|
derap remaja
adalah bahan pembinaan untuk remaja. disusun secara tematis.
setiap tema didasarkan satu bacaan alkitab.
dilengkapi pula dengan metode penyampaian.
telah terbit edisi 21. satu edisi per enam bulan.
para penulis derap remaja 2007 : pdt. addi
soselia patriabara,
pdt. tri santoso, pdt. natan kristiyanto, pdt. widi
artanto, pdt. didik tridjatmiko,
pdt.waskito wibowo, anna marsiana, pdt. tabita kartika
christiani
kontak: widi artanto, samirono baru 72 komp. lpps, yogyakarta,
55281.
telp.(0274) 514721-551592 fax. 0274) 543001
e-mail: w_artanto@yahoo.com
Harga Rp. 20.000,-
Cara pengiriman ongkos cetak:
1. Lewat POS WESEL dengan memakai blangko yang dilampirkan
dalam surat pengantar
2. Lewat Bank ke TAHAPAN BCA cab. Sudirman Yogyakarta
No. 0371994881 a.n. Widi Artanto.
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
|
|

SEKILAS
Kemerdekaan Indonesia sudah berusia 62 tahun. Ini harus
disyukuri. Betapa tidak, bukankah kemerdekaan sebuah bangsa
juga berarti terbukanya kesempatan bagi penduduk negeri itu
untuk hidup merdeka di tanah air sendiri? Apalagi tanah air
Indonesia yang dikenal sebagai Nusantara yang indah, subur,
dan permai. Alam Indonesia adalah pemberi¬an Tuhan untuk
semua manusia Indonesia. Dari semula, itulah cita-cita para
pendiri bangsa ini dengan tujuan agar semaksimal mungkin
kekayaan alam dapat dinikmati untuk kepentingan seluruh
rakyat. Namun, dapatkah sekarang ini kita sungguh-sungguh
bersyukur? Ketika kerusakan alam terjadi di mana-mana dan
bencana alam akibat ulah manusia melanda negeri ini silih
berganti, tanah dan air tidak lagi ramah. Negeri ini
kehilangan keindahannya terutama bagi banyak orang yang
menjadi korban. Melalui pelajaran ini remaja diajak untuk
melihat kenyataan tentang kerusakan alam dan menemukan
kehendak Tuhan dalam memperjuangkan pemulihan seluruh
ciptaan-Nya.
PENJELASAN TEKS
Konteks Imamat 25
Setelah dibebaskan dari perbudakan Mesir, masyarakat Israel
mengalami ketim-pangan dalam hal sosial ekonomi. Sebagian
orang memang dapat bertahan hidup. Seba¬gian yang lain
terpaksa harus menggadaikan tanah dan menjual tanahnya demi
keberlangsungan hidup mereka. Keadaan yang demikian sungguh
sangat memprihatinkan dan dapat menimbulkan malapetaka dalam
kehidupan bersama bangsa Israel. Itulah sebabnya kehidupan
bangsa Israel harus ditata kembali dan dipulihkan. Pemulihan
tersebut dilakukan dengan prinsip tahun Yobel atau tahun ke
50. Di tahun itu, hutang-hutang dinyatakan lunas dan orang
Ibrani yang menjadi budak akibat hutang juga dibebaskan.
Itulah saat pengucapan syukur atas pemeliharaan Allah.
Melalui hal ini orang Israel juga diingatkan tentang
statusnya. Bahwa pada awalnya mereka adalah budak dan tidak
memiliki apa-apa, semua yang dimiliki adalah anugerah dan
pemberian Allah. Itulah sebabnya mereka juga harus mengingat
keberadaan saudara-saudaranya yang masih kekurangan. Dengan
kata lain bahwa prinsip tahun Yobel (dari kata ini kita
mengenal kata jubile) mengajarkan umat Israel untuk
hidup dalam pengucapan syukur dan tidak serakah.
Ayat 1-7: Sabat bagi tanah
Pelaksanaan Tahun Yobel diawali dengan pelestarian alam.
Tanah di Israel tidak boleh diolah terus menerus tanpa
mendapat perhentian. Sesudah enam tahun diolah dan
masyarakat mendapat hasilnya, tanah harus diberi kesempatan
untuk mengalami sabat. Sabat atau perhentian bukan hanya
untuk manusia tetapi juga untuk tanah, untuk alam. Bahkan
ditegaskan, sabat bagi tanah itu adalah sabat bagi TUHAN dan
sabat itu adalah suatu perhentian yang penuh. Tanah
dibiarkan dan tidak boleh ditanami apapun. Bila dari tanah
itu tumbuh sendiri dan kebun-kebun anggur menghasilkan buah
walau tidak diolah, semua hasilnya harus dinikmati banyak
orang. Bagi pemiliknya sendiri, budak-budak, orang upahan,
orang asing, dan juga binatang ternak serta binatang liar.
Dengan cara ini, tanah atau alam ciptaan dan milik Tuhan
dapat beristirahat, mengambil nafas dan mengumpulkan tenaga
baru. Ketiga kata: "istirahat", "mengambil nafas" dan "mengumpulkan
tenaga baru" menunjukkan pengertian kata sabat (dalam
bahasa Ibrani syabat). Melalui penerapan Tahun Yobel
dan khususnya aturan sabat bagi tanah, umat Israel diajar
untuk melawan keserakahan dalam kehidupan sosial dan
pengelolaan alam. Hanya dengan demikian kehidupan yang
timpang menjadi pulih dan kesejahteraan dapat mengalir dan
dinikmati seluruh umat Israel.
LANGKAH-LANGKAH PENYAMPAIAN
1. Ajaklah remaja untuk menyebutkan bencana-bencana alam
yang terjadi akhir-akhir ini. Mulai dari gempa, tsunami, me-letusnya
gunung berapi, tanah longsor, semburan lumpur panas, banjir
dan lain-lainnya. Bantulah remaja untuk membe-dakan bencana
alam yang terjadi karena proses alam, seperti gempa,
tsunami, dan meletusnya gunung berapi, dengan ben¬cana alam
yang terjadi karena ulah serta kesalahan manusia, seperti
banjir, tanah longsor, lumpur panas, dan lain-lainnya.
2. Masuklah dalam KEGIATAN (lihat di bawah).
3. Sampaikanlah pokok-pokok pesan Al-kitab dengan
memanfaatkan penjelasan perikop.
4. Penegasan:
Indonesia yang merdeka adalah Indo¬nesia yang dahulu
dicita-citakan sebagai negeri "gemah ripah loh jinawi" (subur
makmur, ramai semarak). Pengertian yang tidak harafiah dari
ungkapan yang terkenal ini, menunjukkan kehidupan manusia
dalam tatanan yang adil dan makmur di tanah air atau alam
yang subur. Apakah sekarang cita-cita itu makin kabur dan
hilang ditelan bencana yang bertubi-tubi menimpa negeri ini?
Satu-satunya harapan adalah kembali pada kehendak awal Tuhan
Allah pencipta alam semesta, yaitu agar semuanya menjadi
baik dan sangat baik. Tuhan menciptakan semuanya dengan
sangat baik dan untuk tujuan kebaikan bagi seluruh penghuni
alam ini. Bila dalam perkembangan, kerusakan alam terjadi,
pastilah bukan kehendak-Nya melainkan ulah dan akibat
keserakahan manusia. Sebagai contoh, hutan-hutan di
Kaliman¬tan dan Sulawesi adalah paru-paru dunia yang
sekarang ini mulai gundul atau "berlobang-lobang" karena
pembabatan dan pengelolaan hasil hutan yang tak terkendali.
Indonesia menjadi peringkat teratas dalam pengrusakan hutan.
5. Untuk remaja sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang
dirundung nestapa karena rusaknya alam yang semua indah
permai, apa yang dapat dilakukan? Secara sederhana, remaja
dapat menjaga kelestarian alam dengan tindakan-tindakan
kongkrit, misalnya:
| |
- tidak membuang sampah sembarangan, di aliran
sungai, selokan dan tempat-tempat yang harus bersih
dari limbah,
- menghemat energi listrik dan air (wa-laupun
membayar rekening PLN atau PDAM tetapi tanggung
jawab iman terhadap kekayaan alam pemberian Tuhan
mendorong kita melakukan penghematan),
- menjaga kebersihan di tempat-tempat umum,
- mencintai binatang dan tanaman sekitar,
- dan lain-lainnya (remaja diminta menambahkan
contoh-contoh tindakan sederhana yang dapat mereka
lakukan). |
Kebiasaan ini akan membentuk sikap cinta alam dan membuahkan
tekad hidup untuk membangun negeri ini bersama anak-anak
bangsa yang lain secara berkelanjutan.
|
 |
KEGIATAN
Betapa Kita Tidak Bisa Bersyukur??
1. Bersama-sama belajar dan menyanyikan Kidung Jemaat 337 (teks
terlampir).
2. Lihatlah bersama, tahun berapa lagu ini diciptakan oleh
pengarangnya. Situasi tanah air kita sudah berubah antara
tahun 1979 sampai dengan 2007.
3. Sesudah itu, remaja diajak untuk mere-nungkan isi lagu
itu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, di bawah ini:
Apakah kita setuju bila negeri kita ini disebut "Negeri
Bencana" ? Kesadaran bahwa Indonesia ternyata rawan bencana
membuat kita harus membaca ulang judul nyanyian KJ 337,
Betapa Kita Tidak Bersyukur. Semula, judul itu merupakan
kalimat positif, sebuah pernyataan yang mengajak kita untuk
bersyukur karena tanah air Indonesia begitu indah dan subur.
Namun, sekarang kita harus menambahkan tanda tanya, "Betapa
Kita Tidak Bersyukur???" yang bisa dimengerti sebagai
pertanyaan, betapa kita saat ini sangat sulit atau tidak
bisa bersyukur. Bagaimana kita bersyukur ketika hutan-hutan
sudah gundul, tanah-tanah gampang longsor, pencemaran
terjadi di laut, darat dan udara Indonesia serta banjir
melanda di pelbagai tempat di tanah air? Betapa kita
sungguh-sungguh tidak bisa bersyukur melihat semburan lumpur
panas dan para korban yang kehilangan masa depannya?
Dapatkah kita menyanyikan lagi KJ 337 dengan pemahaman yang
asli? Kapan itu terjadi? Apa yang harus kita lakukan untuk
dapat menyanyikannya kembali dengan penuh syukur?
4. Mintalah seorang remaja membacakan puisi pendek di bawah
ini:
|
Bila pohon terakhir telah ditebang
Bila ikan terakhir telah ditangkap
Bila air terakhir telah diambil
Maka manusia akan sadar bahwa
Ia tidak dapat hidup dengan makan uang
 |

|