|
Pendahuluan
Serba salah! Itulah kata yang akan muncul dari mulut kita
sewaktu ditanya apa yang harus kita lakukan di depan peti
jennzah pada saat kita datang melayat sahabat atau kerabat
yang meninggal dunia. Mau berdoa di depan peti jenazah takut
tidak sesuai dengan pemahaman iman Kristiani; tapi kalau tidak
berdoa takut dikatakan tidak menghormati keluarga yang sedang
berduka atau bahkan orang yang telah meninggal dunia.
Perasaan kita menjadi semakin tidak nyaman ketika kita melihat
orang lain yang datang melayat menundukkan diri di depan peti
jenazah; mengambil sikap berdoa. Kita semakin canggung apabila
kita berada dekat peti jenazah, pada saat orang memperlihatkan
sikap menghormat kepada almarhum dengan cara membungkukkan
badan sebanyak tiga kali.
Karena itu banyak pertanyaan yang dilontarkan, seperti: "bagaimana
seharusnya sikap kita di depan peti jenazah"; "apakah kita
harus berdoa?"; "bagaimanakah kita seharusnya menunjukkan
turut berbelasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan?" dan
lainlain.
Buletin pembinaan yang singkat ini coba memberi jawaban atas
kebingungan-kebingungan kita. Topik ini sudah pernah
disampaikan doan didiskusikan dalam PA bulan Juli 2004.
Beberapa Pandangan Kepercayaan dan Budaya
Beberapa agama dan aliran kepercayaan percaya bahwa orang yang
telah meninggal, arwahnya sebelum genap 7 hari atau bahkan 40
hari, masih gentayangan. Kadang kala hal ini ditandai
dengan harum parfum almarhum/ah yang masih suka tercium; atau
ada bunyi-bunyi tertentu dari kebiasaan-kebiasaan yang suka
dilakukan oleh almarhum/ah, masih terdengar di sekitar rumah;
atau bahkan lewat mimpi salah satu anggota keluarga tentang
almarhum/ah.
Ada pandangan kepercayaan lainnya yang menyatakan bahwa pada
saat meninggal almarhum/ah perlu didoakan supaya arwahnya
diterima oleh Tuhan. Hal ini bisa disebabkan oleh karena
almarhum/ah semasa hidup kurang menunjukkan perbuatan yang
baik; atau alasan lainnya adalah setiap orang yang meninggal
memang arwahnya perlu dihantar ke rumah Tuhan melalui doa-doa
yang dinaikkan.
Dengan kepercayaan-kepercayaan semacam ini, tidaklah heran
apabila di depan peti jenazah, orang menaikkan doa-doa untuk
almarhum/ah selain untuk keluarga yang ditinggalkan. Doa-doa
yang dinaikkan umumnya berisi agar arwah almarhum/ah diterima
di sisi Tuhan; agar Tuhan mengampuni dosa-dosa yang diperbuat
almarhum/ah; bahkan ada pula doa yang ditujukan bukan kepada
Tuhan tetapi kepada orang yang meninggal.
Selain itu ada pula budaya masyarakat yang menentukan sikap
seseorang di depan peti jenazah. Salah satunya adalah budaya
Cina yang sangat menghormati orang tua. Sikap penghormatan
inipun harus ditunjukkan oleh anak kepada orang tua sekalipun
orang tuanya telah meninggal dunia. Pengaruh budaya Cina ini
sering ditunjukkan dengan penghormatan di depan peti jenazah.
Bagi anak-anak almarhum/ah, penghormatan dilakukan dengan cara
berjongkok dan menundukkan kepala turun sampai menyentuh tanah
(pai kui) sedangkan bagi kerabat hanya membungkukkan badan
sebanyak tiga kali.
Pandangan dan Sikap Kristiani
Buletin Pembinaan GKI Kayu Putih yang berjudul "Ke mana
Orang setelah Meninggal", telah membukakan kepada kita
beberapa hal tentang keberadaan orang-orang yang telah
meninggal dunia. Kesimpulan yang dapat diambil dari buletin
tersebut adalah bahwa setiap orang yang meninggal dunia
kembali kepada Tuhan, yang telah menciptakan sekaligus
memelihara dirinya. Sekalipun setelah meninggal kita menempati
dunia orang mati; namun dunia orang mati pun dikuasai oleh
Tuhan. Dialah yang berdaulat atas seluruh kehidupan di dalam
dunia orang mati. Tempat itu tidak Iagi menakutkan karena di
sana pun Tuhan bertakhta (lih. Ayb. 26:6a; Mzm. 139:8). Dan
tidaklah salah apabila imam Kristiani kita mengatakan bahwa
orang-orang yang telah meninggal kembali ke rumah Tuhan,
sekalipun belum masuk ke dalam Kerajaan Sorga yang sempurna;
yang baru akan terjadi setelah kedatangan Yesus Kristus yang
kedua kali.
Melalui pemahaman ini, maka pandangan dan sikap Kristiani kita
berbeda dengan pemahaman yang menyatakan bahwa setelah
meninggal bisa saja arwah orang yang meninggal masih
gentayangan; masih berada di dunia. Karena itu ketika kita
melihat jasad dari orang yang telah meninggal hanyalah tubuh
jasmaninya tanpa nyawa karena hidupnya telah kembali kepada
Tuhan.
Selain itu dalam catatan Alkitab, terlihat bahwa ada
keterpisahan antara dunia orang mati dengan dunia orang hidup.
Artinya tidak bisa orang-orang yang masih hidup masuk dalam
dunia orang mati; begitu juga sebaliknya orang-orang mati
tidak mungkin hidup lagi di dunia orang hidup. Kalau kita
perhatikan Ayub 7:9 "Sebagaimana awan lenyap dan melayang
hilang, demikian juga orang yang turun ke dalam dunia orang
mati tidak akan muncul kembali"; dengan jelas dikatakan adanya
keterpisahan antara dunia atas (dunia orang hidup) dengan
dunia bawah (dunia orang mati).
Hal lainnya yang dapat kita pelajari tentang keterpisahan
orang-orang yang telah meninggal dengan orang-orang yang masih
hidup di dunia ini, dapat kita lihat dalam perumpamaan Tuhan
Yesus mengenai orang kaya dan Lazarus yang miskin dalam Lukas
16:19-31. Ketika orang kaya merasakan penderitaan di alam maut;
dia meminta Abraham untuk menyuruh Lazarus mengingatkan
saudara-saudaranya akan segala hal yang dia terima saat di
alam maut. Dia ingin saudaranya memperbaiki diri ketika ada di
dunia supaya tidak menderita seperti yang dialaminya ketika
berada di alam maut (ay. 27-29). Abraham menolak permintaan si
kaya karena tidak bisa lagi Lazarus kembali ke dunia orang
hidup.
Salah satu perkataan Tuhan Yesus yang dicatat Alkitab, namun
sering kali membingungkan adalah ketika salah seorang
pengikut-Nya meminta izin menguburkan jenazah orang tuanya
dalam Matius 8: 22. Saat itu Yesus menjawab, “Ikutlah Aku dan
biarkanlah orang mati menguburkan orang-orang mati mereka."
Jawaban Yesus ini jangan diartikan kita tidak perlu peduli
dengan orang-orang yang telah meninggal; mereka tidak perlu
diurus ketika meninggal. Jawaban itu lebih mengarah kepada
betapa pentingnya totalitas diri manusia dalam mengikut Yesus.
Orang yang sudah meninggal tentu saja menjadi urusan Tuhan
karena dia kembali kepada Tuhan; bukan lagi menjadi urusan
orang yang masih hidup.
Oleh karena itu, kita tidak perlu mendoakan orang yang telah
meninggal agar arwahnya diterima di sisi Tuhan atau agar
dosa-dosanya diampuni. Hal itu sudah menjadi urusan Tuhan;
orang yang hidup tidak bisa lagi campur tangan untuk
keselamatan orang yang telah meninggal. Malahan yang sangat
perlu didoakan adalah keluarga yang ditinggalkan. Keterpisahan
dengan orang yang dikasihi karena meninggal dunia menghasilkan
rasa kehilangan yang amat besar. Rasa kehilangan itu bisa
menyebabkan berbagai masalah bagi keluarga yang tidak siap
menerima kenyataan ini. Bisa saja mereka putus asa; bisa juga
menyebabkan mereka takut dam pesimis menjalani - kehidupan ini
karena mungkin almarhum adalah orang yang selama ini menopang
kehidupan keluarganya. Karena itu lebih penting mendoakan
keluarqa yang ditinggalkan agar Tuhan memberikan kekuatan dan
penghiburan bahkan kemampuan melanjutkan hidup setelah
kehilangan orang yang dikasihinya.
Penutup: Bagaimana Bersikap?
Uraian singkat di atas menunjukkan bahwa pergumulan bagaimana
bersikap di depan peti jenazah sebenarnya bukanlah masalah
teologis melainkan kebanyakan masalah etika pergaulan dalam
bermasyarakat. Lebih banyak bagaimana menghormati dan
menunjukkan bahwa keluarga yang ditinggalkan tidaklah seorang
diri, merasakan kehilangan dan kesedihan tinimbang mengurusi
almarhum/ah.
Oleh karena itu, beberapa saran untuk menolong kita bersikap
ketika pergi melayat dan berada di depan peti jenazah adalah
sebagai berikut:
1. Apabila kita merasa perlu untuk melihat almarhum/ah yang
berada di dalam peti jenazah; pandanglah jasadnya dan
kenanglah kehidupannya atau kenangan-kenangan kita bersama
almarhum/ah.
2. Sebagai penghormatan terakhir kepada almarhum/ah atau
menunjukkan dukungan kita kepada keluarga almarhum/ah, ikutlah
memberikan minyak wangi ke dalam peti jenazah yang biasanya
telah disediakan oleh keluarga.
3. Apabila kita merasa perlu untuk memberikan dukungan kepada
keluarga melalui doa, bisa saja kita berdoa di samping peti
jenazah bersama keluarga; atau kita berdoa bersama di tempat
duduk yang telah disediakan keluarga. Tentu saja isi doa kita
ditujukan untuk keluarga yang ditinggalkan agar Tuhan
menguatkan dan menghibur mereka.
Bisa saja Anda menambahkan saran-saran ini agar kita tidak
canggung bersikap ketika harus melayat daa menghibur ketuarga
dari orang yang telah meninggal. Dan semoga tulisan singkat
ini tidak lagi membuat bingung kalau Anda masuk dalam suasana
perkabungan.
|