|
Serba - Serbi
Rohani |
 |
|
|
|
 |
|

|

 |
 |
» Pelangi Jiwa |
 |
|
|

|
[ Depan | Arsip Pelangi Jiwa ]
|
“ Aku telah memilih jalan kebenaran, telah menempatkan hukum-hukum-Mu di hadapanku " (Mazmur 119: 30) Tampaknya Tuhan menciptakan alam semesta dengan "hukum kodrat" yang pasti. Namun manusia diciptakan-Nya sebagai mahluk yang memiliki kebebasan untuk memilih. Ketika manusia pertama ditempatkan Tuhan di Taman Eden, Tuhan berfirman: "Engkau boleh makan buah-buahan dari semua pohon di taman ini, namun jangan dari pohon yang memberi pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Bila engkau memakannya maka engkau akan mati" (Kejadian 2:15-17). Di sini jelas Tuhan memberi kebebasan kepada Adam untuk memilih: menaati perintah-Nya atau melanggar apa yang dititahkan-Nya. Contoh lainnya, Rut yang begitu mengasihi Naomi, sang mertua, tetap memilih ikut kembali ke Betlehem, sekalipun Naomi menganjurkannya kembali kepada orangtuanya. Sesungguhnya Rut memiliki kebebasan memilih: pulang kepada orangtuanya atau tetap ikut Naomi ke Betlehem. Tentunya masih banyak contoh-contoh lainnya. Apalagi kita yang hidup di era kemajuan teknologi informasi ini. Setiap saat kita dapat mengakses berbagai data atau informasi untuk menentukan alternatif yang kita pilih, sehingga hampir di semua aspek kehidupan, tak terelakkan kita senantiasa dituntut untuk menentukan pilihan. Memilih sekolah, pekerjaan, pasangan hidup dan sebagainya. Mengikut Tuhan Yesus pun adalah sebuah pilihan bebas seperti yang ditawarkan-Nya kepada kita dan bukannya sebuah keterpaksaan. Dalam membuat pilihan apapun juga, ada tiga hal yang patut kita sadari. Pertama kita memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan kita (We are free to choose). Kedua: Kita tidak bebas untuk tidak memilih (We are not free not to choose). Sesungguhnya hidup kita berlangsung sesuai dengan pilihan yang kita buat. Ada sebuah ungkapan yang berbunyi: "Life is really a matter of choices." Mau tidak mau kita senantiasa dituntut untuk membuat keputusan yang menentukan pilihan kita dalam hidup ini. Sekalipun mereka yang abstain dalam sebuah voting, sebenarnya juga telah membuat sebuah pilihan yakni untuk abstain, Dan yang ketiga, yang terpenting adalah bahwa kita tidak bebas memilih konsekuensi pilihan kita (We are not free to choose the consequences of our choice). Ketika kita mau menerima anugerah keselamatan dan pengampunan Tuhan; kita harus memilih percaya dan menerima sepenuh hati akan penebusan oleh pengorbanan-Nya di kayu salib. Memilih menjadi pengikut-Nya yang setia. Konsekuensi-nya adalah: menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Dia (Lukas 9:23). Oleh karena itu dalam membuat pilihan kita patut selalu berpegang pada firman-Nya; "Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik" (1 Tes. 5:21). (Nik D. Adam)
|
Kirim Artikel ini ke Teman Anda
[ Depan | Arsip Pelangi Jiwa ]
|
|
Sahabat Surgawi
Media pelayanan antara jemaat, antar Gereja
antar denominasi OnLine
www.sahabatsurgawi.net
webmaster@sahabatsurgawi.net
Copyright © 2002, Tim Sahabat Surgawi
|
|