|
derap remaja
adalah bahan pembinaan untuk remaja. disusun secara tematis.
setiap tema didasarkan satu bacaan alkitab.
dilengkapi pula dengan metode penyampaian.
telah terbit edisi 21. satu edisi per enam bulan.
para penulis derap remaja 2007 : pdt. addi
soselia patriabara,
pdt. tri santoso, pdt. natan kristiyanto, pdt. widi
artanto, pdt. didik tridjatmiko,
pdt.waskito wibowo, anna marsiana, pdt. tabita kartika
christiani
kontak: widi artanto, samirono baru 72 komp. lpps, yogyakarta,
55281.
telp.(0274) 514721-551592 fax. 0274) 543001
e-mail: w_artanto@yahoo.com
Harga Rp. 20.000,-
Cara pengiriman ongkos cetak:
1. Lewat POS WESEL dengan memakai blangko yang dilampirkan
dalam surat pengantar
2. Lewat Bank ke TAHAPAN BCA cab. Sudirman Yogyakarta
No. 0371994881 a.n. Widi Artanto.
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
|
|

SEKILAS
Ketika bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, letusan
gunung berapi. Dan juga bencana karena ulah manusia seperti
banjir, lumpur panas, tanah longsor terjadi di negeri kita
ini, kita menyaksikan gerakan solidaritas. Penderitaan yang
dialami saudara-saudara sebangsa telah menggerakkan
solidaritas yang luas dan luar biasa. Solidaritas
kemanusiaan itu berkembang tanpa mempersoalkan perbedaan
agama dan etnis. Semua orang yang nuraninya jernih bergerak
dalam semangat bela rasa yang tinggi. Inilah karya atau
perbuatan Allah yang memanggil setiap anak bangsa untuk
terlibat dalam perjuangan kemanusiaan, menyatakan cinta
kasih kepada mereka yang menjadi korban bencana. Melalui
pelajaran ini remaja diajak untuk mengembangkan solidaritas
melalui tindakan yang sederhana dan terjangkau sebagai sikap
iman di tengah kehidupan bangsa.
PENJELASAN TEKS
Apa yang ditulis dalam surat Roma 15 memang pertama kali
ditujukan untuk jemaat, tetapi di dalamnya kita mendengar
kehendak Tuhan yang berlaku untuk kehidupan semua orang,
baik dalam keluarga maupun masyarakat bangsa.
Siapa yang dimaksud dengan "kita yang kuat?" Dalam konteks
jemaat Roma saat itu, yang disebut "kita yang kuat" adalah
anggota jemaat yang menghayati iman dengan tidak lagi
dibebani oleh peraturan-peraturan Taurat (bandingkan Roma
14:1-23).
Sedangkan yang lemah adalah anggota-anggota jemaat yang
menghayati iman dengan tetap mempraktekkan ketaatan terhadap
peraturan-peraturan Taurat, misalnya soal makanan dan
minuman serta hari-hari yang dikuduskan.
Dalam konteks jemaat, "kita yang kuat" harus solider dengan
"yang lemah". Yang kuat tidak boleh hanya mementingkan diri
sendiri. Yang kuat dipanggil Tuhan membagikan kekuatan yang
dimiliki untuk memikul beban saudara yang sedang lemah.
Seperti tekanan dalam pasal 14, di sini Paulus juga
menegaskan bahwa tidak ada alasan untuk melecehkan pihak
manapun. Justru sebaliknya, semua pihak harus saling peduli.
Dalam kehidupan bersama, solidaritas mendapat tempat yang
utama. Solidaritas itu diwujudkan dalam kepedulian dan sikap
saling membantu.
Semua itu dilakukan bukan untuk popularitas yang kuat
melainkan untuk kebaikan bersama. Tujuan dari solidaritas
yang kuat kepada yang lemah ini adalah kerukunan (ay. 5).
Itulah kehendak Kristus. Bila semua pihak saling menghargai
atau saling menerima, itu adalah kehendak Kristus yang sudah
terlebih dahulu menerima mereka apa adanya.
Bila kita baca ayat selanjutnya (8-12), prinsip solidaritas
diperluas menjadi dasar kehidupan antarbangsa dan antarsuku
bangsa. Jemaat sendiri menjadi cerminan dari kehidupan
bersama yang sudah diperbaharui dan di dalamnya solidaritas
menjadi ciri utama.
LANGKAH-LANGKAH PENYAMPAIAN
1. Tanyakan kepada remaja, apa yang mereka mengerti tentang
kata SOLIDARITAS. Tampung semua jawaban dan lengkapi jawaban
mereka dengan menjelaskan bahwa solidaritas bukanlah
kesetiakawanan buta. Solider bukan sekedar melakukan
tindakan yang sama bersama-sama dengan tujuan yang sama.
Solider macam begini bisa terjatuh pada tindakan kelompok
yang melanggar aturan main masyarakat, seperti dilakukan
geng-geng tertentu dalam masyarakat kita. Solidaritas
sendiri adalah tindakan yang tulus untuk masuk dalam
penderitaan dan kepri-hatinan orang lain, lalu berjuang
bersama-sama untuk mengatasi masalah. Yang kuat menanggung
kelemahan orang lain yang lemah agar bersama-sama dapat
mencapai kehidupan yang lebih baik.
2. Sampaikan prinsip-prinsip solidaritas dalam jemaat Roma
yang ditanamkan oleh Paulus. Prinsip-prinsip itu juga
berlaku bagi kehidupan bersama yang lebih luas. Silahkan
memanfaatkan penjelasan perikop di atas.
3. Ajaklah remaja untuk mengikuti kegiatan reflektif:
Membangun Rumah-rumah Kecil.
|
4. Sebagai aplikasi dari pelajaran ini:
a. Sebagai warga negara Indonesia, remaja diharap
kan menjadi benih dan agen perdamaian dengan menjadi
manusia Indonesia yang memandang orang lain sebagai
saudara. Kita tidak boleh memandang orang lain
dengan kacamata sempit fanatisme agamawi.
Apalagi menggunakan kesempatan dalam kesempitan
untuk kepentingan agama sendiri |
 |
Kita juga tidak boleh menghakimi saudara kita itu seolah-olah
Allah tidak atau kurang
mengasihi mereka daripada diri atau kelompok kita sendiri.
Ada banyak peristiwa yang tidak bisa kita mengerti sebagai
manusia, termasuk mengapa sebuah bencana terjadi.
b. Ketika saudara kita mengalami musibah, kita "yang kuat"
karena saat ini kebetulan jauh dari bencana, dipanggil untuk
ikut mendukung saudara kita. Panggilan ini tidak berat,
bukan karena kita kuat tetapi karena kita memandang mereka
yang sedang "lemah" adalah saudara kita. Juga, bila ada
teman seiman kita yang belum terbuka dan bahkan melecehkan
gerakan kepedulian kemanusiaan, kita yang sudah cukup
terbuka harus mendukung mereka dengan pengertian yang tulus
dan kesabaran. Sabarlah dan yang penting, terlibatlah terus
dalam karya Allah lewat dan di dalam gerakan kepedulian.
Mulailah dari yang sederhana, sesuai dengan situasi dan
kemampuan kita sendiri!
KEGIATAN
Membangun Rumah-Rumah Kecil
1. Pembimbing meminta 2 orang remaja untuk membacakan cerita
refleksi (lampiran). Orang pertama membaca Cerita Refleksi 1
dari Doa Sang Katak dan orang kedua membawa Cerita Refleksi
2. Sebaiknya teks tersebut di foto kopi sehingga setiap
remaja dapat mendengar dan membaca sendiri.
2. Setelah itu, pembimbing meminta remaja (siapa saja boleh
mulai) untuk memberikan refleksi berupa kesan/ perasaan atau
apa saja yang menarik hati mereka. Kara-kata atau kalimat
mana yang menarik perhatian mereka atau berkesan atau
menyentuh perasaan mereka? Para remaja diberi kesempatan dan
didorong untuk menyatakan refleksi mereka dan refleksi
mereka tidak boleh ditanggapi peserta lain, juga tidak boleh
ditanggapi pembimbing. Katakan bahwa mereka bebas untuk
berefleksi dan tidak akan ada yang menilai salah atau benar.
3. Kemudian, pembimbing sendiri juga mengungkapkan refleksi
pribadinya dan mengajak remaja untuk melihat bersama
bagaimana solidaritas dapat dinyatakan di tengah masyarakat.
4. Bila dimungkinkan (setelah mencari di toko kaset atau
meminjam orang yang senang mengoleksi lagu-lagu Barat lama),
ajak remaja mendengarkan lagu "He 'aint heavy, he is my
brother". Pembimbing kemudian menjelaskan pokok pesan dari
lagu ini.
|
Cerita Refleksi 1
Pada zaman dulu adalah seorang yang sibuk membangun
rumah untuk dirinya sendiri. Ia mau supaya rumahnya
menjadi rumah yang paling indah, paling hangat dan
paling nyaman di seluruh dunia.
Seseorang datang kepadanya minta pertolongan karena
bumi terbakar. Akan tetapi ia hanya tertarik pada
rumahnya, tidak pada bumi.
Ketika akhirnya ia selesai membangun rumahnya, ia
sadar bahwa ia tidak mempunyai bumi untuk
menempatkannya.
(Anthony de Mello, Doa Sang Katak 2, Yogyakarta,
Kanisius, 1991, p. 126)
Cerita Refleksi 2
Pada zaman dulu adalah seorang yang sibuk membangun
rumah untuk dirinya sendiri. Ia mau supaya rumahnya
menjadi rumah yang paling indah, paling hangat, dan
paling nyaman di seluruh dunia.
Pada suatu hari, datanglah orang banyak yang tinggal
di sekitarnya menyampaikan kabar buruk, "Bumi sedang
terbakar!" Ia sangat terkejut tetapi sekaligus
tanggap dan segera mempertimbangkan banyak hal untuk
mengambil sikap dan keputusan. Akhirnya ia mengambil
keputusan untuk menunda pembangunan rumahnya dan
ikut orang banyak itu, terlibat memadamkan api yang
sedang membakar dan akan menghancurkan bumi.
Mengapa ia mengambil keputusan semacam itu?Apa
pertimbangan-pertimbangannya?
Pertama, ia sadar bila ia melanjutkan pembangunan
rumahnya dan bisa selesai, ia tidak akan punya
tempat bagi rumahnya karena bumi sudah hancur
terbakar.
Kedua, bila ia melanjutkan pembangunan rumahnya dan
bumi sedang terbakar, bukankah api yang sedang
melalap bumi itu juga akan menghanguskan rumahnya?
Ketiga, bila ia tetap asyik membangun rumahnya
sendiri tanpa peduli terhadap ajakan orang banyak
itu, bukankah yang sangat mungkin terjadi adalah,
orang banyak itu akan marah dan yang pertama kali
mereka lakukan adalah membakar rumah yang sedang
dibangunnya itu.
Lalu, apa yang terjadi ketika ia ikut pergi,
terlibat dalam memadamkan api? Mula-mula ia
dicurigai, lalu ia sendiri ikut terluka bakar.
Tetapi sesudah itu ia merasakan sesuatu yang beda:
tak ada lagi ambisi membangun rumah yang indah, yang
ada adalah tekad untuk membangun rumah-rumah kecil
yang dapat dihuni bersama-sama orang banyak di
sekitarnya dalam damai dan cinta.
|
|