|
derap remaja
adalah bahan pembinaan untuk remaja. disusun secara tematis.
setiap tema didasarkan satu bacaan alkitab.
dilengkapi pula dengan metode penyampaian.
telah terbit edisi 21. satu edisi per enam bulan.
para penulis derap remaja 2007 : pdt. addi
soselia patriabara,
pdt. tri santoso, pdt. natan kristiyanto, pdt. widi
artanto, pdt. didik tridjatmiko,
pdt.waskito wibowo, anna marsiana, pdt. tabita kartika
christiani
kontak: widi artanto, samirono baru 72 komp. lpps, yogyakarta,
55281.
telp.(0274) 514721-551592 fax. 0274) 543001
e-mail: w_artanto@yahoo.com
Harga Rp. 20.000,-
Cara pengiriman ongkos cetak:
1. Lewat POS WESEL dengan memakai blangko yang dilampirkan
dalam surat pengantar
2. Lewat Bank ke TAHAPAN BCA cab. Sudirman Yogyakarta
No. 0371994881 a.n. Widi Artanto.
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
|
|

SEKILAS
Menjelang peringatan Natal dan masih dalam masa adven,
diperlukan kesadaran baru untuk setiap kali bertanya dengan
jujur apakah kita memang merindukan perjumpaan dengan Tuhan
yang datang, hadir, dan lahir di dunia? Jangan sampai kita
salah alamat atau salah kaprah dalam menyambut kehadiran-Nya.
Tuhan yang datang menjumpai dan menyatu dengan manusia yang
menderita malah kita cari di tempat yang menggelar
pertunjukan penuh glamour. Atau upacara yang sarat kesibukan
demi ambisi pribadi dan kelompok tertentu.
PENJELASAN TEKS
Raja Herodes mewakili sikap dunia dan penguasa politik yang
ingin menyingkirkan Tuhan agar mereka leluasa berbuat apapun
demi kepentingan diri sendiri. Lihatlah bagaimana dengan
sikap manis dibuat-buat, Herodes menyambut kedatangan para
Majus. Mungkin kalau saat itu di istana Herodes tersedia
karpet merah, pastilah benda itu akan dipakai. Padahal para
Majus adalah wakil kaum intelektual masa itu yang dengan
rendah hati mau mencari makna dan bukti dari penemuan mereka.
Dengan bekal ilmu astronomi (ilmu mengenai tata surya) yang
saat itu masih sangat sederhana dan mungkin bisa disempitkan
menjadi ilmu perbintangan, para Majus melakukan perjalanan
jauh ke Yerusalem, ke arah yang ditunjukkan bintang itu.
Dengan bekal logika yang lumrah, mereka mencari anak raja ke
istana. Dan karena itu, terjadilah adegan istana yang penuh
kemunafikan dari sang raja. Dengan penuh kepura-puraan,
Herodes meminta para Majus mampir lagi ke istana kalau sudah
berhasil menemukan anak raja yang baru dilahirkan itu (ay.
7-8). Wah, siapa yang tidak berbunga-bunga mendapat pesan
seperti itu? (ayat 1-3)
Di mana anak raja itu berada? Di Betlehem? Orang Yahudi
pernah mendengar nubuat itu tetapi mereka belum menyadari
apa artinya. Orang majus dari Timur itu yang justru
mengalami sendiri perjumpaan dengan anak raja atau Mesias di
Betlehem, kota kecil. Di rumah sedehana dan di tengah
keluarga sederhana. Di rumah seorang tukang kayu sederhana
dengan seorang isteri dan bayi yang mungil. Ia anak raja
tetapi tidak lahir di istana. Ia miskin dan sederhana. Ia
datang mewakili orang yang terpinggirkan. Itulah pengalaman
para Majus ketika menemukan Kristus bukan di tempat yang
mewah dan megah tetapi di tempat yang tidak terduga, di
tempat orang-orang menderita. (ayat 3-6)
Untunglah para majus cukup rendah hati. Dengan hati terbuka,
persembahan yang sudah dipersiapkan untuk anak raja tetap
diunjukkan kepada bayi sederhana. Para majus tidak
membatalkan atau mengganti persem¬bahan mereka menjadi yang
lebih murah. Mereka percaya kepada apa yang mereka lihat dan
muncullah kesadaran baru tentang kehadiran Tuhan di tempat
yang rendah. Itulah sebabnya, mereka juga menyatakan sikap
terhadap Herodes dengan melakukan ketidaktaatan. Mereka
mencari jalan lain, tidak jadi mampir ke istana. (ayat 9-12)
APLIKASI
1. Bila pesan injil Matius sudah begitu jelas, bagaimana
mungkin manusia zaman sekarang masih mengira Tuhan ada di
tengah gemerlap pesta dan megahnya upacara? Itulah sebabnya,
menjelang perayaan, pesta, dan upacara Natal yang sering
penuh gemerlap, pertanyaan, "Di mana Dia?" menjadi relevan
dan signifikan. Di mana Dia? Apakah Dia ada di hotel dan
restoran yang menyelenggarakan pesta Natal dan Tahun Baru
dengan tarif serta mahal? Apakah Dia ada di Mal dan
toko-toko yang mengumandangkan lagu-lagu natal dan menjual
asesori natal demi bisnis akhir tahun yang menjanjikan
segunung keuntungan? Dan apakah Dia juga hadir dalam acara,
upacara dan pesta yang diadakan di gereja-gereja?
2. Tentu kita masih yakin, Tuhan hadir di mana-mana. Ia
Mahahadir! Tetapi dogma itu tidak ada artinya bila kita
melupakan siapa Tuhan yang kita imani. Tuhan kita adalah
Raja yang menjadi Hamba. Ia adalah Tuhan yang turun ke
bagian bumi paling bawah. Ia datang kepada orang yang
berdosa dan menderita. Carilah Tuhan di sana, bukan di atas
atau di panggung kehidupan duniawi yang penuh keserakahan
dan ketidakpuasan.
3. Kalau begitu, masih adakah kesempatan menjelang
peringatan Natal bagi kita untuk mencari Dia dan menemukan
Dia di tengah penderitaan manusia saat ini? Dan beranikah
kita bersikap kritis terhadap model dan cara-cara merayakan
Natal yang tidak cocok dengan pesan Injil hari ini?
Beranikah kita melakukan sikap ketidaktaatan seperti orang
Majus dengan tidak mau mampir ke tempat yang memanipulasi
perayaan Natal dengan gemerlapnya upacara dan pesta-pesta?
LANGKAH-LANGKAH PENYAMPAIAN
1. Sebentar lagi tanggal 25, saat Natalan tiba. Tanyakan
kepada remaja, apa yang sudah mereka lakukan sebagai
persiapan dalam merayakan Natal? Hargailah setiap jawaban
yang diberikan remaja.
2. Ajaklah remaja untuk tidak melupakan satu hal yang
teramat penting yaitu men¬cari Tuhan dan berusaha menemukan
Tu¬han menjelang dan saat merayakan Natal. Di tengah-tengah
kesibukan mengikuti upacara, acara dan pesta Natal tahun ini,
kita harus tetap peka dan bertanya di dalam hati kita, "Di
mana Dia?", "Apakah Dia hadir dalam semua kegiatan Natal ini?"
3. Pokok-pokok dari pesan Injil hari ini disampaikan dengan
memanfaatkan penjelasan perikop di atas.
4. Setelah itu, ajak remaja untuk memasuki kegiatan "Kembang
Api" di bawah ini.
KEGIATAN
KembangApi
1. Mintalah 3 orang remaja untuk berdiri di tengah dan
menyalakan 3 batang kembang api. Remaja lain lain diminta
mengamati apa yang dilihatnya dan perasaan apa yang muncul
di hati mereka.
2. Mintalah seorang remaja untuk menghitung berapa lama
nyala kembang api itu.
3. Setelah itu, mintalah mereka mengungkapkan apa yang
dilihat, diamati, dan perasaan-perasaan mereka. Minta juga
remaja yang menjadi time keeper untuk melaporkan
hasil perhitungan waktu nyala kembang api itu.
4. Hubungkan pengalaman sederhana ini dengan pesan pokok
dari pelajaran atau bahan hari ini.
| |
a. Nyala kembang api yang gemerlap, indah dan
menarik bisa dipakai untuk menunjukkan gemerlapnya
acara, upacara dan pesta-pesta Natal, yang sebentar
lagi kita rayakan.
b. Namun berapa lagi semuanya itu akan bertahan?
Hanya sekejap, sebentar dan gelap lagi, biasa lagi.
Bukankah itu yang sering terjadi, upacara,acara dan
peserta Natal hanya seperti
nyala kembang api.
c. Kata awal dari Upacara, Acara dan Pesta adalah U,
A dan P, UAP! Bila Natal, kehadiran Tuhan hanya
dirayakan dengan upacara, acara dan pesta,semuanya
akan menjadi seperti uap, yang menguap, lenyap
seketika tidak ada artinya.
d. Sebaliknya, mencari Tuhan di tempat-tempat
manusia dipinggirkan, akan menjadi pengalaman
perjumpaan dengan Tuhan yang mempengaruhi sepanjang
hidup kita.
e. Akhirnya perlu ditegaskan bahwa kita akan tetap
mengikuti kegiatan-kegiatan Natal tahun ini. Tidak
ada yang salah dengan kegiatan Natal di gereja,
sekolah, dan tempat-tempat lain kecuali diisi dengan
pemborosan, kemewahan yang tidak pantas, dan
dorongan untuk mencari keuntungan materi. Di tengah
semua kegiatan Natal itu, pertanyaan, "Di manakah
Dia" menjadi penting bagi remaja yang kritis. |
|