Home | Tentang Kami | Kesaksian | Acara rohani | Link
 
Swara Surgawi
Video Streaming
Gratis CD Sabda
Alkitab Elektronik
Hollypower.net
E-mail Gratis
E-card
Kartu Ucapan Kristiani
 
eXTReMe Tracker
  DERAP REMAJA 2008


derap remaja adalah bahan pembinaan untuk remaja. disusun secara tematis.
setiap tema didasarkan satu bacaan alkitab.
dilengkapi pula dengan metode penyampaian.
telah terbit edisi 23. tahun XII
para penulis derap remaja 2008 : pdt. addi soselia patriabara,
pdt. tri santoso, pdt. widi artanto, pdt. didik tridjatmiko, pdt. wisnu sapto nugroho,
martin sutedja, pdt. tabita kartika christiani, margaritifera lystiakusumadewi
tata letak: abiya wyanto
kontak: widi artanto, samirono baru 72 komp. lpps, yogyakarta, 55281.
telp.(0274) 514721-551592 fax. 0274) 543001

Harga per eksemplar Rp. 20.000,-
Cara pengiriman ongkos cetak:
1. Lewat POS WESEL dengan memakai blangko yang dilampirkan
dalam surat pengantar
2. Lewat Bank ke TAHAPAN BCA cab. Sudirman Yogyakarta
No. 0371994881 a.n. Widi Artanto.
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank
.
 

Cara penggunaan Derap Remaja

Anatomi Materi

april 2008

Minggu 1: Dibebaskan Untuk Membawa Damai
Galatia 5:1-15

Minggu 2: Dibebaskan Untuk Memerangi Ketakutan
1 Yohanes 4:17-21

Minggu 3: Dibebaskan Untuk Memulihkan

Mazmur 85:1-14

Minggu 4: Dibebaskan Untuk Melayani
Markus 10:32-45

Dibebaskan Untuk Melayani
Markus 10:32- 45


Penjelasan Teks
KAGUM CAMPUR NGERI DAN TAKUT
Rombongan Yesus berjalan dengan berbagai perasaan menuju ke Yerusalem. Dalam perjalanan ini Yesus berdiri pada posisi paling depan. la memimpin mereka bagai seorang panglima menuju Yerusalem. Murid-murid mengikuti dengan perasaan kagum dan ngeri (Yunani: thambeho-TBLAI: cemas), dan orang banyak mengikut dengan perasaan takut (phobeo). Mengapa perasaan murid-murid dan pengikut lain campur aduk? Dalam perjalanan ke Yerusalem itu Yesus memberitakan tentang kemuliaan (kini dan kekal) dan sekaligus memberitakan penderitaan sebagai konsekuensi mengikut Dia (ay. 30, 32-35). Pada satu sisi Yerusalem adalah simbol kemuliaan dan pusat pemerintahan. Namun pada sisi lain Yerusalem adalah medan penderitaan dan kematian bagi Yesus (juga bagi para murid). Gaung kemuliaan dan penderitaan inilah yang menyebabkan murid-murid dan para pengikut yang lain diliputi rasa kagum, ngeri dan takut. Di tengah kecamuk perasaan seperti itulah untuk ketiga kalinya Yesus menegaskan identitasnya sebagai Mesias yang menderita.

SALAH MENGERTI
Meski Yesus telah berulang kali memberitakan penderitaan yang akan segera dialami-Nya, murid-murid tetap saja tidak mengerti. Mereka masih menempatkan Yesus sebagai Mesias yang jaya. Mereka berpikir: jika Yesus meraja, mereka pasti juga akan "kecipratan" kemuliaan. Bahkan mereka 'berebut' kemuliaan itu. Yakobus dan Yonanes memesan kursi kemuliaan di sebelah kiri dan kanan Yesus. Duduk di sebelah kiri dan kanan
artinya menjadi orang nomor satu. Murid-murid yang lain marah kepada Yohanes dan Yakobus. Apa sebabnya? Apakah karena mereka solider dengan penderitaan yang akan segera dialami oleh Yesus? Bukan! Mereka marah karena terancam tidak mendapatkan tempat strategis itu. Itulah sebabnya kemudian Yesus memanggil dan menegor mereka semua tanpa kecuali.

MENJADI HAMBA YANG MELAYANI, BUKAN PENGUASA YANG MEMERINTAH
Yesus menasihati bahwa prinsip hidup pengikut-Nya mesti beda dengan prinsip umum dunia. Jika bagi dunia kemuliaan hidup diletakkan pada pementingan diri sendiri, kekuasaan, dan kedudukan, maka tidak demikian bagi murid Yesus. Yesus berkata: 43 Tidaklah demikian di antara kamu, Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, 44 dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. 45 Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberIkan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." Dalam pandangan Yesus kemuliaan hidup justru terletak pada kesediaan merendahkan diri sebagai seorang pelayan dan hamba (diakonos dan doulos). Diakonos artinya pelayan meja, orang yang melakukan sesuatu untuk kepentingan orang lain. Doulos artinya hamba/budak, sosok yang selalu menempatkan diri di bawah. Baik diakonos maupun doulos menunjuk eksistensi yang melayani kepentingan orang lain. Bagi Yesus, orang yang besar dan mulia adalah orang yang tidak mementingkan diri sendiri, melainkan mementingkan orang lain. Pengosongan diri inilah yang dibicarakan Yesus terkait dengan penderitaan dan kematian yang akan dijalani-Nya di Yerusalem.


Bahan yang diperlukan:
Salib kayu ukuran 1 1/2 x 1/2 m, paku sejumlah peserta, beberapa palu, kertas refleksi dan alat tulis.

Fokus:
Setiap orang menginginkan kemuliaan hidup. Itu tentu wajar dan manusiawi. Namun ketika kemuliaan hidup diletakkan pada kekuasaan dan kekayaan, maka manusia bisa menjadi "serigala bagi sesamanya". Pengejaran kekuasaan dan kedudukan cenderung mendorong manusia bersikap mementingkan diri sendiri dan mengorbankan pihak lain, bahkan korup dan jahat. Pelajaran ini mengajak remaja meletakkan kemuliaan hidup bukan pada kedudukan dan kekuasaan, melainkan pada kesediaan melayani dan mengasihi Tuhan dan sesama.


Langkah-langkah Penyampaian
1. Sebelum acara dimulai, tempatkanlah salib kayu berukuran 11/2 x 1/2 meter di ruang kebaktian/persekutuan. Sebaiknya salib dibuat dari kayu kasar, mUdah dipaku dan ditempatkan dalam posisi berdiri, Siapkan juga paku sejumlah peserta dan beberapa palu di samping salib yang sudah diberdirikan.
2. Di awal acara, bagikan kertas karton putih ukuran 1/4 folio dan alat tulis yang kelak akan dipakai sebagai sarana refleksi diri bagi masing-masing remaja.
3. Jelaskan kepada remaja perasaan "thambeho" dan "fobeo" para murid dan pengikut Yesus dalam perjalanan menuju Yerusalem. Mereka berada dalam ketegangan antara kesiapan menderita dan harapan kemuliaan Mesias yang rajani. Meski pemberitaan tentang Mesias yang menderita terus dikerucutkan oleh Yesus, namun para murid ternyata lebih cenderung memahami Yesus sebagai Mesias rajani. Mereka berebut mencari tempat paling strategis; duduk di sebelah kanan dan kiri Yesus. Bukan hanya Yakobus dan Yohanes, melainkan semua murid. Pementingan diri sendiri, orientasi kekuasaan, dan kedudukan mereka tempatkan sebagai sumber kemuliaan hidup. Yesus mengingatkan mereka bahwa kemuliaan hidup justru terletak pada kesediaan menghamba, melayani dan memperlakukan orang lain lebih dari diri sendiri. Itulah yang segera dicontohkan Yesus di Yerusalem.
4. Tekankan intisari tema di atas secara tegas dan jelas. Murid-murid dipanggil untuk menyalibkan diri sendiri dan melayani.
5. Kemudian dalam suasana tenang mintalah remaja secara pribadi untuk menuliskan pengakuan mereka pada Tuhan dalam satu kalimat pendek tentang kebiasaan mementingkan diri sendiri. Misalnya:
* Tuhan, ampunilah kesombonganku.
* Tuhan, aku tidak menghormati orang tuaku
* Tuhan, selama ini aku haus pengakuan dan pujian
* Tuhan,aku egois
6. Menjelang akhir point
5. naikkanlah pujian yang bertema salib seperti:
* Meski Tak Layak Diriku
* Ingat Kasihnya
* Tuhan Kasihani, dll.
Sementara pujian dinaikkan, mintalah remaja secara tertib bergiliran maju dan memakukan pengakuannya pada salib.
7. Setelah semuanya selesai, akhiri dengan doa syukur dan permohonan agar remaja dapat meneladani Kristus yang sedia menjadi seorang hamba.



|derap des 0507|derap jan 0108 |derap jan 0208 | derap jan 0308 |
| derap jan 0408 | derap feb 0108 | derap feb 0208 | derap feb 0308 |
| derap feb 0408 | derap maret 0108 | derap maret 0208 | derap maret 0308 |
| derap maret 0408 | derap maret 0508 | derap april 0108 | derap april0208 |
| derap april0308 |

 
  Sahabat Surgawi, Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright © 2002-2007,
Tim Sahabat Surgawi