|
derap remaja
adalah bahan pembinaan untuk remaja. disusun secara tematis.
setiap tema didasarkan satu bacaan alkitab.
dilengkapi pula dengan metode penyampaian.
telah terbit edisi 21. satu edisi per enam bulan.
para penulis derap remaja 2007 : pdt. addi
soselia patriabara,
pdt. tri santoso, pdt. natan kristiyanto, pdt. widi
artanto, pdt. didik tridjatmiko,
pdt.waskito wibowo, anna marsiana, pdt. tabita kartika
christiani
kontak: widi artanto, samirono baru 72 komp. lpps, yogyakarta,
55281.
telp.(0274) 514721-551592 fax. 0274) 543001
e-mail: w_artanto@yahoo.com
Harga Rp. 20.000,-
Cara pengiriman ongkos cetak:
1. Lewat POS WESEL dengan memakai blangko yang dilampirkan
dalam surat pengantar
2. Lewat Bank ke TAHAPAN BCA cab. Sudirman Yogyakarta
No. 0371994881 a.n. Widi Artanto.
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
|
|

SEKILAS
Penderitaan senantiasa hadir dalam hidup manusia. Semua
orang pasti pernah mengalaminya. Yang berbeda adalah sikap
manusia dalam menghadapi penderitaan itu. Ada orang yang
mengambil sikap yang fatal, yaitu bunuh diri, mengakhiri
hidup. Karena merasa tidak sanggup menghadapi persoalan
hidupnya. Namun, benarkah ia tidak sanggup menghadapi
persoalannya? Melalui pelajaran ini remaja diajak untuk
tidak cepat putus asa, apalagi ingin mengakhiri hidupnya,
ketika beban hidup menimpa hidup mereka. Sebab mereka pasti
mampu mengatasinya bersama dengan Tuhan.
PENJELASAN TEKS
Kisah Ayub, dengan penderitaan yang dialaminya, seringkali
dijadikan referensi bagaimana seharusnya orang beriman
menghadapi penderitaan. Biasanya penekanan seringkali
diambil dari akhir kitab Ayub, di mana keadaannya kemudian
dipulihkan (42:7-17). Pergumulan Ayub sendiri, yang
memunculkan sikap putus asanya, kurang disoroti. Padahal
justru melalui pergumulan Ayub, kita dapat menemukan
nilai-nilai yang menarik dalam kita menghadapi penderitaan.
Penderitaan dalam hidup Ayub
Dalam cerita Ayub, diperlihatkan bahwa penderitaan Ayub
sangat luar biasa. Ia kehilangan harta bendanya (1:13-17),
dan juga kehilangan anak-anaknya (1:18-19). Ayub sendiri pun
mengalami penyakit barah, borok yang menyelubungi seluruh
tubuhnya (2:7-8). Penderitaan itu makin bertambah ketika
sang istri tidak memberikan dukungan terhadap derita yang
dialaminya (2:9-10). Memang kemudian datang tiga sahabat
Ayub: Elifas, Bildad, dan Zofar yang memberi kekuatan pada
Ayub (2:11-13). Akan tetapi dalam dialog selanjutnya, mereka
justru menyalah-nyalahkan Ayub. Mereka datang untuk
menghakimi Ayub (lihat mulai pasal 4).
Sikap Ayub
Pada awalnya, Ayub mencoba menerima penderitaan dalam
hidupnya (1:20-21). Kehilangan yang bertubi-tubi dan
beruntun dalam hidupnya, tentu saja membuatnya bersedih. Ini
ditunjukkan dengan sikap mengoyak jubah dan menggunduli
kepalanya. Cara yang ditunjukkannya itu lazim dilakukan
orang-orang pada jaman Ayub untuk menyikapi penderitaan
dalam hidup mereka. Tetapi Ayub juga menunjukkan sikap yang
tegar, Katanya, "Dengan telanjang aku keluar dari rahim
ibuku dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya.
Tuhan yang memberi Tuhan yang mengambil, terpujilah nama
Tuhan." (ay. 21).
Ketegaran Ayub dalam menghadapi penderitaan dalam hidupnya
juga ada batasnya. Karena itu ia meratap ingin mati saja
rasanya (3:1-19). Ayub juga manusia. Setelah kehilangan
harta benda, anak-anaknya, dan dukungan istrinya, ia mulai
menyesali hidupnya. Kalau hidupnya hanyalah berupa rangkaian
penderitaan dan kehilangan. Mengapa Tuhan mengijinkan ia
hidup? Ia menyesali hari kelahirannya bahkan juga menyesali
kegembiraan yang menyertai kehadirannya di dunia. Seandainya
itu semua tidak ada, tentu akan lebih baik (ay. 1-7). Ayub
juga menyesali mengapa ia hidup sewaktu dilahirkan,
mengapa ada pangkuan yang merawatnya, mengapa ada buah dada
yang menghidupinya. Seandainya itu semua tidak ada maka ia
sudah tenang dalam istirahat (ay.11-13).
Sikap Ayub ini seakan-akan mewakili sikap umat manusia dalam
menyikapi penderitaan yang sering dialami oleh manusia.
Menyesali kehidupan yang sudah terangkai dan terjalani. Buat
apa itu semua terjadi kalau pada akhirnya penderitaan yang
harus mereka tanggung. Sungguh tidak mudah untuk tetap bisa
menerima penderitaan yang menimpa hidup ini dengan hati yang
selalu bersyukur. Karena itu, kerap orang mengambil jalan
pintas, mengakhiri hidup. Benarkah hanya kematian yang akan
menyelesaikan pergumulan dan penderitaan manusia? Tidak!
Kisah Ayub di bagian menjelang akhir justru menunjukkan
sikap yang perlu ditiru.
Dalam 39:34-38, Ayub mengakui kalau dirinya adalah ciptaan.
Setelah melewati refleksi yang panjang, Ayub sampai pada
sebuah pemahaman: dirinya ciptaan yang rapuh. Itu kenyataan
hidup kita. Ayub belajar menerima dirinya. Manusia adalah
ciptaan yang rapuh. Kekuatan justru bukan pada dirinya,
tetapi justru bukan pada dirinya tetapi pada Tuhan. Oleh
karena itu, sebuah ciptaan harus berpaut pada PENCIPTA-nya.
LANGKAH-LANGKAH PENYAMPAIAN
1. Mulailah dengan menceritakan kisah seorang siswi kelas
dua SMP yang bunuh diri karena merasa malu tidak bisa
membayar uang sekolahnya (lihat kisah pembuka). Banyak orang
yang putus asa dalam menghadapi permasalahan-permasalahan
hidupnya. Bunuh diri sebagai penyelesaian akhir seringkali
dipilih manusia untuk mengakhiri penderitaannya.
2. Ayub dikenal sebagai tokoh dari Alkitab yang sangat tegar
dalam menghadapi penderitaan dalam hidupnya. Apakah ia
pernah merasa putus asa ketika bergumul dengan
penderitaannya? Tentu saja. Bahkan Ayub pun sempat ingin "bunuh
diri". Masuklah pada penjelasan teks tentang penderitaan dan
sikap Ayub yang ditunjukkannya.
3. Aplikasikan pada kehidupan remaja. Ungkapkan
permasalahan-permasalahan yang seringkali muncul dalam hidup
remaja yang akan membuat mereka menderita. Merasa tidak kuat
menanggung penderitaan itu wajar dan manusiawi. Putus asa
juga wajar dan manusiawi. Tetapi apakah lantas manusia
mengakhiri hidupnya? Ayub juga manusia. Ia juga penuh dengan
kelemahan. Ia juga pernah berpikir lebih baik mengakhiri
hidup. Buat apa hidup kalau hanya untuk menderita? Akhirnya,
menang. Setelah bergumul dengan dirinya sendiri, ia mampu
menerima kenyataan hidupnya.
|
4. Beri penekanan pada Ayub 39:34-38. Remaja perlu
mengetahui, ada banyak orang mengalami penderitaan,
tetapi berhasil mengatasinya. Mengapa? Karena ia
mampu menerima dirinya apa adanya. Seperti Ayub yang
mampu menerima keberadaan dirinya sebagai ciptaan
yang rapuh. Ceritakan kisah Penutup di bawah. |
 |
KEGIATAN
1. Sediakan surat kabar dan majalah dalam jumlah yang cukup.
Upayakan ada berita atau gambar yang berisi topik atau tema
tentang bunuh diri. Sediakan juga gunting, lem dan kertas
karton untuk menempel.
2. Bagi remaja dalam beberapa kelompok, misalnya satu
kelompok 4-5 orang. Bagikan kepada setiap kelompok surat
kabar dan majalah, gunting, lem, dan kertas kartonnya.
Jelaskan kepada peserta yaitu untuk mencari berita atau
gambar yang bertema bunuh diri, potong dan temple pada
kertas karton.
3. Susun artikel yang mereka dapatkan berdasarkan tema atau
latar belakang, misalnya orang bunuh diri karena putus cinta,
kehilangan pekerjaan, gagal dalam studi, kehilangan harta
benda, karena sakit berat, dll.
|
KISAH PEMBUKA
Seorang siswi kelas 2 SMP di Bojonegoro (sebut saja
Bunga) nekad mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri
dengan cara menggantung diri. Ia ditemukan oleh
orang tuanya sudah menjadi mayat di dalam kamarnya.
Menurut keterangan orang tuanya kemungkinan anaknya
ini merasa malu karena belum bisa membayar uang
sekolahnya selama 3 bulan. Beberapa hari terakhir
ini anaknya mengeluh malu karena belum membayar uang
sekolah. Orang tua bunga tidak menyangka bahwa
anaknya akan mengambil jalan pintas seperti ini.
Sebagai buruh tani mereka memang sering terlambat
untuk membayar uang sekolah anaknya. Tetapi mereka
tidak pernah menyangka bahwa anaknya akan berbuat
nekat karena merasa malu. Kasus ini ditangani oleh
kepolisian setempat.
KISAH PENUTUP
Seorang putri Korea hadir di Jakarta. Namanya Hee Ah
Lee. Dalam bahasa Korea Hee berarti sukacita. Ah
berarti tunas pohon yang terus tumbuh. Mungkin Anda
berpikir itu nama biasa. Semua orang pasti memberi
nama anaknya dengan nama yang indah bukan? Ya betul.
Tetapi, harap diketahui, Hee Ah Lee lahir dengan dua
syndrome. Down syndrome, atau syndrome
keterbelakangan mental dan Lobster Claw syndrome,
syndrome tangan capit kepiting. Down syndrome
membuat seseorang lahir kebanyakan dengan IQ di
bawah rata-rata. Syndrome tangan capit kepiting,
membuat seorang lahir dengan 2 jari pada setiap
tangan, mirip dengan kepiting. Bisakah Anda
bayangkan? Satu syndrome saja sudah membuat kita
pedih, apalagi dua. Namun, sang orangtua tetap
menaruh harap, hingga memberi nama anaknya tunas
harapan yang memberi sukacita.
Dampaknya, ia membesarkan sang anak dengan penuh
sukacita. Sebab kehidupan adalah mujizat. Hee Ah Lee
tumbuh menjadi gadis muda berprestasi. Setidaknya,
konser di Balai Kartini menjadi bukti. Bagi manusia
Hee Ah Lee terlahir tanpa harapan. Bagi Tuhan,
setiap orang lahir sebagai mujizatNya.
|
|