|
Kata Pengantar
Bagi orang-orang Kristen yang tinggal di Jakarta dan kota-kota
besar lainnya di Indonesia, Alkitab merupakan sesuatu yang
mudah dan murah untuk dimiliki. Namun, kenyataan tersebut
tidak berlaku di semua tempat di Indonesia. Di beberapa daerah
di Indonesia, masih banyak arang Kristen yang kesulitan
memperoleh Alkitab. Kalaupun ada, mahal harganya.
Sekalipun orang-orang Kristen di kota-kota besar telah
dibekali dan membekali diri dengan Alkitab, tidak semuanya
telah sungguh-sungguh membaca Alkitabnya. Padahal kesempatan
ia memiliki Alkitab sendiri sangatlah besar, dibandingkan
saudara-saudaranya di daerah yang lain.
Ada banyak faktor penyebab mengapa orang-orang Kristen di
kota-kota besar tidak membaca Alkitabnya secara rutin. Ada
faktor kemalasan. Ada yang beralasan sibuk dengan kegiatan
sehari-hari. Ada juga yang beralasan tidak tahu cara membaca
Alkitab dengan benar. Ada juga yang mengalami kesulitan dalam
memahami berita Alkitab dari masa lalu untuk diterapkan pada
masa kini. Dan sejumlah alasan lainnya.
Pada kesempntan kali ini, Buletin Pembinaan akan membahas
tentang Saat Teduh. Topik ini sengaja dipilih untuk membekali
warga jemaat dengan pengetahuan praktis untuk melakukan saat
teduh, baik secara pribadi maupun berkelompok. Selain itu,
diharapkan warga jemaat termotivasi untuk melakukan saat teduh
secara rutin.
Pengertian dasar saat teduh
Jika ditinjau dari segi makna kata, maka istilah "saat teduh"
menunjuk pada segi waktu dan juga suasana atau keadaan. Saat
teduh adalah masa di mana suasana/keadaan yang terjadi
bersifat teduh dan tenang. Dengan pengertian tersebut, tentu
ada banyak saat teduh dalam hidup kita. Misalnya: sebelum
tidur di malam hari, sewaktu bangun pagi-pagi sekali, sewaktu
sendirian di rumah peristirahatan, setelah mendengarkan kotbah
dalam kebaktian Minggu dsb.
Pada perkembangan selanjutnya, istilah "saat teduh" itu
dipakai untuk menunjuk pada waktu di mana orang Kristen
menenangkan diri dalam masa yang teduh dan tenang untuk
membaca Alkitab dan merenungkannya. Beberapa puluh tahun yang
lalu, banyak orang Kristen yang memakai buku renungan berjudul
"Saat Teduh" sebagai alat bantu merenungkan Firman Tuhan. Oleh
karena itu, banyak orang yang kini menyebut Saat Teduh
terhadap tindakan membaca, merenungkan isi Alkitab dan berdoa.
Jadi, dapat dikatakan bahwa Saat Teduh itu adalah kegiatan
orang percaya dalam membaca, merenungkan Firman Tuhan don
berdoa yang dilakukan dalam masa yang suasananya teduh dan
tenang.
Mengapa bersaat teduh?
Barangkali ada yang bertanya,"Mengapa saya harus bersaat teduh?"
Sekilas; mungkin pertanyaan itu terdengar bodoh. Tetapi,
pertanyaan itu baik untuk ditanyakan dan dipertanyakan.
Mengapa? Karena banyak orang yang saat ini masih membeo.
Melakukan apa yang disuruhkan orang kepadanya tanpa bersikap
kritis dan yang parah adalah ketika ia tidak tahu untuk apa ia
melakukannya.
Pertanyaan itu baik, karena mendorong kita untuk mencari tahu
alasan mengapa orang Kristen harus bersaat teduh. Alasan
pertama adalah bahwa kita harus bersyukur kalau sampai dengan
saat ini, kita masih memiliki kesempatan untuk memiliki
Alkitab sendiri. Ada banyak orang Kristen yang tidak bisa
membeli Alkitab. Bahkan ada juga banyak orang Kristen yang
harus sembunyi-semburryi dalam mencari dan membaca Alkitab (mis:
orang Kristen di Republik Rakyat China).
Alasan kedua, kita harus bersyukur bahwa Alkitab pada masa
kini ditulis dalam bahasa yang kita mengerti. Bahkan, kini
tersedia banyak terjemnhan Alkitab ke dalam berbagai bahasa
yang dapat kita manfaatkan untuk memperkaya pembacaan kita
terhadap Firman Tuhan. Bukan berarti sejak dulunya sudah
begitu. Dulu, Alkitab hanya boleh dibaca oleh para pastor dan
ditulis dalam Bahasa Latin, yang tidak populer di kalangan
umat kebanyakan.
Martin Luther, seorang tokoh reformator, menilai situasi
tersebut tidaklah sehat. Oleh karera itu, ia coba
menerjemahkan Alkitab ke dalam Bahasa Jerman, sehingga Firman
Tuhan itu bisa dibaca, dikenal dan juga dilakukan oleh umat.
Upayanya itu diikuti oleh yang Iainnya, sehingga kini muncul
Alkitab dalam berbagai bahasn. Alkitab menjadi dekat dengan
manusia, karena ia ditulis dalam bahasa yang bisa kita
mengerti. Bukankah itu adalah anugerah?
Alasan ketiga, karena Alkitab itu memiliki banyak fungsi yang
baik untuk membekali kehidupan orang percaya, terutama ketika
saat ini problematika kehidupnn yang kita hadapi bertambah
luas dan kompleks. Dalam 2 Tim. 3:16, diungkapkan beberapa
fungsi dari Alkitab, yaitu:
o Mengajar. Apa yang diajarkan oleh Alkitab?
Tentu saja kita dapat belajar tentnng Allah yang menyatakan
diri, karya dan kehendak-Nya sampai saat ini kepada umat
manusia. Kita pun dapat belajar tentang respon manusia, baik
yang positif maupun negatif, terhadap Allahnya.
o Menyatakan kesalahan Di dalam Alkitab terdapat
kebenaran yang sifatnya universal dan kekal. Oleh karena itu,
dengan membaca yang benar (Alkitab), maka kita dapat tahu apa
yang salah.
o Memperbaiki kelakuan. Dengan mengetahui apa
yang salah, maka kita diajak untuk memperbaiki kelakuan kita
Tidak hanya kelakuan bahkan, tetapi juga pola pikir dan tutur
kata kita juga.
o Mendidik orang dalam kebenaran. Ini adalah
fungsi yang tidak kalah pentingnya. Sebagai orang percaya,
kita diharapkan untuk setia pada kebenaran dan karenanya
berupaya untuk hidup dalam kebenaran itu. Alkitab dapat
menolong kita untuk mengenal kebenaran dan mendidik kita untuk
setia pada kebenaran.
Saat teduh pribadi dan kelompok
Berdasarkan pengertian di atas, maka saat teduh pada dasarnyan
dapat kita lakukan secara pribadi ataupun berkelompok. Tentu
saja itu dilakukan berdasarkan kebutuhan. Bagi mereka yang
belum berkeluarga, tentu bersaat teduh dilakukan secara
pribadi. Kalaupun dilakukan secara berkelompok, ia dapat
melakukannya bersama orang tua atau teman-temannya.
Ada juga orang yang bersaat teduh secara berkelompok, misalnya:
bersama keluarga, kelompok tumbuh bersama, teman-teman
sekantor, dsb. Bersaat teduh secara berkelompok memiliki nilai
lebih dibandingkan saat teduh pribadi, karena di dalamnya,
kita bisa saling berbagi tentang Firman Tuhan, pengalaman
hidup dsb., sehingga hal itu dapat saling memperkaya. Bukan
berarti saat teduh pribadi itu nilainya kurang. Tidak. la
tetap berharga untuk dilakukan.
Bagi mereka yang telah berkeluarga, sangatlah baik jika saat
teduh dilakukan secara berkelompok. Selain nilai lebih di atas,
saat teduh keluarga juga dapat mempererat ikatan kekeluargaan
dan kebersamaan di antara sesama anggota keluarga. Di situlah
wadah dan kesempatan kita dapat saling berkomunikasi,
menguatkan dan juga bertumbuh.
Waktu dalam bersaat teduh
Sebenarnya tidak ade waktu yang paling baik dalam bersaat
teduh, karena pada dasarnya kita dapat membaca dan merenungkan
Firman Tuhan kapan saja. Sekalipun demikian, pemilihan waktu
yang tepat akan sangat menentukan proses saat teduh yang kita
lakukan.
Kalau begitu, kapan waktu yang tepat itu? Tentu itu tergantung
dari diri kita masing-masing. Yang penting, ada suasana teduh
dan tenang saat kita bersaat teduh. Suasana yang demikian akan
sangat menolong kita untuk berkonsentrasi dan mendapat sesuatu
dari Firman yang kita baca (bnd. Mat. 6:6).
Dalam Mrk. 1:35, dikisahkan tentang Tuhan Yesus yang berdoa
pada pagi-pagi sekali sewaktu hari masih gelap. Tempat yang
dipilih pun adalah tempat yang tenang. Di situlah Ia dapat
berkonsentrasi dalam bersaat teduh untuk mendapatkan kekuatan
spiritual guna melanjutkan karya-Nya di dunia.
Bukan berarti bahwa kita harus bersaat teduh pada pagi-pagi
sekali, sama seperti Tuhan Yesus. Bagaimana dengan mereka yang
harus pergi ke kantor pagi-pngi sekali? Kapan waktu mereka
bersaat teduh? Lagipula, Tuhan Yesus juga biasa berdoa pada
malam hari, saat suasananya mendukung (lih. Mat. 14:23).
Oleh karena itu, yang penting bukan kapannya, tetapi waktu
yang tepat; tepat karena ada suasana teduh dan tenang, tepat
karena kita bisa dengan sungguh-sungguh membaca Alkitab untuk
mencari tahu apa kehendak-Nya bagi kita, tepat karena kondisi
fisik kita masih memungkinkan untuk berdoa kepada-Nya.
Kalau waktu yang tepat itu adalah pagi hari, ya... lakukanlah
pada pagi hari. Kalau waktu yang tepat itu adalah malam hari,
sebelum tidur, ya... lakukanlah pada malam hari. Yang penting,
kita tetap melakukan saat teduh di waktu yang tepat.
Tempat bersaat teduh
Sejalan dengan pembahasan di atas tentang waktu dalam bersaat
teduh, maka tidak ada tempat yang paling baik dalam bersaat
teduh. Dalam Alkitab, Tuhan Yesus berkali-kali berdoa di
sebuah bukit, di tempat yang sunyi (bnd. Mat. 14:23; Mrk.
b:46; Luk. 6:12). Mengapa bukit menjadi tempat favorit-Nya?
Yang pasti, bukit dipilih bukan karena tempat itu lebih tinggi
dan karenanya lebih dekat ke sorga atau dengan kata lain
doanya lebih cepat didengar oleh Allah Bapa.
Tempat itu dipilih karena menyediakan suasana yang teduh dan
tenang. Suasana itu adalah prasyarat bagi saat teduh yang baik
dan berkualitas.
Lagipula, dalam kesempatan yang lain, Tuhan Yesus menyuruh
para pendengar-Nya untuk berdoa di kamar yang terkunci (Mat.
6:6). Di balik pengajaran itu, sebenarnya terkandung pemahaman
bahwa saat teduh itu harus dilakukan dalam suasana yang teduh,
tenang, serta bukan dalam semangat untuk memamerkan kepada
orang lain bahwa diri kita adalah orang yang saleh, yang ditun
jukkan dengan seringnya berdoa (bersaat teduh).
Jadi, dapat dikatakan bahwa tempat yang baik dalam bersaat
teduh adalah tempat yang menyediakan suasana teduh dan tenang.
Oleh karena itu, kita tidak terikat pada kamar di rumah kita.
Kita juga bisa bersaat teduh di villa saat retreat pribadi
misalnya. Hal yang penting adalah bahwa tempat itu haruslah
mendukung kita bersoat teduh secara berkualitas.
Langkah-langkah praktis dalam bersaat teduh
Sebenarnya, ada sejumlah langkah praktis untuk melakukan saat
teduh, misalnya: diawali dan diakhiri dengan nyanyian. Tetapi
secara umum, bersaat teduh dapat dilakukan dengan langkah
demikian:
a. Berdoalah. Sebelum kita membaca dan merenungkan
Firman Tuhan, diharapkan kita berdoa terlebih dahulu. Kita
berdoa supaya Roh Kudus memberi penerangan kepada kita,
sehingga bagian Alkitab yang kita baca sungguh-sungguh memberi
arti dan makna bagi hidup kita. Kita pun dimampukan untuk
memahami berita Alkitab dari masa lalu untuk diterapkan pada
masa kini. Jadi, untuk memahami isi Alkitab diperlukan bantuan
Allah sendiri, tidak bisa dan tidak boleh bergantung pada
pengertian diri sendiri.
b. Bacalah. Ada baiknya, kita memiliki daftar bacaan
harian. Saat ini, ada daftar bacaan harian yang diterbitkan
oleh LAI selama setahun (biasanya juga dicantumkan dalam warta
jemaat mingguan). Atau, kalau kita tidak mempunyainya, kita
dapat memanfaatkan daftar bacaan yang tertera dalam buku
renungan yang biasa kita pakai (spt: Saat Teduh, Renungan
Harian, Santapan Harian, dsb.). Jika kita sudah tahu bagian
Alkitab mana yang harus kita baca, maka kita dapat segera
membacanya. Dalam membaca Aikitab, tentu kita tidak boleh
tergesa-gesa, sehingga kita tidak bisa menangkap maknanya.
Membaca Alkitab tidak sama seperti membaca buku komik, yang
dapat dibaca sekilas saja.
c. Renungkanlah. Seusai kita membaca Alkitab, ada
baiknya kita merenungkan terlebih dahulu hal-hal di bawah ini.
Ada baiknya kita tidak langsung membaca buku renungan yang
kita punyai. Buku itu hanya menolong kita saja. Oleh karena
itu, yang penting adalah proses pemaknaan secara pribadi
terhadsp teks Alkitab yang kita baca. Pertanyaan-pertanyaan di
bawah ini dapat menolong kita untuk merenungkan teks Alkitab
itu secara pribadi, yaitu:
o Apa saja yang kubaca. ada peristiwa apa? Hal
apa yang menarik? Siapa yang menjadi tokoh atau pusat berita?
Adakah kaitan dengan ayat atau perikop sebelumnya?
o Apa pesan yang Allah sampaikan kepadaku melalui nas
tadi. adakah janji terungkap di sana? Apakah Allah
memberi peringatan dalam ayat itu? Adakah teladan yang bisa
kita pelajari? Dst.
o Apa responku adakah hal-hal spesifik dalam
hidupku kini yang disoroti oleh pesan Firman Tuhan tsb.? Apa
responku terhadap firman itu agar menjadi bagian dari hidupku?
d. Bandingkanlah hasil perenungan pribadi kita dengan
buku renungan yang kita miliki. Kalau ternyata hasilnya
berbeda, jangan kecil hati. Bukan berarti kita salah dalam
memahami pesan Firman Tuhan. Perbedaan itu justru memperkaya
pemahaman yang bisa kita dapat dari teks Alkitab yang dibaca.
Lagipula, setiap orang dewasa harus memiliki perjumpaan secara
pribadi dengan Tuhan melalui Alkitab yang ia baca. Dan
pengalaman perjumpaannya itu adalah sahih.
e. Berdoalah kembali di akhir perenungan kita. Kita
berdoa supaya pesan Firman Tuhan itu dapat terus kita ingat
dan lakukan. Kita pun boleh mendoakan berbagai hal lainnya,
spt: kegiatan di sepanjang hari yang akan kita lalui (kalau
saat teduh dilakukan pagi hari); kegiatan yang sudah kita
lakukan (pada malam hari); keluarga yang kita kasihi dsb.
f. Periksalah apakah kita sudah melakukan pesan Firman
Tuhan itu dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita bersaat teduh
di pagi hari, maka kita dapat memeriksa diri kita pada malam
harinya. Jika kita bersaat teduh di malam hari, maka kita
dapat memeriksa diri pada keesokan malamnya saat kita bersaat
teduh kembali. Langkah ini menjadi penting, sebagai proses
evaluasi diri dan juga mengingatkan kita untuk terus
termotivasi melakukan dan memberlakukan Firman Tuhan dalam
kehidupan sehari-hari.
Catatan penutup
Bersaat teduh bukanlah sebuah tindakan yang sekali jadi, yang
dengannya kita dapat langsung mengerti apa kehendak Tuhan bagi
kita. Ia adalah proses yang harus kita lakukan secara
berkesinambungan. Oleh karena itu, bersaat teduh sebaiknya
dilakukan secara kontinyu, sehingga dengan demikian kita
semakin akrab dengan Alkitab dan yang lebih penting adalah
kita menjadi peka akan apa yang menjadi kehendak-Nya untuk
kita lakukan dan berlakukan. Soli Deo Gloria (= segala
kemuliaan hanya bagi Allah)
(Nantikan artikel lainnya!)
|