|
derap remaja
adalah bahan pembinaan untuk remaja. disusun secara tematis.
setiap tema didasarkan satu bacaan alkitab.
dilengkapi pula dengan metode penyampaian.
telah terbit edisi 21. satu edisi per enam bulan.
para penulis derap remaja 2007 : pdt. addi
soselia patriabara,
pdt. tri santoso, pdt. natan kristiyanto, pdt. widi
artanto, pdt. didik tridjatmiko,
pdt.waskito wibowo, anna marsiana, pdt. tabita kartika
christiani
kontak: widi artanto, samirono baru 72 komp. lpps, yogyakarta,
55281.
telp.(0274) 514721-551592 fax. 0274) 543001
e-mail: w_artanto@yahoo.com
Harga Rp. 20.000,-
Cara pengiriman ongkos cetak:
1. Lewat POS WESEL dengan memakai blangko yang dilampirkan
dalam surat pengantar
2. Lewat Bank ke TAHAPAN BCA cab. Sudirman Yogyakarta
No. 0371994881 a.n. Widi Artanto.
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
|
|

SEKILAS
Setiap orang memiliki impian dalam hidupnya. Hampir
kebanyakan, impian itu amat menyenangkan. Semua orang ingin
impian yang menyenangkan itu terwujud dalam hidupnya. Sayang
tidak semua orang bisa membangun impiannya menjadi suatu
kenyataan. Sebab, impian itu ternyata membutuhkan semangat
dan perjuangan bahkan pengorbanan untuk mewujudkannya.
Melalui pelajaran ini remaja diajak untuk mewujudkan impian
mereka melalui perjuangan dalam hidup mereka. Setiap bagian
dari hidup mereka adalah langkah untuk membangun impian
mereka menjadi suatu kenyataan.
PENJELASAN TEKS
Yusuf Sang Pemimpi
Sejak muda Yusuf kerap mendapatkan mimpi-mimpi. Karena itu
tepat sekali jika ia dijuluki si tukang mimpi (Kej. 37:19).
Ia belum paham akan makna mimpinya. Ia pun men-ceritakan
mimpi-mimpinya kepada saudara-saudaranya dan orang tuanya.
Alhasil, mimpinya itu seringkali menimbulkan rasa tidak
senang dari saudara-saudaranya. Mengapa? Siapa yang tidak
marah. Yusuf pernah bermimpi, saudara-saudaranya sedang
mengikat berkas-berkas gandum di ladang,. lalu bangkitlah
berkas gandum Yusuf dan berkas-berkas gandum semua
saudara-nya sujud menyembah berkas gandumnya (Kej. 37:7).
Mimpinya bahkan pernah membuatnya ditegur orang tuanya. Kala
itu ia bermimpi bahwa matahari,bulan, dan sebelas bintang
sujud menyembah kepadanya (Kej. 37:9).
Ketidaksenangan saudaranya itu ter-akumulasi dalam rencana
mencelakakan Yusuf. Akhirnya, mereka menjualnya kepada orang
Ismael. Agaknya, mimpi Yusuf tinggal mimpi belaka. Benarkah?
Jalan Panjang Membangun Impian
Mewujudkan mimpi menjadi kenyata¬an tidaklah semudah
membalikkan telapak tangan. Apa yang dialami Yusuf
membuktikan bahwa bermimpi adalah Iebih mudah daripada
mewujudkannya. Ketika ia dijual oleh saudara-saudaranya,
maka ia terpisah dari orang tua yang mencintainya. Ia juga
terpisah dari keluarga dan lingkungan sosial yang
melindunginya. Ia kini menjadi budak yang tidak tahu ke mana
nasib akan membawanya.
Tetapi satu hal yang pasti: Tuhan tidak pernah
meninggalkannya. Ia hidup dalam pemeliharaan-Nya. Yusuf
mendapatkan tuan yang baik yaitu Potifar (Kej. 39:1-2). Ia
menda¬patkan kepercayaan dari Potifar untuk mengurusi harta
dan rumah Potifar. Namun, persoalan seakan tak berhenti
datang. Ia digoda istri Potifar (Kej. 39:7). Yusuf menolak
godaan itu. Akibatnya, istri Potifar yang kecewa
memfitnahnya. Ia mengatakan kepada orang-orang di rumahnya
dan juga kepada suami-nya bahwa Yusuf mencoba
mempermainkannya. Potifar yang mendengar laporan istrinya
menangkap Yusuf dan memasukkannya ke dalam penjara (Kej.
39:20).
Grafik kehidupan Yusuf semakin menurun. Ia bukan hanya hidup
di negeri orang, tetapi kini ia juga seorang tahanan. Secara
manusiawi Yusuf menjalani kehidup¬an yang sulit. Tetapi
karena Tuhan menyertainya, di penjara pun ia mendapat
perlakuan yang baik. Ia dipercaya oleh kepala penjara untuk
mengurus segala pekerjaan yang ada di penjara. Rupanya Yusuf
tidak hanya menda¬patkan mimpi tetapi ia juga memiliki
kemampuan untuk mengartikan mimpi orang lain.
Di penjara ia mengartikan mimpi dari juru minuman dan juru
roti. Apa yang dikatakan Yusuf ternyata benar. Juru minuman
kembali mendapatkan kedudukannya sedangkan juru roti dihukum
mati oleh Firaun (Kej. 40:20-22). Cukup lama Yusuf mendekam
di penjara, juru minum yang dulu berjanji akan menolongnya
ternyata tidak menepati janjinya. Mimpi Yusuf untuk menjadi
orang yang berkuasa jelas semakin kabur dan sulit untuk
diwujudkan.
Yusuf Menjadi Penguasa di Mesir
Kesabaran dan ketabahan Yusuf akhirnya berbuah manis juga.
Saat ia sedang di penjara, Firaun bermimpi. Ia sangat
gelisah dengan mimpinya. Ia juga tidak tahu arti dari
mimpinya. Bahkan semua ahli dan orang ber-ilmu di Mesir
tidak mampu menafsirkannya. Pada saat itulah, juru minum
teringat akan keahlian Yusuf, orang Ibrani yang ada di
pen¬jara. Maka dipanggilah Yusuf untuk menafsirkan mimpi
Firaun (Kej. 41:14). Kemudian Yusuf menafsirkan mimpi itu.
Kemampuan Yusuf mengartikan mimpi Firaun menjadi jalan bagi
Yusuf untuk mendapatkan kepercayaan dari Firaun. Firaun
melantik Yusuf menjadi orang yang berkuasa atas seluruh
tanah Mesir (Kej. 41:41). Ia bertugas untuk mengelola
persediaan bahan makanan di Mesir. Mesir akan mengalami
kelimpahan selama 7 tahun dan kemudian diikuti masa
kelaparan selama 7 tahun juga. Yusuf harus mengelola dengan
baik agar pada masa kelaparan rakyat Mesir tidak kekurangan
makanan.
Mimpi Yusuf mulai terwujud. Ia menjadi orang yang berkuasa.
Hidupnya mulai merangkak naik. Ketika masa kelaparan mulai
terjadi di Mesir, hal yang sama juga terjadi di tanah
kelahirannya. Juga menimpa orang tua dan saudara-saudaranya.
Ketika saudara-saudaranya datang untuk membeli gandum karena
disuruh oleh Yakub ayahnya, Yusuf telah menjadi seorang
mangkubumi yang menangani penjualan gandum di Mesir. Semua
saudaranya itu harus menghadap dan sujud kepadanya (Kej.
42:6). Mimpi Yusuf menjadi kenyataan. Saudara-saudaranya
tunduk sujud kepadanya.
|
 |
Mimpi itu Menjadi Kenyataan.
(Kej. 45:1-15)
Pada akhirnya Yusuf mengungkapkan siapa ia sebenarnya. Ia
tidak dapat lagi menyembunyikan identitasnya kepada
saudara-saudaranya. Tentu saja ini mengejutkan
sau¬dara-saudaranya. Mereka bukan saja terkejut tetapi juga
takut. Jangan-jangan Yusuf akan membalas dendam kepada
mereka.
Ternyata ketakutan mereka tidak terbukti karena Yusuf
ternyata tidak ingin mem¬balas dendam. Ia menyadari bahwa
apa yang terjadi pada dirinya tidak terlepas dari karya
Tuhan yang ingin memelihara hidup umat-Nya.
Saudara-saudaranya bisa saja melakukan segala sesuatu yang
jahat tetapi Tuhan memakai untuk kebaikan umat-Nya (Kej.
45:7-8). Mimpi Yusuf kini telah menjadi kenyataan.
Perjalanan panjang telah ia tempuh untuk membangun mimpinya.
Mimpi yang semula menimbulkan iri hati dari
saudara-saudaranya kini justru menyelamatkan mereka.
Penafsiran mereka terhadap mimpi Yusuf ternyata salah besar.
Memang Yusuf telah menjadi pemimpin dan kini mereka
menghadapi kenyataan itu. Hanya saja Yusuf bukanlah penguasa
yang bertindak arogan kepada orang tua dan
saudara-saudaranya.
Membangun mimpi menjadi kenyata¬an bukanlah perkara mudah.
Setiap orang harus bersedia berjuang dan berkorban. Memiliki
kesediaan untuk menjalani proses yang panjang, jalan yang
terjal berliku, dan ketabahan hati yang didasari pada
keyakinan akan tuntunan Tuhan.
PENEGASAN
Jangan pernah takut untuk bermimpi. Setiap orang berhak
untuk memiliki mimpi-mimpi indah dalam hidupnya. Mimpi dapat
menjadi pemacu untuk hidup lebih baik. Perjalanan hidup
adalah upaya untuk membangun impian. Jangan takut dengan
terjalnya jalan kehidupan. Tempuhlah itu semua dengan
ketekunan dan kesabaran.
Percayalah kepada penyertaan dan campur tangan Tuhan dalam
kehidupan ini. Inilah dasar yang kokoh karena Ia adalah
pemilik kehidupan. Tuhan tidak pernah membiarkan umatNya
berjuang sendirian. Perjalanan pahit akan menjadi pengalaman
yang manis kalau kita jalani bersama dengan Tuhan.
Jangan cepat putus asa menghadapi rin-tangan dan kegagalan.
Kegagalan adalah tangga menuju puncak keberhasilan di tahap
selanjutnya. Hindari godaan untuk mencari jalan pintas dan
berlaku curang. Jangan mudah tergoda pada kenikmatan dunia
yang bersifat sesaat. Penyesalan senantiasa datang di
kemudian hari. Lebih baik berakit-rakit ke hulu,
berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu
bersenang-senang kemudian.
LANGKAH-LANGKAH PENYAMPAIAN
1. Tunjukkan kepada remaja bagian belakang sebuah sulaman/kruisteek.
Apakah indahnya bagian itu? Tentu tidak ada, yang ada adalah
carut-marutnya benang-benang yang tidak beraturan. Balik
gambarnya dan tunjukkan kepada peserta bagian gambarnya.
Kini mereka bisa melihat indahnya gambar di balik
carut-marutnya benang yang tidak beraturan. Membangun mimpi
menjadi kenyataan bukanlah perkara mudah. Jalan yang
ditempuh penuh dengan kejutan, bisa mendaki bukit terjal,
bisa juga menuruni lembah curam. Jatuh bangun bahkan
pengorbanan adalah jalan yang harus ditempuh.
2. Masuk pada kisah Yusuf yang berjuang mewujudkan mimpinya.
Lihat penjelasan teks. Jelaskan perjuangan dan pergumulan
dalam perjalanan hidup Yusuf yang akhirnya mewujudkan
mimpinya. Tekankan, kesetiaan Yusuf pada proses dalam
hidupnya adalah salah satu kunci suksesnya. Takut akan Tuhan
juga menjadi bagi¬an mendasar dari hidupnya untuk menjaganya
agar tidak jatuh pada godaan-godaan dalam hidupnya.
Perhatikan bagian penekanan.
3. Aplikasikan pada kehidupan remaja.Siapa di antara mereka
yang tidak memiliki mimpi-mimpi dalam hidupnya?
Tentu semua punya, misalnya ingin berprestasi dalam studinya,
ingin berhasil dalam karirnya, ingin memiliki profesi
tertentu, dan sebagainya. Itu semua membutuhkan perjuangan
untuk mewujudkannya. Sudahkan remaja menyadari dan memulai
itu semua dari sekarang? Kalau belum, mereka belum terlambat
untuk memulainya. Mulai dengan membangun kebiasaan baik dan
memangkas kebiasaan-kebiasaan jelek. Seperti mencontek,
membeli soal ujian, atau jalan pintas lain dalam kehidupan
sehari-hari.
Membangun impian memang membutuhkan kerja keras.
4. Akhiri dengan kegiatan
KEGIATAN
"Bermain UlarTangga"
1. Bagi peserta dalam kelompok-kelompok. Setiap kelompok
terdiri dari 3-4 orang remaja.
2. Sediakan satu set alat permainan "ular tangga" dan
jelaskan kepada peserta mereka akan berlomba menyelesaikan
permainan secara bersama-sama. Setiap kelompok harus membagi
tugas, misal-nya ada yang melempar dadu, ada yang
menjalankan pionnya, ada yang menga-wasi kelompok yang lain.
3. Setiap kelompok diberi kesempatan untuk melempar dadu
sebanyak 15 kali misalnya (hal ini berhubungan dengan waktu).
4. Pemimpin memperhatikan proses yang ada. Misalnya apakah
ada yang curang, apakah ada yang saling menyalahkan ketika
terjadi kegagalan, bagaimana sikap mereka ketika pion mereka
turun tangga. Perhatikan juga apakah mereka cukup sabar dan
tidak mudah menyerah ketika mereka sulit menyelesaikan
permainan dengan sukses.
|