|
“Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair,
demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus
kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh
datang melihat Allah?” Mazmur 42:2-3
Saya rasa kita semua pernah mengalami kehausan. Bagi saya
pribadi, kata “haus” itu mengingatkan saya kepada pengalaman
ketika saya bertugas sebagai tentara Inggris dalam Perang
Dunia II. Selama tiga tahun kami ditempatkan di padang gurun
yang gersang di Afrika Utara. Kadang-kadang persediaan air
kami hampir habis dan saya masih ingat bahwa pada saat-saat
seperti itu seluruh jiwa raga saya rasanya dikuasai oleh satu
jeritan yang begitu kuat namun tidak terungkapkan – jeritan
minta air. Tidak ada hal lain kecuali air yang dapat
menghentikan jeritan itu.
Dalam ayat diatas pemazmur berbicara mengenai semacam kehausan
yang lain. Bukan kehausan jasmani melainkan kehausan dalam
jiwa. Kehausan jenis ini pun pernah saya alami. Selama
bertahun-tahun saya berusaha mengejar suatu kepuasan namun
tidak pernah berhasil meraihnya. Saya mencoba menemukan
kepuasan itu dari berbagai segi, baik jasmani, estetika,
maupun intelektual. Saya mencoba menemukan kepuasan dari musik,
drama, filsafat, perjalanan ke mancanegara dan hal-hal lain
yang dapat memuaskan kedagingan saya. Tetapi semakin serius
saya mencarinya, semakin hampa dan frustasi perasaan saya
jadinya.
Akhirnya saya menemukan juga jawabannya. Ternyata jawabannya
sama seperti jawaban yang ditemukan pemazmur tiga ribu tahun
yang silam: “Bilakah aku boleh datang melihat Allah”
Ada suatu kehausan dalam jiwa, suatu kerinduan yang begitu
dalam pada diri manusia yang tidak dapat dipuaskan kecuali
oleh Tuhan sendiri.
Mungkin anda pun sudah mencoba mendapatkan kepuasan dari
berbagai sumber tetapi belum juga menemukannya. Jika demikian
anda harus mengerti dua hal: pertama, tidak ada apa pun
juga kecuali Tuhan sendiri yang dapat memuaskan anda; kedua,
sesungguhnya Ia sedang menantikan kedatangan anda.
Tanggapan Iman:
Ya Tuhan, bawalah aku ke tempat aku dapat bertemu dengan-Mu
sehingga dahaga jiwaku dapat kau puaskan.
(Nantikan artikel selanjutnya!) |