|
Ketika aku berpikir: “Kakiku goyang,” maka kasih setia-Mu,
ya TUHAN, menyokong aku. Apabila bertambah banyak pikiran
dalam batinku, penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku. Mazmur
94:18-19
Ada satu hal yang secara khusus menarik perhatian saya
berkenaan dengan gambaran yang diberikan Alkitab mengenai
Tuhan: Alkitab berkata bahwa Ia begitu penuh pengertian. Ia
mengetahui kelemahan-kelemahan kita, tetapi tidak menolak kita
karena kelemahan-kelemahan tersebut. Ia tidak menyuruh kita
berpura-pura kepada-Nya maupun kepada dunia luar bahwa kita
ini kuat, sedangkan kenyataannya kita lemah. Yang Ia minta
hanya agar kita benar-benar menyerahkan kepada-Nya segala
sesuatu yang kita miliki, betapa pun hal itu kelihatannya
tidak berarti atau tidak memadai. Segala kekurangan itu
akan ditutup oleh kasih karunia-Nya.
“Kakiku goyang!” teriak pemazmur. Ia hampir saja jatuh dan
tidak dapat menyelamatkan diri. Tetapi begitu ia mengakui
kebutuhannya, Tuhan segera datang untuk menyelamatkannya:
“Kasih setia-Mu, ya TUHAN, menyokong aku.” Inilah pola
yang kita masing-masing harus mengingatnya. Apabila kaki kita
mulai goyah dan kita kehilangan keseimbangan, Tuhan tidak
menyuruh kita menyelamatkan diri sendiri. Kita cukup
menyampaikan kebutuhan kita kepada-Nya dan kasih setia-Nya
akan menyokong dan menyelamatkan kita.
Dalam ayat berikutnya pemazmur menggambarkan reaksi yang
terjadi dalam hatinya sendiri: “Apabila bertambah banyak
pikiran dalam batinku, penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku.”
Justru pada saat-saat kita merasakan kecemasan yang luar biasa,
Tuhan secara tiba-tiba akan melimpahi jiwa kita dengan
sukacita yang mengalahkan kecemasan tersebut. Bahkan, semakin
besar tekanan yang kita alami, semakin indah pula penghiburan
Tuhan yang akan kita rasakan.
Dalam II Korintus 1:8-9, Paulus menggambarkan
pengalaman semacam itu: “Beban yang ditanggungkan atas kami
adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah
putus asa juga akan hidup kami. Bahkan kami merasa,
seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu
terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami
sendiri, tetapi hanya pada Allah yang membangkitkan
orang-orang mati.”
Tanggapan Iman:
Apabila kakiku mulai goyah, ya Tuhan, tolonglah aku untuk
mengingat bahwa kasih-Mu akan menyokongku.
(Nantikan artikel selanjutnya!) |