|
Semenjak saya lahir baru, saya percaya jika saya terus beriman
kepada Yesus maka setelah saya meninggal dunia saya pasti akan
masuk ke Surga, tetapi saya tidak pernah berpikir bahwa saya
memilki sebuah rumah di Surga. Namun setelah peristiwa yang
saya alami ketika kuasa gelap yang menekan saya dilenyapkan,
seketika itu juga secara alami saya memandang Surga sebagai
rumah saya. Singkatnya setelah kejadian tersebut, saya
berbicara kepada Ruth, “ Jika suatu hari nanti saya meninggal
dunia, jika kamu ingin memberikan batu nisan di makam saya,
kamu dapat menulis kan hanya dua kata saja di batu nisan saya:
“Pulang ke Rumah.”
Saya mulai berpikir tentang seorang pengemis miskin yang duduk
di dekat pintu seorang yang kaya. Ketika dia meninggal dunia,
dia “dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham.”
(Luk16:22)
Dalam hal ini dapat dipastikan bahwa satu malaikat saja sudah
cukup untuk dapat membawa orang miskin itu, namun Allah
mengirimkan sepasukan malaikat-malaikat pengiring untuk
menjemputnya! Pengemis itu diberikan sebuah sambutan yang
meriah untuk menuju ke pangkuan Abraham. Saya percaya bahwa
hal itu juga berlaku untuk setiap anak-anak Allah. Dia
memiliki sepasukan malaikat-malaikat pengiring yang siap untuk
membawa setiap kita menuju ke rumah kita yang abadi.
Di suatu saat, saya dan Ruth berkenalan dengan seorang saudara
seiman wanita keturunan Hawai (yang bernama Mary.) Mary
melayani Allah dengan setia selama bertahun-tahun. Dia sering
berkata kepada temannya, “Saya belum pernah melihat malaikat
dan saya sangat ingin sekali melihatnya!”
Suatu ketika, di saat Mary sedang terbaring sekarat karena
penyakit kanker yang di deritanya, rekan-rekan gerejanya
melihat bahwa ada seorang “saudara seiman wanita” yang selalu
menemani Mary. Suatu hari wajah Mary dipenuhi oleh kemuliaan
Tuhan. Dia merentangkan tangannya dan berkata,”Aku melihat
mereka, aku melihat malaikat-malaikat!” Lalu dia meninggal!
Malaikat-malaikat pengiringnya telah mengantarnya pulang ke
rumah.
(Nantikan artikel lanjutannya!) |