|
1. Pengantar
Judul diatas adalah sebuah pertanyaan yang seringkali muncul
dalam benak kita. Pertanyaan ini muncul begitu saja karena
sebagai manusia, kita memiliki rasa ingin tahu yang besar.
Kematian buat sebagian besar orang, adalah peristiwa yang mena
kutkan, namun tidak bisa dihindari bahwa semua orang pasti
akan mengalaminya. Ketakutan orang terhadap kematian
kebanyakan disebabkan oleh tidak ingin berpisah dengan orang
yang kita kasihi; tidak tahu apa yang akan terjadi setelah
kita meninggal; dan salah satunya adalah pertanyaan yang
menjadi judul bulletin pembinaan ini kemanakah kita pergi
setelah meninggal?
Buletin edisi pertama ini akan membahas dan menolong kita
menemukan jawaban yang muncul dalam benak kita itu. Topik ini
sudah dibahas terlebih dahulu dalam PA Jemaat pada tanggal 5
Maret 2004.
2. Tempat Orang yang telah Meninggal
Salah satu pertanyaan teologis yang menjadi polemik ketika
kita bicara tentang keadaan setelah orang meninggal adalah
masalah apakah ada tempat perhentian. Sebab di satu sisi
ketika kita melihat jenazah, kita akan berkata, “dia telah
kembali ke rumah Bapa di sorga.” Sementara itu kita ingat akan
pemahaman iman Kristen bahwa akan ada hari penghakiman pada
saat kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali. Hal ini membuat
kita bertanya kritis, “apakah orang yang telah di rumah Bapa
itu akan turun lagi untuk dihakimi? Atau benarkah orang yang
meninggal langsung menuju sorga?”
Dalam pemahaman orang Yahudi dan ini nyata dalam Alkitab PL,
mereka mengenal satu tempat bagi orang-orang yang sudah
meninggal, yang disebut dunia orang mati (Ibrani: sye’ol – har:
dunia bawah). Dunia orang mati digambarkan sebagai tempat yang
mengerikan; selain tidak ada kehidupan dan keterpisahan dengan
orang yang hidup, dunia ini diperuntukkan bagi orang-orang
fasik dan berdosa (lih. Bil. 16:33; Maz. 9: 18). Namun dunia
orang mati ini tidak bisa dihindari oleh setiap orang yang
meninggal (band. 2 Sam. 22: 6; Maz. 139: 8). Dunia orang mati
adalah tempat yang suram dan ingin dihindari.
Gambaran dunia orang mati dalam Alkitab PB tidak jauh berbeda
dengan PL. Orang-orang yang telah meninggal akan masuk dalam
kerajaan maut (Yunani: hadesy); (band. Kisah 2: 27; Wah.
20: 13-14). Bahkan ada satu istilah Yunani yang ingin
menggambarkan gelapnya dunia orang mati itu yaitu abysos
(tempat yang tidak terduga dalamnya).
Pertanyaannya sekarang adalah mengapa dunia orang mati/kerajaan
maut digambarkan begitu mengerikan dan suram; dan kalau bisa
dihindarkan? Karena tradisi Yahudi memahami dunia ini terdiri
dari tiga bagian: dunia atas di mana Allah yang berkuasa;
dunia tengah dimana manusia yang menguasainya; dan dunia bawah
yang dikuasai oleh iblis. Pemahaman inilah yang kemudian
mempengaruhi pandangan tentang dunia orang mati sebagai tempat
iblis dan maut berkuasa (band. Wah. 20: 13 kata maut dan
kerajaan maut digandengkan).
Satu hal yang dapat kita simpulkan dalam pandangan PL dan PB
ini adalah setelah manusia meninggal, siapapun juga orangnya,
akan masuk dunia orang mati/kerajaan maut.
3. “Shelter” Tunggu dikuasai oleh Kristus
Jika dunia orang mati/kerajaan maut dikuasai oleh iblis dan
maut, pertanyaan kritis selanjutnya adalah mengapa kita
memahami orang yang meninggal kembali ke rumah Bapa? Bahkan
ada gambaran yang berbanding terbalik dengan gambaran dunia
orang mati, bahwa rumah Bapa itu menyenangkan. Mana yang benar?
Salah satu pertanyaan misterius dari peristiwa kematian dan
kebangkitan Kristus adalah kemana Kristus selama tiga hari
setelah mati dan sebelum kebangkitan-Nya? Apa yang
dilakukan-Nya selama tiga hari? Mengapa Dia tidak langsung
bangkit saja pada hari pertama, tokh Dia adalah Allah?
Kita bersyukur, pertanyaan ini bukanlah misteri. Karena
Alkitab dengan jelas menjawabnya, sama seperti manusia, Yesus
Kristus pun masuk ke dunia orang mati/kerajaan maut ini selama
tiga hari tiga malam (lih. Mat. 12: 40 kata-kata “rahim bumi”
ditafsirkan sebagai dunia orang mati; Roma 10: 7 “Siapa
yang akan turun ke jurang maut? Yaitu untuk membawa Kristus
naik dari antara orang mati”). Apa yang Yesus lakukan
selama tiga hari tiga malam di dunia orang mati itu? Inipun
bukanlah misteri. Dia “berperang” mengalahkan maut, sehingga
dunia orang mati/kerajaan maut tidak lagi dikuasai oleh iblis
atau maut melainkan dikuasai oleh-Nya sehingga Dialah yang
sekarang memegang kuasa dan kunci kerajaan maut (lih. Wah. 1:
18; band. 1 Kor. 15: 54 “Maut telah ditelan dalam
kemenangan. Hai maut dimanakah kemenanganmu. Hai maut,
dimanakah sengatmu”).
Jadi jelaslah dunia orang mati/kerajaan maut pasca kebangkitan
Kristus bukanlah tempat yang menakutkan dan mengerikan lagi,
melainkan tempat yang menyenang
kan karena yang berkuasa atasnya sekarang adalah Allah sendiri.
Tidak salah apabila kita katakana bahwa setiap orang yang
meninggal kembali ke rumah Bapa, karena dunia orang mati yang
sekarang bertakhta adalah Bapa juga.
Dan kebangkitan Kristus tentu membawa dampak bagi setiap orang
yang telah meninggal yaitu mereka akan dibangkitkan pula.
Kristus sebagai yang sulung dari semua orang yang telah
meninggal (1 Kor. 15:20). Tentu saja ini terkait dengan
kedatangan-Nya yang kedua kali, di mana semua orang yang
meninggal akan dibangkitkan dan disatukan dengan orang yang
belum meninggal untuk dihakimi; dan mereka yang tetap
memelihara iman akan menuju sorga yang sempurna (lih. 1 Tes.
4: 16-17).
Satu hal yang dapat disimpulkan pada bagian ini adalah dunia
orang mati/kerajaan maut menjadi “shelter” (tempat)
tunggu sebelum kedatangan Tuhan Yesus kedua kali. Dan tempat
perhentian ini tidaklah menyeramkan karena Allah telah
menguasainya.
4. Penutup
Pertanyaan teologis: “Kemana kita pergi setelah meninggal”
terjawab sudah melalui uraian bulletin pembinaan ini.
Ada beberapa kesimpulan:
1. Setiap orang tanpa terkecuali setelah meninggal akan masuk
ke dalam dunia orang mati/kerajaan maut.
2. Namun dunia orang mati/kerajaan maut itu bukanlah tempat
yang gelap dan menyeramkan, melainkan tempat yang indah karena
Allah sendirilah yang berkuasa setelah Kristus masuk ke dunia
orang mati dan mengalahkan iblis dan maut.
3. Dunia orang mati ini merupakan tempat perhentian sebelum
kedatangan Yesus Kristus kedua kali untuk menghakimi baik
orang yang sudah meninggal maupun belum.
(Nantikan
Seri Pembinaan selanjutnya!)
|