» Media Pelayanan Antar Jemaat, Antar Gereja, Antar Denominasi OnLine
Serba - Serbi Rohani
   
 
Fasilitas Pencarian


» Home
» Acara Hari Ini
» Gereja
» Gereja Dunia
» Permohonan Doa
» Form Konsultasi
» Solusi Problema
» Form Kesaksian
» Kumpulan Kesaksian
» Pelangi Jiwa
» Renungan Kecik
» YAMARI
» YASUMA
» PPK Tabitha
» RPUK Muara Kasih
» PA.ASIH LESTARI
» Humor
» Kartu Ucapan
» Peluang Karier
» Donasi














 

 

 

 

 

 

 

 














 











 
» Derek Prince Ministries Indonesia


HARTA YANG TERPENDAM DI LADANG
 


Ayat Alkitab pertama yang berkaitan dengan judul diatas mengetengahkan suatu perumpamaan tentang Yesus, dan perumpamaan ini terdapat di dalam Matius 13:44

“Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.”

Betapa sederhananya cerita itu. Namun, hal-hal rohani apakah yang diungkapkan oleh cerita yang sederhana itu? Adapun orang yang menemukan harta itu tidak lain adalah Yesus sendiri. Ladangnya adalah dunia ini. Lalu, apakah yang digambarkan oleh harta itu? Saya percaya bahwa harta itu menggambarkan umat Tuhan yang ada di dunia ini. Jadi, orang yang menemukan harta itu adalah Yesus, ladangnya adalah dunia ini, sedangkan harta yang ditemukan adalah umat Tuhan yang ada di dunia ini.

Ketika menemukan harta karun di ladang, orang itu melakukan sesuatu yang sangat bijaksana. Ia tidak serta merta menyebarkan berita mengenai penemuannya itu. Dikatakan bahwa ia langsung memendam kembali harta itu. Sebab seandainya orang lain mengetahui bahwa ada harta karun yang terpendam di ladang itu, tentu ia akan mendapat banyak saingan. Maka ia menyembunyikan harta itu dan memutuskan untuk membeli seluruh bidang tanah tersebut.

Hendaknya dicatat bahwa sebenarnya ia tidak menginginkan sebidang tanah itu. Yang diinginkannya hanyalah harta yang terpendam di situ, tetapi ia menyadari bahwa mau tidak mau seluruh ladang harus dibeli untuk dapat memiliki harta yang terpendam itu. Jadi ia harus membayar harga seluruh ladang itu, dan harga yang dibayarnya itu sangat tinggi baginya, sampai-sampai ia harus menjual seluruh miliknya. Tetapi ia melakukannya dengan sukacita, karena ia mengetahui betapa berharganya harta terpendam yang akan diperolehnya dari ladang itu.

Saya dapat membayangkan betapa terherannya warga yang tinggal di sekitar ladang itu. “Mengapa orang itu mau membeli ladang itu? Sebenarnya ladang itu tidak menghasilkan apa-apa. Mengapa pula ia mau membayar demikian mahal untuk ladang seperti itu?”

Tentu saja mereka berpikir demikian, karena mereka tidak mengetahui bahwa ada harta karun yang terpendam di ladang itu. Satu-satunya orang yang mengetahui adanya harta karun itu adalah Yesus. Demikianlah juga Yesus membayar harga untuk membeli seluruh dunia ini, agar dapat memperoleh harta yang terpendam di ladang itu. Adapun harta karun itu ialah umat Tuhan.

 ini, agar dapat memperoleh harta yang terpendam di ladang itu. Adapun harta karun itu ialah umat Tuhan.

Sekarang marilah kita melihat suatu ayat lain yang terdapat dalam Perjanjian Baru, yaitu Yohanes 3:16 yang terkenal itu:

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Jadi, begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengorbankan nyawa Anak-Nya sendiri untuk menebus dunia ini. Tetapi yang kemudian diperoleh Allah dan dunia ini adalah “setiap orang yang percaya” itu. Jadi, Yesus rela mati agar dapat membeli seluruh dunia ini untuk mendapatkan “setiap orang yang percaya” itu.

Di dalam Titus 2:14 dikemukakan kebenaran yang sama. Di dalam ayat ini dikatakan mengenai Yesus Kristus:

“ yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik.”

Itulah hartanya, yaitu umat kepunyaan-Nya sendiri. Suatu umat yang telah dibeli dari dunia ini, ditebus dari segala kejahatan, dikuduskan, dan dijadikan rajin untuk berbuat baik. Dan harga pembayaran adalah diri-Nya sendiri, yaitu segala yang dimiliki-Nya, seluruh keberadaan-Nya. Ia memberikan diri-Nya sendiri demi umat tebusan-Nya.

Ada hal lain mengenai harta di ladang itu. Memang, Yesuslah yang membeli ladang itu, tetapi selanjutnya pekerjaan penggalian untuk mengeluarkan harta yang terpendam itu diserahkan kepada hamba-hamba-Nya, yaitu para pengabar Injil. Banyak juga pekerjaan yang perlu dilakukan untuk hal ini. Lokasi tempat harta itu berada harus dicari, tanahnya harus digali kemudian harta tersebut dikeluarkan. Semua pekerjaan itu tidak perlu dilakukan oleh Yesus sendiri. Untuk itu Ia sudah mempunyai hamba-hamba-Nya yang melayani di dunia ini, yang bertugas untuk mencari harta itu dan menggalinya.

Percayalah saudara, membawa jiwa-jiwa kepada Tuhan dan memberitakan Injil kepada mereka bukan suatu pekerjaan yang mudah. Pekerjaan itu sama beratnya seperti orang yang menggali tanah untuk mencari harta yang terpendam. Dan pekerjaan itu menjadi tugas bagi setiap kita, yaitu orang-orang percaya. Kita bertugas untuk mengeluarkan harta itu dari dalam ladang, kemudian membersihkan dan menyiapkannya untuk dipersembahkan kepada Tuhan.

Kita hendaknya jangan lupa akan harga yang telah dibayar lunas untuk pembelian ladang itu dan untuk harta yang terpendam di dalamnya. Pembayarannya dilakukan dengan memberikan segala sesuatu yang dimiliki-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang tidak dikeluarkan-Nya, semuanya Ia berikan. Kasih Kristus benar-benar tidak kepalang tanggung. Dan Ia tetap melakukannya dengan sukacita, karena Ia begitu mengasihi harta tersebut, yaitu Anda dan saya.


(Nantikan artikel selanjutnya!)

 

| A R S I P |

 

Sahabat Surgawi
Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja
antar denominasi OnLine

www.sahabatsurgawi.net
webmaster@sahabatsurgawi.net
Copyright © 2002, Tim Sahabat Surgawi