» Media Pelayanan Antar Jemaat, Antar Gereja, Antar Denominasi OnLine
Serba - Serbi Rohani
   
 
Fasilitas Pencarian


» Home
» Acara Hari Ini
» Gereja
» Gereja Dunia
» Permohonan Doa
» Form Konsultasi
» Solusi Problema
» Form Kesaksian
» Kumpulan Kesaksian
» Pelangi Jiwa
» Renungan Kecik
» YAMARI
» YASUMA
» PPK Tabitha
» RPUK Muara Kasih
» PA.ASIH LESTARI
» Humor
» Kartu Ucapan
» Peluang Karier
» Donasi














 

 

 

 

 

 

 

 














 











 
» Derek Prince Ministries Indonesia

“EFFISIENSI ADALAH KRISTIANI”


Dalam 2 Petrus 1:5–7 kita diberi sebuah daftar berisikan tujuh tahap perkembangan rohani yang harus menindaklanjuti iman kita yang mula-mula di dalam Kristus. Kepada “iman” kita diperintahkan untuk menambahkan yang berikut: kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih akan saudara-saudara, dan kasih kepada semua orang. Ini mengingatkan kita kepada perumpamaan satu mil dan dua mil. Kasih harus dibangun di atas sebuah landasan rohani yang berkembang sesuai dengan urutan. Jika tidak diletakkan landasan ini, maka kasih kristiani yang sejati tidak dapat pernah terwujud.
Tahap pertama yang harus kita tambahkan kepada iman ialah kebajikan. Kata kebajikan dapat diterjemahkan sebagai “keunggulan” atau “effisiensi.” Betapa sedikitnya orang Kristen yang menyadari bahwa efisiensi adalah suatu kebajikan kristiani yang perlu dilakukan! Sebaliknya, Alkitab tidak memiliki kata yang tepat untuk mengatakan tentang kemalasan atau kebodohan. Padahal, kedua sifat tersebut dihakimi secara lebih keras dan lebih mematikan dari segi konsekuensi-konsekuensinya, ketimbang kemabukan. Selama lima tahun tinggal di Afrika Timur, saya diberi wewenang oleh sebuah perguruan tinggi untuk melatih guru-guru yang nantinya akan mengajar di sejumlah sekolah Afrika. Semasa pelatihan itu, banyak di antara siswa-siswa kami yang menerima Kristus dan juga dibaptis di dalam Roh Kudus. Saya mendapati bahwa begitu mereka menjadi orang Kristen, mereka berharap bahwa saya menunjukkan suatu kebajikan khusus kepada mereka—bersikap agak lunak dalam penilaian saya atas tes-tes tertulis maupun praktek mengajar yang mereka buat. Saya menjelaskan kepada mereka bahwa justru kebalikannya yang harus saya lakukan.
“Sekarang bahwa kamu sudah menjadi orang Kristen,” ini yang biasanya saya katakan, “kamu memiliki segala sesuatu yang tadinya tidak kamu miliki. Ada damai Tuhan di hatimu, dan kuasa doa serta kuasa Roh Kudus yang dapat diminta. Seandainya kamu dapat berhasil dalam tes atau dalam praktek mengajar tanpa segala sesuatu yang kini kamu miliki, tentunya keberhasilanmu menjadi dua kali ganda setelah kamu menjadi orang Kristen. Saya tidak berharap kamu menjadi kurang berhasil, melainkan lebih berhasil setelah menerima Kristus. Demikian juga harapan Tuhan!”
Prinsip yang sama berlaku dalam setiap bidang kegiatan di mana orang Kristen melayani dan mendapat nafkahnya. Orang Kristen bisa bekerja sebagai guru, dokter, jururawat, pramusaji, tehnisi, petugas kebersihan. Tak peduli apa bidangnya, orang Kristen sudah seharusnya bekerja secara luar biasa. Ia harus lebih setia, lebih dapat diandalkan, lebih efisien ketimbang orang non-Kristen.
Saya sudah mengamati bahwa Tuhan tidak pernah memanggil seseorang yang gagal di dalam pekerjaan sekulernya untuk masuk ke dalam pelayanan rohani “purnawaktu”. Seseorang harus terlebih dulu membuktikan bahwa dirinya berhasil di dalam pekerjaan sekulernya sebelum Tuhan memberi tanggung jawab yang lebih besar di bidang rohani. Kesetiaan dimulai dalam perkara-perkara kecil dan sekuler, kemudian akan dikembangkan secara lebih total dalam perkara-perkara yang besar dan rohani. Dengan sangat tegas Yesus menetapkan prinsip ini dalam Lukas 16:10–11:
“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu [orang-orang yang religius] tidak setia dalam hal Mamon [kewajiban-kewajiban sekuler dan materi] yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta [pelayanan rohani yang besar] yang sesungguhnya?”

(Silahkan nantikan lanjutannya!)
 

| A R S I P |

 

Sahabat Surgawi
Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja
antar denominasi OnLine

www.sahabatsurgawi.net
webmaster@sahabatsurgawi.net
Copyright © 2002, Tim Sahabat Surgawi