|
derap remaja
adalah bahan pembinaan untuk remaja. disusun secara tematis.
setiap tema didasarkan satu bacaan alkitab.
dilengkapi pula dengan metode penyampaian.
telah terbit edisi 21. satu edisi per enam bulan.
para penulis derap remaja 2007 : pdt. addi
soselia patriabara,
pdt. tri santoso, pdt. natan kristiyanto, pdt. widi
artanto, pdt. didik tridjatmiko,
pdt.waskito wibowo, anna marsiana, pdt. tabita kartika
christiani
kontak: widi artanto, samirono baru 72 komp. lpps, yogyakarta,
55281.
telp.(0274) 514721-551592 fax. 0274) 543001
e-mail: w_artanto@yahoo.com
Harga Rp. 20.000,-
Cara pengiriman ongkos cetak:
1. Lewat POS WESEL dengan memakai blangko yang dilampirkan
dalam surat pengantar
2. Lewat Bank ke TAHAPAN BCA cab. Sudirman Yogyakarta
No. 0371994881 a.n. Widi Artanto.
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
|
|

SEKILAS
Remaja biasanya duduk di bangku SMP dan SMA. Pada jenjang
ini bersekolah sering merupakan kegiatan yang paling menyita
waktu dan perhatian mereka. Bahkan bisa terjadi bersekolah
merupakan hal yang melelahkan mereka, baik secara fisik
maupun mental, dan bukan merupakan kegiatan yang
menyenangkan. Sekolah menjadi beban berat bagi banyak siswa.
Bagaimana mengubah sekolah yang merupakan beban menjadi
sekolah yang menghidupkan? Melalui pelajaran ini remaja
menyadari bagaimana menikmati belajar di sekolah, agar
sekolah benar-benar "menghidupkan" mereka.
PENJELASAN TEKS
Lukas 2:41-52 sudah sering dipelajari oleh remaja pada
pelajaran-pelajaran di Sekolah Minggu maupun remaja. Namun
penekanan pada pelajaran kali ini adalah ayat 46b: la sedang
duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan
mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka.
Seringkali perikop ini dilukiskan sebagai Yesus yang dan
berada di tengah-tengah alim ulama, mengajar mereka, dan
menjadi pusat perhatian semua orang. Padahal ungkapan "duduk
di tengah-tengah, mendengarkan dan mengajukan pertanyaan"
merupakan gambaran tentang seorang murid yang sedang belajar.
Murid yang baik mendengarkan pelajaran dan mengajukan
pertanyaan.
Pada saat itu Yesus berumur 12 tahun, sehingga dapat disebut
Bar Mitzvah, atau anak Taurat, artinya anak yang
telah menyelesaikan pendidikan formal di sekolah Taurat yang
disebut beth hassyefer (artinya rumah kitab) - yakni
sekolah Taurat tingkat dasar. Yang terutama dipelajari di
sekolah ini adalah menulis dan membaca bahasa Ibrani, yang
bahan bacaannya adalah kitab-kitab suci (saat itu belum
tersusun Alkitab Perjanjian Lama seperti yang kita miliki
sekarang; kitab-kitab itu masih berdiri sendiri-sendiri).
Para siswa di sekolah Taurat berusia 6 sampai 12 tahun.
Sekolah Taurat biasanya menempati sinagoge (rumah ibadah)
pada hari-hari biasa di luar hari Sabat.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar ini, seorang anak
dapat melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi, yang disebut
Beth Hammidrasy atau Beth Talmud. Biasanya
para siswa belajar sambil bekerja. Besar kemungkinan Yesus
juga melanjutkan sekolah ke tingkat lanjutan, sebab Ia
menguasai dengan baik bahasa Ibrani dan isi kitab-kitab suci.
LANGKAH-LANGKAH PENYAMPAIAN
1. Tanyakan kepada remaja bagaimana pengalaman mereka
bersekolah selama ini, apakah mereka menikmati dan
menyukainya atau merasakannya sebagai beban. Ada kemungkinan
sebagian remaja menikmati dan menyukai sekolah, sedang
sebagian lain tidak menyukainya. Selanjutnya tanyakan
mengapa mereka menyukai atau tidak menyukai sekolah. Biarkan
remaja mengeluarkan isi hati mereka secara jujur mengenai
sekolah. Bisa juga mereka mengritik dan menyampaikan harapan
mereka tentang sekolah yang ideal yang mereka inginkan.
2. Tanyakan kepada remaja apakah Yesus juga bersekolah?
Setelah itu ajak mereka membaca Lukas 2:41-52 dengan
penekanan pada ayat 46b. Pakailah lukisan dan keterangan
pada bagian PENJELASAN TEKS di atas untuk menjelaskan kepada
remaja tentang sistem sekolah pada zaman Yesus. Tekankan
pula bahwa Yesus yang adalah Tuhan sendiri juga bersekolah
untuk mempelajari kitab suci.
3. Ajak remaja membandingkan sekolah masa kini dan sekolah
zaman Yesus. Tanyakan: model manakah yang lebih mereka sukai?
Lebih detil dapat ditanyakan: apakah mereka di sekolah juga
melakukan apa yang dilakukan Yesus di tengah alim ulama,
yaitu duduk mendengarkan dan mengajukan
pertanyaan-pertanyaan? Manakah yang lebih sering mereka
lakukan di sekolah: duduk mendengarkan atau mengajukan
pertanyaan-pertanyaan?
4. Jelaskan tentang model pendidikan yang diusulkan oleh
seorang pendidik bernama Paulo Freire dari Brasil. Dalam
salah satu bukunya yang berjudul Belajar Bertanya
(Learning to Question) - jika ada, tunjukkan buku tsb. -
ia mengusulkan agar pendidikan di sekolah lebih banyak
memberikan kesempatan kepada murid untuk bertanya.
|
Namun pertanyaan itu bukanlah sekedar untuk menguji guru
(seperti orang Farisi mencobai atau mengetes Yesus),
namun pertanyaan yang kritis terhadap realita
kehidupan - khususnya kemiskinan, penderitaan, dan
ketidakadilan.
5. Tanyakan kepada remaja apakah mereka pernah
mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang kritis
terhadap realita kehidupan. Apakah bentuk
pertanyaannya? Bagaimanakah cara mereka mengajukan
pertanyaan-pertanyaan itu? (Hanya dalam hati,
ditulis dalam buku harian atau jurnal, atau
mengajukannya di sekolah?) |
 |
6. Tekankan kepada remaja, jika mereka bersekolah hanya
sekedar mencari nilai tertinggi, menghafal semua pelajaran
begitu saja, dan tidak bersikap kritis terhadap realita
kehidupan yang sering berlawanan dengan apa yang mereka
pelajari di sekolah, maka sekolah itu tidaklah menghidupkan
dan mengubah mereka. Padahal belajar seharusnya berarti
berubah: dalam pikiran/wawasan, sikap hidup, dan perbuatan.
Nilai yang tinggi belum menjamin perubahan yang menyeluruh.
Maka tekankan kepada remaja agar mereka bersekolah secara
kritis. Bukan sekedar mencari nilai, tapi menghubungkan
pelajaran itu dengan pengalaman hidup sehari-hari. Inilah
sekolah yang menghidupkan.
KEGIATAN
1. Ajak remaja mengingat isi suatu mata pelajaran di sekolah,
misalnya PSPB atau PMP. Kemudian ajak mereka memban¬dingkan
apa yang ideal dalam mata pelajaran itu dengan realita hidup.
Latihan ini dapat mengasah kepekaan mereka untuk bertanya,
yaitu menanyakan ketidakadilan atau ketidakbenaran yang
terjadi dalam realita. Setidaknya mereka dapat melihat bahwa
yang ideal dan indah-indah yang dikatakan di sekolah belum
tentu sesuai dengan kenyataan.
2. Setelah itu ajak remaja berdiskusi: apa yang akan mereka
lakukan terhadap kenyataan yang tidak ideal itu. Sedapat
mungkin rencanakan sesuatu yang kongkret, misalnya ikut
menjaga kebersihan dan ketertiban lingkungan, menjadi "penyuluh"
kesehatan bagi teman-teman, menolong orang miskin dengan
iuran untuk membayar SPP, dsb.
 |
 |
Catatan untuk bahan yang diperlukan:
1. Lukisan Yesus pada usia 12 tahun di Bait Suci. Lukisan
ini dapat diperoleh dengan mudah pada internet (misalnya
dengan membuka website http://www.google.com, kemudian
memasukkan kata kunci "Jesus 12 years" untuk mencari gambar).
2. Salah satu buku karangan Paulo Freire yang banyak dijual
di toko-toko buku. Jika mungkin carilah buku yang berjudul "Belajar
Bertanya" yang diterbitkan BPK Gunung Mulia.
|