|
1. Pembuka: Sebuah Pertanyaan Kritis
Salah satu pertanyaan kristis dalam memahami Allah adalah
mengapa Allah mau cape-cape turun menjadi manusia
menyelamatkan manusia. Bukankah Allah adalah Mahakuasa?
Sebenarnya gampang buat Allah untuk menyelamatkan manusia
dengan kuasa-Nya. Bisa saja Dia melakukannya dari “langit”
tempat kerajaan-Nya memerin
tah. Bukankah Allah kita membuat segala sesuatu yang mustahil
menjadi mungkin terjadi?
Pertanyaan tersebut begitu menggelitik pergumulan iman kita.
Ini menunjukkan betapa terbatasnya manusia untuk memahami
Allah. Kita tidak bisa 100% mengetahui cara kerja Allah,
rencana-Nya dalam menyelamatkan manusia melalui jalan
penderitaan mulai dari kelahiran sampai kematian-Nya.
Buletin Pembinaan kali ini mencoba memberi jawaban dari
pertanyaan kritis di atas. Tentu saja bahasan kali ini masih
terkait dengan peristiwa Natal yang baru saja kita peringati.
2. Manusia Berdosa yang Tidak Bisa Menyelamatkan Dirinya
sendiri
Semua manusia di muka bumi ini tidak luput dari dosa. Rasul
Paulus dalam surat Roma 3: 9-20 menyatakan bahwa tidak ada
satupun manusia yang tidak berdosa (ay.10 bdn. ay. 23).
Keberdosaannya terlihat ketika manusia tidak mencari Allah;
menyeleweng dari kebenaran, tidak berbuat baik, kata-kata
mereka penuh dengan tipu daya dan sumpah serapah, cepat
menumpahkan darah, tidak takut kepada Allah, dll. (ay. 11-18).
Dalam keadaan yang berdosa, maka manusia tidak bisa menghapus
dosanya dan menyelamatkan dirinya dari maut yang adalah upah
dari dosa (Roma 6:23). Seumpama gambar yang sudah rusak sama
sekali dan tidak seorang pun yang dapat memperbaikinya.
Begitulah manusia adanya. Bukan cuma maut yang harus ditang
gung oleh manusia, tetapi kesendirian, ketakutan dan kesulitan
mengendalikan napsu dan keinginan menjadi bagian dari hidup
manusia sampai saat ini.
3. Oleh karena itu sejak awal kejatuhan manusia, Allah
telah berencana menyelamatkan manusia. Hanya Allah saja
yang mampu menyelamatkan manusia! Berbagai strategi dalam
menyelamatkan manusia telah dilakukan Allah. Mulai dari re-kreasi
(penciptaan kembali) kehidupan melalui peristiwa air bah dan
bahtera Nuh, pemanggilan Abraham dan pemilihan Israel sebagai
bangsa pilihan yang dibebaskan-Nya dari penjajahan Mesir,
memilih raja, bahkan mengirimkan nabi-nabinya. Namun semua
cara itu ternyata tidak membuat tersambungnya hubungan Allah
dengan manusia. Manusia tetap berkubang dan terbelenggu dalam
dosa. Allah Turun Tangan Langsung.
Akhirnya Allah mengeluarkan “kartu truff-nya” dalam
menyelamatkan manusia. Sebenarnya “kartu truff” ini
bukanlah hal yang baru karena Allah pun sudah menubuat-kannya
ketika Allah berkata kepada ular yang menggoda manusia pertama
berbuat dosa. “…keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan
engkau akan meremukkan tumitnya” (Kej. 3: 15b). “Kartu
truff” adalah hadirnya Yesus Kristus yang adalah Allah
sendiri yang datang untuk menyelamatkan manusia.
Sampai di sini kita kembali dibingungkan oleh pertanyaan
kritis diatas, mengapa Allah harus datang sendiri untuk
menyelamatkan manusia; mengapa Dia tidak memakai kuasa-Nya
saja menyelamatkan dari surga?
DR. Andar Ismail dalam bukunya “Selamat Natal” mengemukakan
bahwa sebenarnya Allah bisa saja lepas tangan, masa
bodoh dengan manusia yang berdosa. Bisa juga Dia gatal
tangan, hukum dan habisi manusia, ciptakan lagi yang baru.
Atau angkat tangan, putus asa dengan “kenakalan”
manusia. Namun Allah tidak menempuh ketiga cara tersebut; Dia
memilih turun tangan langsung menyelamatkan manusia.
Hanya satu alasan mengapa Dia menempuh cara turun tangan
langsung seperti yang tertulis dalam Yohanes 3:16, “Karena
begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia
mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang
percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang
kekal.” . Karena Allah penuh kasih dan peduli terhadap
dunia ini!
Cara yang digunakan Allah dalam menolong manusia yang berdosa
adalah dengan turun menjadi manusia. Allah menjadi manusia
yang mewujud dalam diri Tuhan Yesus Kristus. Peristiwa inilah
yang kemudian dikenal dengan inkarnasi Allah.
.
4. Inkarnasi Allah: Sebuah Misteri Ilahi
Indonesia kaya dengan mitos dan legenda. Salah satu mitos dan
legenda yang terkait dengan kepercayaan masyarakat adalah dewa/dewi
yang turun ke bumi, berubah wujud menyamarkan dirinya menjadi
manusia. Pertanyaannya sekarang adalah apakah inkarnasi Allah
sama seperti tindakan para dewa/dewi?
Inkarnasi berasal dari kata Latin, incanatio (“in” :
masuk ke dalam; “caro/carnis”: daging). Secara bebas kata ini
bisa kita artinya: “masuknya Allah ke dalam daging manusia
dalam diri Yesus Kristus. Inilah yang tertulis dalam Yohanes
1: 1, 14 “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu
bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah… Firman
itu telah menjadi manusia, dan diam diantara kita, dan kita
telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan
kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan
kebenaran.”
Hal inilah yang menunjukkan perbedaan antara tindakan dewa/dewi
yang menyamar menjadi manusia dengan inkarnasi Allah. Allah
tidak menyamar dengan mengenakan tubuh manusia. Allah tidak
kelihatannya seperti manusia. Tetapi Allah sungguh-sungguh
menjadi manusia. Salah satu ciri bahwa Allah menjadi
manusia yaitu Yesus melalui proses kelahiran yang berasal dari
kandungan seorang anak dara bernama Maria; sebuah proses yang
lazim bagi kehadiran manusia. Selain itu Yesus hidup dan
bertumbuh seperti layaknya manusia. Beberapa catatan Alkitab
mengemukakan bagaimana Yesus bertumbuh besar secara fisik dan
rohaninya (Luk. 2: 53). Dia makan bersama murid-murid-Nya. Dia
menangis (Yoh. 11:35). Dia mengalami ketakutan (Luk. 22: 44).
Namun harus diakui inkarnasi Allah ini tidak seluruhnya dapat
kita pahami. Wajar saja manusia adalah mahluk ciptaan yang
sangat terbatas. Sebab Allah adalah pencipta yang maha tidak
terbatas. Jelas tidak mungkin bagi manusia memahami Allah
sejelas-jelas dan selengkap-lengkapnya. Kita yang berusaha
merasionalkan Allah (dalam arti berusaha memahami Allah dengan
mengandalkan rasio) akan kecewa.
Salah satu yang menjadi misteri Ilahi adalah catatan yang
ditulis dalam beberapa kitab Injil; yakni Matius 1: 20 “…sebab
anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus”; Lukas
1: 35 “…Roh Kudus akan turun atasmu…”. Dua catatan ini yang
kemudian dalam rumusan Pengakuan Iman kita dinyatakan sbb.:
“…dikandung daripada Roh Kudus, lahir dari anak dara Maria…”
Ketika kita mencoba merenungkan apa yang tertulis dalam kedua
kitab Injil tadi, kita memang dapat menyaksikan bahwa Yesus
bukan hanya manusia saja; tetapi Dia juga adalah Allah
karena proses kelahiran-Nya tidak lepas dari Allah. Disinilah
kita memahami bahwa Yesus adalah sungguh-sungguh Allah dan
sungguh-sungguh manusia; Allah 100% dan manusia 100%. Bukan
setengah Allah dan setengah manusia.
Tetapi jangan pernah berpikir bahwa proses kehadiran-Nya
sebagai manusia melalui proses persetubuhan antara Roh Kudus
dengan Maria, seperti layaknya kehadiran anak dalam keluarga
melalui proses persetubuhan pria dan wanita. Inilah yang
menjadi misteri Ilahi yang terus terang sulit untuk dijelaskan
secara rasio. Namun hal ini tidak mengurangi kepercayaan
terhadap inkarnasi Allah. Kita harus mengakui bahwa ketika
berbicara tentang Allah, tidak seluruhnya kita bisa jelaskan
dan mengerti secara rasio; diperlukan sisi lain yang amat kuat
yaitu kita menerimanya secara iman.
5. Penutup: Allah yang Menyertai Manusia
Kita baru saja merayakan Natal. Sesungguhnya saat itulah kita
merayakan inkarnasi Allah. Allah menjadi manusia yang
menunjukkan kepada kita betapa sayangnya Allah kepada kita,
manusia. Dia turun tangan langsung karena manusia tidak bisa
menye
lamatkan dirinya sendiri. Allah peduli dengan kehidupan kita.
Selain menunjukkan kasih Allah, peristiwa inkarnasi Allah
memberikan kita keyakinan iman bahwa:
| |
1. Allah yang kita sembah bukanlah Allah yang jauh, yang
tidak bisa dijangkau oleh manusia. Karena Dia adalah Allah
yang menjadi manusia, maka Dia menjadi dekat dengan
manusia, yang dapat dijumpai kapan saja dan dimana saja,
kita ingin menjumpainya.
2. Allah yang kita sembah adalah Allah yang memahami dan
mengerti segala pergumulan kita. Dia turut merasakan apa
yang kita rasakan, menanggung apa yang kita tanggung,
termasuk penderitaan kita karena Dia sudah terlebih dahulu
menderita untuk kita (lih. Ibr. 4: 15 “Sebab Imam Besar
yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat
turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama
dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.”).
Karena itu kita mengenal Allah kita pun sebagai sahabat
yang bersimpati dan berempati terhadap kita. |
Kedua hal ini kiranya dapat menjawab pertanyaan kritis di
depan mengapa Allah mau turun menjadi manusia? Dia pakai cara
ber-inkarnasi agar dekat dan mengerti kehidupan manusia,
ciptaan-Nya yang sempurna namun kehilangan kemuliaan Allah
karena dosa. Dia memang bisa menyelamatkan manusia dari
tempat-Nya yang tinggi, namun hal ini tidak akan pernah
membuat manusia merasa dekat dengan-Nya. Inkarnasi Allah juga
membuat kita yakin bahwa Allah kita adalah Allah yang selalu
hadir memberikan kekuatan kepada kita untuk melawan dosa.
Hal inilah yang menandai bahwa Dia adalah Allah yang menyertai
manusia. Immanuel.
--------------------------------------------
Andar Ismail, Selamat Natal, BPK Gunung Mulia, h. 4-5, 1992
(Nantikan
Seri Pembinaan selanjutnya!)
|