HOME ABOUT US KESAKSIAN AGENDA GEREJA LINK CONTACT US



 

Derap Remaja Edisi 42
Juli-Desember 2017
Bahan Pembinaan Remaja Gereja Kristen Indonesia


Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :

1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Harga per eksemplar Rp. 40.000,-

 

November 2017
Mengenal Allah

 
102 Adonai   1
106 Rahmani dan Rahimi   2
110 El Roi:The God Who Sees Me   3
116 Imanuel   4

November 2017 Minggu III

El Roi: The God Who Sees Me
Bacaan:
Kejadian 16:1-16
Bahan yang diperlukan:
Area yang cukup luas dan kain penutup mata bagi sejumlah peserta

 

 

Fokus


Penghayatan dan percaya pada yang tidak terlihat tidaklah mudah. Saat manusia hanya menggunakan akal mereka saja. maka nampaknya tidak mungkin yang tidak terlihat itu ada. Dan di zaman yang memberikan fokus besar pada sesuatu yang visual dan dapat dilihat begitu besar, maka Tuhan yang tidak terlihat tidak lagi dirasakan dalam kehidupan remaja. Oleh karena itu remaja perlu belajar akan kehadiran Tuhan yang tidak terlihat namun melihat. Melalui kisah Hagar, diharapkan remaja dapat belajar akan Tuhan yang disebut El Roi, sehingga iman remaja dapat semakin diteguhkan khususnya pada saat mereka merasa sendirian.
 

Penjelasan Teks


Awal mula cerita ini berawal ketika Abram dan Sarai tidak dikaruniai anak, sehingga Sarai berkata kepada Abram untuk mengambil Hagar, hambanya untuk melahirkan keturunan bagi Abram. Adalah hal yang biasa jika seorang istri mandul ia akan membiarkan pelayannya melahirkan untuk kemudian dianggap anak oleh sang istri. Pada masa itu di usia yang cukup tua tanpa memiliki keturunan merupakan suatu hal yang memalukan, bahkan dianggap sebagai kutukan. Apalagi bagi Abram yang pasti gundah karena ia tidak memiliki penerus yang dapat meneruskan karyanya. Memiliki penerus, merupakan salah satu kerinduan terbesar dari seorang yang sudah tua dibandingkan dengan hal lainnya. Di sini Sarai merasa bertanggung jawab akan hal ini. Dikarenakan usianya yang sudah cukup tua, yang dalam pandangan awam sudah tidak bisa lagi melahirkan anak, serta ketidakyakinan Sarai pada janji Allah yang akan menjadikan Abram sebagai bangsa yang besar membuat ia melakukan hal ini.

Tetapi praktik ini bukanlah merupakan cara Allah, sehingga kemudian muncullah persoalan. Begitu mengandung, Hagar memandang rendah nyonyanya, dan Sarai menyalahkan Abram yang berujung pada Sarai menindas Hagar. Hagar kemudian melarikan diri. Pada akhirnya, putra Hagar kemudian dianggap sebagai usaha manusia, yaitu diperanakkan menurut daging dan bukan roh. Enam ayat pertama (ay. 1-6) bukanlah semata-mata penghakiman atas tindakan dan perilaku Sarai, melainkan bagian dari rangkaian dosa yang dilakukan oleh Sarai, Abram, dan Hagar yang kemudian menimbulkan perselisihan.Allah sepertinya absen dalam ke enam ayat ini, sehingga tidak disebutkan .intervensi Allah, kecuali sebagai alasan yang dipakai oleh Sarai. Baru pada ayat 7, kehadiran Allah melalui malaikat-Nya terlihat.
Pelarian Hagar yang kembali menuju Mesir (Syur merupakan bagian dari wilayah timur Mesir) bukanlah suatu perjalanan dan keputusan yang mudah, karena ada banyak resiko yang dapat terjadi. Padang gurun bukanlah tempat yang aman dan nyaman, apalagi bagi seorang wanita hamil yang sendirian. Faktor cuaca yang ekstrim, jarak perjalanan, persediaan makanan, resiko penyamun di jalan, dan bayi yang di kandungnya adalah bagian dari resiko ini. Dapat dibayangkan betapa menderitanya Hagar dalam aniaya Sarai sehingga ia memutuskan untuk melarikan diri.

Pelariannya terhenti di Syur saat Allah menyatakan diri-Nya kepada Hagar. Malaikat Tuhan dalam ayat 7 dipercaya adalah Allah sendiri yang menjumpai Hagar. Sebagai orang Mesir yang tidak mengenal Allah, tidak dijelaskan apakah Hagar mengenal Allahnya Abram, namun jika melihat bahwa ia sudah tinggal lama bersama dengan Abram dan Sarai, maka ia pasti pernah mendengar. Mungkin pula ada pertanyaan atau keraguan dalam diri Hagar akan Allahnya Abram yang sepertinya membiarkannya dalam penderitaan. Sapaan malaikat Tuhan pada ayat 8 mengingatkan Hagar kembali akan siapa dirinya, yaitu hamba Sarai, dan bukan sebagai istri Abram. Malaikat Tuhan kemudian mengingatkan kembali kewajiban Hagar sebagai hamba, yaitu untuk kembali pada nyonyanya dan membiarkan dirinya ditindas oleh Sarai. Allah mengingatkan Hagar untuk kembali ke jalan-Nya, dan tidak melarikan diri dalam penderitaannya. Suatu pernyataan yang sangat keras dan menyeramkan dari Allah! Bayangkan apa yang dirasakan Hagar saat ia mendengar perintah ini!

Tetapi Allah tidak berhenti di situ. Ia menyatakan kepada Hagar bahwa ia hadir bersama dengan dirinya dan mendengarkan penderitaannya. Ia menjanjikan Hagar akan memiliki keturunan yang tak terhitung jumlahnya, dan bahwa anak yang dikandungnya (yang akan dinamai Ismael yang artinya Allah mendengarkan) akan menjadi pejuang yang perkasa dan berani melawan orang-orang yang menentang dia (ay.11 -13).

Di sinilah Hagar mengalami perjumpaan dengan Allah, dan ia mengenali siapa Allahnya, yaitu Allah yang melihat dia. Allah yang mengerti dan paham akan isi hati dan penderitaannya, dan bukan hanya itu saja, tetapi juga melihat masa depan-(anak)-nya. Oleh karena itu ia menamakan-Nya El Roi, Allah yang melihat aku (dan masa depan). Hagar menjadi satu¬satunya orang yang memberi nama pada Allah. Pernyataan Hagar setelah itu dapat memiliki beberapa penafsiran. "Apakah aku melihat Allah, dan tetap hidup?" atau "Apakah aku, di gurun ini, bertemu Allah?" Kalimat pertama memberi penekanan pada ketidakmungkinan manusia melihat Allah secara langsung dan tetap hidup, sementara kalimat kedua mempertanyakan Allah yang tidak menampakkan diri-Nya di bait Allah namun di padang gurun. Apapun tafsirannya, kalimat ini menyatakan keheranan dan kekaguman Hagar pada perjumpaannya dengan Allah, dan menunjukkan sikap ketertundukkannya pada Allah.

Pengenaan

Tuhan tidak terlihat namun Ia melihat. Pemahaman akan Allah yang senantiasa melihat segalanya perlu menjadi bagian penting dari iman remaja. Karena Allah melihat, maka Ia mengetahui apa yang kita lakukan, walaupun kita berusaha menutupinya sedemikian rupa. Hal ini perlu dinyatakan sehingga remaja mengetahui bahwa mereka tidak perlu berpura-pura di hadapan Allah. Namun pemahaman yang dangkal akan Allah yang melihat segalanya akan membuat remaja hanya melihat sisi Allah yang kejam, yang mengatur, yang menghukum. Padahal El Roi memiliki pemahaman yang lebih luas daripada itu. Oleh karena itu kata El Roi perlu ditempatkan pada konteks kata ini dipergunakan, yaitu pemahaman Allah yang memperhatikan diri kita dan tidak membiarkan diri kita sendirian dalam menghadapi penderitaan dan pergumulan.

Sama seperti yang dialami oleh Hagar. Remaja masa kini dalam hidupnya sehari-hari cenderung hanya memerhatikan yang terlihat oleh mata. Saat tidak ada orang lain bersama mereka, maka mereka merasa sendirian. Saat berada dalam masalah, yang dilihat adalah masalahnya. Perasaan sendirian apalagi saat menghadapi masalah menjadi sesuatu yang membuat hidup remaja menjadi lebih berat. Bahkan dalam kasus-kasus tertentu ada remaja yang memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka, karena merasa tidak ada yang memerhatikan atau mempedulikan mereka. Mereka tidak menyadari keberadaan Allah yang melihat dan memerhatikan. Melihat kisah Hagar, remaja dapat melihat suatu proses di mana perjumpaan dengan Allah terjadi saat Allah melihat Hagar dan kemudian Hagar melihat Allah.
 

Langkah-langkah Penyampaian


1 . Tanyakan pada remaja apakah mereka pernah merasa sendirian? Apakah yang mereka rasakan dan apa yang mereka lakukan dalam keadaan tersebut?
2. Ajaklah mereka untuk membaca teks bersama-sama.
3. Lanjutkan dengan penjelasan teks dan masuklah pada pengenaan. Jelaskan kepada mereka mengenai Allah yang tidak terlihat namun melihat. Pertama bahaslah mengenai tindakan remaja yang sering sembunyi-sembunyi. Lalu bahas pula mengenai Allah yang hadir dalam kegelisahan dan kegalauan mereka.
4. Ceritakanlah ilustrasi mengenai pengalaman James Boice kepada remaja.
5. Ajaklah mereka untuk melakukan kegiatan kemudian bentuklah kelompok-kelompok untuk mendiskusikan refleksi kegiatan tersebut.
                                                                                                        

Kegiatan

                                                                      
                                                                           A Walk in the Dark

1. Untuk melakukan kegiatan ini dibutuhkan area yang cukup luas untuk berjalan. Disarankan untuk diadakan di luar ruangan.
2. Bentuklah kelompok-kelompok lalu tutuplah mata mereka dengan blind fold (penutup mata). Pisahkan mereka berdasarkan kelompok dan bentuklah barisan. Tiap orang memegang pundak orang di depannya agar mereka dapat berjalan beriringan.
3. Didampingi oleh fasilitator, tuntunlah mereka untuk menuju suatu lokasi. Lalu fasilitator memecah mereka sehingga sendiri-sendiri dalam keadaan mata tertutup.
4. Setelah semua tersebar, mintalah mereka untuk mengikuti bunyi tepukan. Saat mereka bersinggungan dengan yang lain, mintalah mereka untuk memegang orang yang bersinggungan dengan mereka.
5. Fasilitator atau pemimpin kegiatan kemudian menepuk tangan beberapa kali dcngan beberapa kali jeda.
6. Fasilitator dapat berpindah tempat beberapa kali hingga semua peserta kemudian berpegangan dan tidak ada yang terlewatkan sendirian.
7. Setelah semua berkumpul bukalah penutup mata mereka dan kemudian kembali dalam kelompok untuk mendiskusikan hasilnya.
8. Pertanyaan diskusi:
a. Apa yang mereka rasakan saat dalam keadaan tidak dapat melihat dibiarkan sendirian?
b. Saat mendengar suara tepukan, apa yang mereka rasakan?
c. Saat bersentuhan dengan yang lain, apa yang mereka rasakan?
9. Jelaskan pada mereka bahwa Allah adalah seperti fasilitator atau pemimpin kegiatan yang tidak dapat dilihat oleh peserta namun dapat melihat dan ia tidak membiarkan mereka sendirian.
 

 

Ilustrasi


Dr. James Boice menceritakan kisah pedih tentang insiden dari masa kecilnya. Pada hari-hari terakhir Perang Dunia II, ketika Boice berusia tujuh tahun, ayahnya bekerja di Angkatan Udara dan ditempatkan di Louisiana beserta dengan keluarganya. Banyak prajurit yang dipulangkan setelah masa bakti mereka selesai, tapi karena ada risiko bahwa perintah pemulangan bisa dibatalkan jika mereka tidak segera meninggalkan lokasi, maka keluarga Boice mulai berkemas.
Ketika perintah datang, sekolah sedang berlangsung. Maka James diberitahu bahwa keluarganya akan meninggalkan lokasi segera setelah James tiba di rumah sore itu. Dia begitu gembira dan hampir tidak bisa menunggu saat itu. ia melompat dari bus sekolah, berlari menaiki tangga ke rumahnya, dan menemukan bahwa pintu terkunci. Terkejut ia pun berlari memutar ke pintu belakang dan menemukan bahwa itu terkunci juga.Akhirnya ia menemukan sebuah jendela yang ia ketahui pasti terbuka, lalu membongkarnya sehingga terbuka dan merangkak melaluinya. Namun ia begitu kaget saat mendapati ruangan itu kosong. Begitu .pula dengan seluruh isi rumah. Saat anak berusia tujuh tahun ini berjalan perlahan dari kamar ke kamar, ia mendapat sensasi yang mengatakan bahwa keluarganya saking terburu-buru ingin meninggalkan lokasi camp sebelum perintah dibatalkan, telah lupa akan keberadaan dirinya dan meninggalkannya. Padahal sebenarnya orang tuanya telah berkemas namun harus mengambil sesuatu di tempat lain, lalu mereka menunggu James pulang sekolah di mobil di depan rumah pada saat James sedang berkeliling di dalam rumah yang sudah kosong tersebut. Tetapi yang mereka lihat adalah seorang anak laki-laki yang kecewa keluar dari jendela setelah menjalani tur di rumah yang kosong. Segera sang ayah keluar dari mobil dan begitu James melihat ayahnya, mukanya berubah dan semangatnya timbul kembali. Ia berlari dan segera menghampiri ayahnya dan menubrukkan dirinya sambil berkata "Aku kira kalian sudah lupa padaku dan pergi meninggalkanku." Si ayah berkata sambil tersenyum "Aku melihatmu berlari ke dalam rumah dan dalam waktu beberapa lama kamu keluar melalui jendela James. Kami tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian."

Sumber: Boice, Genesis [Zondervan], 1:295-296
 

                                                                           


A R S I P
| derap januari 0117 | derap januari 0217 | derap januari 0317 |
| derap januari 0417 |derap januari 0517 | derap februari 0117 | derap februari 0217 |
| derap februari 0317 | derap februari 0417 | derap maret 0117 |derap maret 0217 |
| derap maret 0317 | derap maret 0417 | derap april 0117 | derap april 0217 | derap april 0317 |
| derap april 0417 | derap april 0517 | derap mei 0117 | derap mei 0217 | derap mei 0317 |
| derap mei 0417 | derap juni 0117 | derap juni 0217 | derap juni 0317 | derap juni 0417 |
| derap Juli 0117 | derap juli 0217 | derap juli 0317 | derap juli 0417 | derap juli 0517 |
| derap agustus 0117 | derap agustus 0217 | derap agustus 0317 | derap agustus0417 |
| derap september 0117 | derap september 0217 | derap september 0317 | derap september 0417 |
| derap oktober 0117 | derap oktober 0217 | derap oktober 0317 | derap oktober 0417 |

| derap oktober 0517 | derap november 0117 | derap november 0217|

 

Sahabat Surgawi,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright © 1999