|
Serba - Serbi
Rohani |
 |
|
|
|
 |
|

|

 |
 |
»
Derek Prince Ministries Indonesia |
 |
|
|

|
 |
|
" KEWAJIBAN TERHADAP
KELUARGA
DIDAHULUKAN" |
Dalam 1 Timotus 5 Paulus secara sistematis mengulas
kewajiban-kewajiban orang Kristen terhadap anggota keluarga
masing-masing. Dalam hal ini, ia berkata, Tetapi jika ada
seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi
seisi rumah nya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang
yang tidak beriman. (1 Timotius 5:8).
Dalam setiap keluarga kewajiban utama untuk memberi nafkah
bagi keluarga terletak di pundak ayah. Dan ini lebih dari
sekadar menyediakan sandang, pangan dan uang. Dalam Efesus
5:25–28 Paulus membandingkan hubungan antara Kristus dan
jemaat dengan hubungan suami dan istri. Sebagaimana Kristus
menguduskan jemaat dengan air dan Firman yang memurnikan,
demikian juga suami bertanggung jawab untuk melayani Firman
Tuhan yang membasuh dan menyucikan bagi istri serta anak-anak
nya. Ayah harus menjadi sumber kebenaran rohani bagi
keluarganya.
Dalam Efesus 6:4 Paulus menaruhkan tanggung jawab pendidikan
rohani bagi anak-anaknya langsung kepada ayah: Dan kamu,
bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati
anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan
nasihat [pendidikan] Tuhan.
Kita dapat meringkaskan semua ini dengan mengatakan bahwa
dalam setiap keluar ga, ayah memiliki dua pelayanan karunia
Tuhan yang tidak boleh ia lalaikan: ia adalah nabi sekaligus
imam bagi keluarganya. Sebagai nabi, ia mewakili Tuhan di
hadapan keluarganya; sebagai imam, ia mewakili keluarganya di
hadapan Tuhan. Untuk me laksanakan kedua kewajiban ini dengan
setia dibutuhkan sejumlah waktu minimum tertentu yang
disisihkan bagi keluarga.
Di antara pria-pria yang gagal menyisihkan waktu yang memadai
untuk melaksanakan kewajiban-kewajibannya di dalam keluarga,
agaknya mereka yang berprofesi sebagai hamba Tuhan yang paling
banyak jumlahnya, baik yang menetap atau yang keliling.
Gembala yang menetap sering kali begitu disibukkan dengan
rapat-rapat pengurus, kepanitiaan dan acara-acara gerejani
sehingga nyaris ia tidak memiliki waktu untuk bersama-sama
keluarganya. Hamba Tuhan keliling melintasi dunia seperti
seorang panglima yang diutus ke mana-mana bagi Kristus, namun
ia meninggalkan istri dan anak-anak yang jiwanya
tercabik-cabik oleh karena frustrasi, kepahitan serta pembe
rontakan—yang penyebab utamanya adalah kegagalan kepala
keluarga dalam mem pedulikan mereka. Saya tidak pernah bisa
melupakan sebuah komentar yang dibuat oleh seorang pemuda yang
orangtuanya sudah melayani selama bertahun-tahun di Afrika
sebagai utusan Injil: “Jelas, orangtua kami mengasihi orang
Afrika, namun mereka tidak mengasihi kami!”
Penilaian yang diberikan Kitab Suci mengenai seorang ayah yang
gagal untuk me laksanakan kewajiban-kewajiban utama ini ialah
bahwa ia sudah murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak
beriman.
Apakah seseorang yang “lebih buruk dari orang yang tidak
beriman” layak untuk mengkhotbahkan Injil?
Dalam suratnya kepada orang-orang Kristen (karismatis) di
Korintus, Paulus berkata: Ujilah dirimu sendiri, apakah
kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu? (2
Korintus 13:5). Banyak di antara kita perlu menyimak
peringatan tersebut hari ini. Sebelum kita menggunakan
kata-kata klise yang berbau religius “berjalan sejauh dua
mil,” kita harus memastikan terlebih dulu bahwa kita
betul-betul sudah “berjalan sejauh satu mil.” Sebelum kita
mengkespresikan kasih, pastikanlah dulu bahwa semua
kewajiban kita sudah dipenuhi.
Derek Prince
(Nantikan topik lainnya!) |
|
|
|
| A R S I
P | |
|
Sahabat Surgawi
Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja
antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net
webmaster@sahabatsurgawi.net
Copyright © 2002, Tim Sahabat Surgawi
|
|