|
Karena Tuhan dengan kasihNya telah menerima kita dan
menjadikan kita anak-anakNya, kita terkadang tidak menyediakan
tempat bagi “takut akan Tuhan” di dalam kehidupan kita. Fakta
bahwa Allah Bapa telah menebus kita dengan harga yang tak
terbilang mahalnya, yaitu berupa darah AnakNya yang sangat
mahal, seharusnya membuat kita bertanggung jawab untuk
sungguh-sungguh menjalani kehidupan yang memuliakan Dia.
Dalam I Petrus 1:17-19, Rasul Petrus menyatakan bahwa harga
yang dibayar untuk penebusan kita harus membangkitkan dalam
diri kita suatu rasa takut yang kudus sehingga kita
tidak gagal dalam menjalani kehidupan yang memberikan kepada
Allah Bapa kemuliaan yang menjadi hakNya: Dan jika kamu
menyebutnya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka
menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah
kamu hidup dalam takut akan Allah selama kamu menumpang di
dunia ini. Sebab, kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari
cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu,
itu bukan dari barang yang fana, bukan pula dengan perak atau
emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus,
yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak
bercacat.
Jadi, Petrus sama sekali tidak mengatakan bahwa penebusan
kita tidak menyediakan tempat dalam kehidupan kita untuk takut
akan Tuhan. Sebaliknya, ia menekankan bahwa takut akan Tuhan
adalah tanggapan kita yang tepat!
Sementara saya berusaha menggambarkan dampak dari takut akan
Tuhan yang harus dimiliki dalam kehidupan saya, saya
membayangkan diri saya sedang berdiri di puncak sebuah batu
karang yang terjal dan curam sambil melihat kebawah, ke sebuah
lembah batu-batuan yang terletak ribuan meter jauhnya. Pagar
besi pengaman membuat saya tidak bisa melangkah terlalu dekat
ke pinggiran jurang. Saya menggambarkan pagar besi pengaman
itu sebagai peringatan dari Kitab Suci dan
tuntutan-tuntutan untuk hidup kudus. Lalu, saya bertanya
kepada diri sendiri, Bagaimana kalau saya begitu congkak,
melompati pagar besi pengaman itu dan berdiri persis di
pinggiran jurang? Sesudah itu satu langkah saja sudah mampu
mempercepat hidup saya menuju malapetaka terakhir yang tak
dapat dihindarkan!
Sementara saya memikirkannya, oto-otot perut saya menegang
dengan sendirinya dan rasa takut menguasai diri saya. Saya
teringat kata-kata peringatan yang ditujukan bagi orang-orang
Kristen di Ibrani: “Ngeri benar, kalau jatuh ke dalam tangan
Allah yang hidup” Ibrani 10:31.
Sikap kagum dan hormat harus menyertai sikap kita, tidak saja
terhadap Tuhan, tetapi juga terhadap firmanNya. Tuhan berkata,
”Tetapi kepada orang inilah Aku memandang: kepada orang yang
tertindas dan patah semangatnya dan yang gentar kepada
firmanKu.” Yesaya 66:2
Mengapa kita harus gentar kepada firman Tuhan? Karena, firman
Tuhan adalah jalan yang dilalui baik oleh Allah Bapa maupun
Allah Anak untuk masuk ke dalam kehidupan kita. Dalam Yohanes
14:23 Yesus berkata, “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan
menuruti firmanku dan Bapaku akan mengasihi dia dan Kami akan
datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.” Sikap kita
terhadap firmanNya menyatakan sejauh mana kita benar-benar
mengasihi Yesus dan membuka jalan bagi Tuhan dalam
kepenuhanNya untuk masuk ke dalam kehidupan kita. Ketika kita
membaca atau mendengar firmanNya, sikap kita seharusnya sama
seperti jika sosok Allah Bapa dan sosok Allah Anak sedang
berdiri di depan kita.
Semakin kita menyadari, betapa mahalnya harga yang telah Tuhan
bayarkan untuk menebus hidup kita, semakin jugalah seharusnya
kita memberikan rasa hormat dan takut akan Tuhan
sebagaimana Dia layak menerimanya serta menjalani hidup yang
semakin memuliakan namaNya!
(Nantikan artikel selanjutnya!) |