HOME ABOUT US KESAKSIAN AGENDA GEREJA LINK CONTACT US



 

Derap Remaja Edisi 44
Juli-Desember 2018
Bahan Pembinaan Remaja Gereja Kristen Indonesia


Pembayaran dapat dilakukan dengan 2 cara :

1. Via Bank:
Tahapan BCA no. 0372999053, an. Wisnu Sapto Nugroho
Segera kirimkan pemberitahuan pengiriman bank.
2. Via Pos Wesel:
dengan cara memakai blangko yang dilampirkan dalam surat pengantar.
Pdt. Wisnu Sapto Nugroho, Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Alamat Sekretariat & Distribusi DERAP REMAJA:
Samirono Baru 71 Kompleks LPPS Yogyakarta 55281

Harga per eksemplar Rp. 40.000,-

 

Juli 2018
Kesaksian Iman

 

• Mantap Beriman Kepada Kristus: Belajar dari Perpetua dan Felicitas
• Gigih Berjuang Dalam Iman Kepada Kristus: Belajar dari Athanasius
• Memaknai Masa Muda dalam Tuhan: Belajar dari Agustinus dari Hippo
• Fransiskus dari Assisi Persekutuan yang Teratur: Belajar dari Calvin

 

Fokus
_____________________

 
Masa muda adalah masa yang sangat dinamis. Inilah masa ketika tubuh masih terasa kuat dan segar, dan kegiatan-kegiatan masih terasa menyenangkan. Banyak remaja menjalani hari-harinya dengan hal-hal yang baik.Ada juga remaja yang mengisi hari-harinya dengan hal-hal yang dapat merusak diri. Kisah Augustinus dari Hippo menjadi rujukan yang baik tentang memaknai masa muda dalam Tuhan. Melalui pelajaran ini, dengan belajar dari Augustinus, remaja diajak untuk memaknai masa mudanya dengan bersandar selalu kepada Allah.
 

Penjelasan Teks
_____________________


Banyak pakar Alkitab memperkirakan kitab Pengkhotbah ditulis oleh seorang bijaksana pada masa tuanya. Penulis kitab ini (selanjutnya ditulis Qohelet) mengingat perjalanan hidupnya dan berefleksi atas pengalaman hidupnya, secara khusus pengalaman masa mudanya. Qohelet memahami bahwa pada masa muda, orang punya gairah dan semangat yang besar.
Qohelet menuliskan pesan,"Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu!" (Pkh. 12:1). Dengan mengingat Allah Pencipta, menurut Qohelet, orang muda tidak akan tersesat dalam pencarian jati diri. "Ingat akan Pencipta" menjadi prinsip utama untuk menjalani dunia kehidupan yang penuh godaan dan tantangan. Prinsip ini menolong agar orang muda menjalani hari-hari secara bermakna, tidak sia¬sia.

Mengapa Qohelet berpesan agar orang pada masa muda mengingat Allah Pencipta? Oleh karena ketika usia bertambah, orang akan mengalami masa tua. Hal ini digambarkan dengan "matahari dan terang, bulan dan bintang-bintang menjadi gelap, dan awan-awan datang kembali sesudah hujan (ayat 2). Qohelet tampaknya hendak memberikan gambaran-gambaran perubahan diri yang akan terjadi, secara khusus berkaitan dengan keadaan tubuh yang menjadi lemah di masa tua. Hal ini ditunjukkan dengan kiasan (metafor) peralihan "matahari... bulan dan bintang" serta "terang ... gelap". Ungkapan "awan—awan datang kembali" menunjuk pada kondisi alam saat Qohelet menuliskan bagian ini, yaitu Palestina saat musim salju. Pada musim salju kecenderungan langit di Palestina sesudah hujan maka langit akan tertutup awan lagi kemudian hujan lagi.
Qohelet kemudian melanjutkan pemaparannya tentang perubahan diri dengan gambaran sebagai berikut:"Pada waktu penjaga-penjaga rumah gemetar, orang-orang kuat membungkuk, dan perempuan-perempuan penggiling berhenti karena berkurang jumlahnya, dan yang melihat dari jendela semuanya menjadi kabur, dan pintu-pintu di tepi jalan tertutup, dan bunyi penggilingan menjadi lemah, dan suara menjadi seperti kicau burung, dan semua penyanyi perempuan tunduk" (ayat 3-4). Ini hendak menjelaskan keadaan fisik orang pada masa tua, yaitu tangan dan kaki yang lemah, badan yang membungkuk,gigi-gigi yang tidak lengkap dan penglihatan yang berkurang kemampuannya, serta penurunan kemampuan mendengar.

Selain perubahan fisik, Qohelet juga mengingatkan hal kemampuan psikis pada masa tua:"Orang menjadi takut tinggi, dan ketakutan ada di jalan, pohon badam berbunga, belalang menyeret dirinya dengan susah payah dan nafsu makan tak dapat dibangkitkan lagi" (ayat 5). Ketika orang semakin tua, ketakutan demi ketakutan akan dialami. Pohon badam berbunga menggambarkan rambut putih yang mulai tumbuh. Qohefet terus mengingatkan banyak hal yang akan berakhir pada masa tua. Kehidupan tidak seindah ketika masih muda.Tubuh akan semakin lemah dan rusak (ayat 6); dan pada akhirnya semua akan kembali kepada Allah Pencipta (ayat 7).Tidak ada yang kekal di dunia ini.Orang muda akan mengalami kefanaan diri. Oleh karena itu, agar hidup tidak berlalu begitu saja dan sia-sia, orang sejak muda seharusnya mengingat Allah Pencipta.Allah Pencipta menuntun hidup di masa muda.

Pengenaan
____________________


Pada dasarnya remaja sedang menjalani perziarahan hidup pada masa mudanya. Dalam perziarahan itu.remaja mengalami ini-itu dan mencoba-coba ini-itu. Remaja berusaha menemukan jati dirinya untuk masa depan yang bermakna dan yang tidak sia-sia.
Ada seorang tokoh gereja pada masa awal perkembangan kekristenan mengalami perjalanan hidup yang berliku-liku pada mudanya. Dia adalah Agustinus dari Hippo. Pada masa muda Agustinus belajar dan membaca banyak buku. Dia berusaha memuaskan dahaga akan damai sejahtera. Namun, satu hal yang tidak ia pelajari adalah Kitab Suci dan pengetahuan tentang Allah.

Agustinus ternyata memperoleh bukan damai sejahtera. melainkan keresahan dan kegalauan dalam perziarahan hidup masa mudanya. Setelah membuka diri dan menerima Kristus secara total dalam hidupnya, ia pun merasakan damai sejahtera.
Masa muda merupakan masa yang penuh dengan segala kemungkinan. Pada masa ini remaja membentuk jati dirinya. Sementara itu, dunia kehidupan menawarkan berbagai tantangan dan godaan yang mampu entah membangun atau merusak hidupnya. Melalui kisah Agustinus, remaja belajar untuk menjalani hari-hari di masa muda dengan berjalan bersama dengan Allah dalam tuntunan Yesus Kristus dan persekutuan Roh Kudus.
 
   

Langkah-langkah Penyampaian
___________________________


1. Awali dengan melakukan Kegiatan
2. Sampaikan bahwa masa muda adalah masa yang penting dan menentukan hidup (lihat Fokus).
3. Ajak remaja memahami pesan Pengkhotbah dalam mengisi masa muda (lihat Penjelasan Teks).
4. Sampaikan bahwa Augustinus menjalani perziarahan hidup pada masa mudanya dan ia tiba pada kedamaian sejati dengan kembali kepada Kristus (lihat Pengenaan dan Lampiran).
5. Akhiri dengan Ilustrasi.Ajaklah Remaja mengisi hari-hari dengan menjalin relasi dengan Tuhan.
 

Kegiatan
_____________________

1. Remaja dibagi ke dalam beberapa kelompok
2. Setiap kelompok mendeskripsikan:
• hal-hal positif yang dapat dilakukan pada masa muda
• hal-hal negatif yang biasa menjadi godaan yang menyesatkan
3. Kelompok mempresentasikan hasil diskusi.
 

Ilustrasi
_____________________


Lagu "Masa Muda Sungguh Senang"

Masa muda sungguh senang.
Jiwa penuh dengan cita-cita.
Dengan api yang tak kunjung padam.
Selalu membakar dalam kalbu.

Masa mudaku masa yang terindah.
Masa Tuhan memanggilku.
Masa mudaku masa yang kukenang.
Kutinggalkan s'mua dosaku.

La..la..la..la..

Ku tak tahu kerjanya Roh.
Tuhan t'lah sadarkan s'mua dosaku.
Dia panggilku 'tuk mengikut Dia.
Haleluya, aku t‘ rima Yesus.

Lampiran
_____________________

Agustinus dari Hippo
 

Aurelius Augustinus lahir pada 13 November 354 di Tagaste, Algeria,Afrika Utara. Ia dibesarkan dan dididik di Karthago, dan dibaptis di Italia. Ibunya, Monika, adalah seorang pengikut Kristus yang saleh. Sementara ayahnya, Patrisius, seorang yang tidak menganut agama.
Augustinus adalah seorang yang sangat cerdas. Setelah menyelesaikan pendidikannya, ia menjadi dosen retorika di kota Milano pada 384. Pada usia 30 tahun karir Augustinus semakin bersinar. Ia dikenal sebagai seorang pengajar yang sangat disegani di Milano.
Pada suatu hari, ketika sedang mempersiapkan sebuah pidato penting di hadapan kaisar,Augustinus melihat seorang pengemis mabuk di jalan yang tampak begitu bebas dan tidak diliputi kecemasan dibandingkan dirinya. Hal ini membuat Augustinus semakin hari merasa semakin gelisah. Ia merasa jiwanya kosong. Padahal ia sudah membaca banyak buku. Namun, ia tidak menemukan kebenaran dan damai sejahtera.
Monika, ibu Augustinus, tidak pernah bosan mengingatkan dan mendorong Augustinus untuk membaca Kitab Suci agar anaknya itu dapat menemukan kebenaran dan kedamaian yang sejati.

Namun,Augustinus meremehkan nasihat ibunya. Kitab Suci dianggapnya terlalu sederhana dan tidak akan menambah pengetahuannya. Pada usia 31 tahun Augustinus mulai tergerak hatinya untuk kembali kepada Tuhan berkat doa-doa ibunya serta berkat ajaran Ambrosius, Uskup kota Milan. Namun,Augustinus belum bersedia dibaptis karena belum siap untuk mengubah sikap hidupnya yang bergelimang kemewahan.

Pada suatu hari Augustinus mendengar tentang dua orang yang bertobat setelah membaca riwayat hidup Antonius Pampa. Augustinus merasa malu. Ia berbicara dengan Alypus sahabatnya,"Apa yang kita lakukan? Orang-orang yang tak terpelajar memilih surga dengan berani.Tetapi kita, dengan segala ilmu pengetahuan kita, demikian pengecut sehingga terus hidup bergelimang dosa!" Dengan hati sedih,Augustinus pergi ke taman dan berdoa,"Berapa lama lagi, ya Tuhan? Mengapa aku tidak mengakhiri perbuatan dosaku sekarang?" Pada saat itu, ia mendengar seorang anak menyanyi berulang-ulang,"Ambillah dan bacalah!" Augustinus mengambil Kitab Suci dan membaca ayat, "Marilah kita hidup dengan sopan seperti pada siang hari... kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya." (Roma 13:13-14).

Augustinus terpukau oleh pengalaman iman karena nyanyian anak-anak itu. Saat itulah Augustinus bertekad untuk menjalani hidup yang baru. Ia meninggalkan hidup lama yang penuh kegelisahan dan mengalami hidup yang dipenuhi oleh damai sejahtera. Pada tahun 388, setelah ibunya wafat, Augustinus pulang ke Afrika. Ia menjual segala harta miliknya dan membagi-bagikannya kepada orang miskin. Ia selanjutnya menjadi uskup kota Hippo.
Selanjutnya Augusttnus menjadi seorang pengkhotbah ulung. Ia juga dikenang sebagai pemimpin gereja yang menanggapi secara gigih ajaran-ajaran yang menyimpang dari iman Kristen.
Augustinus menulis surat-surat, khotbah-khotbah, dan buku-buku, serta mendirikan biara di Hippo untuk mendidik biarawan-biarawan agar dapat mewartakan injil ke berbagai tempat.Augustinus wafat pada 28 Agustus 430 di Hippo dalam usia 76 tahun.

                                          
            


 

Sahabat Surgawi,
 Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net - webmaster@sahabatsurgawi.net, Copyright © 1999