itu akhirnya tidak terlaksana, setelah mengajar dan
memberi makan 5000 orang, Yesus pergi ke tempat sunyi untuk
berdoa seorang diri.
5. Tekankan kepada remaja pentingnya melakukan retret.
Jelaskan bahwa ada orang-orang yang workalholic (gila kerja,
gila belajar), sehingga tak ada waktu untuk beristirahat dan
merenungkan siapa dirinya. Hal ini tidak sehat, sebab mereka
dapat terjebak pada rutinitas tanpa makna dan tujuan hidup.
Juga waktu untuk mendengar suara Tuhan dalam ketenangan dan
keheningan menjadi sangat kurang. Padahal manusia sangat
membutuhkan waktu untuk keluar dari rutinitas, kembali
kepada Tuhan, agar dengan segar ia dapat melanjutkan
kehidupannya dengan sikap yang terus menerus diperbaharui.
KEGIATAN
1. Ajak remaja melakukan doa meditatif. Ciptakan suasana
yang benar-benar sunyi, tak ada musik (kebiasaan pemain
musik tertentu mengiringi saat teduh dan doa dengan musik
perlu diubah). Jika memungkinkan, kegiatan ini dilakukan di
taman yang indah dan segar, tapi tenang (tidak ada
orang-orang lain/umum).Minta remaja menarik nafas
dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan-lahan. Laku¬kan
pernafasan ini beberapa kali, sampai mereka merasa tenang.
2. Ajak remaja merenungkan siapa dirinya di hadapan Tuhan.
Kemudian ajak mereka merenungkan siapa diri mereka dalam
hubungan dengan orang lain dan dunia. Mungkin ada
beban-beban persoalan, kebencian, dll. Atau ada kerinduan
untuk menjangkau dan mengasihi sesama dan dunia. Doa
meditatif dilakukan sekitar 10 menit.
3. Setelah itu bagi remaja dalam kelompok-kelompok kecil (@
4-5 orang). Mintalah mereka berbagi (sharing) pengalaman
mereka selama doa meditatif.
|