 |
 |
|
|
 |
 |
|
|
|
|
|
 |
|
derap remaja adalah bahan
pembinaan untuk remaja.
disusun secara tematis.
setiap tema didasarkan satu
bacaan alkitab.
dilengkapi pula dengan
metode penyampaian.
telah terbit edisi 23. tahun
XII
para penulis derap remaja
2008 : pdt. addi soselia
patriabara,
pdt. tri santoso, pdt. widi
artanto, pdt. didik
tridjatmiko, pdt. wisnu
sapto nugroho,
martin sutedja, pdt. tabita
kartika christiani,
margaritifera
lystiakusumadewi
tata letak: abiya wyanto
kontak: widi artanto,
samirono baru 72 komp. lpps,
yogyakarta, 55281.
telp.(0274) 514721-551592
fax. 0274) 543001
Harga per eksemplar Rp.
20.000,-
Cara pengiriman ongkos cetak:
1. Lewat POS WESEL dengan
memakai blangko yang
dilampirkan
dalam surat pengantar
2. Lewat Bank ke TAHAPAN BCA
cab. Sudirman Yogyakarta
No. 0371994881 a.n. Widi
Artanto.
Segera kirimkan
pemberitahuan pengiriman
bank.
|
|
|
|
|
april 2008 |
|
Minggu 1: Dibebaskan Untuk Membawa Damai
Galatia 5:1-15
Minggu 2: Dibebaskan Untuk Memerangi Ketakutan
1 Yohanes 4:17-21
Minggu 3: Dibebaskan Untuk Memulihkan
Mazmur 85:1-14
Minggu 4: Dibebaskan Untuk Melayani
Markus 10:32-45
|
|
Dibebaskan Untuk Memerangi Ketakutan
1 Yohanes 4: 17-21
|
Penjelasan Teks
Panggilan Hidup Dalam Kasih
Perikop ini diawali dengan panggilan hidup dalam kasih. Ciri-ciri orang yang hidup dalam Tuhan adalah hidup dalam kasih. Mengapa? Karena Tuhan adalah kasih. Maka setiap orang yang hidup dalam kasih ia berasal dari Allah dan barang siapa tidak hidup dalam kasih tidak be rasaI dari Allah. Jadi kasih berasaI dari Allah dan membimbing orang kepada Allah (ay. 7-8, 15-16). Mengapa kita harus hidup dalam kasih? Karena Allah telah lebih dulu mengasihi kita (ay. 9-11). Kasih Allah dinyatakan dengan mengutus anak-Nya untuk mati dan menebus dosa manusia di atas salib. Melalui peristiwa penyaliban, kematian, dan kebangkitan Yesus, hubungan manusia didamaikan dengan Allah. Manusia bukan lagi seteru Allah, melainkan sekutu Allah.
Kasih melenyapkan ketakutan
Kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan. Setidaknya ada dua alasan mengapa kasih melenyapkan ketakutan:
a. Ketakutan dalam ayat 17-11 dihubungkan dengan hari penghakiman Allah.
Dalam konteks ini, ketakutan adalah perasaan negatif sebagai tersangka ketika berhadapan dengan pengadilan
llahi. Ketakutan muncul karena Allah diposisikan sebagai hakim yang hanya memiliki moralitas keadilan. Dalam moralitas keadilan yang salah dihukum dan yang benar diselamatkan. Namun penulis surat 1 Yohanes menampilkan Allah bukan hanya sebagai Allah yang maha adil, melainkan juga maha kasih. Allah adalah kasih, barang siapa mengenal eksistensi Allah yang adalah kasih, maka ketakutannya akan lenyap, Keadilan menghadapkan kita pada tuntutan dan hukuman, sedangkan kasih menghadapkan kita pada pengampunan, perbaikan dan penyelamatan. Dengan demikian, berhadapan dengan Allah yang adalah kasih, tidak lagi menakutkan.
b. Jika Allah menghakimi, maka kriterianya adalah kehidupan dalam kasih.
Bagi orang yang tidak mengasihi Tuhan dan sesama, maka hari penghakiman menjadi hari yang menakutkan. Tetapi bagi yang mengasihi Tuhan dan sesama, ia tidak perlu takut. Dengan mengasihi berarti kita hidup dalam perdamaian dengan Allah dan sesama, sehingga tidak perlu takut baik pada hari penghakiman maupun pada kehidupan saat ini. Barangsiapa hidup dalam kasih, ia tidak perlu cemas akan dipersalahkan. la bebas dari rasa takut karena ia sudah memenuhi kriteria keselamatan. Atau setidaknya jika presentasi hidup dalam kasih sudah dikerjakan semaksimal mungkin dan ternyata tetap tidak sempurna juga, maka kasih Allah akan menyempurnakannya.
Siapa yang harus Dikasihi dan apa arti Hidup dalam Kasih?
Allah dan sesama. Jika seseorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta…." (ay. 20). Kasih itu bersifat vertikal dan horizontal. Siapa mencintai Tuhan maka ia juga menyatakan kasih Tuhan dengan mencintai sesama. Kasih itu selalu bersifat etis dan berupa tindakan nyata. Kasih harus bisa dirasakan oleh Tuhan dan sesama. Analoginya: kita tidak dapat melihat Tuhan sebab Dia adalah Roh, tapi kita bisa merasakan kasih-Nya. Seperti halnya kita tidak dapat melihat angin tapi bisa merasakannya. Kita tidak dapat melihat arus listrik, tetapi kita dapat merasakan dan melihat energi yang dihasilkannya. Mengasihi berarti menunjukkan tanda-tanda kehidupan Kristus, Tanda kehidupan Kristus yang terbesar adalah bukan pada argumentasi, melainkan dalam tindakan nyata yang tidak hanya terarah pada diri sendiri. Jika setiap pihak tidak memusatkan perhatian hanya kepada diri sendiri, maka selalu ada pengampunan, perbaikan, penyempurnaan dan penyelamatan, mana kala dalam diri kita dan sesama terdapat ketidak-sempurnaan. Allah dan sesama akan mengampuni, melengkapi dan menyempurnakan kita. Jadi tidak perlu takut. Kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan.
Langkah-langkah Penyampaian
1. Rumah yang Bernafaskan Ketakutan
Ajaklah remaja menyadari bahwa salah satu penderitaan masyarakat modern adalah tidak memiliki "rumah". Rumah bukan dalam pengertian gedung (house), melainkan suasana aman (home). Rumah adalah tempat dimana kila merasa terlindung, diperhatikan, dicintai, dipulihkan dan disembuhkan, Banyak orang hidup dalam kecemasan, dihantui rasa takut dan perasaan tidak aman. Contohnya: Karena merasa tidak diperhatian dan tidak dicintai, banyak remaja yang menjadikan "jalanan", kebiasaan kebut-kebutan, dan ngedrug, sebagai "rumah".
Rasa takut mendorong manusia untuk mengenakan topeng-topeng dan mem bangun tembok-tembok pemisah antar manusia (baik yang kelihatan maupun tidak). Hidup didekati dengan pendekalan konfrontatif. Lebih celaka lagi siapa pun yang kebetulan berada di luar tembok dianggap sebagai ancaman dan musuh yang harus diperangi dan ditaklukkan. Rumah yang bernafaskan ketakutan membuat kita bergerak saling menjauh sampai pada titik aman, atau saling mendekat hingga pada kelekatan yang aman. Keduanya menghalangi hubungan yang wajar, nyaman dan bersahabat. Jadi rasa takut tidak menciptakan rumah yang aman, tetapi memaksa kita untuk hidup sendirian.
2. Menuju Rumah yang Bernafaskan Kasih
Apakah lawan dari rumah yang ber-nafaskan ketakutan? Bukan rumah yang bernafaskan keberanian, melainkan rumah yang bernafaskan cinta kasih. Rumah yang bernafas kasih adalah sebuah kehidupan yang di dalamnya kasih dikerjakan secara nyata: kasih kepada Allah dan sesama. Rumah yang bernafas kasih menawarkan persahabatan, penerimaan, perbaikan dan pemulihan. Penulis surat 1 Yohanes mengatakan: "Kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan." Yang dimaksud adalah kasih llahi. Ketika Allah menyatakan kasihnya kepada manusia melalui anak-Nya yang mati tersalib, Allah membebaskan manusia dari belenggu ketakutan. Allah yang tadinya sangat jauh telah menjadi Allah yang sangat dekat, dan bahkan mengenakan kemanusiaan kita yang berada di bawah bayang-bayang hukuman kematian. la tidak mendekati manusia dengan tuntutan dan hukuman melainkan dengan penebusan dan penyelamatan. Kasih Yesus mendamaikan hubungan manusia dengan Allah. Kasih-Nya menerima dan menyelamatkan manusia yang berdosa.
Justru karena Allah sudah membebaskan kita dengan cinta-Nya yang mendamaikan, maka kita dipanggil untuk memerangi rasa takut: baik rasa takut kita sendiri maupun rasa takut sesama. Kongkretnya, kehadiran kita tidak lagi menakutkan bagi sesama. Kita dipanggil untuk memberlakukan kasih secara nyata. Siapa yang harus kita kasihi? Allah dan sesama. Apa artinya mengasihi? Kasih itu selalu bersifat etis dan mewujud dalam tindakan nyata. Ada pepatah mengatakan bahwa "genta bukanlah genta sebelum dibunyikan, kereta bukanlah kereta sebelum dijalankan, dan cinta bukanlah cinta sebelum dilaksanakan". Mengasihi berarti menunjukkan tanda-tanda kehidupan Kristus secara nyata; menjadikan hidup kita sebagai pelaksanaan kasih, sahingga menjadi kitab terbuka yang dapat dibaca siapa saja. Yang lebih penting lagi: siapapun yang membacanya dapat merasakan kehidupan Kristus yang memancar dalam kehidupan kita, Memberlakukan kasih berarti memberi ruang bagi ketidak-sempurnaan dan membuka diri terhadap pengampunan, rahmat dan penyempurnaan llahi. (Manfaatkan penjelatan teks)
|
Bahan yang diperlukan:
Kuali, korek api, potongan kertas dan alat tulis sebanyak remaja yang hadir, teks cerita "Hati Tikus," dan lagu "UBI CARITAS"
Fokus:
Pelajaran ini mengajak remaja menyadari bahwa: "tanpa kasih, hidup terasa menakutkan". Kasih membuat orang merasa bebas untuk bertumbuh. Kasih yang bagaimana? Kasih seperti yang dipresentasikan Yesus. Kasih yang ditandai pemberian diri kepada orang lain. Kasih adalah kualitas hidup yang mengatasi moralitas keadilan. Dalam moralitas keadilan: yang salah dihukum dan yang benar diganjar berkat. Dalam kasih justru ada pengampunan, kesempatan memperbaiki diri dan penyelamatan. Jika kriteria penghakiman Allah adalah hidup dalam kasih, maka barangsiapa hidup dalam kasih, ia terbebas dari ketakutan akan penghakiman Allah. |
Kegiatan
ANALISIS KETAKUTAN
Kegiatan ini sekaligus berfungsi sebagai aplikasi.
1. Bagikan teks "Hati seekor tikus" kepada remaja dan mintalah mereka menganalilis apa yang menyebabkan si Tikus selalu ketakutan? Berikan kesempatan berdiskusi dalam kelompok kecil dan kemudian beberapa orang mewakili kelompoknya menyampaikan hasilnya.
2. Mintalah remaja untuk menuliskan ketakutan mereka masing-masing pada kertas yang sudah disediakan. Berikan kesempatan kepada mereka untuk menganalisis secara pribadi mengapa mereka takut.
3. Arahkan remaja untuk menyadari bahwa salah satu faktor penting penyebab ketakutan adalah tatkala seseorang melihat ketidak-sempurnaan dirinya dan melihat bahaya-bahaya yang ada, lalu semuanya dipusatkan pada dirinya.
4. Tekankan bahwa ketakutan itu bisa dikalahkan oleh pemberlakuan cinta kasih. Ingatkan bahwa cinta kasih Allah sedia menerima mereka apa adanya, mengampuni, menyempurnakan, dan menyelamatkan mereka. Ajak remaja menyatakan kasih kepada Allah dan sesama, dengan bersedia menerima kelemahan sesama dan mendekati sesama dengan sudut pandang kasih Tuhan yang menyelamatkan.
5. Mintalah mereka untuk memasukkan kertas-kertas yang berisi ketakutan tadi pada kuali, kemudian bakarlah. Akhiri dengan menyanyikan lagu Taize " UBI CARITAS" dan doa.
|
HATI SEEKOR TIKUS
Menurut suatu dongeng kuno, ada seekor tikus yang selalu tertekan karena takut kepada seekor kucing. Seorang tukang sihir merasa kasihan kepadanya lalu mengubahnya menjadi seekor kucing. Tetapi kemudian ia menjadi takut kepada anjing. Maka tukang sihir itu mengubahnya menjadi anjing, Tetapi ia mulai takut kepada harimau. Maka tukang sihir itu mengubahnya menjadi harimau. Tetapi harimau itu takut kepada seorang pemburu, Ia meminta supaya dirinya diubah menjadi seorang pemburu. Namun kali ini tukang sihir itu menyerah. la mengubahnya menjadi seekor tikus lagi dan berkata: "Apapun yang saya lakukan tidak akan membantumu. Apapun wujudmu engkau tetap seekor tikus, karena engkau hanya mempunyai hati seekor tikus" (Doa Sang Katak 2 p. 73)
Lagu “ UBI CARITAS” (Taize)
Ubi caritas et amor
Ubi caritas Deus ibi est
Di dalam cinta dan kasih (2x)
Hadirlah Tuhan
|
|
|
|derap des 0507|derap
jan 0108 |derap jan 0208 | derap jan 0308 |
|
derap jan 0408 | derap feb 0108 | derap feb 0208 | derap feb 0308 |
| derap feb 0408 |
derap maret 0108 | derap maret 0208 | derap maret 0308 |
| derap maret 0408 |
derap maret 0508 | derap april 0108 |
|
|
|
 |
 |
|
|
|
|