Home | Tentang Kami | Kesaksian | Acara rohani | Link
 
Swara Surgawi
Video Streaming
Gratis CD Sabda
Alkitab Elektronik
Hollypower.net
E-mail Gratis
E-card
Kartu Ucapan Kristiani
 
eXTReMe Tracker
  DERAP REMAJA


derap remaja adalah bahan pembinaan untuk remaja. disusun secara tematis.
setiap tema didasarkan satu bacaan alkitab.
dilengkapi pula dengan metode penyampaian.
telah terbit edisi 21. satu edisi per enam bulan.
para penulis derap remaja 2007 : pdt. addi soselia patriabara,
pdt. tri santoso, pdt. natan kristiyanto,  pdt. widi artanto, pdt. didik tridjatmiko,
pdt.waskito wibowo, anna marsiana, pdt. tabita kartika christiani
kontak: widi artanto, samirono baru 72 komp. lpps, yogyakarta, 55281.
telp.(0274) 514721-551592 fax. 0274) 543001
 e-mail: w_artanto@yahoo.com

Harga Rp. 20.000,-
Cara pengiriman ongkos cetak:
1. Lewat POS WESEL dengan memakai blangko yang dilampirkan
dalam surat pengantar
2. Lewat Bank ke TAHAPAN BCA cab. Sudirman Yogyakarta
No. 0371994881 a.n. Widi Artanto.
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
 

       Bagaimana menggunakan Derap Remaja?

Seni Hidup


agustus 2007

Kepekaan

Solidaritas

Kita Belum Merdeka?

Betapa Kita Tidak Bersyukur
 


agustus 2007minggu4
Betapa Kita Tidak Bersyukur

bacaan: imamat 25:1-7
bahan: kj 337 & lembar puisi

 

                                 
                                             
                                      
SEKILAS
Kemerdekaan Indonesia sudah berusia 62 tahun. Ini harus disyukuri. Betapa tidak, bukankah kemerdekaan sebuah bangsa juga berarti terbukanya kesempatan bagi penduduk negeri itu untuk hidup merdeka di tanah air sendiri? Apalagi tanah air Indonesia yang dikenal sebagai Nusantara yang indah, subur, dan permai. Alam Indonesia adalah pemberi¬an Tuhan untuk semua manusia Indonesia. Dari semula, itulah cita-cita para pendiri bangsa ini dengan tujuan agar semaksimal mungkin kekayaan alam dapat dinikmati untuk kepentingan seluruh rakyat. Namun, dapatkah sekarang ini kita sungguh-sungguh bersyukur? Ketika kerusakan alam terjadi di mana-mana dan bencana alam akibat ulah manusia melanda negeri ini silih berganti, tanah dan air tidak lagi ramah. Negeri ini kehilangan keindahannya terutama bagi banyak orang yang menjadi korban. Melalui pelajaran ini remaja diajak untuk melihat kenyataan tentang kerusakan alam dan menemukan kehendak Tuhan dalam memperjuangkan pemulihan seluruh ciptaan-Nya.

PENJELASAN TEKS
Konteks Imamat 25

Setelah dibebaskan dari perbudakan Mesir, masyarakat Israel mengalami ketim-pangan dalam hal sosial ekonomi. Sebagian orang memang dapat bertahan hidup. Seba¬gian yang lain terpaksa harus menggadaikan tanah dan menjual tanahnya demi keberlangsungan hidup mereka. Keadaan yang demikian sungguh sangat memprihatinkan dan dapat menimbulkan malapetaka dalam kehidupan bersama bangsa Israel. Itulah sebabnya kehidupan bangsa Israel harus ditata kembali dan dipulihkan. Pemulihan tersebut dilakukan dengan prinsip tahun Yobel atau tahun ke 50. Di tahun itu, hutang-hutang dinyatakan lunas dan orang Ibrani yang menjadi budak akibat hutang juga dibebaskan. Itulah saat pengucapan syukur atas pemeliharaan Allah. Melalui hal ini orang Israel juga diingatkan tentang statusnya. Bahwa pada awalnya mereka adalah budak dan tidak memiliki apa-apa, semua yang dimiliki adalah anugerah dan pemberian Allah. Itulah sebabnya mereka juga harus mengingat keberadaan saudara-saudaranya yang masih kekurangan. Dengan kata lain bahwa prinsip tahun Yobel (dari kata ini kita mengenal kata jubile) mengajarkan umat Israel untuk hidup dalam pengucapan syukur dan tidak serakah.

Ayat 1-7: Sabat bagi tanah
Pelaksanaan Tahun Yobel diawali dengan pelestarian alam. Tanah di Israel tidak boleh diolah terus menerus tanpa mendapat perhentian. Sesudah enam tahun diolah dan masyarakat mendapat hasilnya, tanah harus diberi kesempatan untuk mengalami sabat. Sabat atau perhentian bukan hanya untuk manusia tetapi juga untuk tanah, untuk alam. Bahkan ditegaskan, sabat bagi tanah itu adalah sabat bagi TUHAN dan sabat itu adalah suatu perhentian yang penuh. Tanah dibiarkan dan tidak boleh ditanami apapun. Bila dari tanah itu tumbuh sendiri dan kebun-kebun anggur menghasilkan buah walau tidak diolah, semua hasilnya harus dinikmati banyak orang. Bagi pemiliknya sendiri, budak-budak, orang upahan, orang asing, dan juga binatang ternak serta binatang liar. Dengan cara ini, tanah atau alam ciptaan dan milik Tuhan dapat beristirahat, mengambil nafas dan mengumpulkan tenaga baru. Ketiga kata: "istirahat", "mengambil nafas" dan "mengumpulkan tenaga baru" menunjukkan  pengertian kata sabat (dalam bahasa Ibrani syabat). Melalui penerapan Tahun Yobel dan khususnya aturan sabat bagi tanah, umat Israel diajar untuk melawan keserakahan dalam kehidupan sosial dan pengelolaan alam. Hanya dengan demikian kehidupan yang timpang menjadi pulih dan kesejahteraan dapat mengalir dan dinikmati seluruh umat Israel.

LANGKAH-LANGKAH PENYAMPAIAN
1. Ajaklah remaja untuk menyebutkan bencana-bencana alam yang terjadi akhir-akhir ini. Mulai dari gempa, tsunami, me-letusnya gunung berapi, tanah longsor, semburan lumpur panas, banjir dan lain-lainnya. Bantulah remaja untuk membe-dakan bencana alam yang terjadi karena proses alam, seperti gempa, tsunami, dan meletusnya gunung berapi, dengan ben¬cana alam yang terjadi karena ulah serta kesalahan manusia, seperti banjir, tanah longsor, lumpur panas, dan lain-lainnya.
2. Masuklah dalam KEGIATAN (lihat di bawah).
3. Sampaikanlah pokok-pokok pesan Al-kitab dengan memanfaatkan penjelasan perikop.
4. Penegasan:
Indonesia yang merdeka adalah Indo¬nesia yang dahulu dicita-citakan sebagai negeri "gemah ripah loh jinawi" (subur makmur, ramai semarak). Pengertian yang tidak harafiah dari ungkapan yang terkenal ini, menunjukkan kehidupan manusia dalam tatanan yang adil dan makmur di tanah air atau alam yang subur. Apakah sekarang cita-cita itu makin kabur dan hilang ditelan bencana yang bertubi-tubi menimpa negeri ini? Satu-satunya harapan adalah kembali pada kehendak awal Tuhan Allah pencipta alam semesta, yaitu agar semuanya menjadi baik dan sangat baik. Tuhan menciptakan semuanya dengan sangat baik dan untuk tujuan kebaikan bagi seluruh penghuni alam ini. Bila dalam perkembangan, kerusakan alam terjadi, pastilah bukan kehendak-Nya melainkan ulah dan akibat keserakahan manusia. Sebagai contoh, hutan-hutan di Kaliman¬tan dan Sulawesi adalah paru-paru dunia yang sekarang ini mulai gundul atau "berlobang-lobang" karena pembabatan dan pengelolaan hasil hutan yang tak terkendali. Indonesia menjadi peringkat teratas dalam pengrusakan hutan.
5. Untuk remaja sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang dirundung nestapa karena rusaknya alam yang semua indah permai, apa yang dapat dilakukan? Secara sederhana, remaja dapat menjaga kelestarian alam dengan tindakan-tindakan kongkrit, misalnya:

  - tidak membuang sampah sembarangan, di aliran sungai, selokan dan tempat-tempat yang harus bersih dari limbah,
- menghemat energi listrik dan air (wa-laupun membayar rekening PLN atau PDAM tetapi tanggung jawab iman terhadap kekayaan alam pemberian Tuhan mendorong kita melakukan penghematan),
-  menjaga kebersihan di tempat-tempat umum,
-  mencintai binatang dan tanaman sekitar,
- dan lain-lainnya (remaja diminta menambahkan contoh-contoh tindakan sederhana yang dapat mereka lakukan).

Kebiasaan ini akan membentuk sikap cinta alam dan membuahkan tekad hidup untuk membangun negeri ini bersama anak-anak bangsa yang lain secara berkelanjutan.

KEGIATAN
Betapa Kita Tidak Bisa Bersyukur??
1. Bersama-sama belajar dan menyanyikan Kidung Jemaat 337 (teks terlampir).
2. Lihatlah bersama, tahun berapa lagu ini diciptakan oleh pengarangnya. Situasi tanah air kita sudah berubah antara tahun 1979 sampai dengan 2007.
3. Sesudah itu, remaja diajak untuk mere-nungkan isi lagu itu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, di bawah ini:
Apakah kita setuju bila negeri kita ini disebut "Negeri Bencana" ? Kesadaran bahwa Indonesia ternyata rawan bencana membuat kita harus membaca ulang judul nyanyian KJ 337, Betapa Kita Tidak Bersyukur. Semula, judul itu merupakan kalimat positif, sebuah pernyataan yang mengajak kita untuk bersyukur karena tanah air Indonesia begitu indah dan subur. Namun, sekarang kita harus menambahkan tanda tanya, "Betapa Kita Tidak Bersyukur???" yang bisa dimengerti sebagai pertanyaan, betapa kita saat ini sangat sulit atau tidak bisa bersyukur. Bagaimana kita bersyukur ketika hutan-hutan sudah gundul, tanah-tanah gampang longsor, pencemaran terjadi di laut, darat dan udara Indonesia serta banjir melanda di pelbagai tempat di tanah air? Betapa kita sungguh-sungguh tidak bisa bersyukur melihat semburan lumpur panas dan para korban yang kehilangan masa depannya? Dapatkah kita menyanyikan lagi KJ 337 dengan pemahaman yang asli? Kapan itu terjadi? Apa yang harus kita lakukan untuk dapat menyanyikannya kembali dengan penuh syukur?
4. Mintalah seorang remaja membacakan puisi pendek di bawah ini:

Bila pohon terakhir telah ditebang
Bila ikan terakhir telah ditangkap
Bila air terakhir telah diambil
Maka manusia akan sadar bahwa
Ia tidak dapat hidup dengan makan uang




                                     
                                

Juli0107

Juli0207

Juli0307

Juli0407

Juli0507

Agustus0107

Agustus0207

Agustus0307

  Sahabat Surgawi, Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright © 2002-2007,
Tim Sahabat Surgawi