» Media Pelayanan Antar Jemaat, Antar Gereja, Antar Denominasi OnLine
Serba - Serbi Rohani
   
  Fasilitas Pencarian


» Home
» Acara Hari Ini
» Gereja
» Gereja Dunia
» Permohonan Doa
» Form Konsultasi
» Solusi Problema
» Form Kesaksian
» Kumpulan Kesaksian
» Pelangi Jiwa
» Renungan Kecik
» YAMARI
» YASUMA
» PPK Tabitha
» RPUK Muara Kasih
» PA.ASIH LESTARI
» Humor
» Kartu Ucapan
» Peluang Karier
» Donasi














 

 

 

 

 

 

 

 














 











 
» Pelangi Jiwa


[ Depan | Arsip Pelangi Jiwa ]

Kemenangan Kasih


"Ia (kasih) menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu"
(I Korintus 13: 7)

Saya begitu senang ketika kelas katekisasi yang saya ikuti selama kurang lebih 10 bulan selesai. Begitu banyak pelajaran berharga yang saya dapat selama belajar, terutama iman saya terus dipupuk dan karakter saya dibentuk. Tapi setelah katekisasi bukan berarti iman saya berhenti dipupuk dan saya tidak lagi mengasah karakter kristiani saya. Justru sebaliknya disinilah titik awal untuk berjuang agar iman yang telah dipupuk itu tidak mati tetapi semakin subur, bertumbuh, dan berbuah menjadi berkat bagi orang lain. Juga disinilah titik awal saya menghadapi kehidupan sebagai anak Tuhan yang dianggap sudah dewasa. Saya harus berjuang bagaimana iman dan karakter kristiani itu dibuktikan melalui tindakan nyata.
Saya senang melihat teman-teman saya bersukacita atas kemenangan iman yang akan mereka alami. Tentunya mereka sangat bersyukur apalagi keluarga turut menyambut dengan penuh sukacita. Lain halnya dengan saya yang masih harus terus berjuang, karena sebelumnya saya tidak mengenal Yesus. Ketika saya mengenal Yesus dan memilih untuk mengikut-Nya, tentu saja akan menuai banyak reaksi dari banyak pihak terutama keluarga. Tidak mudah menghadapi situasi ini. Keluarga saya bisa saja marah. Bagi mereka kemarahan itu memang wajar dan harus dilakukan karena saya telah menjadi Kristen. Lalu dengan cara apa saya harus menghadapi kemarahan mereka? Situasi seperti ini membuat saya cukup tertekan. Saya dihadapkan pada dua hal yang sama-sama berat, karena walau bagaimanapun mereka orangtua dan keluarga yang sangat saya kasihi dan saya hormati.
Mengalami pergumulan ini bukanlah mudah. Saya terus membawa pergumulan ini dalam doa. Saya meminta agar hikmat yang dari Tuhan terus bekerja dan Tuhan sendiri memimpin dan menguatkan saya dalam menghadapi setiap perkara. Ketika saya membaca dan merenungkan setiap kitab Injil, di bagian akhir saya melihat bagaimana Tuhan Yesus ditolak, dicerca, dianiaya, disiksa, hingga akhirnya mati di kayu salib. Saya tidak hanya merasa tersentuh tetapi juga begitu takjub karena Yesus yang punya kuasa untuk melakukan apapun tetapi tidak melawan sedikitpun. Yesus tidak keberatan dengan siksaan yang begitu menyakitkan. Bahkan ketika Yesus di salibkan, Dia masih sempat mendoakan mereka: "Bapa, ampunilah mereka karena sesungguhnya mereka tidak tahu apa yang telah mereka lakukan". Yesus menanggung semua dengan penuh kesabaran dan tetap mengasihi orang-orang yang telah menganiaya-Nya.
Akhirnya saya mendapat jawaban, bahwa saya pun harus menanggung semua pergumulan dengan penuh kesabaran, dan menghadapi semuanya dengan senjata andalan Tuhan Yesus yaitu Kasih.(Eka Lestari)


Kirim Artikel ini ke Teman Anda


[ Depan | Arsip Pelangi Jiwa ]

 

Sahabat Surgawi
Media pelayanan antara jemaat, antar Gereja
antar denominasi OnLine

www.sahabatsurgawi.net
webmaster@sahabatsurgawi.net
Copyright © 2002, Tim Sahabat Surgawi