|
Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan
bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga
Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau
mengindahkannya? Mazmur 8:4-5
Bila kita memandang ke langit luas dan jutaan gugusan bintang
yang bertebaran di sana, maka bola bumi tempat tinggal kita
ini akan terkesan kecil sekali, seperti setitik debu di alam
semesta ini. Berhadapan dengan alam semesta yang luas tak
terkira ini, kita merasa diri kita sangat kecil dan tidak
berarti, bahkan amat lemah dan tidak berdaya.
Namun demikian, Daud meyakinkan kita bahwa Tuhan sangat
berminat kepada manusia. Ia benar-benar peduli akan kita.
Bahkan, perhatian-Nya secara khusus senantiasa tertuju kepada
kita. Tuhan tidak pernah mengukur apa pun berdasarkan jumlah
atau besar kecilnya. Bahkan, menurut tolak ukur Tuhan –
sebagaimana dikatakan Yesus sendiri – nilai dari satu jiwa
manusia lebih besar daripada nilai seluruh alam semesta ini.
Selama ini kita sering mempunyai gambaran bahwa bumi ini
merupakan pusat alam semesta ini. Kemungkinan besar pendapat
seperti itu tidak benar. Namun demikian, bila dilihat dari
segi sejarah tidak salah juga jika dikatakan bahwa bumi ini
memainkan suatu peranan yang maha penting. Sesungguhnya, bumi
ini merupakan semacam panggung tempat dipentaskannya suatu
pagelaran yang paling besar di alam semesta ini, suatu kisah
drama yang belum selesai hingga sekarang.
Dua ribu tahun yang lalu di atas panggung bumi ini, di kota
Yerusalem, terjadilah kisah drama terbesar yaitu penyaliban
Yesus demi menyelamatkan umat manusia dari belenggu dosa dan
maut. Pada waktu itu Tuhan memperlihatkan kepada seluruh jagat
raya betapa berharganya jiwa manusia itu bagi-Nya. Untuk
menebus manusia dari dosa dan kematian, Ia bahkan merelakan
hal yang paling berharga yang terdapat di alam semesta ini,
yaitu darah kehidupan Anak-Nya sendiri. Oleh karena itu Paulus
menulis: “Sebab kami telah menjadi tontonan bagi dunia,…”
( I Korintus 4:9 ). Perkataan yang diterjemahkan
sebagai “tontonan” itu berasal dari bahasa Yunani yang
arti sesungguhnya adalah “teater” (pentas).
Meskipun manusia sedemikian kecil dan tidak ada artinya,
dilihat dari rencana Tuhan yang Maha Berdaulat kita
sesungguhnya berada di titik pusat “pentas” alam semesta.
Tanggapan Iman:
Terima kasih Tuhan, karena Engkau demikian menghargai kami,
anak-anak-Mu, bahkan lebih daripada seluruh alam semesta yang
terdapat di sekeliling kami.
(Nantikan artikel selanjutnya!) |