|
derap remaja
adalah bahan pembinaan untuk remaja. disusun secara tematis.
setiap tema didasarkan satu bacaan alkitab.
dilengkapi pula dengan metode penyampaian.
telah terbit edisi 21. satu edisi per enam bulan.
para penulis derap remaja 2007 : pdt. addi
soselia patriabara,
pdt. tri santoso, pdt. natan kristiyanto, pdt. widi
artanto, pdt. didik tridjatmiko,
pdt.waskito wibowo, anna marsiana, pdt. tabita kartika
christiani
kontak: widi artanto, samirono baru 72 komp. lpps, yogyakarta,
55281.
telp.(0274) 514721-551592 fax. 0274) 543001
e-mail: w_artanto@yahoo.com
Harga Rp. 20.000,-
Cara pengiriman ongkos cetak:
1. Lewat POS WESEL dengan memakai blangko yang dilampirkan
dalam surat pengantar
2. Lewat Bank ke TAHAPAN BCA cab. Sudirman Yogyakarta
No. 0371994881 a.n. Widi Artanto.
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
|
|
SEKILAS
Kesaksian kerap dipahami sebagai ajakan agar seseorang
berpindah keyakinan dan menjadi kristen. Pemahaman ini
membuat remaja berpikir, kalau begitu kesaksian adalah
urusan orang tua atau orang dewasa. Bukankah mereka yang
dianggap lebih pandai mengajak? Atau sebatas ajakan melalui
ungkapan kata. Seperti terlihat pada sticker yang ditempel
di kendaraan. Misalnya sticker yang bertuliskan: "Follow Me,
I Have Jesus." Apakah benar demikian? Pelajaran ini
dirancang agar remaja mengerti makna kesaksian yang utuh dan
mempraktikkannya dalam kehidupannya sehari-hari.
PENJELASAN TEKS
Kisah Para Rasul (Kisah) adalah tulisan kedua dari seorang
yang sama. Kedua tulisannya adalah Injil Lukas dan Kisah
Para Rasul. Kesamaan terlihat, misalnya, pada sebutan nama
penerima suratnya, yaitu Teofilus (lihat Luk. 1:1 bandingkan
dengan Kis. 1:1). Juga pada berkesinambungannya penceritaan
antar keduanya. Lukas menceritakan gerak pelayanan Yesus.
Kisah, melanjutkan ide Lukas, menceritakan gerak pelayanan
Roh Kudus yang berkarya melalui para murid.
Teks kita dimulai dengan cerita persiapan sebelum
terangkatnya Yesus ke sorga. Dalam acara pamitan itu, para
murid bertanya: "Tuhan, maukah Engkau pada masa ini
memulihkan kerajaan bagi Israel" (ay 6). Agak sulit kita
memahami kata-kata para murid. Alkitab Bahasa Indonesia
Sehari-hari (BIS) mungkin dapat membuat kita lebih mudah
mengerti. Pertanyaan para murid adalah: "Tuhan, apakah
sekarang Tuhan mau mendirikan kembali Pemerintahan bangsa
Israel?" Jadi, para murid ingin, sebelum Yesus pergi,
pemerintahan Israel dipulihkan kembali.
Dalam catatan Injil, memang para murid kerap salah soal
pemerintahan Allah (atau Kerajaan Allah). Mereka berpikir,
Kerajaan Allah seperti pemerintahan dunia (the Kingdom of
God). Yesus tidak bermaksud seperti itu. Pemerintahan
Allah bagi Yesus adalah ketika berkuasanya Allah (the
Kingship of God). Itu dimungkinkan terjadi ketika
kedatangan Roh Kudus disambut dengan penuh syukur (Kis. 2).
Pertanyaan selanjutnya berkisar soal waktu. Yesus menjawab
dengan mengatakan bahwa hal itu akan ditentukan oleh Tuhan
sendiri berdasarkan kuasaNya. Kata kuasa di sini memakai
kata eksousia, yang bermakna bahwa penentuan waktu adalah
hak Allah sendiri.
Untuk para murid, dalam menunggu waktu itu, akan diberikan
kuasa. Kata kuasa di sini menggunakan kata dunamis. Dari
kita itu, kita mengenal kata dinamika yang bisa berarti
semangat. Juga kata dinamo, yang bisa berarti penggerak atau
pendorong. Dengan demikian, yang diberikan kepada manusia
bukan kuasa yang sama dengan Allah. Tetapi semangat dan
penggerak untuk bersaksi kepada dunia. Hal itulah yang
membuat berita Injil menyebar dari Yerusalem, Yudea, Samaria
dan sampai ke ujung bumi. Gerakan penyebaran itu, secara
geografis, membentuk lingkaran yang makin lama makin
membesar dan meluas (sentrifugal).
Apa yang disebut ujung bumi? Pada waktu itu, dipahami ujung
bumi adalah Roma. Dan Kisah berakhir dengan sampainya Injil
ke Roma (Kis. 28:11 dst). Dengan demi¬kian, pekabaran Injil
sukses sampai ke ujung bumi (Kis. 28:30-31).
Jika demikian, apakah penyebaran Injil tidak diperlukan lagi?
Kan sudah sampai pada tujuannya? Secara luas kita bisa
memikirkan hal berikut ini. Dalam ilmu pengetahuan modern,
amat jelas bahwa bumi tidak ada ujungnya. Sebab bumi ini
bulat. Jika demikian, kalau kita berdiri di sebuah tempat
dibumi ini, maka ujung buminya adalah tepat di mana kita
berdiri. Kesaksian, karena itu, tak bisa lepas dari diri
kita.
Kata kesaksian sendiri dalam bahasa Yunani adalah marturia.
Dari kata itu kita mengenal kata martir. Orang yang mati
demi pemberitaan Injil. Sehingga kita bisa menyim-pulkan,
bahwa kesaksian itu, adalah diri kita (lihat 2 Kor. 3:3).
Kesaksian berarti dilakukan dengan hidup kita, yang berupaya
menyaksikan Yesus secara utuh. Dengan demikian, kesaksian
bukan sekedar kata-kata. Bukan juga sekedar ajakan dalam
bentuk spanduk atau sticker. Melainkan secara utuh terlihat
dalam hidup kita.
LANGKAH-LANGKAH PENYAMPAIAN
1. Mulailah dengan mengajak remaja berdiskusi. Saat ini
banyak terlihat sticker-sticker kristen. Misalnya, Follow
Me, I Have Jesus. Tanyakan, apakah ini sebuah bentuk
kesaksian? Tekankan, hal itu bisa menjadi kesaksian ketika
sikap pengendara juga baik dan sopan.
2. Kerap orang berpikir, kesaksian itu mengabarkan Injil
secara verbal. Atau, seseorang yang ke sebuah tempat (biasanya
jauh dan masih tradisional) dan mem-perkenalkan Yesus di
sana. Kesaksian se-perti itu boleh-boleh saja. Ingatkan
bahwa dalam Alkitab kata kesaksian memakai kata marturia.
Kata itu yang mendasari kata martir. Yaitu orang yang mati
demi pemberitaan Injil. Itu berarti, kesaksian bukan sekedar
kata-kata, tetapi hidup.
3. Jelaskan, bahwa berita Injil menyebar hingga ke ujung
dunia. Jelaskan pula bahwa pada waktu itu ujung bumi adalah
Roma. Dalam Kisah Para Rasul, Injil sampai ke Roma. Apakah
dengan demikian kita sudah tidak perlu mengabarkan Injil
lagi? Jelaskan, kita bisa memberi makna lain pada teks ini.
Ajak remaja memahami bahwa ujung bumi adalah tempat di mana
kita berdiri, sebab bumi berbentuk bulat (tunjukkan Globe
atau bola dunia). Ujung bumi adalah kita. Kesaksian adalah
diri kita (lihat Penjelasan Teks).
4. Berikan contoh-contoh sederhana tentang diri kita sebagai
kesaksian. Misalnya, remaja memakai kalung salib, tetapi
tidak mampu menahan diri dari kecenderungan memakai
kata-kata yang kotor. Atau, etos hidupnya sebagai pelajar
kacau, mencontek dan malas-malasan. Padahal ia adalah
seorang pengurus remaja. Tekankan pekabaran Injil yang
sebenarnya, yaitu pekabaran Injil yang utuh yang tercermin
lewat hidup kita.
Ilustrasi:
Seorang anak muda yang baru bertobat memiliki tekad akan
menjadi saksi Kristus. Suatu ketika, di sebuah perempatan,
dilihatnya kerumunan massa. Mereka saling bergumam, "Aduh
kasihan ya..." "Kok yang nabrak lari ya" dan gumaman lain.
Tetapi tidak ada yang menolong. Sang pemuda berkata, ini
kesempatan buat saya memberitakan Injil. Ia pun berusaha
menerobos kerumunan massa itu. Susah payah ia berusaha,
tetapi agaknya kurang berhasil. Ia pun mencari akal dan
berkata: "Permisi pak, ibu, permisi, itu Papa saya." Orang
dengan segera memberi jalan sambil menunjukkan wajah heran.
Akhirnya sampailah si pemuda pada korban tabrak lari itu.
Yang ternyata seekor anjing.
Catatan: Kerap kali kita melupakan cara demi tujuan.
Tujuan pekabaran Injil harus didukung cara yang
menggambarkan karya Yesus juga.
KEGIATAN
Konon, menurut penelitian, kata-kata manusia menentukan
bentuk air. Dalam penelitian itu dibuktikan betapa
efektifnya kata-kata dalam mempengaruhi bentuk air. Bentuk
air terlihat lewat pembekuan air (dikristalkan) dan diamati
lewat alat pengamat (mikroskop). Dari pembekuan air itu
terlihat, jika kita mengucapkan/menempelkan kata-kata yang
baik, maka air akan membentuk kristal yang indah. Sebaliknya,
jika kita mengucapkan/menempelkan kata-kata yang buruk, maka
air akan membentuk kristal yang buruk atau hancur.
Jika air saja dibentuk oleh kata-kata, apalagi hidup kita.
Kata-kata mampu mem¬bentuk diri kita. Mintalah remaja
membandingkan kata-kata baik dan bermanfaat dengan kata-kata
buruk dan tidak bermanfaat yang mereka lontarkan satu hari
yang lalu. Buatlah catatan. Di akhir kertas mintalah remaja
menyatakan janjinya untuk senantiasa mengatakan hal-hal yang
baik dan bermanfaat. Itulah pekabaran Injil yang utuh.
KATA-KATAKU SELAMA SATU HARI YANG LALU
|
Kata-kata yang bermanfaat |
Kata-kata yang tidak bermanfaat |
|
|
|

|