» Media Pelayanan Antar Jemaat, Antar Gereja, Antar Denominasi OnLine
Serba - Serbi Rohani
   
 
Fasilitas Pencarian


» Home
» Acara Hari Ini
» Gereja
» Gereja Dunia
» Permohonan Doa
» Form Konsultasi
» Solusi Problema
» Form Kesaksian
» Kumpulan Kesaksian
» Pelangi Jiwa
» Renungan Kecik
» YAMARI
» YASUMA
» PPK Tabitha
» RPUK Muara Kasih
» PA.ASIH LESTARI
» Humor
» Kartu Ucapan
» Peluang Karier
» Donasi














 

 

 

 

 

 

 

 














 











 
» Pembinaan Iman Kristen

 Seri Pembinaan Iman Kristen ini merupakan kumpulan artikel yang diambil dari Buletin Pembinaan yang diterbitkan oleh
Majelis Jemaat GKI Kayu Putih Jakarta Timur.
Topik hangat dan relevan untuk jemaat ini, dirancang oleh
Tim Pengerja GKI Kayu Putih disajikan dengan rasa syukur untuk sahabat sekalian
 

Penderitaan


Penganta
r
Rentetan musibah yang terjadi belakangan ini memunculkan tanya: Kenapa ada penderitaan? Sebegitu burukkah dunia ini?
Pertanyaan tersebut sebetulnya sudah klise. Artinya sejak zaman baheula orang sudah bertanya-tanya soal penderitaan itu. Sebab realitas penderitaan memang bukan sesuatu yang baru dikenal manusia. Dari zaman ke zaman, dari generasi ke generasi manusia selalu harus berhadapan dengan penderitaan; entah karena bencana alam, sakit penyakit, atau juga kematian.
Bisa dikatakan penderitaan – seperti halnya kegembiraan – adalah bagian yang inheren dalam hidup manusia di dunia ini.
Buletin pembinaan kali ini akan menyoroti soal penderitaan. Sekaligus ini sebagai pengantar dari Seri Pembinaan Iman Kristen (SPIK) mendatang yang akan mengupas soal penderitaan dalam kaitan dengan iman Kristen.
Selamat membaca.

Penderitaan dan Peran Serta Tuhan.
Apa peran serta Tuhan dalam penderitaan manusia? Ada yang menjawab: Penderitaan adalah ujian dari Tuhan, seperti orang yang mau naik kelas harus melewati ujian. Ada juga yang menjawab: Penderitaan adalah hukuman dari Tuhan.
Dengan musibah Tuhan hendak “menjewer” manusia agar kembali ke jalan yang benar.
Namun masalahnya, kalau betul musibah itu adalah ujian dari Tuhan, setelengas itukah Tuhan; menguji dengan mengorbankan begitu banyak orang?!! Dan kalau itu hukuman dari Tuhan, lalu siapa yang bersalah siapa yang dihukum?
“Di mana Tuhan?” Pertanyaan ini kerap muncul ketika seseorang berhadapan dengan realitas penderitaan. Pertanyaan ini bisa merupakan ungkapan ketidakberdayaan bisa juga merupakan “gugatan” terhadap Tuhan.
Bagi umat Israel dalam Perjanjian Lama penderitaan adalah ketika Tuhan meninggal
kan dan melupakan mereka. “Sion berkata: Tuhan telah meninggalkan aku, dan Tuhanku telah melupakan aku” (Yesaya 49:14).
Dalam ungkapan yang sangat ekstrim, Elie Weisel, seorang korban yang selamat dari kekejaman tentara Nazi Hitler, dalam bukunya yang berjudul “Malam” memaklum “kematian” Tuhan. “Tuhan telah mati di kamar gas, di camp konsentrasi, di tengah kerja paksa dan cuaca dingin, di tengah eksperimen sadis dokter-dokter Nazi,” begitu jeritan Weisel.
Rabbi Kushner dalam bukunya “Derita: Kutuk atau Rahmat” (buku ini merupakan tafsiran terhadap Kitab Ayub, dihubungkan dengan pengalaman Kushner sendiri ketika menghadapi kenyataan anaknya tanpa sebab menderita penyakit yang sangat mematikan, progeria) mengatakan, “Tuhan ada bersama-sama orang yang menderita. Tuhan ikut menanggung, ikut merasakan, ikut menderita. Tidak selalu Tuhan “bisa” (pakai tanda petik) mencegah terjadinya penderitaan.”

Penderitaan dan dosa manusia
Ada anggapan bahwa penderitaan itu terjadi karena dosa manusia. Jadi kalau kita susah, kita terkena musibah, kita sakit nggak sembuh-sembuh, ya itu karena kita telah melakukan atau masih menyimpan dosa.
Anggapan ini tidak salah. Tapi tidak sepenuhnya betul. Ada penderitaan akibat dosa atau kesalahan kita sendiri. Misalnya, kita pengen punya mobil, nggak sabar dan nggak mau berusaha, lalu nyolong. Ketangkap. Di penjara. Kita susah. Salahnya sendiri. Kita suka pakai narkoba, jadinya menderita, salahnya sendiri juga.
Tetapi ada juga penderitaan karena dosa orang lain. Kita tidak salah apa-apa. Misalnya, kita sedang berjalan di pinggir jalan.
Sudah betul di pinggir jalan, eh ada orang naik sepeda motor ngebut dan lagi teler. Nabrak kita. Kita masuk rumah sakit. Kita menderita. Kita nggak salah. Orang lain yang salah.
Di samping penderitaan karena dosa sendiri dan dosa orang lain, ada juga penderitaan bukan karena dosa, tetapi kita tidak tahu jawabnya apa. Misalnya seorang anak lahir cacat padahal orang tuanya sehat. Bukan salah siapa-siapa. Entah.
Dalam hidup ini memang ada banyak hal yang tidak bisa kita cari-cari jawabnya dengan akal. Misteri. Kita hanya bisa menerimnya.
Karena itu ketika penderitaan menimpa kita, cara paling baik adalah introspeksi diri. Apakah memang karena ada yang salah dari tindakan dan perilaku kita? Kalau iya, marilah kita perbaiki. Atau kalau kita sendiri tidak menemukan kesalahan dalam diri kita yang pantas menerima penderitaan serupa itu, ya  jangan juga menyalahkan diri sendiri atau mencari-cari kambing hitam. Cara terbaik terimalah, dan jalani dengan iman.
Lagipula kalau kita menengok sejarah kehidupan manusia, penderitaan itu mulai ada ketika dosa memasuki kehidupan manusia. Oleh karena itu, penderitaan akan selalu ada dalam kehidupan manusia, seiring dengan kejatuhan manusia ke dalam
dosa. Dosa itulah yang merusak kesempurnaan hidup yang semula ada.

Penderitaan dan Iman Kristen
Penderitaan melewati batas-batas iman. Artinya, entah itu orang beriman atau tidak beriman bisa saja mengalami penderitaan. Banjir, misalnya, tidak memilih-milih mana rumah orang beriman mana rumah orang tidak beriman. Kalau memang harusnya kebanjiran, semua ya kebanjiran.
Kalau begitu apa gunanya iman kalau sama-sama mengalami penderitaan? Jawabannya iman memberi perspektif yang lain. Dalam pemahaman iman Kristen Tuhan memang tidak selalu menghindarkan kita dari penderitaan, tapi Tuhan bisa memakai semua itu untuk kebaikan. “Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8:28).
Iman Kristen memandang hidup, termasuk penderitaan secara positif, yaitu tetap di bawah kendali Tuhan. “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” (Yeremia 29:11).
Dalam 1 Petrus 1: 3-12 penderitaan justru bisa menjadi sarana:
(1) Ujian atas kemurnian iman. Gampang saja kita bersyukur dan memuji-muji Allah dalam kegembiraan dan kelimpahan. Tapi iman yang sejati adalah ketika dalam susah dan derita kita masih bisa memuliakan Tuhan. 
(2) Pembinaan watak, seperi emas yang diuji kemurniaan dengan api. Apa bedanya pohon di atas gunung dengan pohon di depan rumah, sekalipun jenisnya sama. Pohon yang berada di atas gunung akarnya lebih kuat dan kokoh karena setiap hari diterpa angin kecang. Sedang pohon di depan rumah terlidungi bangunan-bangunan.
(3) Berkenaan dengan sukacita yang tidak terkatakan. Dalam himpitan penderitaan kita bisa merasakan betapa sempitnya dunia ini, beratnya beban ini. Tapi sekali penderitaan itu lewat, kita akan merasakan betapa dalamnya, lebarnya, luasnya kasih Tuhan. Seperti orang yang baru merasakan nikmatnya makan setelah mengalami lapar.

Penutup

Ulasan di atas kiranya dapat menolong kita bersikap bijak dalam menghadapi penderitaan. Beberapa hal yang perlu kita ingat apabila kita sedang mengalami pendertiaan dalam hidup kita:

1.    Orang Kristen tidak pernah kebal dari penderitaan. Bahkan Tuhan Yesus sendiri berkata, “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku.” (Mat. 16: 24). Menyangkal diri dan memikul salib adalah lambang penderitaan. Jadi orang Kristen tetap bisa mengalami penderitaan.

2.    Penderitaan bisa disebabkan oleh banyak hal, bukan melulu karena dosa atau hukuman Tuhan. Tetapi ada penyebab lainnya yang kadangkala menjadi misteri buat manusia, dan hanya Tuhan yang tahu.

3.    Lebih bijak buat kita menerima penderitaan itu sebagai bagian dari hidup dan menyikapinya sesuai dengan iman kita, daripada kita terus menyalakan diri sendiri, orang lain atau Tuhan. Orang yang tidak dapat menerima kenyataan dari penderitaan hidupnya, tidak akan pernah lepas dari penderitaan itu sendiri bahkan akan semakin menderita.

4.    Terimalah penderitaan itu dengan iman, yaitu percaya bahwa Tuhan juga ada dan bekerja bersama dengan kita saat kita menderita; ada hikmah dibalik penderitaan yang kita alami yang akan mendewasakan iman kita; hidup semakin bermakna apabila kita bisa melewati penderitaan dengan baik dan setia.

(Nantikan Seri Pembinaan selanjutnya!)
 

| A R S I P |

 

 

Sahabat Surgawi
Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja
antar denominasi OnLine

www.sahabatsurgawi.net
webmaster@sahabatsurgawi.net
Copyright © 2002, Tim Sahabat Surgawi