|
derap remaja adalah bahan
pembinaan untuk remaja.
disusun secara tematis.
setiap tema didasarkan satu
bacaan alkitab.
dilengkapi pula dengan
metode penyampaian.
telah terbit edisi 23. tahun
XII
para penulis derap remaja
2008 : pdt. addi soselia
patriabara,
pdt. tri santoso, pdt. widi
artanto, pdt. didik
tridjatmiko, pdt. wisnu
sapto nugroho,
martin sutedja, pdt. tabita
kartika christiani,
margaritifera
lystiakusumadewi
tata letak: abiya wyanto
kontak: widi artanto,
samirono baru 72 komp. lpps,
yogyakarta, 55281.
telp.(0274) 514721-551592
fax. 0274) 543001
Harga per eksemplar Rp.
20.000,-
Cara pengiriman ongkos cetak:
1. Lewat POS WESEL dengan
memakai blangko yang
dilampirkan
dalam surat pengantar
2. Lewat Bank ke TAHAPAN BCA
cab. Sudirman Yogyakarta
No. 0371994881 a.n. Widi
Artanto.
Segera kirimkan
pemberitahuan pengiriman
bank.
|
|
Penjelasan Teks
Tidak seperti Injil injil Sinoptis, Injil Yohanes tidak banyak menuliskan kisah-kisah penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus. Selain penyembuhan orang yang telah 38 tahun sakit di tepi kolam Betesda (Yohanes 5), Injil Yohanes hanya mencacat penyembuhan orang yang buta sejak lahir. Sangat menarik melihat diskusi yang terjadi terhadap orang yang dilahirkan buta ini. Untuk melihat secara lebih jelas, kita dapat memperhatikan tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya.
Orang buta
Orang itu sudah dalam kondisi buta sejak lahir; jadi ia belum pernah melihat. Pekerjaannya mengemis - suatu pekerjaan yang kurang dihargai dalam masyarakat. Yesus mengoleskan tanah yang telah dicampur ludah-Nya ke mata orang yang buta itu. Cara penyembuhan saperti ini merupakan hal yang biasa dilakukan oleh tabib, Kemudian Yesus menyuruh orang buta itu membasuh diri di kolam Siloam. Jadi tanah dan ludah itu belum memelekkan matanya. Baru setelah orang buta itu menuruti kata-kata Yesus dan membasuh dirinya di kolam Siloam, ia dapat melihat.
Ketika ditanya pengalamannya menjadi melek, orang yang tadinya buta itu dapat menjawab dengan lancar bahwa Yesus mengaduk tanah dan mengoleskannya ke matanya (ay. 11, I5 dan secara implisit ay, 27). la tahu bahwa Yesuslah yang menyembuhkannya, Namun beberapa kali orang buta yang sudah dapat melihat itu berkata "tidak tahu:"
* ia berkata kepada tetangga-tetangganya bahwa ia tidak tahu di mana Yesus (ay. 12)
*ia juga berkata bahwa ia tidak tahu apakah Yesus itu orang berdosa atau tidak (ay. 25)
*bahkan ia berkata kepada Yesus bahwa ia tidak tahu siapa itu Anak Manusia (ay. 36),
Yang menarik, pengenalannya tentang Yesus ternyata berkembang. Mula-mula ia menyebut Yesus sebagai seseorang (ay. 11). Kemudian ia mengatakan Yesus adalah nabi (ay. 17), seorang yang melakukan mujizat (ay. 25); seorang yang datang dari Allah dan didengar Allah (ay. 31, 33); dan pada akhirnya ia percaya bahwa Yesus adalah Anak Manusia yang diutus Allah (ay. 38).
Murid-murid Yesus (ay.2)
Sama seperti orang Yahudi pada umumnya, murid-murid mempunyai pandangan bahwa orang lahir cacat karena orang tuanya atau diri orang itu sendiri telah melakukan dosa. Apakah mungkin seorang yang masih dalam kandungan ber¬dosa? Bagi orang Yahudi itu mungkin. Janin dapat melakukan dosa. Dasarnya adalah penafsiran terhadap Kej. 4:7, "dosa sudah mengintip di depan pintu" yang diartikan sebagai pintu rahim.
Sedangkan pandangan bahwa seorang lahir cacat karena dosa orang tuanya didasarkan pada penafsiran terhadap Kel. 20:5; 34:7; Bil. 14:18; Mzm. 109:14; Yes. 65: 5,7 yang menyatakan bahwa dosa ayah, ibu, bahkan nenek moyang, ditanggung oleh atau dibalaskan kepada keturunannya.
Tetangga-tetangga (ay. 8-12)
Tetangga-tetangga orang buta itu tidak percaya bahwa ia dapat disembuhkan, karena kebutaannya sudah sejak lahir. Karena itu mereka terus bertanya kepadanya, benarkah ia adalah orang yang tadinya buta (ay. 8-9). Setelah mengalami kebuntuan dalam bertanya, mereka membawa orang yang sudah melek itu kepada orang-orang Farisi yang merupakan pemimpin agama.
Orang-orang Farisi (ay. 13-34)
Persoalan yang diangkat orang-orang Farisi adalah:
* waktu kejadian penyembuhan adalah pada hari Sabat (ay. 14, 16)
* mereka meragukan apakah Yesus benar datang dari Allah (ay. 16)
-setelah melihat mujizat penyem¬buhan orang yang buta sejak lahir, mereka sendiri bertentangan pendapat tentang asal usul Yesus (ay. 16)
-akhirnya mereka berpendapat Yesus bukan berasal dari Allah, tidak seperti Musa yang berasaI dari Allah (ay. 28-29) mereka marah ketika orang yang sudah melek itu menjelaskan tentang siapa Yesus; mereka menyebut orang yang tadinya buta itu "lahir sama sekali dalam dosa" -kata-kata yang menghakimi dan melecehkan (ay. 30-34)
Orang tua (ay. 18-23)
Orang tua dari orang buta yang sudah disembuhkan itu hanya berani memberikan konfirmasi bahwa orang yang sudah melek itu benar-benar anak mereka. Tapi mereka tidak berani menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias. Maka mereka menyerahkan penjelasan tentang Yesus itu ke¬pada anak mereka yang dianggap sudah dewasa.
Yesus (ay.1-7; 35-41)
Yesus tidak berpendapat bahwa orang yang lahir buta itu cacat akibat dosa, Yesus juga tidak menganggap orang buta itu sebagai obyek pembicaraan dan penyembuhan, melainkan sebagai seorang manusia/ individu yang mengalami "pekerjaan-pekerjaan" Allah yang menyelamatkan.
Maka Yesus tidak hanya menyembuhkannya, melainkan juga mencarinya ketika orang itu telah diusir oleh orang-orang Farisi. Bahkan Yesus mengajak bercakap-cakap dan la menyatakan siapa diri-Nya, sehingga orang yang sudah disembuhkan itu percaya kepada-Nya.
Langkah-langkah Penyampaian
1. Ajak remaja membaca perikop ini sebagai sebuah narasi, dengan cara seorang menjadi narrator yang membaca kalimat-kalimat tidak langsung. Selanjutnya beberapa orang menjadi murid-murid yang membaca kalimat yang langsung diucapkan murid-murid. Demikian juga dengan tokoh Yesus, tetangga-tetangga, orang buta, orang-orang Farisi, dan orang tua.
2. Bagilah remaja dalam 6 kelompok untuk mendalami tiap tokoh: orang buta, murid-murid Yesus, tetangga-tetangga, orang-orang Farisi, orang tua, dan Yesus. Tiap kelompok diminta menuliskan tokoh masing-masing pada kertas manila agar dapat dibaca oleh kelompok-kelompok lain. Mintalah tiap kelompok membahas tokoh masing-masing dengan pertanyaan pemandu:
-Orang yang seperti apakah tokoh ini?
-Bagaimana sikap tokoh ini terhadap orang buta?
-Bagaimanakah sikap tokoh ini terhadap Yesus?
-Dll. (dapat dikembangkan oleh Kelompok)
Tugas kelompok bukan menilai tokoh itu, melainkan mendalami sudut pandang tokoh itu (memberikan argumentasi mengapa ia begitu).
3. Mintalah tiap kelompok (tiap tokoh) mengemukakan hasil pembahasannya di depan kelompok-kelompok lain (pleno). Arahkan laporan-laporan itu agar dapat menggambarkan argumentasi yang cukup mendalam (bandingkan dengan "Fokus" dan "Penjelasan Teks" di atas). Tekankan pada sikap Yesus terhadap orang buta.
4. Minta remaja menceritakan pengalaman mereka dengan orang buta. Tanyai apakah mereka tahu apa yang dapat dilakukan orang buta (apakah semua orang buta hanya bisa mengemis?). Jelaskan bahwa banyak orang buta yang pekerjaannya beraneka ragam, misalnya menjadi penyanyi, DJ, dosen, guru, pekerja sosial, tukang pijat dsb. (dapat dilengkapi dengan foto).
5. Ajak remaja membicarakan bagaimana sikap mereka terhadap orang buta Selama ini. Tanyakan apa yang akan mereka lakukan sete Iah membaca sikap Yesus terhadap orang buta. Bukan melecehkan mereka, tapi menghargai. Bukan sekedar kasihan, tapi melihat kelebihan orang buta (bisa berjalan dengan menggunakan tongkat, menghafal orang dari namanya dll.).
Bukan bersyukur karena remaja tidak buta, tapi melihat karya Tuhan yang besar melalui orang buta.
Kegiatan
Remaja ditutup matanya dengan kain, lalu diminta untuk berjalan mengelilingi ruangan. Jika memungkinkan, bisa juga ke luar dari ruangan dan berjalan di dalam kompleks gereja. Yang perlu diperhatikan adalah keselamatan mereka, jangan sampai jatuh atau tertabrak kendaraan. Biarkan mereka berjalan buta selama 5-10 menit. Setelah itu ajak mereka berbagi (sharing):
* Bagaimana perasaan remaja ketika berjalan buta
* Bagaimana empati remaja terhadap orang buta
* Apa yang akan mereka lakukan terhadap orang buta
Jika memungkinkan, siapkan buku dengan huruf Braille, kemudian minta re¬maja untuk meraba huruf-huruf itu. Lebih baik lagi jika mengundang seorang buta dan memintanya mengajarkan huruf-huruf Braille kapada remaja.
Tanyakan juga apakah ada yang bercita-cita menjadi dokter spesialis mata.
Jika di kota Anda ada RS Mata, atau SLB bagian A (Tunanetra), atau lembaga pelayanan orang buta, remaja dapat diajak berkunjung untuk berbincang-bincang den¬gan penyandang cacat netra. Tujuan kunjungan bukan untuk memberi, tapi justru untuk belajar dari orang-orang buta. Bukan untuk bersyukur karena remaja tidak buta, melainkan mengalami karya Tuhan yang besar melalui orang-orang buta yang mampu melakukan banyak hal.
Bahan yang diperlukan:
* Koin (sapu tangan, penutup kepala dsb.) yang dapat dipakai menutup
mata. Jika ada, jumlahnya sebanyak remaja yang hadir. Jika tidak, remaja dapat dibagi dalam beberapa kelompok sehingga dapat menggunakan koin itu secara bergantian.
* 6 kertas manila dan spidol besar untuk menulis nama kelompok
* Buku atau Alkitab dengan huruf-huruf Braille (sedapat mungkin diupayakan)
* Gambar/poster tokoh-tokoh yang matanya buta (misalnya penyanyi Stevie Wonder, Ramona Purba)
Fokus:
Seringkali ada orang yang meng-hubungkan cacat dan dosa. Jika seseorang cacat, tentu ia atau orang tuanya telah berbuat dosa. Terutama jika dikaitkan dengan keyakinan ten¬tang "kualat," orang mengira se¬orang yang cacat disebabkan ia kualat terhadap sesuatu; atau ia su¬dah melakukan suatu kesalahan. Pemahaman yang sama dimiliki oleh orang-orang Yahudi pada zaman Yesus yang mempertanyakan siapakah yang berdosa, orang tuanya atau orang itu sendiri, sehingga seseorang lahir buta. Jawaban Yesus benar-benar memperbaiki keyakinan yang salah itu. Bukan orang itu atau orang tuanya yang berdosa, tapi supaya pekerjaan-pekerjaan Tuhan dinyatakan. Melalui pelajaran ini remaja belajar melihat karya Tuhan dalam diri orang-orang cacat, sehingga remaja dapat mengasihi dan menghargai mereka. |
|