|
Pendahuluan
Pada tahun 2007 ini, gerakan penyadaran tentang pemanasan
global mulai gencar dilakukan oleh banyak pihak. Salah satu
upaya signifikan yang ada adalah pembuatan film dokumenter
berjudul An Inconvenient Truth yang diinspirasi oleh
perjuangan Albert Gore, Jr. - mantan wakil presiden Amerika
Serikat - dalam mengingatkan dunia akan dampak pemanasan
global.1 Diberi judul demikian,
karena film dokumenter itu berisi fakta-fakta kebenaran yang
menggelisahkan tentang "nasib" bumi di masa yang akan datang.
Dunia boleh menganggap terorisme sebagai musuh terbesar saat
ini. Tapi sesungguhnya, musuh terbesar dunia - menurut film
tsb. - adalah berbagai bencana yang ditimbulkan oleh
pemanasan global. Gejala-gejala ke arah tersebut sudah mulai
tampak beberapa tahun terakhir ini:
-
Salju di pegunungan
Kilimanjaro (Afrika) dan berbagai gletser di sejumlah
negara (seperti: Grinnel, Boulder, dan Columbia di
Amerika Serikat; AX010 di Kilimanjaro, Nepal; Adamello
Mandron di Italia; Tschierva dan Rhone di Swiss; serta
beberapa gletser lainnya di Peru dan Argentina) sudah
menipis.
-
Naiknya temperatur air laut
telah menimbulkan sejumlah badai topan: topan Jeanne dan
Ivan di Florida serta topan Frances di Laut Atlantik
(September 2004), sejumlah topan di perairan Jepang
(2004), topan Emily di Karibia-Brasil dan topan Dennis
di Florida (Juli 2005), serta topan Katrina di
California (Agustus 2005).
-
Sementara di beberapa bagian
dunia terjadi badai topan dan banjir, di beberapa bagian
dunia lainnya justru terjadi kekeringan, seperti: Darfur
- Sudan dan Nigeria. Situasi seperti ini juga terjadi di
Indonesia.-Bulan Juli lalu, hujan masih mengguyur
sejumlah wilayah di Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi,
Tetapi kekeringan mulai terjadi di beberapa wilayah
Pulau Jawa.
Atau, harian Kompas, pada
beberapa edisi di bulan Juli dan Agustus yang lalu,
melaporkan berbagai dampak pemanasan global pada anomali
iklim yang tengah terjadi, sbb.:
-
Cuaca ekstrem telah
melahirkan berbagai bencana (seperti: badai, banjir, dan
tanah longsor) di China, Jepang, India, Banglades,
Nepal, Filipina dan Indochina. Hal ini perlu disikapi
secara serius, sebab sebagian besar dari negara-negara
tersebut, selama ini telah menjadi sentra produksi beras.
-
Banjir besar juga terjadi di
sejumlah wilayah Inggris, Swiss dan Sudan.
-
Gelombang udara panas
kembali terjadi di beberapa wilayah Eropa. Situasi yang
sama pernah terjadi beberapa tahun yang lalu di
Argentina dan Amerika Serikat.
-
Air sejumlah waduk di
Indonesia mulai menyusut dan sumber-sumber air bersih
pun mulai mengering.
Buletin Pembinaan kali ini bisa
juga dipahami sebagai bagian integral dari upaya penyadaran
akan bahaya pemanasan global. Sekalipun perlu disadari bahwa
apa yang akan dipaparkan pada buletin ini belum bisa
menyentuh seluruh aspek yang terkait dengan lingkungan hidup.
Komunitas Bumi dalam krisis
dan Upaya Penyadaran
Komunitas bumi dalam krisis. Tidak ada yang bisa menyanggah
pernyataan dan kenyataan tersebut. Selain konflik dan
peperangan, krisis yang mengancam lebih banyak orang adalah
krisis lingkungan hidup.
Krisis ini sebenarnya sudah lama terjadi, namun agaknya
manusia (secara keseluruhan) belum menyadari akan bahaya
laten yang terdapat di dalamnya. Manusia masih asyik menjadi
penguasa alam semesta 2, belum
menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari alam semesta ini,
sehingga krisis lingkungan hidup belum menjadi perhatian
bersama.
Padahal, dari berbagai definisi tentang lingkungan hidup
yang ada, kita diingatkan bahwa lingkungan hidup adalah
bagian dari kita dan kita adalah bagian dari lingkungan
hidup; dan keduanya saling berinteraksi dalam sebuah
ekosistem.
Secara umum, krisis lingkungan hidup didorong oleh dua hal
berikut ini, yaitu:
a. Pertambahan penduduk yang begitu pesat yang menuntut
pemenuhan kebutuhan yang tak terbatas (bahan makanan,
bahan bakar, energi, dsb).
b. Kemajuan di pelbagai bidang ilmu pengetahuan dan
teknologi (iptek) 3
Kesadaran akan perlunya usaha pelestarian lingkungan tidak
muncul sekali jadi. Kesadaran itu muncul berangsur-angsur
melalui pengalaman interaksi manusia dengan lingkungannya.
Manusia semakin menyadari bahwa antara dirinya dan
lingkungannya terdapat hubungan yang sangat erat tak
terpisahkan. Kesadaran itu akhirnya melahirkan suatu
disiplin ilmu yang baru, yang disebut ekologi. Perhatian
akan masalah lingkungan hidup di zaman modern ini dimulai
pada dasawarsa 50-an di Amerika Serikat ketika terjadi
pencemaran di kota Los Angeles akibat smog (smoke fog) hasil
pembakaran industri dan kendaraan bermotor. Pada dasawarsa
yang sama masyarakat Jepang digemparkan oleh peristiwa
pencemaran limbah merkuri (Hg) di Teluk Minamata yang
memakan korban ribuan jiwa. Lama-kelamaan perhatian akan
krisis lingkungan hidup ini menjadi keprihatinan masyarakat
dunia secara bersama, termasuk di Indonesia - yang baru
muncul pada dekade 60-an.4
Salah satu pokok yang ramai diperdebatkan dalam gerakan
kesadaran ekologi ini ialah hubungan antara pembangunan dan
lingkungan hidup.5 Ada yang
menuduh pembangunan sebagai penyebab terjadinya kerusakan
lingkungan. Tetapi ada juga yang mengatakan sebaliknya,
kerusakan lingkungan hanya dapat diatasi melalui pembangunan,
sehingga kalangan ini (negara-negara industri maju) menuduh
negara-negara yang sedang berkembang sebagai penyebab
terjadinya pemanasan global.6
Di Indonesia sendiri, persoalan krisis lingkungan hidup
merupakan persoalan yang aktual dan potensial, tetapi belum
menjadi perhatian bersama. Pembangunan yang sekarang sedang
berlangsung, seolah-olah merupakan hal yang terpisah dengan
kelestarian lingkungan hidup. Hal ini dapat terlihat dari
masih adanya perusahaan industri yang tidak mematuhi tata
cara pembuangan limbah yang berlaku. Atau pembangunan
perumahan di kota yang tidak sesuai dengan Tata Ruang Kota,
sehingga menimbulkan keruwetan tersendiri bagi pemerintah
kota.7
Manusia dan Komunitas Bumi:
pola-pola yang dikembangkan
Terjadinya krisis lingkungan hidup saat ini tentunya tidak
terlepas dari bagaimana manusia berelasi dengan
lingkungannya. Relasi ini pun ternyata mengalami
perkembangan sejak keberadaan manusia.
Pada awalnya, ketika agama-agama primitif masih berkembang,
manusia memandang segala sesuatu yang ada di sekitarnya
secara religius. Ada proses pensakralan terhadap lingkungan
hidup, sehingga pola yang dikembangkan adalah subjek-subjek.
Demikian pula yang terjadi pada masyarakat yang masih
tradisional, di mana masih ada tabu-tabu (pamali-pamali)
yang dikembangkan.8
Selain itu pandangan hidup dan sikap religius yang
dikembangkan berdasarkan pengalaman eksistensial mereka,
turut menumbuhkan kesadaran ekologis mereka.9
Akan tetapi ketika terjadi proses desakralisasi yang
ditunjang dengan tumbuh-berkembangnya agama monoteis, maka
lingkungan hidup tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang
sakral atau sebagai subjek, tetapi objek.10
Saat itulah manusia mulai menjadi penguasa atas lingkungan
hidup dan kini kita diperhadapkan pada krisis lingkungan
hidup yang parah.
Th. van den End memberikan argumentasi yang
dikemukakan oleh beberapa tokoh mengenai dari mana datangnya
krisis yang sedang kita alami ini dikaitkan dengan
kekristenan, yaitu:11
a. Menurut Lynn White, kekristenan dipersalahkan
karena menempatkan manusia pada pusat dunia, karena sifat
anthroposentrisnya. Kekristenan membuat manusia percaya
bahwa dirinya merupakan pusat alam semesta, dan bahwa
seluruh alam hanya diciptakan untuk melayani dia.12
b. Menurut Ritchie Lowrie, Calvinisme harus
dipersalahkan karena mengajak manusia untuk bekerja keras
dan untuk hidup sederhana. Akibatnya tak bisa tidak adalah
pertumbuhan ekonomi yang besar. Timbullah dunia
perindustrian modern dan terjadilah krisis lingkungan.
c. Theodore Roszak, bertolak dari pengertian "teknokrasi".
Teknokrasi berarti bahwa kehidupan manusia dan seluruh
lingkungannya mau diatur oleh teknik dan ilmu-ilmu
pengetahuan. Tidak boleh ada proses-proses spontan, karena
yang bersifat spontan tidak bisa diperhitungkan sebelumnya,
dan membahayakan tujuan yang besar, yaitu menaklukkan dunia
kepada manusia dan menghasilkan produksi barang-barang yang
sebesar mungkin. Dengan adanya sikap ini, manusia memandang
segala sesuatu di sekitarnya, termasuk sesamanya manusia,
sebagai obyek semata-mata; ia tidak berpartisipasi di dalam
kehidupan di sekitar dirinya, ia menjadi terasing
daripadanya. Roszak juga mempermasalahkan agama Kristen yang
menempatkan manusia dalam relasi subjek-objek dengan alam,
dan menganggap alam sebagai kurang sempurna dan perlu
diperbaiki.
Dari pemaparan di atas, kita dapat melihat bahwa seolah-olah
kekristenan turut bersalah atas kerusakan lingkungan hidup.
Hal ini tentunya harus dikritisi lebih lanjut. Karena
jangan-jangan, "kekristenan" telah salah dalam menafsirkan
Alkitab ataupun telah dipengaruhi oleh tujuan-tujuan politis
dan ekonomis, sehingga dikatakan turut merusak lingkungan
hidup. Selain itu, di bagian dunia yang minoritas Kristen,
toh terjadi juga krisis lingkungan hidup. Artinya, ada
berbagai faktor penyebab dari krisis yang terjadi.
Lagipula, jika kita memahami secara utuh berita Alkitab
tentang lingkungan hidup, maka sebenarnya kekristenan
memiliki sumbangsih yang besar dalam pelestarian lingkungan
hidup.
Pandangan Alkitab tentang Lingkungan Hidup
Untuk mengetahui pandangan Alkitab tentang lingkungan hidup,
maka pertama-tama yang harus kita miliki adalah pemahaman
yang benar mengenai Alkitab sebagai sumber teologi kita.
Alkitab yang merupakan Firman Allah tersebut, bukanlah
sebuah buku ilmiah mengenai asal-usul bumi dan segala
sesuatu di dalamnya, bukan pula buku sejarah bumi.13
Alkitab adalah buku iman akan Allah yang telah menciptakan,
memelihara dan menyelamatkan bumi dan segala isinya.
Walaupun Alkitab bukan buku tentang ekologi, sejumlah
penulisnya telah melukiskan ekologi manusia dan mengangkat
keadaan dan gejala alam dalam hubungan dengan Firman Tuhan.
Keberadaan segala ciptaan terkait dengan Tuhan Pencipta.14
a. Pandangan Perjanjian Lama (PL)
Dalam PL, ada dua kitab yang secara khusus berbicara tentang
alam semesta, yaitu Kitab Kejadian dan Mazmur. Tujuan
mula-mula dari cerita dalam Kitab Kejadian ialah untuk
memberi makna kepada dunia yang dipahami sebagai
kekacaubalauan.15 Pengarang
kitab ini mengaitkan pengalaman hidupnya dari kawasan
lingkungannya dengan pemahaman tentang sejarah
penyelenggaraan ilahi Israel sebagai bangsa yang telah
dijanjikan tanah khusus.16
Sorotan kitab ini adalah pada tindakan keteraturan Yahweh.
Tatanan kosmik dikaitkan dengan tatanan moral dan social:
ketidakteraturan moral, kekerasan, air bah. Perhatian bagian
Kitab Suci khususnya terpusat pada tatanan kosmos dan bukan
pada penggalian asal-muasal kosmos.17
Penulis ini tidak memandang kekuasaan manusia atas makhluk
ciptaan lain sebagai kuasa tak terbatas, namun di hadapan
mata Tuhan makhluk ciptaan nonmanusia dan manusia diandaikan
untuk membentuk suatu komunitas makhluk ciptaan, dan di
dalam komunitas itu manusia bertanggung jawab.18
Jadi ciptaan nonmanusia itu tidak diberikan kepada manusia
untuk dikuasai, tetapi untuk manusia kelola dan pelihara.
Dalam Kitab Mazmur, kosmos digambarkan sebagai buah tangan
Tuhan (misalnya Mzm 19). Langit, termasuk bintang-bintang,
mengidungkan kemuliaan Allah dan memberikan kesaksian karya
Pencipta. Kosmos bukan sekadar undangan untuk percaya akan
Allah Pencipta, namun termasuk desakan untuk terus-menerus
memuji kebesaran Tuhan melalui doa. Mazmur 104 kembali
mengumandangkan pandangan kontemplatif tentang penciptaan
alam semesta dalam Kejadian 1 dengan menampilkan unsur-unsur
alam. Dalam Mazmur 136 kita dapat melihat bahwa dunia dan
sejarahnya adalah karya cinta kasih Allah yang menakjubkan.
Tampak bahwa doa-doa bangsa Israel melalui mazmur
mencerminkan kedekatan hidup mereka dengan makhluk ciptaan.19
b. Pandangan Perjanjian Baru (PB)
Dalam dunia Yunani, kosmos adalah tatanan organisme dalam
ketenangan. Sementara itu, gagasan kosmos dalam PB
terorientasi pada hidup manusia dalam sejarah. PB
mempertimbangkan kosmos dalam kaitan dengan Yesus Kristus (bercorak
kristologis) dan manusia di hadapan Yesus Kristus (bercorak
antropologis).20 Gambaran
tentang kosmos dalam PB dipandang sebagai sarana untuk
pewartaan Injil. Maksudnya, PB tidak berbicara tentang
kosmos dalam dirinya, sebagai benda belaka, namun
pembicaraan tentang kosmos dikaitkan dengan dunia manusia,
tempat Tuhan bertindak dan manusia melakukan sesuatu secara
bertanggung jawab. Pada dasarnya terdapat suatu konsep
antroposentris dunia: dalam cara tertentu, dunia berubah
bersama sejarah manusia.21
Untuk mengubah atau membebaskan dunia, umat Allah harus
melakukan tindak pembaruan hati dan dengan tingkah laku yang
sesuai dengan kehendak Allah. Ini tidak hanya menyangkut
pembaruan batiniah individual, tetapi melahirkan komunitas
ciptaan baru, yaitu umat Allah.22
Ekologi dan Ekumene
Gereja selaku persekutuan orang percaya tidak hanya
bertanggung jawab untuk mewujudkan persekutuan di antara
sesama manusia, tetapi juga dengan lingkungan.23
Selama ini ekumene hanya dimengerti sebagai hubungan
interdenominasi gereja, padahal arti kata oikos
menunjuk pada bumi sebagai tempat tinggal (habitat). Habitat
adalah inti makna dari semua kata eko; ekonomi, ekologi, dan
ekumenesitas.24
Oleh karena itu, tujuan ekumene tidak bisa lagi terbatas
pada usaha pembentukan Gereja Kristen yang Esa atau
menciptakan hubungan yang harmonis di antara orang Kristen,
tetapi harus menjangkau wawasan yang lebih luas, sesuai
dengan arti dan makna yang terkandung dalam kata ekumene,
yaitu dunia atau kosmos ini secara keseluruhan, khususnya
hubungan dengan seluruh ciptaan.25
Ted Peters membedakan antara kata ecumenical dan kata
ecumenic, yang akar katanya sama yaitu oikos,
tetapi maknanya berbeda. Kalau ecumenical berbicara tentang
kesatuan iman, maka ecumenic berbicara tentang
kesatuan manusia dengan segala sesuatu yaitu dengan semua
realitas ciptaan Allah. Akan tetapi, keduanya mempunyai
hubungan sebab kesatuan iman harus mempunyai implikasi
terhadap kesatuan dengan seluruh ciptaan.26
Banyak tradisi keagamaan, termasuk Yudaisme dan Kekristenan,
memahami inti penciptaan sebagai tempat tinggal Allah di
dalamnya. Ciptaan adalah tempat kehadiran Allah. Jadi, kata
oikos menunjuk pada rumah tempat kehadiran dan kediaman
Allah. Allah ada "rumah" di sini, sebagaimana kita,27
Jadi dalam mengelola alam, maka kita harus sejalan dengan
Ekonomi Allah.28 Kita adalah
rekan sekerja Allah (householders) dalam menatalayani (oikodomeo)
dunia.29 Di sinilah peran
gereja mendapat tempat30,
karena gereja karena gereja merupakan bagian dari earth
habitat. Sebagai bagian darinya, maka gereja terpanggil
untuk terlibat aktif dalam kesatuan dengan bagian-bagian
lain dari earth habitat.
Jika keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus dipahami sebagai
keselamatan untuk seluruh ciptaan, maka gereja terpanggil
tidak hanya untuk menyatakan koinonia dengan sesamanya
manusia, tetapi juga dengan sesama ciptaan. Ted Peters juga
mengingatkan bahwa gereja harus melaksanakan pendamaian
dalam rangka menghadirkan Kerajaan Allah. Dan sejalan dengan
hal ini, Dewan Gereja-gereja se-Dunia (DGD) memahami
pendamaian dan pembaruan ciptaan sebagai tujuan dari misi
gereja.31
Sudah sejak tahun 1968 dalam Sidang Raya IV DGD di Upsala,
Swedia, DGD membahas perhatian dan tanggung jawab
gereja-gereja terhadap lingkungan hidup. Sedangkan, di
Indonesia sendiri, baru dalam Sidang Raya XI PGI di Surabaya
tahun 1989, dikukuhkan secara eksklusif pengertian
pemberitaan Injil yang mencakup usaha pelestarian lingkungan
hidup. Selain sebagai bagian dari tugas pemberitaan Injil,
tugas pengelolaan dan pemeliharaan serta pelestarian
lingkungan hidup menjadi salah satu dasar bagi gereja-gereja
di Indonesia untuk berpartisipasi dalam pembangunan
nasional.32
Bagi gereja-gereja di Indonesia, terdapat suatu permasalahan
tersendiri dalam usahanya untuk menjadi penatalayan dunia.
Pertama, gereja-gereja di Indonesia masih terkotak-kotakan
dalam berbagai denominasi, di mana masing-masing denominasi
memiliki concern tersendiri. Kedua, konsep
ecumenic sendiri belum begitu populer di Indonesia. Oleh
karena itu, diperlukan usaha untuk lebih menggugah kesadaran
gereja-gereja di Indonesia akan perannya menjadi penatalayan
dunia melalui berbagai cara, mis: diskusi teologis, proyek
kerjasama mengenai pelestarian lingkungan hidup.
Sementara itu tantangan lain yang dihadapi oleh
gereja-gereja di Indonesia adalah pluralisme agama.
Seharusnya kenyataan ini bukanlah penghambat bagi gereja
untuk menjadi penatalayan dunia, tetapi malah merupakan
sebuah peluang bagi gereja-gereja di Indonesia untuk membina
kerjasama dengan para pemeluk agama lain untuk bersama-sama
menjadi penatalayan dunia, karena mereka pun adalah bagian
dari earth habitat. Memang hal ini tidak mudah,
karena harus ada kesamaan visi di antara kita. Oleh karena
itu, perlu diusahakan pula "proyek penyadaran bersama" di
antara para pemeluk agama.
Refleksi Teologis
Judul buletin ini adalah "Kita adalah Penatalayan Rumah
yang Sama" hendak menegaskan bahwa kita semua yang hidup
saat ini sebenarnya memiliki peran sebagai penatalayan
bersama penatalayan yang lainnya di "rumah dunia" - yang
juga tempat tinggal Allah - di mana Allah adalah Sang Kepala
Rumah Tangga. Oleh karena itu, sebagai penatalayan, maka
kita sebenarnya tidak berhak sepenuh-penuhnya atas ciptaan
Allah yang lain - dalam hal ini lingkungan hidup dan isinya.
Dalam tugas tersebut, kita harus sesuai dengan Ekonomi
Allah. Kita mempunyai tanggung jawab dan kewajiban untuk
berbagi tempat dan hasil bumi dengan sesama kita dan juga
dengan generasi yang akan datang di rumah kita (orientasi
kehidupan yang futuris).
Saat ini perlu dikembangkan sebuah etika komunitas bagi
komunitas bumi (mencakup semua yang ada, baik yang hidup
maupun tidak) atau moral lingkungan hidup, karena masalah
ekologi umumnya terkait dengan krisis moral. Etika ini
berdasarkan pada pernyataan sederhana bahwa "semua yang ada,
ada bersama"33, atau mengacu
pada Teori Sistem. Dari sini diperoleh kesimpulan bahwa
semua yang ada saling mempengaruhi, tanpa ada status manusia
sebagai penguasa dan alam sebagai objek penguasaan, karena
sampai kapan pun, manusia tidak bisa menjadi penguasa
semesta. Ibarat tubuh, apabila kita tidak memelihara
kesehatan tubuh kita, misalnya dengan istirahat yang teratur
dan makan-minum yang baik, maka lama-kelamaan kita akan
sakit. Sakit itu tidak hanya dirasakan oleh bagian tubuh
tertentu, tetapi juga oleh seluruh tubuh.34
Oleh karena itu, manusia - sebagai ciptaan yang berakal budi
- sudah seharusnya lebih arif dalam menatalayani dunia ini.
Kesadaran dan penyadaran bahwa jumlah manusia penghuni bumi
semakin banyak dengan kebutuhannya yang seolah-olah tak
terbatas, sedangkan sumber energi bumi yang terbatas,
menuntut kita untuk benar-benar arif dalam berelasi dengan
lingkungan hidup.
Kesulitan muncul ketika orientasi manusia dikuasai motif
ekonomi yang profit oriented didukung faktor politik
yang tidak ramah lingkungan. Di sinilah peran gereja
ditantang. Apakah ia berani menjadi nabi yang memperingatkan
para pemimpin (di dunia) dalam menentukan kebijakannya,
ataukah justru ia kehilangan peran kenabiannya. Jika ia
tidak berani, maka misi gereja, yaitu menjadi mitra
pendamaian dan penciptaan Allah akan gagal. Diperlukan
sebuah kerjasama dan jaringan relasi yang konsisten dan
terus-menerus antara gereja dan lembaga-lembaga di dunia
dalam menangani krisis lingkungan hidup dan mengkritisi
kebijakan ekonomi dan politik pemerintah yang berkenaan
dengan lingkungan hidup.
Apa yang diusahakan dalam buletin ini bukanlah sesuatu yang
final, Artinya buletin ini baru menyentuh satu segi saja
mengenai eko-teologi, sedangkan persoalan krisis lingkungan
hidup merupakan persoalan bersama yang sangat kompleks yang
harus dibahas dan ditangani bersama (meliputi berbagai
bidang ilmu) pula.35
Mengakhiri refleksi ini, marilah kita menghayati syair doa
berikut ini:
|
Goodnight God
I hope that you are having a good time being the
world.
I like the world very much.
I'm glad you made the plants and trees survive with
the rain and
summers.
When summer is nearly near the leaves begin to fall.
I hope you have a good time being the world.
I like how God feels around everyone in the world.
Your arms clasp around the world. I like you and
your friends.
Every time I open my eyes I see the gleaming sun.
I like the animals - the deer, and us creatures of
the world,the mammals.
I love my dear friends.36
|
______________________________
1. Kegiatan lain yang
patut disinggung berkenaan gerakan penyadaran tentang
pemanasan global adalah konser Live Earth yang serentak
dilaksanakan di 8 negara pada tanggal 7 Juli 2007 yang lalu.
Di Indonesia sendiri ada 2 momen yang perlu disinggung,
yakni : Global Warming Music Concert 2007 di Kemayoran,
Jakarta pada 18-19 Agustus 2007 dan Konferensi Internasional
tentang Pemanasan Global di Denpasar, Bali pada Desember
2007.
2 Robert P. Borrong, "The
Role of Humankind in the Environmental Crisis" dalam Robert
P. Borronq, et al., (eds), Berakar di dalam Dia & Dibangun
di atas Dia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1998), hlm.156.
3 Bnd. Ibid., hlm.157.
4 Freddy Buntaran,
Saudari Bumi Saudara Manusia: Sikap Iman dan Kelestarian
Lingkungan (Yogyakarta: Kanisius, 2000), hlm.21-22.
5 Sumitro Djojohadikusumo (dan mungkin para pakar yang lain)
menyatakan bahwa persoalan krisis lingkungan menimbulkan
persoalan-persoalan di bidang ekonomi masyarakat yang
mengandung pengaruh dan aspek politik secara bercabanq (ramifikasi
politik). Sebaliknya perkembangan ekonomi dan politik - baik
di dalam masyarakat sendiri maupun dalam hubungan antar
negara sangat mempengaruhi keadaan ekologi dan lingkunqan
hidup dari masyarakat yang bersangkutan. Lih. Sumitro
Djojohadikusumo, "Aspek Ekonomi dan Politik sekitar Masalah
Ekologi dan Lingkungan Hidup" dalam M.T. Zen (ed.), Menuju
Kelestarian Lingkungan Hidup (Jakarta: Gramedia, 1981), hlm.
70.
6 Buntaran, Op. Cit . , hlm. 23
. Bahkan sampai saat inipun Negara industri maju, misalnya
USA - lewat pernyataan presidennya, George W. Bush, masih
terkesan angkuh untuk mengakui bahwa mereka juga turut
menyebabkan pemanasan global.
7 Disisi lain, kita patut mensyukuri upaya sejumlah
pengembangan yang sudah mengedepankan pelestarian lingkungan
hidup dalam megaproyek mereka.
8. Bnd.. P. M. Laksono, et al . , Perempuan di hutan
Mangrove (Yoqyakarta: Galang Press, 2000), h l m.122-126.
9 Bnd. Buntaran, Op. Cit., hlm.27-33.
10 Sebagai contoh kasus adalah kisah yang disampaikan oleh
Th. van den End dalam orasinya yang berjudul "Kapak
Elia", yaitu ketika seorang rahib bernama Mar Elia
menebang sebuah pohon yang dianggap keramat oleh penduduk
Yazd. Setelah pohon itu lumbang, maka penduduk Yazd tidak
perlu takut lagi terhadapnya. Lih. Th. van den End, Kapak
Elia (Jakarta: Orasi Dies Natalis STT Jakarta,1976), hlm.1.
11 lbid., hlm.4-5.
12 Celia Deane – Drummond, Teologqi & Ekologi: Buku Peqangan,
terj., hlm. 20
13 Bnd. William Chang, Moral Lingkungan Hidup (Yogyakarta :
Kanisius, 2001 ) ,hlm. 46.
14 Ibid. , hlm.47
15 Deane-Drummond, Op.Cit., hlm.16.
16 Chang, Op. Cit . , hlm. 48 . Bagi bangsa Israel, tanah
adalah anugerah Allah. Dengan prinsip dasar tersebut., maka
manusia hanya dapat memanfaatkannya untuk mengenal dan
memuliakan nama Allah. Di samping aspek manusia sebagai
pengelola, ada pula aspek tanqgung jawab yang erat berkaitan
dalam persoalan hubungan manusia-tanah. Hubungan
manusia-tanah dalam tradisi Yahudi mendapat bentuk yan9
khusus di dalam perayaan Sabat. Lih. Karel Phil Erari, "Teologi
Lingkungan dalam Perspektif Melanesia: Urgensi bagi
Transformasi Relasi Manusia-Tanah" dalam Setia, no.1/1997,
him.46-47.
17 Ibid. , hlm. 49.
18 Ibid.
19 Ibid., hlm.49-51.
20 Pengertian ini harus dilihat dalam terang karya
penyelamatan dan penebusan Allah di dalam Yesus Kristus dan
sikap (respons) kita terhadap karya-Nya tersebut. Lih.
Buntaran, Op.Cit., him.48.
21 Chang, Op.Cit., hlm. 51-52.
22 Ibid. , hlm. 54.
23 Borrong, Berakar..., Op.Cit., hlm.124.
24 Lih. Rasmussen, Op.Cit., hlm.91.
25 Borrong, Op. Cit . , hlm. 124 -125 . Bnd. Rasmussen,
Op.Cit. , hlm . 90 yang mencatat definisi ekumene dari
Shannon Jung, yaitu keseluruhan dunia yang didiami (the
whole inhabited world) atau benda bulat yang didiami (the
inhabited globe) .
26 Ted Peters, God - the World's Future (Minneapolis:
Fortress Press 1992) sebagaimana yang di kutip oleh Borrong,
ibid., hlm.125
27 Rasmussen, Op.Cit., hlm. 90
28 Ekonomi Allah dimengerti sebagai bagaimana Allah
menatalayani dunia ini dengan penuh keteraturan.
29. Bnd. Rasmussen,Op. Cit. hlm. 92.
30. Permasalahan sekarang adalah, sejauh mana kesadaran
tugas dan tanqqung jawab qereja ini dihayati oleh
qereja-gereja di seluruh penjuru bumi . Apakah pusat
perhatian gereja pada saat ini hanya terpaku pada
ritus-ritus keagamaan, atau "justru sudah terguqah oleh
perannya yang justru lebih luas, sebagai penatalayan dunia
bersama-sama dengan Allah. Jika ritus-ritus keagamaan masih
menjadi perhatian utama gereja, maka yang terjadi adalah
pelanggengan krisis lingkungan hidup, karena selain gereja
menjadi tidak terlibat dalam usaha penatalayanan dunia, di
dalam ritus-ritus itu sendiri juga banyak digunakan berbagai
jenis tanaman untuk menunjang ritus-ritus tersebut, mis:
penebangan pohon cemara untuk dijadikan pohon Natal.
Ritus-ritus keagamaan tersebut seharusnya dipakai oleh
gereja-gereja sebagai alat penyadaran bagi warga gereja
mengenai pentingnya peran kita menjadi penatalayan dunia 31
Borrong, Etika..., Op.cit., him.256.
32 Lih. Borrong, Etika..., Op.Cit., hlm.259-267.
33 Rasmussen, Op.Cit., hlm. 324.
34 Bnd. dengan 1 Kor. 12:12-31 mengenai "Banyak anggota,
tetapi satu tubuh".
35 Kita patut menyambut positif adanya gerakan dan kebijakan
(biasa disebut CSR : corporate social responsibility) yang
mengharuskan setiap perusahaan memerhatikan lingkungan hidup
, selain aspek-aspek social di dalam dan di luar perusahaan.
Hal ini diperkuat dengan 10 aturan main korporasi global
(Global Compact) yang dibuat PBB, di mana 3 butir di
dalamnya terkait dengan lingkungan hidup.
36 Danu Baxter, dalam Earth Prayer from Around the World
sebagaimana dikutip Rasmusen, ibid. , hlm.268-269
(Nantikan artikel selanjutnya !!)
|