Home | Tentang Kami | Kesaksian | Acara rohani | Link
 
Swara Surgawi
Video Streaming
Gratis CD Sabda
Alkitab Elektronik
Hollypower.net
E-mail Gratis
E-card
Kartu Ucapan Kristiani
 
eXTReMe Tracker
  DERAP REMAJA


derap remaja adalah bahan pembinaan untuk remaja. disusun secara tematis.
setiap tema didasarkan satu bacaan alkitab.
dilengkapi pula dengan metode penyampaian.
telah terbit edisi 21. satu edisi per enam bulan.
para penulis derap remaja 2007 : pdt. addi soselia patriabara,
pdt. tri santoso, pdt. natan kristiyanto,  pdt. widi artanto, pdt. didik tridjatmiko,
pdt.waskito wibowo, anna marsiana, pdt. tabita kartika christiani
kontak: widi artanto, samirono baru 72 komp. lpps, yogyakarta, 55281.
telp.(0274) 514721-551592 fax. 0274) 543001
 e-mail: w_artanto@yahoo.com

Harga Rp. 20.000,-
Cara pengiriman ongkos cetak:
1. Lewat POS WESEL dengan memakai blangko yang dilampirkan
dalam surat pengantar
2. Lewat Bank ke TAHAPAN BCA cab. Sudirman Yogyakarta
No. 0371994881 a.n. Widi Artanto.
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
 

       Bagaimana menggunakan Derap Remaja?

Seni Hidup


september 2007

Wajah Berseri vs, Muram Durja

Membangun Impian

Give Me Home

Aku Ingin Mati

Life Must Go On
 


september 2007minggu 4
Aku Ingin Mati

bacaan: ayub 3:1 -26, 39:34-38
bahan: koran & majalah bekas, gunting, lem, karton
 

                                 
                                          
SEKILAS
Penderitaan senantiasa hadir dalam hidup manusia. Semua orang pasti pernah mengalaminya. Yang berbeda adalah sikap manusia dalam menghadapi penderitaan itu. Ada orang yang mengambil sikap yang fatal, yaitu bunuh diri, mengakhiri hidup. Karena merasa tidak sanggup menghadapi persoalan hidupnya. Namun, benarkah ia tidak sanggup menghadapi persoalannya? Melalui pelajaran ini remaja diajak untuk tidak cepat putus asa, apalagi ingin mengakhiri hidupnya, ketika beban hidup menimpa hidup mereka. Sebab mereka pasti mampu mengatasinya bersama dengan Tuhan.

PENJELASAN TEKS
Kisah Ayub, dengan penderitaan yang dialaminya, seringkali dijadikan referensi bagaimana seharusnya orang beriman menghadapi penderitaan. Biasanya penekanan seringkali diambil dari akhir kitab Ayub, di mana keadaannya kemudian dipulihkan (42:7-17). Pergumulan Ayub sendiri, yang memunculkan sikap putus asanya, kurang disoroti. Padahal justru melalui pergumulan Ayub, kita dapat menemukan nilai-nilai yang menarik dalam kita menghadapi penderitaan.

Penderitaan dalam hidup Ayub
Dalam cerita Ayub, diperlihatkan bahwa penderitaan Ayub sangat luar biasa. Ia kehilangan harta bendanya (1:13-17), dan juga kehilangan anak-anaknya (1:18-19). Ayub sendiri pun mengalami penyakit barah, borok yang menyelubungi seluruh tubuhnya (2:7-8). Penderitaan itu makin bertambah ketika sang istri tidak memberikan dukungan terhadap derita yang dialaminya (2:9-10). Memang kemudian datang tiga sahabat Ayub: Elifas, Bildad, dan Zofar yang memberi kekuatan pada Ayub (2:11-13). Akan tetapi dalam dialog selanjutnya, mereka justru menyalah-nyalahkan Ayub. Mereka datang untuk menghakimi Ayub (lihat mulai pasal 4).

Sikap Ayub
Pada awalnya, Ayub mencoba menerima penderitaan dalam hidupnya (1:20-21). Kehilangan yang bertubi-tubi dan beruntun dalam hidupnya, tentu saja membuatnya bersedih. Ini ditunjukkan dengan sikap mengoyak jubah dan menggunduli kepalanya. Cara yang ditunjukkannya itu lazim dilakukan orang-orang pada jaman Ayub untuk menyikapi penderitaan dalam hidup mereka. Tetapi Ayub juga menunjukkan sikap yang tegar, Katanya, "Dengan telanjang aku keluar dari rahim ibuku dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan." (ay. 21).
Ketegaran Ayub dalam menghadapi penderitaan dalam hidupnya juga ada batasnya. Karena itu ia meratap ingin mati saja rasanya (3:1-19). Ayub juga manusia. Setelah kehilangan harta benda, anak-anaknya, dan dukungan istrinya, ia mulai menyesali hidupnya. Kalau hidupnya hanyalah berupa rangkaian penderitaan dan kehilangan. Mengapa Tuhan mengijinkan ia hidup? Ia menyesali hari kelahirannya bahkan juga menyesali kegembiraan yang menyertai kehadirannya di dunia. Seandainya itu semua tidak ada, tentu akan lebih baik (ay. 1-7). Ayub juga  menyesali mengapa ia hidup sewaktu dilahirkan, mengapa ada pangkuan yang merawatnya, mengapa ada buah dada yang menghidupinya. Seandainya itu semua tidak ada maka ia sudah tenang dalam istirahat (ay.11-13).
Sikap Ayub ini seakan-akan mewakili sikap umat manusia dalam menyikapi penderitaan yang sering dialami oleh manusia. Menyesali kehidupan yang sudah terangkai dan terjalani. Buat apa itu semua terjadi kalau pada akhirnya penderitaan yang harus mereka tanggung. Sungguh tidak mudah untuk tetap bisa menerima penderitaan yang menimpa hidup ini dengan hati yang selalu bersyukur. Karena itu, kerap orang mengambil jalan pintas, mengakhiri hidup. Benarkah hanya kematian yang akan menyelesaikan pergumulan dan penderitaan manusia? Tidak!
Kisah Ayub di bagian menjelang akhir justru menunjukkan sikap yang perlu ditiru.
Dalam 39:34-38, Ayub mengakui kalau dirinya adalah ciptaan. Setelah melewati refleksi yang panjang, Ayub sampai pada sebuah pemahaman: dirinya ciptaan yang rapuh. Itu kenyataan hidup kita. Ayub belajar menerima dirinya. Manusia adalah ciptaan yang rapuh. Kekuatan justru bukan pada dirinya, tetapi justru bukan pada dirinya tetapi pada Tuhan. Oleh karena itu, sebuah ciptaan harus berpaut pada PENCIPTA-nya.

LANGKAH-LANGKAH PENYAMPAIAN
1. Mulailah dengan menceritakan kisah seorang siswi kelas dua SMP yang bunuh diri karena merasa malu tidak bisa membayar uang sekolahnya (lihat kisah pembuka). Banyak orang yang putus asa dalam menghadapi permasalahan-permasalahan hidupnya. Bunuh diri sebagai penyelesaian akhir seringkali dipilih manusia untuk mengakhiri penderitaannya.
2. Ayub dikenal sebagai tokoh dari Alkitab yang sangat tegar dalam menghadapi penderitaan dalam hidupnya. Apakah ia pernah merasa putus asa ketika bergumul dengan penderitaannya? Tentu saja. Bahkan Ayub pun sempat ingin "bunuh diri". Masuklah pada penjelasan teks tentang penderitaan dan sikap Ayub yang ditunjukkannya.
3. Aplikasikan pada kehidupan remaja. Ungkapkan permasalahan-permasalahan yang seringkali muncul dalam hidup remaja yang akan membuat mereka menderita. Merasa tidak kuat menanggung penderitaan itu wajar dan manusiawi. Putus asa juga wajar dan manusiawi. Tetapi apakah lantas manusia mengakhiri hidupnya? Ayub juga manusia. Ia juga penuh dengan kelemahan. Ia juga pernah berpikir lebih baik mengakhiri hidup. Buat apa hidup kalau hanya untuk menderita? Akhirnya, menang. Setelah bergumul dengan dirinya sendiri, ia mampu menerima kenyataan hidupnya.

4. Beri penekanan pada Ayub 39:34-38. Remaja perlu mengetahui, ada banyak orang mengalami penderitaan, tetapi berhasil mengatasinya. Mengapa? Karena ia mampu menerima dirinya apa adanya. Seperti Ayub yang mampu menerima keberadaan dirinya sebagai ciptaan yang rapuh. Ceritakan kisah Penutup di bawah.

KEGIATAN
1. Sediakan surat kabar dan majalah dalam jumlah yang cukup. Upayakan ada berita atau gambar yang berisi topik atau tema tentang bunuh diri. Sediakan juga gunting, lem dan kertas karton untuk menempel.
2. Bagi remaja dalam beberapa kelompok, misalnya satu kelompok 4-5 orang. Bagikan kepada setiap kelompok surat kabar dan majalah, gunting, lem, dan kertas kartonnya. Jelaskan kepada peserta yaitu untuk mencari berita atau gambar yang bertema bunuh diri, potong dan temple pada kertas karton.
3. Susun artikel yang mereka dapatkan berdasarkan tema atau latar belakang, misalnya orang bunuh diri karena putus cinta, kehilangan pekerjaan, gagal dalam studi, kehilangan harta benda, karena sakit berat, dll.

KISAH PEMBUKA
Seorang siswi kelas 2 SMP di Bojonegoro (sebut saja Bunga) nekad mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri dengan cara menggantung diri. Ia ditemukan oleh orang tuanya sudah menjadi mayat di dalam kamarnya. Menurut keterangan orang tuanya kemungkinan anaknya ini merasa malu karena belum bisa membayar uang sekolahnya selama 3 bulan. Beberapa hari terakhir ini anaknya mengeluh malu karena belum membayar uang sekolah. Orang tua bunga tidak menyangka bahwa anaknya akan mengambil jalan pintas seperti ini. Sebagai buruh tani mereka memang sering terlambat untuk membayar uang sekolah anaknya. Tetapi mereka tidak pernah menyangka bahwa anaknya akan berbuat nekat karena merasa malu. Kasus ini ditangani oleh kepolisian setempat.

KISAH PENUTUP
Seorang putri Korea hadir di Jakarta. Namanya Hee Ah Lee. Dalam bahasa Korea Hee berarti sukacita. Ah berarti tunas pohon yang terus tumbuh. Mungkin Anda berpikir itu nama biasa. Semua orang pasti memberi nama anaknya dengan nama yang indah bukan? Ya betul. Tetapi, harap diketahui, Hee Ah Lee lahir dengan dua syndrome. Down syndrome, atau syndrome keterbelakangan mental dan Lobster Claw syndrome, syndrome tangan capit kepiting. Down syndrome membuat seseorang lahir kebanyakan dengan IQ di bawah rata-rata. Syndrome tangan capit kepiting, membuat seorang lahir dengan 2 jari pada setiap tangan, mirip dengan kepiting. Bisakah Anda bayangkan? Satu syndrome saja sudah membuat kita pedih, apalagi dua. Namun, sang orangtua tetap menaruh harap, hingga memberi nama anaknya tunas harapan yang memberi sukacita.
Dampaknya, ia membesarkan sang anak dengan penuh sukacita. Sebab kehidupan adalah mujizat. Hee Ah Lee tumbuh menjadi gadis muda berprestasi. Setidaknya, konser di Balai Kartini menjadi bukti. Bagi manusia Hee Ah Lee terlahir tanpa harapan. Bagi Tuhan, setiap orang lahir sebagai mujizatNya.
 

                                                                                                                 

Juli0107

Juli0207

Juli0307

Juli0407

Juli0507

Agustus0107

Agustus0207

Agustus0307

Agustus 0407

September 0107

September 0207

September 0307

  Sahabat Surgawi, Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright © 2002-2007,
Tim Sahabat Surgawi