|
A. Makna doa
Doa adalah sesuatu yang sangat biasa dan sesehari. Seumpama
udara yang kita hirup. Setiap orang tahu apa itu doa. Tetapi
kenyataannya tidak sedikit orang yang salah memahami tentang
doa, lantas tersandung karena doa. Maka, mari kita bicara
tentang makna doa. Apa itu doa?!
Pertama, doa bukan alot untuk memaksakan kehendak kita
kepada Tuhan. Doa bukan mantera. Betul, Tuhan Yesus dalam
Matius 7:7 mengatakan, "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu;
carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan
dibukakan bagimu." Tetapi ayat itu tidak terhenti sampai di
situ. Pada ayat 11 Tuhan Yesus juga mengatakan, "Bapamu yang
di sorga akan memberikan yang baik kepada mereka yang
meminta-Nya." Yang baik tidak selalu itu yang kita minta, dan
yang kita minta belum tentu itu yang baik.
Jadi memang tidak selalu doa kita dikabulkan. Dalam Alkitab
juga ada beberapa doa yang tidak terkabul. Musa yang meminta
supaya bisa memasuki tanah perjanjian, tetapi Tuhan hanya
mengi jinkannya melihat dari jauh (Ul. 34:4). Paulus yang
berdoa supaya disembuhkan dari penyakitnya, tetapi Tuhan
menjawab: "Cukuplah kasih karunia-Ku kepadamu" (2 Kor. 12:9).
Dan Tuhan Yesus sendiri yang di Getsemani memohon agar cawan
penderitaan berlalu daripada-Nya, tetapi yang terjadi Dia
harus meminumnya juga (Mat. 26:42).
Kedua, doa seringkali tidak melepaskan kita dari
masalah, tetapi doa dapat memberi kita kekuatan untuk
menghadapi masalah itu. Paulus tetap harus hidup dengan
penyakit dan kelemahan fisiknya, tetapi ia mampu menjalaninya
dengan tegar, tidak tenggelam atau hanyut dalam
keputusasaan. Tuhan Yesus tetap harus melewati jalan
perderitaan, via dolorosa, tetapi berkat doa Dia dapat
melaluinya dengan hati teguh dan dalam penyerahan diri kepada
Allah Bapa-Nya di Sorga.
Kalau diibaratkan, begini: kita sedang berjalan, lalu di depan
kita menghadang sebuah gunung yang tinggi. Doa seringkali
tidak membuat gunung itu lari dari hadapan kita. Tetapi doa
dapat memberi kita kekuatan untuk mendakinya.
Ada cerita tentang seorang tua yang sedang naik pesawat
terbang. Di sebelahnya duduk seorang pemuda. Ketika sudah
berada di angkasa, pesawat yang mereka tumpangi terbakar.
Orang tua itu serta merta melipat tangannya dan berdoa. Tetapi
si pemuda mengejeknya, "Apa artinya doa dalam keadaan seperti
ini? Apa dengan berdoa kita ini lantas selamat?" Orang tua itu
tersenyum dan menjawab, "Anak Muda, doa barangkali tidak
mengubah apa-apa dan kita tetap akan terhempas ke bumi. Tetapi
dengan berdoa, paling tidak saya tahu kepada siapa saya pergi."
Ketiga, doa adalah landasan hidup kita. Doa bukan jalan
terakhir. Doa harus menjadi yang pertama dan utama, langkah
awal ketika kita hendak memulai sesuatu di mana pun dan kapan
pun.
Jadi keliru kalau kita baru ingat berdoa hanya selagi butuh
atau kepepet. Juga keliru, kalau kita baru berdoa setelah
usaha lain-lain tidak berhasil. Itu sama saja dengan
memperlakukan Tuhan sebagai penjaga gudang. Tempatnya di pojok,
dipanggil sesekali kalau lagi membutuhkan. Tetapi kalau ada
apa-apa yang tidak sesuai dengan harapan dan keinginan, kita
langsung memprotes dan marah.
Oleh karena itu, sebelum kita menyalahknn Tuhan, kecewa dan
menyesali Tuhan, baiknya tanyakan dulu pada diri sendiri:
Apakah kita sudah memperlakukan Tuhan dengan semestinya?
Keempat, doa bukan sekedar soal kata-kata, tetapi juga
soal tindakan. Terwujudnya sebuah doa seringkati merupakan
kerja sama antara anugerah Tuhan dan usaha kita. Percuma,
misalnya, kita berdoa supaya terhindar dari pencobaan, tetapi
kita terus nyerempet-nyerempet bahaya. Percuma kita berdoa
supaya mendapat pekerjaan, tetapi kita tidak mau mencarinya.
Percuma kita berdoa supaya orang-orang miskin ditolong, tetapi
kita sendiri tidak mau menolong orang yang di depan
jelas-jelas membutuhkan bantuan.
Ada seorang pemuda yang protes kepada Tuhan, kelika melihat
seorong anak gelandangan yang tengah kelaparan di pinggir
jalan. "Tuhan, kenapa Engkau membiarkan kemalangan menimpa
anak itu?" serunya. Lalu Tuhan menjawab, "Tetapi Aku sudah
mengirimkan kamu."
8erdoa dan berusaha ibarat dua sisi dalam satu mata uang yang
sama; dapat dibedakan, tetapi tidak dapat dipisahkan.
Terkabulnya sebuah doa kerapkali merupakan gabungan antara
anugerah Allah dan upaya kita. Seperti kalau kita sakit, kita
pergi ke dokter. Dokter memberi nasihat ini dan itu. Tetapi
kalau kita tidak melaksanakannya, ya percuma saja.
Itulah doa. Berdoa berarti mempercayakan seluruh pergumulan
dan hidup kita kepada Tuhan. Karena itu doa harus dilandasi
dengan penyerahan diri kepada Tuhan, dan keyakinan bahwa Tuhan
mengetahui apa yang terbaik buat kita. Doa juga harus diiringi
dengan upaya.
B. Bagaimana Berdoa
Doa artinya komunikasi dengan Tuhan. Pengertian ini sudah umum
kita ketahui. Sejak Sekolah Minggu kita sudah diajar begitu.
Hanya apa maknanya kerap kurang kita sadari dan hayati.
Sehingga pengertian itu menjadi sekadar hafalan di luar kepala.
Tanpa makna apa-apa.
Lalu apa yang harus kita pahami dengan pengertian tersebut?
Pertama, komunikasi tidak selalu berupa untaian
kata-kata yang diucapkan. Kita dapat menjalin komunikasi
dengan orang-orang yang dekat dengan kita - misalnya suami,
istri, orang tua, atau anak kita - tanpa harus ngomong.
Ketika sama-sama berdiam diri dalam suasana tertentu kita
tetap dapat saling berkomunikasi. Karena doa adalah komunikasi
dengan Tuhan, maka itu berarti berdoa kita tidak selalu
berarti berbicara; mengutarakan ini dan itu.
Ada saatnya kita kehabisan kata-kata. Kita tidak tahu harus
ngomong apa lagi dalam doa kita. Dalam keadaaan seperti itu
daripada kita memaksakan diri bicara padahal tidak tulus,
lebih baik kita berdiam diri saja dalam suasana hening.
Rasakan kehadiran Tuhan; betapa dekat-Nya Dia. Hayati
penyertaan dan kasih Tuhan; betapa baiknya Dia. Tidak usah
ngomong apa pun. Itu sudah doa. Mengenai kebutuhan kita, tidak
usah kuatir karena Tuhan juga tahu (Mat. 6;8).
Baik juga kalau sambil diiringi dengan lagu rohani dari kaset.
Lalu alami sungguh-sungguh lagu itu. Kita renungkan syairnya.
Resapi melodinya. Doa kita akan terasa sangat berbeda. Kerap
karena kita menganggap berdoa berarti berbicara, lalu kita
jadi sibuk ngomong. Kita lupa untuk "mendengarkan" Tuhan.
Kedua, berkomunikasi adalah kebutuhan kita. Bayangkan
kalau kita sama sekali tidak diperbolehkan berkomunikasi
dengan orang lain; betapa akan sangat menderitanya kita. Di
Afrika konon ada sebuah suku yang melaksanakan hukuman mati
bagi warganya dengan cara mengusir dan mengucilkan ia dari
komunitasnya; tidak boleh seorang pun melakukan kontak
dengannya. Apa yang akan terjadi? Si terhukum akan merana
sendiri dan mati kesepian.
Jadi doa bukanlah sekadar kewajiban, panggilan atau undangan.
Doa merupakan kebutuhan kita. Seperti kita membutuhkan udara
untuk hidup jasmani, begitu juga kita membutuhkan doa untuk
hidup rohani. Tidak salah kalau dikatakan doa adalah napas
orang kristiani. Tanpa napas tubuh jasmani kita mati, tanpa
doa tubuh rohani kita kering dan mati
pula. Maka, kalau kita merasa hidup ini hampa, kosong, jangan-
jangan kita memang kurang berdoa.
Ketiga, karena doa adalah komunikasi dengan Tuhan, maka
alamat atau tujuan doa itu adalah Tuhan. Ini penting disadari,
sebab kerap sadar atau tidak sadar sekalipun kita berdoa
kepada Tuhan, tetapi pikiran dan hati kita malah terarah
kepada orang-orang di sekeliling.
Contoh, kadang-kadang ada orang yang mengaku tidak bisa berdoa
di depan umum. Alasannya grogi, takut kata-katanya tidak bagus
nanti ditertawakan. Tetapi kalau berdoa sendiri atau dalam
hati dia bisa. Kenapa begitu? Karena pikirannya lebih terarah
kepada orang-orang yang di sekitar dia. Bukan kepada Tuhan.
Padahal doa bukan soal kata-kata bagus atau puitis. Doa soal
ketulusan dan kesungguhan.
Ada cerita, seorang anak sangat dimanjakan oleh neneknya. Apa
yang dia minta selalu diberi. Sekali waktu anak itu berdoa di
kamarnya, "Tuhan, berikanlah kepada saya mobil-mobilan yang
kemarin saya lihat di toko mainan." Suaranya sangat keras
sampai kedengaran ke halaman depan.
Ibunya yang mendengar menegur dia. "Nak, kalau berdoa jangan
keras-keras begitu. Cukup dalam hati, Tuhan pasti mendengar
kok "
"Iya, bu, berdoa dalam hati Tuhan mendengar," jawab si anak
kalem, "Tetapi bagaimana nenek bisa mendengarnya juga."
Contoh lain, orang Yahudi mempunyai aturan doa yang ketat dam
kaku. Mereka memiliki waktu-waktu khusus untuk berdoa.
Biasanya sehari lima kali; dua kali sebelum dan sesudah
matahari terbenam. Lalu tiga kali Iainnya pk. 9.00, pk. 12.00,
dan pk. 15.00. Sikap mereka berdoa juga sangat atraktif:
berdiri dengan kedua tangan direntangkan ke atas kepala.
Dengan cara dan aturan serupa ini maka doa mudah beralih
tujuannya. Bukan untuk berkomunikasi dengan Tuhan, tetapi
supaya dipuji orang. Banyak dari mereka yang pada waktu-waktu
itu secara sengaja berada di tempat ramai; pasar atau
ujung-ujung jalan. Sehingga pas waktunya berdoa, mereka bisa
berdoa dan orang-orang lain bisa melihatnya. Lalu memuji
mereka sebagai orang saleh.
Karena itu Tuhan Yesus pun berkata ” Dan apabila kamu berdoa,
janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka
mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan
pada tikungan-tikungan ,jalan raya, supaya mereka dilihat
orang" (Mat. 6:5).
Lalu lanjut-Nya, "Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam
kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada
di tempat tersembunyi" (Mat. 6:6). Maksudnya di sini tentu
bukan harafiah, kalau berdoa harus di dalam kamar yang
terkunci rapat. Bukan begitu. Tetapi biarlah doa kita
betul-betul menjadi sebuah komunikasi pribadi dengan Tuhan.
(Nantikan artikel lainnya!)
|