|
Pengantar
Buletin Pembinaan kali ini terbit dalam rangka menyambut hari
raya Paskah. Namun tidak seperti buletin-buletin sebelumnya,
yang ditulis dengan rangkaian kata dan kalimat yang
sambung-menyambung, buletin kali ini membahas berbagai topik
di sekitar Paskah dengan mengikuti urutan alfabetis dari huruf
A-Z.
Bisa dikatakan, buletin kali ini hendak menuturkan serba-serbi
tentang Paskah, mulai dari berbagai kisah yang dicatat Alkitab
menjelang dan sesudah Paskah, sampai berbagai perkembangan di
seputar perayaan Paskah.
Semoga, melalui buletin ini kita sekalian mendapat wawasan
yang utuh dan menye
luruh tentang peristiwa Paskah dan yang terlebih penting
adalah kita kembali diingat
kan akan makna dari peristiwa Paskah itu sendiri, yakni Allah
yang menyatakan cinta kasih dan kesetiaan-Nya kepada manusia.
Selamat menyambut Paskah.
A.
Ayam berkokok tiga kali. Peristiwa tersebut segera
mengingatkan Petrus akan ucapan Yesus beberapa saat sebelum
Dia ditangkap (lih Mat. 26:34,75). Ayam berkokok itu sendiri
sebenarnya mau menunjuk pada waktu terjadinya situasi itu,
yakni hari Jumat subuh. Sebelumnya dalam Perjamuan Makan
Terakhir, Petrus dengan lantang me
ngatakan bahwa tidak sekalipun dia akan menyangkal Yesus.
Peristiwa ini sebenar
nya mau mengajak umat beriman untuk bercermin perihal keadaan
spiritualnya. Apakah keputusannya mengikut Yesus sudah
dilandasi oleh motivasi yang benar, bukan karena dorongan
emosional sesaat.
B.
Barabas, yang bernama depan Yesus, adalah seorang penjahat
terkenal pada zaman Tuhan Yesus. Ia dipenjarakan karena telah
meresahkan pemerintahan Romawi. Lazim pada zaman itu
pemerintah Romawi membebaskan seorang tawanan pada hari raya
Paskah. Barangkali sama seperti di Indonesia. Ketika
peringatan 17 Agustus, maka ada tawanan yang mendapatkan
remisi, grasi, bahkan amnesti. Pontius Pilatus kemudian
menawarkan pilihan kepada orang banyak siapa yang akan dipilih
untuk dibebaskan: Yesus Barabas atau Yesus yang disebut
Kristus. Keempat Injil mencatat bahwa orang banyak yang
menyaksikan peristiwa itu serentak berteriak untuk mem
bebaskan Barabas.
Peristiwa ini sebenarnya hendak menunjuk pada penolakan
terhadap Yesus sekaligus penerimaan terhadap orang berdosa.
Hal ini mirip dengan kehidupan manusia saat ini. Ada banyak
orang yang menolak untuk percaya kepada Yesus, namun justru me
nunjukkan penerimaannya terhadap dosa.
Bangkitnya Yesus dari kematian merupakan makna dari Paskah
Kristen. Makna ini sebenarnya sejajar dengan Paskah Yahudi,
yang bermakna lewatnya bangsa Israel dari suatu proses
kematian di Mesir (Keluaran 12:1-28) (Paskah – dari kata
Ibrani pesakh yang artinya lewat). Jadi, Paskah
sama-sama dimaknai sebagai perayaan pembangkitan dari kematian.
C.
Crucifixion atau penyaliban merupakan bentuk hukuman
terberat yang berlaku pada zaman Tuhan Yesus, di samping
bentuk-bentuk hukuman lainnya yang lazim pada waktu itu,
seperti: cambuk, penjara dsb. Hukuman salib dijatuhkan
pemerintah Romawi kepada penjahat-penjahat besar yang telah
mengganggu stabilitas wilayah kekuasaan Roma.
Ketika Yesus dijatuhkan hukuman salib oleh Pontius Pilatus,
hal itu bukan disebab
kan oleh karena Yesus adalah seorang penjahat besar yang
ditangkap. Penyaliban itu lebih didasarkan pada permintaan
orang banyak yang turut mengadili Yesus (bnd. Mrk. 15:13-15).
Di mata orang banyak saat itu, Yesus dipandang telah melakukan
kejahatan besar yang setara dengan kejahatan para penjahat
yang dihukum salib. Memang menurut para ahli Taurat dan
orang-orang Farisi yang sering kali berhadap-hadapan dengan
Yesus, Yesus telah melakukan pelanggaran terhadap aturan agama
Yahudi, misalnya: menghujat Allah dan karenanya layak untuk
dijatuhi hukuman mati (lih. Mrk. 14:64).
D.
Dosa pada hakikatnya adalah ketidaktaatan dan pemberontakan
manusia terhadap Allah yang sudah merancang sesuatu bagi kita,
sudah mengarahkan kita pada sasaran yang tepat (bnd. 1 Yoh.
3:4). Oleh karena itu, dosa yang manusia lakukan sudah
sepantasnya mendapatkan upahnya, yaitu maut (Rm. 6:23). Secara
jujur kita harus mengatakan bahwa setiap orang yang berdosa
harus menanggung hukuman atas dosa yang ia lakukan. Namun
persoalannya adalah apakah ada cara yang paling tepat dan adil
untuk menebus dosa manusia?
Orang Israel dulu mempersembahkan korban untuk menebus dosanya.
Ini bukanlah sebuah cara yang adil sebenarnya. Manusia yang
berdosa, namun hewan yang dikorbankan. Namun, hal itu nyatanya
dipakai sebagai sebuah cara sekaligus simbol dari upaya
manusia melakukan penebusan dosa. Pada akhirnya, manusia
sendirilah yang seharusnya menebus hukuman atas dosa. Dan
penebusan yang paling sahih hanyalah dapat dilakukan oleh
manusia yang tidak berdosa.
Persoalannya adalah apakah ada manusia yang tidak berdosa? Ada!
Dialah Yesus! Oleh karena itu, Ia-lah satu-satunya manusia
yang mampu menebus dosa umat manusia. Dosa manusia ditebus
oleh manusia juga. Di sinilah kita dapat melihat terjadinya
keadilan; suatu keadilan yang diprakarsai Allah dan ditawarkan
kepada manusia dalam peristiwa Paskah.
E.
Eli, Eli, lama sabakhtani (bahasa Aram), artinya
“Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” Ini
merupakan salah satu ucapan Yesus di kayu salib. Ucapan ini
dapat dimengerti dalam terang ajaran Perjanjian Baru mengenai
pendamaian. Di sini kita dapat melihat bagaimana Yesus
menyamakan diri-Nya dengan manusia berdosa (bnd. Flp. 2:8).
Dalam posisi yang demikian, maka ada suatu keterpisahan antara
Allah dan manusia karena dosa. Dosa tidak lain adalah
meninggalkan Allah. Oleh karena itu, akibat dosa yang paling
hebat adalah ditinggalkan oleh Allah. Dan ketika Ia berteriak
demikian, itu adalah karena kita!
Jadi, ucapan tersebut bukanlah ekspresi perasaan kemanusiaan
Yesus yang tengah menderita disalib, karena tokh Ia
sudah pernah mengalami semua bentuk penderitaan dan kepedihan
manusiawi yang paling berat dan itu tidak membuat-Nya mengaduh.
Ucapan tersebut bukan pula ekspresi kekecewaan Yesus yang
mengharap Allah akan menghadirkan dunia baru, karena bukan itu
tujuan-Nya datang ke dunia. Bukan pula sekadar mengulangi Mzm
22:2 sebagai suatu latihan kesalehan. Teriakan itu diucap
kan seolah suatu pertanda; pertanda akan bahaya dosa dan
akibatnya, yakni diting
galkan Allah.
F
Farisi adalah salah satu aliran dalam agama Yahudi yang
terlihat sangat sering berurusan dengan Yesus. Pada umumnya
mereka berasal dari kalangan menengah, yakni para tukang dan
kaum pedagang (contoh: Paulus adalah pembuat tenda). Mereka
adalah orang-orang yang setia kepada Taurat Musa dan kepada
setiap pan
dangan dan tafsiran para rabi. Namun sayang tafsiran yang
mereka lakukan adalah penafsiran yang harfiah, sehingga
“melahirkan” aturan-aturan praktis yang kaku dalam hidup
sehari-hari bangsa Israel.
Sikap yang demikian ini didasarkan pada prapaham bahwa
peristiwa pembuangan ke Babel diakibatkan oleh kegagalan
bangsa Israel dalam taat kepada Allah. Oleh karena itu, agar
mereka tidak mengalami peristiwa buruk yang serupa itu, mereka
berusaha untuk sungguh-sungguh menerapkan ketaatan kepada
Allah melalui pelaksanaan Taurat. Hanya saja sayang ketaatan
yang mereka miliki adalah ketaatan yang mem
buta. Mereka lebih taat kepada Hukum Taurat, tafsirannya, dan
adat-istiadat Yahudi ketimbang taat pada kehendak Allah (bnd.
Mat. 15:3-6). Sehingga muncullah legal
isme dalam cara beragama mereka.
G
Getsemani (bahasa Aramnya adalah gat semen = perasan
minyak) adalah nama sebuah bukit, tempat di mana Yesus berdoa
dalam suatu pergumulan yang berat. Letaknya di timur Yerusalem,
seberang lembah Kidron dekat Bukit Zaitun (Mat. 26:30).
Getsemani adalah tempat yang disenangi Yesus dan
murid-murid-Nya sebagai peristirahatan, dan kemudian menjadi
panggung kesengsaraan, pengkhianatan Yudas, dan penangkapan
Yesus (Mrk. 14:35-52).
Sikap Kristus di Getsemani (Luk. 22:41) memelopori kebiasaan
orang Kristen untuk berlutut bila berdoa, mengingat orang
Yahudi biasanya berdoa dengan berdiri dan menengadahkan kedua
tangannya ke atas.
Golgota (bahasa Aramnya adalah gulgolta = tengkorak)
adalah nama sebuah bukit, tempat di mana Yesus disalibkan
bersama dua penjahat besar lainnya (lih. Mat. 27:33; Luk.
23:33). Letaknya di luar Yerusalem, tidak jauh dari pintu
gerbang kota dan dari jalan besar. Di dekatnya ada satu taman
dengan satu kuburan.
Tentang nama Golgota, ada 3 kemungkinan yang bisa terjadi: di
tempat itu terdapat banyak tengkorak, tempat itu adalah tempat
pelaksanaan hukuman mati, atau tempat itu sedikit banyak
menyerupai tengkorak. Saat ini, belum diperoleh kepastian
tentang tempat yang pasti dari Golgota.
H.
Haus yang dialami oleh Yesus mau menunjukkan sisi
kemanusiaan-Nya. Di sinilah kita dapat melihat bagaimana Yesus
mengalami penderitaan seorang manusia. Selain itu, sebuah
peristiwa penyaliban pada dasarnya merupakan suatu tindakan
membiarkan seseorang mati perlahan-lahan karena kehausan.
I
Imam Besar adalah pemimpin dari suatu ibadah penebusan dosa
yang dilakukan oleh orang Yahudi (bnd. Im. 16:1-34). Imam
Besar itulah yang menyembelih hewan kurban dan
mempersembahkannya di atas mezbah. Pertama-tama, ia
mempersembahkan kurban untuk penebusan dirinya (Im. 16:6; Ibr.
9:7). Baru setelah itu ia mempersem
bahkan korban penghabus dosa untuk orang-orang Yahudi. Dialah
yang menjadi pengantara Allah dan manusia. Melalui ritual
itulah, Imam Besar dan orang-orang Yahudi mendapatkan
pengampunan dosa.
Dalam Surat Ibrani, Yesus Kristus disebut sebagai Imam Besar (Ibr.
9:11). Namun berbeda dengan Imam Besar yang memimpin ibadah
penebusan dosa, Yesus Kristus sendiri yang menjadi kurban
penebusan dosa. Ia masuk ke dalam tempat yang kudus sambil
membawa darah-Nya sendiri. Jika darah lembu dan domba jantan
serta percikan abu lembu muda dapat menguduskan mereka yang
najis, maka terlebih lagi darah Yesus Kristus. Ia menyucikan
hati nurani kita dari perbuatan yang sia-sia (lih. Ibr.
9:12-14)
J.
Jumat Agung diperingati oleh orang-orang Kristen sebagai hari
kematian Yesus Kristus. Hari Jumat sebenarnya adalah hari yang
biasa, sama seperti hari-hari lainnya. Namun pada hari Jumat
yang satu ini, menjadi agung karena adanya peristiwa kematian
Yesus Kristus. Dan hal yang perlu kita sadari dan waspadai
adalah bahwa yang perlu diagungkan bukanlah harinya, melainkan
si Pembuat Peristiwa di hari itu, yakni Yesus Kristus sendiri.
K.
Kelinci, di berbagai negara dijadikan sebuah simbol dalam
perayaan Paskah. Barangkali kita bertanya, mengapa kelinci?
Kelinci itu sendiri menyimbolkan kesuburan dan kehidupan baru.
Kelinci dikenal sebagai binatang yang memiliki banyak anak.
Oleh karena sifatnya yang demikian, maka kelinci kemudian
dijadikan lambang kehidupan yang berlimpah di dalam Kristus.
L
Lewatnya bangsa Israel dari peristiwa perbudakan di Mesir
adalah makna dari pera
yaan Paskah (pesakh = melewati) dalam Perjanjian Lama.
Dalam Kel. 12:1-28, kita dapat membaca bagaimana Allah
menetapkan Paskah bagi Israel. Ketika itu, Allah hendak
bertindak untuk yang terakhir kalinya dalam upaya membebaskan
Israel dari Mesir. Untuk keperluan itu, bangsa Israel diminta
untuk bersiap diri, yakni dengan menyelenggarakan perjamuan
Paskah. Perjamuan Paskah ini dilaksanakan pada tanggal 14
bulan Nisan, yakni bulan pertama dalam penanggalan Yahudi, dan
ditetap
kan untuk dilaksanakan secara turun-temurun. Perayaan Paskah
itu sendiri menandai awal keluarnya bangsa Israel dari Mesir.
Oleh sebab itu, Paskah dirayakan oleh orang Yahudi sebagai
perayaan pembebasan bangsa Israel dari Mesir.
M
Menetapkan tanggal Paskah. Kalender yang kita miliki, memiliki
tanggal Paskah yang berbeda-beda dari tahun ke tahun. Malah,
bulannya pun berbeda-beda, kadang Paskah jatuh di bulan Maret,
kadang di bulan April. Memang, Paskah tidak mempu
nyai tanggal yang tetap seperti Natal. Bagi orang Kristen saat
ini, tanggal dan bulan Paskah yang berbeda-beda itu cukup
membingungkan. Namun tidak demikian dengan gereja mula-mula.
Sebagaimana telah disinggung di atas, bagi gereja mula-mula,
setiap hari Minggu adalah hari Paskah, karena pada hari
Minggulah Yesus bangkit dari kematian. Baru pada abad ke-2 ZB,
mulai ada jemaat-jemaat Kristen yang mengkhususkan hari Minggu
tertentu untuk dirayakan sebagai hari Paskah setahun sekali.
Namun, hal ini pun menimbulkan kebingungan. Hari Minggu yang
mana yang dipilih sebagai hari Paskah? Terhadap hal ini, ada
perbedaan yang muncul. Jemaat Kristen asal Yahudi berpendapat
bahwa hari Paskah sebaiknya ditetapkan sama seperti Paskah
Yahudi, yaitu hari ke-14 bulan Nissan, yakni bulan dalam
penanggalan Yahudi. Artinya, Paskah itu bisa jatuh pada hari
apa saja. Sementara itu, jemaat Kristen yang berasal dari
bangsa-bangsa lain berpendapat bahwa Paskah sebaiknya
dirayakan pada hari Minggu.
Untuk menjembatani perbedaan pendapat itu, pada tahun 325 ZB,
dalam sebuah konsili (= persidangan gerejawi) di Nicea,
ditetapkan sebuah patokan bersama untuk menetapkan hari Paskah.
Paskah dirayakan pada hari Minggu pertama sesudah bulan
purnama yang jatuh pada atau sesudah tanggal 21 Maret, yaitu
tanggal permulaan musim semi. Apabila bulan purnama itu jatuh
pada hari Minggu, maka Paska diraya
kan pada hari Minggu berikutnya.
Keputusan itu dipegang terus oleh semua Gereja di seluruh
dunia hingga kini. Dengan patokan itu, setiap tahun Paskah
jatuh antara tanggal 22 Maret dan 25 April. Bulan purnama itu
sendiri sudah bisa dihitung jauh-jauh hari sebelumnya,
sehingga tanggal Paskah sudah dapat dihitung sekian tahun di
muka.
N
Nazoraion adalah sebutan yang ditujukan kepada para
pengikut Yesus dari Nazareth (bnd. Kis. 24:5). Kata ini
diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi orang-orang
Nasrani, atau para pengikut Yesus dari Nazareth. Pada waktu
itu, murid atau pengikut dari seorang tokoh sering disebut
dengan nama asal atau tempat dari tokoh yang diikuti.
Kata Nazoraion digunakan oleh para pemimpin agama
Yahudi dalam kesan yang sedikit mengejek, yakni menyebut para
pengikut Yesus sebagai sebuah sebuah sekte dari agama Yahudi.
Memang pada awalnya, para pengikut Yesus yang mula-mula adalah
orang-orang Yahudi. Dan bagi pemimpin agama Yahudi, para
pengikut Yesus ini dianggap sebagai sesat, bidah atau
menyimpang dari agama Yahudi.
Kata ini kemudian terus digunakan oleh orang Yahudi dan juga
orang-orang yang berbahasa Arab. Kata itu pada kemudian hari
menjadi sebutan umum untuk orang Kristen.
O
Obrolan dua orang murid dalam perjalanan ke Emaus. Saat itu,
dua murid, yang satu bernama Kleopas, mengalami kebingungan
terhadap hal-hal yang terjadi dalam hari-hari terakhir yang
mereka jalani. Yesus, Sang Guru telah mati meninggalkan mereka.
Namun, mereka mendengar kabar bahwa kubur Yesus telah kosong.
Lalu, ketika mereka berdua berpapasan dengan Yesus, dikatakan
“Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga
mereka tidak dapat mengenal Dia” (Luk. 24:16). Salah satu
faktor utama dalam diri manusia yang dapat menghalangi orang
melihat dengan jelas adalah penderitaan, kesedihan dan
kedukaan. Hati yang gelap tidak memungkinkan seseorang melihat
karya Allah.
Dua orang murid tersebut mengalami sikap mental yang
benar-benar pesimis, sehing
ga penderitaan dipandang sebagai suatu bencana. Bagi mereka,
tidak ada lagi pengharapan. Semuanya sudah tamat. Yesus yang
mereka kenal adalah Yesus yang mati, Yesus yang tergantung di
kayu salib (lih. Luk. 24:21). Itulah yang membuat mereka putus
asa.
Bagi orang Kristen, memang iman kita adalah kepada Yesus yang
tersalib, tetapi juga Yesus yang bangkit, Yesus yang menang.
Itulah sebabnya lambang salib yang digunakan orang Protestan
adalah salib yang kosong! Karena memang Yesus sudah tidak ada
lagi di sana. Salib itu menjadi pengharapan kita! Jadi,
penderitaan yang kita alami tidak seharusnya membuat kita
putus asa apalagi kehilangan pengharapan, karena kita beriman
kepada Yesus yang bangkit, yang memberi pengharapan dan
kekuatan kepada kita!
P
Pontius Pilatus adalah salah satu dari tiga nama manusia yang
pasti disebut oleh orang Kristen pada setiap hari Minggu. Nama
manusia yang pertama adalah Yesus. Kita menyebutnya saat
mengikrarkan Pengakuan Iman Rasuli. Lalu, mengapa nama Pontius
Pilatus sampai harus disebut dalam Pengakuan Iman Rasuli? Apa
pentingnya nama itu?
Sebagaimana kita ketahui, Pontius Pilatus adalah seorang
gubernur Romawi yang memerintah di propinsi Yudea. Pada zaman
Tuhan Yesus setiap hukuman mati harus mendapat persetujuan
dari pejabat pemerintah Roma yang ada di daerah tersebut. Oleh
sebab itu, para pemimpin agama Yahudi membawa Yesus ke hadapan
Pilatus, di kediamannya.
Bagi Pilatus sendiri, tidak ada keraguan sedikit pun tentang
ketidakbersalahan Yesus (Mat. 27:23). Ia tidak dapat mengerti
mengapa orang-orang Yahudi begitu mengingin
kan kematian Yesus, namun tekanan politik dari orang-orang
Yahudi membuat ia mengizinkan penyaliban atas diri Yesus.
Pilatus takut kalau-kalau orang-orang Yahudi itu akan
melaporkan kepada pemerintah Roma bahwa Pilatus tidak mau
menghukum mati seorang pemberontak yang membahayakan
kedaulatan Roma. Pilatus akhirnya memilih tindakan melawan apa
yang semula ia pandang sebagai kebenaran. Dalam keputusasaan
ia kemudian memilih untuk melakukan hal yang salah.
Dari pemaparan tersebut, nama Pontius Pilatus sebenarnya
menjadi simbol dan peringatan bagi manusia untuk sadar akan
bahaya berkompromi dengan ketidak
benaran. Nama Pontius Pilatus hendak mengingatkan kita agar
sungguh-sungguh mau berpihak kepada kebenaran dan menolak
berkompromi dengan kejahatan.
Q
Quod scripsi scripsi (bahasa Latin), artinya “Apa yang
sudah kutulis, tetap tertulis” (Yoh. 19:22). Kalimat ini
dikatakan oleh Pontius Pilatus, ketika ia bersikeras untuk
tetap memasang tulisan Iesus Nazarenus Rex Iudeorum (=
INRI), artinya Yesus dari Nazaret Raja orang Yahudi, di atas
kayu salib. Biasanya, di atas salib, ditaruh keterangan
tentang alasan seseorang disalib. Nah, ketika di atas salib
Yesus ditaruh keterangan INRI, maka dengan spontan imam-imam
kepala orang Yahudi memprotes
nya (Yoh. 19:21). Terhadap protes tersebut, Pilatus tetap
bersikeras dengan apa yang sudah diperintahkannya untuk
ditulis.
Quo vadis Domine (bahasa Latin), artinya, “Tuan, ke
manakah tuan hendak pergi?” Ini adalah sebuah pertanyaan yang
sangat terkenal dari Petrus. Konon, ketika Petrus telah
ditetapkan untuk dihukum mati oleh Kaisar Nero di Roma, ia
melarikan diri ke luar kota Roma. Di luar pintu gerbang kota,
Petrus bertemu dengan seorang laki-laki yang hendak memasuki
kota. Maka terjadilah percakapan antara Petrus dengan
laki-laki itu:
Petrus : Tuan, ke manakah tuan hendak pergi? (Bhs. Latin :“Quo
Vadis Domine”)
Lelaki : Aku hendak pergi ke Roma untuk disalibkan (kemudian
Petrus mengenal bahwa lelaki itu adalah Tuhan Yesus sendiri).
Petrus : Tuhan, bukankah Engkau hanya sekali saja disalibkan?
Lelaki : Aku melihat engkau melarikan diri dari kematian dan
Aku hendak menggantikanmu.
Petrus : Tuhan, aku pergi. Aku akan memenuhi perintah-Mu.
Lelaki : Jangan takut, karena Aku menyertaimu.
Kemudian Petrus kembali ke dalam kota dan dengan sukacita
menjalani hukuman matinya. Ketika hendak disalibkan, ia
meminta untuk disalibkan dengan kaki ke atas dan kepala ke
bawah. Petrus mengatakan bahwa ia tidak layak disalibkan
seperti Tuhannya.
R
Romawi adalah nama sebuah kekaisaran yang tengah menguasai
hampir seluruh dunia pada zaman Tuhan Yesus. Kata “dunia” di
sini sebenarnya hendak mengacu pada daerah-daerah yang sudah
dikenal pada waktu itu, yaitu menunjuk pada daerah-daerah yang
tertera dalam peta Alkitab mengenai perjalanan pekabaran Injil
Paulus (daerah Afrika bagian utara, Asia Barat Daya / Timur
Tengah lalu sampai ke Eropa).
Bangsa Romawi memiliki agama dan sistem peribadahannya
tersendiri. Dapat dikata
kan bahwa orang-orang Romawi menyembah dewa/i dan bahkan
menyembah kaisar. Oleh karena itu, ketika kekristenan muncul
pada abad-abad pertama, keberadaannya sangat mengguncang
kekaisaran Romawi.
Banyak para pengikut Yesus yang menjadi martir karena
mempertahankan imannya kepada Yesus. Bahkan menurut catatan
sejarah, hampir seluruh murid Tuhan Yesus menjadi martir
karena mempertahankan imannya kepada Yesus (lih. F.D. Wellem,
Hidupku Bagi Kristus, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003).
Bahkan ada ratusan bahkan ribuan lainnya yang menjadi martir
karena mempertahankan imannya di hadapan penguasa-penguasa
Romawi.
S
Sengsara Kristus diperingati dalam minggu pra-paskah yang
terakhir bersamaan dengan minggu palma. Saat itu kita
diingatkan pada peristiwa Yesus memasuki kota Yerusalem dan Ia
dielu-elukan oleh orang banyak. Sebenarnya, saat itu Yesus
sedang menghadapi kesengsaraan-Nya yang sudah semakin mendekat,
bukan menghadapi penyambutan seorang raja yang menang perang.
Keledai yang ditunggangi Yesus mau menunjukkan bahwa Ia datang
bukan untuk mengangkat pedang, melainkan untuk membawa damai
sejahtera bagi kehidupan umat manusia.
T
Telur (dan kelinci) merupakan simbol dari perayaan Paskah di
berbagai gereja. Mengapa telur dijadikan suatu simbol dalam
perayaan Paskah? Rupa-rupanya, hal ini berkaitan erat dengan
kebiasaan di Timur Tengah kuno. Orang Mesir dan Persia kuno
punya suatu kebiasaan menghias telur yang kemudian
menukarkannya dengan temannya. Kebiasaan ini kemudian diikuti
oleh orang Kristen di Mesopotamia (daerah Irak-Iran sekarang),
yaitu dengan memberikan telur-telur kepada orang lain pada
perayaan Paska untuk mengingatkan kebangkitan Yesus.
Bangsa Mesir menguburkan telur di makam mereka. Bangsa Yunani
menempatkan telur di atas makam. Sementara itu bangsa Romawi
punya pepatah, “Semua kehidupan berasal dari telur.” Dalam
sebagian besar kebudayaan dan masyarakat, telur merupakan
perlambang kelahiran dan kebangkitan. Itulah sebabnya ketika
gereja mulai merayakan kebangkitan Yesus pada abad ke-2, telur
menjadi simbol yang populer. Pada masa itu, orang-orang kaya
menghias telur dengan daun dari emas, sementara orang yang
kurang mampu merebus telur dengan bunga atau daun tertentu
sehingga kulit telurnya menjadi berwarna.
U
Uang sejumlah 30 keping perak diberikan oleh imam-imam kepala
agar Yudas mau menyerahkan Yesus kepada mereka (Mat.
26:14-15). Jumlah uang tersebut sebenar
nya setara dengan harga seorang budak (Kel. 21:32). Sebenarnya,
para pemimpin agama Yahudi telah berencana untuk menangkap
Yesus setelah Paskah selesai (Mat. 26:4-5), namun dengan
munculnya tawaran yang tidak terduga dari Yudas, membuat
rencana mereka dipercepat.
Uang sejumlah 30 keping perak juga setara dengan nilai mata
uang Romawi sebesar 3 denarius, yang bila dikurskan ke dalam
rupiah saat ini bernilai sejumlah Rp. 4.392,00, suatu harga
yang sangat murah bagi seorang manusia. Namun di sini kita
dapat melihat adanya suatu kontras. Harga yang sangat murah
tersebut dipakai Allah untuk membayar lunas segala dosa dan
pelanggaran manusia, justru dengan harga yang sangat mahal,
yaitu kematian Yesus Kristus (bnd. 1 Kor. 6:20; 7:23).
V
Vigilate et orate (= berjagalah dan berdoalah; Mat.
26:41), merupakan perkataan Tuhan Yesus kepada 3 murid yang
menemani-Nya berdoa di Taman Getsemani. Perintah Tuhan Yesus
tersebut sebenarnya merupakan sebuah peringatan kepada para
murid bahwa Yesus akan menghadapi suatu jalan penderitaan yang
sangat berat. Namun, peringatan tersebut tidak mampu
mengalahkan rasa kantuk yang menghing
gapi diri para murid.
Bagi kita saat ini, perintah vigilate et orate
sebenarnya merupakan sesuatu yang masih tetap relevan untuk
dilakukan. Perintah ini mengajak kita untuk memiliki suatu
kesadaran diri terhadap segala kemungkinan godaan, memiliki
kepekaan terhadap seluk-beluk godaan, dan memiliki suatu
persiapan spiritual yang ditempuh melalui doa.
W
Wanitalah yang pertama kali menjadi saksi kebangkitan Yesus
dan kemudian mem
beritakan kebangkitan-Nya kepada para murid (baca Luk.
24:1-12). Wanita sendiri memiliki peran yang istimewa dalam
kehidupan Tuhan Yesus. Hal itu dapat terjadi sebagai bukti
bahwa pelayanan yang Yesus lakukan tidaklah diskriminatif. Ia
melayani baik yang miskin maupun yang kaya (mis: Zakeus). Ia
melayani baik pria maupun wanita.
Dari catatan Alkitab, kita dapat melihat bahwa Tuhan Yesus
memiliki sahabat dua wanita bersaudara, yakni Maria dan Marta
(Yoh. 11:5). Bahkan wanitalah yang dikisahkan memberi
penghargaan yang luar biasa kepada Yesus, melebihi para
murid-Nya, yakni ketika seorang wanita meminyaki kaki Yesus
dengan minyak yang sangat mahal harganya (Mat. 26:7). Wanita
jugalah yang menunjukkan kesetiaannya mengikut Yesus sampai di
kayu salib dan turut bersedih ketika Yesus mati (lih. Mrk.
15:40-41), sementara para murid Yesus sudah kocar-kacir
menyelamatkan diri (Mrk. 14:50). Dan para wanitalah yang
pertama kali bermaksud mengunjungi kubur Yesus, sebelum kepada
mereka dinyatakan mengenai kebangkitan-Nya.
Perilaku para wanita yang dicatat dalam Alkitab itu telah
menjadi teladan perilaku seorang murid Yesus yang memiliki
kesungguhan dan ketulusan dalam mengikut Yesus.
X
Simbol “X”, pada abad mula-mula merupakan simbol untuk
menunjuk kepada Kristus. Iman kepada Yesus Kristus di
tengah-tengah masyarakat mayoritas yang menyembah berhala
bukanlah suatu perkara mudah. Ada ancaman hukuman berat bagi
mereka yang dengan terang-terangan menjalankan ibadah yang
berbeda dengan agama dan sistem peribadahan Roma.
Oleh karena itu, ada banyak simbol yang digunakan oleh
orang-orang Kristen pada abad-abad pertama untuk
mengekspresikan imannya. Ada tanda ikan yang di atasnya
tertulis ichtus, merupakan akronim dari bahasa Yunani:
Iesus Christos uhios Theos Soter, yang artinya Yesus
Kristus Anak Allah Juruselamat. Ada juga simbol “X” yang
menunjuk kepada Kristus yang merupakan salah satu huruf dalam
bahasa Yunani, yaitu singkatan dari kata
xplotovc,(baca:
Kristous). Simbol “X” ini sendiri mirip dengan tanda salib
yang dimiringkan, yang juga menunjuk kepada Yesus Kristus.
Y
Yudas Iskariot tercatat dalam keempat Injil sebagai murid
Yesus yang mengkhianati-Nya. Banyak orang yang bertanya
mengapa Yudas Iskariot sampai mengkhianati Gurunya. Sebenarnya,
Yudas Iskariot itu bukanlah orang yang biasa. Ia bukanlah
nelayan seperti Petrus dan beberapa murid lainnya. Iskariot
adalah nama sebuah kelompok nasionalis orang yahudi yang
paling fanatik, yang bermusuhan dengan pemerintah Romawi. Kata
“iskariot” itu berasal dari kata sikarios (Lat), yang
artinya pisau belati. Jadi, dapat dikatakan bahwa Yudas
Iskariot tadinya adalah bagian dari orang-orang yang
mengangkat pedang terhadap penguasa Romawi.
Dari latar belakang yang demikian, sebenarnya kita dapat
mengetahui pandangan ideologi yang dianutnya, yakni bahwa ia
memiliki pengharapan mesianis politik. Yudas berharap agar
Yesus dapat menjadi mesias secara politik yang mengangkat
pedang terhadap pemerintah Romawi
Z
Zebedeus bersaudara: Yakobus dan Yohanes, beserta Petrus
adalah dua orang murid Yesus yang menemani Yesus berdoa di
Taman Getsemani (Mat. 26:36-46). Kelelahan dan rasa kantuk
yang dialami oleh ketiga murid ternyata tidak mampu membuat
mereka tetap menemani dan juga menguatkan Yesus, Sang Guru
yang tengah bergumul dalam persiapan menghadapi jalan
penderitaan.
Perilaku para murid yang demikian sebenarnya bisa menjadi
cermin bagi kita. Allah melalui Yesus Kristus telah terlebih
dahulu menunjukkan kasih dan kesetiaan-Nya kepada kita,
bagaimana dengan kita?
|
Tim Pengerja GKI Kayu Putih mengucapkan:
SELAMAT PASKAH 2005 |
(Nantikan
Seri Pembinaan selanjutnya!)
|