|
Sekitar lima puluh tahun yang lalu saya biasa memimpin
pertemuan para penginjil di London, Marble Arch. Pada suatu
malam selama saya di sana, saya mendapatkan mimpi dimana saya
melihat seseorang berkotbah di atas mimbar. Pesan yang disam
paikan orang itu baik, tapi ada sesuatu tentang penampilannya
yang tidak saya sukai. Tubuhnya terlihat bengkok dan kakinya
terlihat pekuk. Meskipun begitu, saya tidak begitu menanggapi
mimpi itu.
Sekitar seminggu kemudian, saya mendapatkan mimpi yang sama
persis seperti yang saya dapatkan sebelumnya. Saya
menyimpulkan bahwa Tuhan sedang ingin berbicara sesuatu kepada
saya. Saya bertanya, “Tuhan, siapakah orang itu? Kotbahnya
baik tapi ada sesuatu yang tidak saya sukai tentang
penampilannya. Siapakah dia?”
Tuhan menjawab dengan segera dan langsung: “Kamulah orang itu!”
Tuhan secara jelas menginginkan beberapa perubahan yang
penting dalam hidup saya, tapi saya tidak tahu perubahan apa
yang diinginkan Tuhan, tepatnya.
Hari Paskah sudah dekat dan saya menemukan diri saya sedang
merenungkan tentang karya penyaliban. Saya mendapatkan
gambaran tentang tiga kayu salib di atas bukit. Salib yang ada
di tengah lebih tinggi dibandingkan dua lainnya.
Roh Kudus bertanya kepada saya, “Untuk siapa salib yang
ditengah itu dibuat?” Tetapi kemudian Roh Kudus
mengingatkan,”Hati-hati dengan cara kamu menjawab.”
Saya memikirkan ulang sekali lagi sebelum saya memberi jawaban,
kemudian saya menjawab,”Salib yang ditengah itu dibuat untuk
Barabas, tapi di saat-saat terakhir Yesus-lah yang
menggantikannya.”
“Ya, Dia menggantikannya,” jawab saya.
“Berarti kamulah Barabas itu !” jawab Roh Kudus.
Pada saat itu saya melihatnya dengan sangat jelas : Sebenarnya,
sayalah penjahat yang dimana salib itu dipersiapkan untuk saya.
Salib itu dibuat untuk ukuran saya. Itulah tempat dimana saya
seharusnya berada.
Saya mencoba untuk mengutarakannya sesuai dengan perkataan
Paulus tentang dirinya di kitab Roma 7:18 : ” Sebab aku
tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia,
tidak ada sesuatu yang baik …” Saya melihat bahwa setiap
area dari kepribadian saya telah dikotori oleh dosa. Tidak ada
sesuatu pun di dalam kehidupan saya yang murni, yang baik,
yang dapat dipertimbangkan untuk membalas kebaikan Tuhan.
Tapi bagaimana saya harus meresponinya ?
Saya menemukan jawabannya dalam kitab Roma 6 : 6-13. Paulus
menyebutkan empat langkah yang harus dilakukan.
Ayat 6: Yang pertama, saya harus tahu kalau
semua dosa-dosa saya telah turut dimatikan ketika Yesus mati
di atas kayu salib. Ini adalah langkah pertama yang mutlak
yang harus kita pahami sebelum kita melanjutkan ke langkah
yang lain
Ayat 11: Saya harus memperhitungkan kalau diri saya sudah mati,
sama seperti Tuhan Yesus telah mati.
Ayat 12: Atas dasar itu, saya harus memastikan untuk saya
menolak dosa itu supaya dosa itu tidak terus-menerus menguasai
hidup saya.
Ayat 13: Saya harus menyatakan diri saya kepada Tuhan sebagai
seseorang yang telah dibangkitkan dari kematian dan saya harus
menyerahkan setiap anggota tubuh saya sebagai instrumen –untuk
kemuliaan Tuhan-, dan senjata, untuk kebenaran.
Penggunaan kata senjata disini mengingatkan saya untuk terus
berjaga-jaga karena saya akan menghadapi perlawanan dari si
Iblis.
(Nantikan artikel lanjutannya!) |