|
Pengantar
Saat ini, saudara-saudara kita yang beragama Islam tengah
melakukan salah satu rukun Islam, yaitu puasa
(1)
, menyambut datangnya hari Idul Fitri.
Bagi umat Katolik, biasanya puasa atau pantangan (yaitu tidak
melakukan atau makan dan minum sesuatu yang disukainya)
dilakukan pada Masa Raya Paskah, yang berlangsung selama 40
hari. Masa ini dimulai dari Hari Rabu Abu, sebelum hari Minggu
Sengsara I.
Sementara itu, bagi orang Kristen, puasa bukanlah sesuatu yang
asing sebenarnya, sekalipun ada gereja-gereja yang tidak
mengharuskan warga jemaatnya untuk berpuasa. Hal ini
disebabkan karena belum adanya pemahaman yang utuh tentang
puasa, sehingga seringkali muncul pertanyaan sbb: Mengapa kita
sebagai orang Kristen tidak (mengharuskan) mempraktikkan puasa?
Kalau ada yang mau berpuasa, apa saja yang harus dilakukan dan
berapa lama waktunya?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang biasanya mengemuka dalam
hidup keseharian dan akan dibahas bersama dalam Buletin
Pembinaan edisi ke-7 ini. Pokok bahasan ini pernah disampaikan
dalam Pemahaman Alkitab Jemaat pada bulan Maret yang lalu.
Praktik Puasa dalam Perjanjian Lama
Berpuasa dalam Alkitab pada umumnya berarti tidak makan dan
tidak minum selama waktu tertentu (band. Est. 4:16; Kel. 34:28
– tidak makan dan minum), bukan melulu menjauhkan diri dari
beberapa makanan tertentu. Dalam PL, hanya ada satu praktik
puasa yang ditentukan, yaitu pada saat hari Pendamaian (hari
pengampunan dosa – Im 16; 23:26-32). Saat itu, seluruh bangsa
Israel merayakan hari itu dengan berpuasa dan beristirahat.
Sementara pada bagian-bagian lainnya, praktik puasa ini tidak
jelas asal perintahnya. Misalnya dalam 1 Sam. 7:6 ketika
Israel menghadapi Filistin, mereka mengaku dosa dan berpuasa.
Ketika Nehemia mendengar situasi Yerusalem, ia berdoa dan
berpuasa (Neh.1:4). Yoel menyuruh umat bertobat dan berpuasa (Yl.
2:12).
Puasa ini kadang-kadang bersifat perseorangan (mis: 2 Sam.
12:22) dan kadang-kadang bersama (Hak. 20:26; Yl. 1:14).
Selain kewajiban hukum agama, biasanya ada dua alasan
seseorang atau sekelompok orang berpuasa, yaitu: bukti
lahiriah dukacita (1 Sam. 31:13; Est. 4:3; Mzm. 35:13-14) dan
pernyataan pertobatan (1 Sam. 7:6; 1 Raj. 21:27; Dan. 9:3-4;
Yun. 3:5-8
(2)
). Berpuasa juga kerap kali dilakukan dengan tujuan memperoleh
bimbingan dan pertolongan Allah (Kel. 34:28; 2 Sam, 12:16-23;
2 Taw. 20:3-4; Ezr. 8:21-23). Ada juga orang yang berpuasa
demi orang lain (Ezr. 10:6; Est. 4:15-17).
Dalam praktik puasa, ada orang yang berpikir bahwa tindakannya
itu dengan sendirinya menjamin bahwa Allah akan mendengar (baca:
mengabulkan) permintaannya (Yes. 58:3-4). Untuk menentang ini
para nabi menyatakan bahwa tanpa kelakuan yang benar, tindakan
berpuasa adalah sia-sia (Yes. 58:5-12; Yer. 14:11-12; Za. 7 –
puasa disebut juga pantang). Di sini kita dapat melihat bahwa
puasa juga merupakan suatu bentuk ibadah dan para nabi hendak
meletakkan praktik puasa pada konsep ibadah yang benar: bukan
untuk membenarkan atau keuntungan diri sendiri, tapi bagaimana
ibadah itu ditampakkan dalam hidup sehari-hari: berbuat adil,
memperhatikan janda dan anak yatim dsb.
Kesimpulan sementara: praktik puasa dalam PL merupakan
suatu kewajiban hanya pada saat hari raya Pendamaian,
sementara lainnya dilakukan pada saat berduka, pernyataan
pertobatan atau memohon pertolongan Allah. Praktik puasa ini
sebenarnya dilakukan dalam relasi antara manusia dengan Tuhan.
Namun, yang juga tidak boleh dilupakan adalah relasi dengan
Tuhan itu harus berdampak positif dalam relasi dengan sesama (mis:
berlaku adil, mengasihi mereka yang menderita dsb.)
Praktik Puasa dalam Perjanjian Baru
Puasa juga dipraktikkan dalam PB, a.l: orang Yahudi (Hana,
yang mungkin berpuasa secara rutin, Luk. 2:37),
termasuk orang Farisi (beberapa orang Farisi secara ketat
melakukan puasa dua kali seminggu, yaitu pada Senin dan Kamis,
lih. Luk. 18:12)(3).
Yesus hanya sekali tercatat berpuasa dengan tidak makan dan
minum selama 40 hari lamanya (Mat. 4:2) sebagai persiapan
menghadapi godaan dan ujian. Sekalipun demikian, praktik puasa
ini tidak diperintahkan kepada murid-murid-Nya dan juga para
pendengar-Nya. Bukan berarti Yesus menolak praktik puasa,
karena toh, Ia mengajar para pendengar-Nya supaya jika mereka
berpuasa, mereka berhadapan dengan Allah bukan dengan manusia
(Mat. 6:16-18).
Demikian pula ketika Yesus ditanyai, mengapa murid-murid-Nya
tidak berpuasa, seperti murid-murid Yohanes Pembaptis dan
orang-orang Farisi yang nyata-nyata berpuasa, dalam
jawaban-Nya Ia tidak menolak puasa, tapi menerangkan bahwa
puasa baru akan mereka lakukan bila Yesus telah pergi (Mrk.
2:20). Jadi, puasa menurut Yesus bukan lagi hukum agama tetapi
kebutuhan penyiapan batin secara khusus bila bertobat dan
diperlukan dalam menghadapi masalah khusus seperti
kepergian-Nya atau dalam memerangi setan (Mat. 17:21; Mrk.
9:29).
Yesus tidak membenarkan orang Farisi yang menjalankan hukum
agama, termasuk berpuasa, yang melakukannya dengan sombong,
tetapi Ia membenarkan pemungut cukai yang kelihatannya tidak
menjalankan puasa tetapi memiliki sikap hati yang benar di
hadapan Allah (Luk. 18:9-14). Dalam Kisah Para Rasul, para
pemimpin jemaat berpuasa sebelum mereka memilih utusan Injil
(13:2-3) dan tua-tua (14:23). Hal ini menandakan, di dalam
gereja mula-mula berkembang kepercayaan akan nilai lebih dari
praktik berpuasa.
Kesimpulan sementara: dalam PB, praktik puasa juga
dikenal. Namun, ada kecenderungan orang-orang yang berpuasa
memiliki motivasi yang salah. Oleh karena itulah, Tuhan Yesus
memaknai puasa sebagai penyiapan batin secara khusus dalam
menghadapi situasi yang khusus pula. Itu pula yang dilakukan
oleh jemaat mula-mula ketika mereka memilih utusan Injil dan
mengangkat para penatua.
Puasa dan Hukum Agama
Dapat dikatakan bahwa puasa merupakan suatu ibadah. Mengapa
dikatakan ibadah? Karena di dalamnya terkandung relasi yang
intim antara orang yang berpuasa dengan Allah. Ada orang yang
berpuasa sebagai pernyataan pertobatannya. Ada juga orang yang
berpuasa karena berduka cita (sikap hati yang memandang kuasa
Allah). Ada juga orang yang berpuasa sebagai persiapan diri
menghadapi suatu tugas khusus (dari Allah). Karena puasa
merupakan suatu ibadah, maka pelaksanaannya tidaklah dapat
dipaksakan. Relasi dengan Allah adalah soal keyakinan pribadi
dan tidak ada seorang pun yang dapat mengganggu gugat hal itu.
Demikian pula dalam PL maupun PB, secara umum puasa bukan
merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh umat.
Namun, orang-orang Yahudi pasca pembuangan memahami bahwa
pengalaman pembuangan ke Babel merupakan akibat kegagalan
mereka dalam menjalankan Hukum Taurat dengan baik. Oleh karena
itulah, mereka (baca: para ahli Taurat dan pemimpin agama
lainnya) kemudian menetapkan Taurat dan hukum-hukum
tafsirannya untuk dilaksanakan dengan ketat, termasuk berpuasa.
Itulah sebabnya, orang-orang Farisi
(4) pada
zaman Tuhan Yesus mempertanyakan para murid Yesus yang tidak
berpuasa (Luk. 5:33)(5).
Namun permasalahannya adalah, jika puasa itu adalah ibadah
apakah puasa perlu dilegalkan atau diwajibkan dalam hukum
agama? Jika demikian kenyataannya, berarti relasi manusia
dengan Allah adalah sesuatu yang dapat (bahkan harus)
dipaksakan. Dari Alkitab, kita dapat melihat sejumlah catatan
bahwa ketika puasa dijadikan hukum agama, maka makna puasa
cenderung merosot sekadar suatu legalisme agama dalam bentuk
syariat lahir tanpa isi, bahkan ada yang dilakukan sebagai
suatu kesombongan diri.
Yesaya dengan jelas memberitahukan umat Israel (Yes. 58) bahwa
orang bisa saja tidak melakukan puasa lahir, tetapi yang harus
dilakukan adalah melakukan puasa batin, yaitu berpuasa dari
kelaliman, menganiaya dan memperbudak orang. Berpuasa dari
mengenyangkan diri sendiri menjadi memberi makan orang lapar,
tidak punya rumah, dan yang telanjang (band. Mat. 25:31-46).
Jadi, puasa itu pada dirinya sendiri tidak memiliki arti bila
bukan merupakan ungkapan hati yang bertobat dan merendahkan
diri di hadapan Allah.
Orang Kristen dan Puasa
Teladan yang sempurna bagi orang Kristen adalah hidup Yesus
Kristus sendiri. Kalau begitu pernyataannya, apakah jika Yesus
berpuasa, maka orang Kristen pun harus berpuasa? Pertanyaan
ini memiliki konsekuensi yang tidak kecil. Jika memang apa-apa
yang dilakukan Yesus adalah standar hidup yang juga harus
dilakukan oleh orang Kristen, maka kita jangan berhenti hanya
pada soal puasa. Tuhan Yesus menjalani kehidupan-Nya di dunia
ini dalam rangka melaksanakan misi Allah. Untuk itu, Ia rela
menjalani realitas penderitaan ketika akan disalib. Bahkan
sebelumnya, Ia pun menunjukkan kehadiran Kerajaan Allah dengan
memberi perhatian kepada orang-orang yang seringkali
dipinggirkan dan tidak mendapat tempat dalam masyarakat,
seperti: anak, perempuan, orang-orang berdosa, orang kafir,
orang sakit dsb. Itu artinya, keseluruhan hidup Yesus adalah
cerminan dari kehendak Allah: keadilan, kebenaran, kasih setia
dan damai sejahtera. Jadi, kehidupan orang Kristen pun
seharusnya meneladani kehidupan Yesus yang demikian.
Selain itu, marilah kita lihat lebih jauh pada apa yang
dikatakan Alkitab tentang kehidupan Yesus. Perlu disadari
bahwa penebusan Yesus di atas kayu salib telah menggenapi
Hukum Taurat (PL) yang bergantung pada usaha manusia
menyelamatkan diri sendiri dengan melakukan hukum agama secara
ketat (sunat, korban, sabat, puasa, halal-haram dll), menjadi
kasih karunia Allah yang diberikan kepada setiap orang yang
percaya dan bertobat (Yoh. 3:16; Ef. 2:8-10). Karunia Allah
ini menjadi sempurna dengan datangnya Roh Kudus yang akan
menguatkan dan mendiami umat percaya yang digenapi pada hari
Pentakosta (Kis. 2).
Jadi, kalau begitu apakah orang Kristen perlu menjalankan
puasa? Berdasarkan pembahasan di atas, jawabannya adalah tidak
dan ya. Orang Kristen tidak menjalankan puasa sebagai hukum
agama ritual pada waktu-waktu tertentu yang ditetapkan, dan
bisa saja puasa dilakukan sewaktu-waktu dengan sungguh-sungguh
atas kemauannya sendiri
(6).
Hal yang perlu diingat bahwa puasa adalah lambang hati yang
bertobat dan merendahkan diri di hadapan Allah
(7) .
Dan sebagaimana halnya lambang, lambang tidak berarti bila
yang dilambangkan (d.h.i pertobatan dan perendahan diri) tidak
ada. Sebaliknya tanpa lambang juga tidak menjadi soal selama
yang dilambangkan itu ada, sebab inilah hakekat puasa yang
sebenarnya.
Kesimpulan
a. Puasa adalah ibadah (atau sebentuk disiplin spritual) guna
menguasai nafsu kedagingan (“menyangkal diri”), sehingga kita
lebih dapat peka dengan kehadiran Tuhan, lebih dekat dengan
Dia.
b. Ada dua bentuk puasa yang bisa dilakukan, yaitu puasa lahir
yang dilakukan secara periodik (dengan cara pantang
makan-minum serta pantang melakukan hal-hal yang disukai) dan
puasa batin yang dilakukan secara berkelanjutan (dengan cara
pantang melakukan kelaliman, ketidakadilan, kekerasan,
ketamakan dsb.).
c. Puasa adalah panggilan, bukan kewajiban. Karena itu puasa
harus dilakukan dengan sukacita bukan karena terpaksa.
d. Puasa bukan ukuran kesalehan atau kerohanian seseorang.
Orang yang menjalankan puasa tidak berarti dia lebih saleh
atau lebih beriman dari mereka yang tidak berpuasa.
e. Puasa harus disertai dengan ketulusan hati; sebagai bagian
dari ibadah kita kepada Tuhan. Karena itu jangan berpuasa demi
mendapat pujian dari orang lain.
f. Puasa berkaitan dengan komitmen. Maka jenis dan bentuk
berpuasa (mis. Pantang makanan; minum; dan berapa lamanya
seseorang harus berpuasa) ditentukan oleh orang yang hendak
berpuasa berdasarkan komitmen pribadinya dengan Tuhan; bukan
ditentukan oleh aturan agama.
------------------------------------------------------------
1. Kata puasa berasal dari dua kata Sansekerta, yaitu: “upa”
dan “wasa”. Upa adalah semacam prefiks yang artinya dekat,
sedangkan wasa berarti Yang Maha Kuasa. Jadi upawasa, atau
yang biasa dilafalkan puasa, merupakan suatu cara untuk
mendekatkan diri kepada Tuhan. Puasa merupakan latihan mental
untuk mengubah sikap dan kejiwaan manusia
2. Praktik puasa juga dikenal oleh bangsa lain di Timur Tengah,
yaitu di Syria (Yun. 3:5-10). Rupa-rupanya puasa merupakan
sebuah kebiasaan yang berlaku juga di daerah Timur Tengah.
3. Rupa-rupanya, pada zaman Tuhan Yesus – bahkan sebelumnya,
puasa sudah dijadikan hukum agama Yahudi. Artinya adalah bahwa
puasa adalah suatu kewajiban yang harus dipenuhi oleh
orang-orang Yahudi.
4. Farisi adalah salah satu aliran dalam agama Yahudi yang
berpegang teguh pada Hukum Taurat dan begitu gigih dalam
melaksanakan Hukum Taurat dengan ketat.
5.Sebenarnya banyak pihak yang mempertanyakan hal ini, seperti:
para murid Yohanes (Mat. 9:14) dan orang Yahudi kebanyakan (Mrk.
2:18).
6. Biasanya puasa dilakukan dengan melakukan pantang terhadap
hal-hal yang disukai (bisa berupa makanan, kebiasaan spt:
merokok, belanja dsb).
7.Hal ini perlu dicamkan karena ada orang yang berpuasa supaya
keinginan dirinya terpenuhi.
(Nantikan
Seri Pembinaan selanjutnya!)
|