» Media Pelayanan Antar Jemaat, Antar Gereja, Antar Denominasi OnLine
Serba - Serbi Rohani
   
 
Fasilitas Pencarian


» Home
» Acara Hari Ini
» Gereja
» Gereja Dunia
» Permohonan Doa
» Form Konsultasi
» Solusi Problema
» Form Kesaksian
» Kumpulan Kesaksian
» Pelangi Jiwa
» Renungan Kecik
» YAMARI
» YASUMA
» PPK Tabitha
» RPUK Muara Kasih
» PA.ASIH LESTARI
» Humor
» Kartu Ucapan
» Peluang Karier
» Donasi














 

 

 

 

 

 

 

 














 











 
» Derek Prince Ministries Indonesia

KASIH AGAPE YANG CENGENG


Banyak orang Kristen memiliki konsep yang keliru mengenai kasih yang diajarkan dalam Alkitab. Kasih jenis ini bukanlah sikap sentimental yang diekspresikan dengan sejumlah kata atau kalimat klise yang berbau religius dan terdengar berbunga-bunga. Ada orang yang menjuluki kasih palsu yang tidak alkitabiah ini sebagai “kasih agape yang cengeng.” Rasul Yohanes memperingatkan kita: marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran. (1 Yohanes 3:18). Kasih alkitabiah yang sejati terutama diekspresikan dalam tindakan, bukan dalam ucapan.
Dalam kitab Rut, kita disuguhi sebuah gambaran yang kontras secara mencolok melalui perilaku kedua menantu perempuan Naomi: Menangis pula mereka dengan suara keras, lalu Orpa mencium mertuanya itu minta diri, tetapi Rut tetap berpaut padanya (Rut 1:14). Orpa mengekspresikan kasih lahiriah—sebuah ciuman; namun Rut mengasihi dalam bentuk tindakan—ia mendampingi mertua perempuannya saat dirinya dibutuhkan. Tatkala saya mengalami krisis, tidak begitu penting bagi saya siapa yang mencium saya. Saya ingin tahu siapa yang bersedia mendampingi saya. Kitab Amsal juga memberi peringatan menyangkut hal ini: Lebih baik teguran yang nyata-nyata, dari pada kasih yang tersembunyi. Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah.(Amsal 27:5–6). Kasih palsu yang dimanifestasikan dalam kata-kata yang manis akan membuat kita melambung tatkala segala sesuatu berjalan mulus, namun kita akan merasa dikhianati manakala kita mengalami kesukaran. Kasih sejati mengajar kita untuk mengenal kebenaran dan, jika perlu, menegur kita, kendati teguran itu menyakiti perasaan kita. Namun, kasih yang seperti ini tidak akan mengkhianati kita di kemudian hari.
Bukan secara kebetulan bahwa Yudas mengkhianati Yesus di hadapan musuh-musuh-Nya dengan sebuah ciuman. Yesus sendiri mengomentari perilaku Yudas demikian: “Hai Yudas, engkau menyerahkan Anak Manusia dengan ciuman?” (Lukas 22:48). Ekspresi kasih secara lahiriah, tanpa disertai tindakan kasih, adalah pengkhianatan.
Dalam Efesus 4:15 Paulus menggambarkan satu-satunya cara yang membuat rohani kita dapat bertumbuh dewasa: tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus yang adalah Kepala. Kasih apa pun yang tidak berpegang kepada kebenaran adalah kasih palsu. Persekutuan antar sesama yang abadi harus dilandaskan pada sikap saling terbuka, kejujuran.
Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, . . . (1 Yohanes 1:7). Persekutuan sejati hanya dimungkinkan di dalam terang. Kita tidak dapat memiliki perekutuan di dalam gelap. Rasul Yohanes membuat dua pernyataan mengenai sifat Tuhan yang hakiki dengan cara yang sederhana, namun mendalam maknanya: Tuhan adalah terang (1 Yohanes 1:5); dan Tuhan itu kasih (1 Yohanes 4:8, 16). Kasih Tuhan tidak pernah dapat dipisahkan dari terang Tuhan. Kasih Tuhan tidak terwujud di dalam gelap.

(Silahkan nantikan lanjutannya!)

 

| A R S I P |

 

Sahabat Surgawi
Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja
antar denominasi OnLine

www.sahabatsurgawi.net
webmaster@sahabatsurgawi.net
Copyright © 2002, Tim Sahabat Surgawi