» Media Pelayanan Antar Jemaat, Antar Gereja, Antar Denominasi OnLine
Serba - Serbi Rohani
   
 
Fasilitas Pencarian


» Home
» Acara Hari Ini
» Gereja
» Gereja Dunia
» Permohonan Doa
» Form Konsultasi
» Solusi Problema
» Form Kesaksian
» Kumpulan Kesaksian
» Pelangi Jiwa
» Renungan Kecik
» YAMARI
» YASUMA
» PPK Tabitha
» RPUK Muara Kasih
» PA.ASIH LESTARI
» Humor
» Kartu Ucapan
» Peluang Karier
» Donasi














 

 

 

 

 

 

 

 














 











 
» Pembinaan Iman Kristen

 Seri Pembinaan Iman Kristen ini merupakan kumpulan artikel yang diambil dari Buletin Pembinaan yang diterbitkan oleh
Majelis Jemaat GKI Kayu Putih Jakarta Timur.
Topik hangat dan relevan untuk jemaat ini, dirancang oleh
Tim Pengerja GKI Kayu Putih disajikan dengan rasa syukur untuk sahabat sekalian
 


Mengenal Injil Barnabas
 


Pengantar
Jika kita mendengar kata Injil, maka pikiran kita segera mengarah pada keempat kitab pertama dalam Perjanjian Baru. Injil, berasal dari kata Yunani: εύαγγελίον, berarti Kabar Baik, yaitu kabar tentang keselamatan yang dikerjakan Allah di dalam Yesus Kristus. Memang benar, bahwa dalam keempat kitab Injil, kita dapat melihat riwayat (singkat) hidup Yesus. Ketiga Injil yang pertama (Matius, Markus dan Lukas) mengisahkan riwayat kehidupan itu dengan sudut pandang yang sama, sehingga disebut Injil Sinoptik (= melihat bersama; Yun: sun = bersama dan opto = melihat), sedangkan Injil Yohanes mengisahkan riwayat Yesus dengan sudut pandang ke-Allah-an Yesus.
Lalu, ketika kita mendengar ada Injil lain yang bernama ‘Injil Barnabas’ (selanjutnya disingkat IB), maka berdasarkan definisi di atas kita bisa menduga kalau isinya juga berkisah tentang riwayat hidup Yesus, terlepas dari sudut pandang mana yang ia gunakan. Tetapi, apakah memang demikian? Apakah isinya memang tentang karya keselamatan Allah di dalam Yesus Kristus? Lalu, jika isinya memang demikian, apakah ia memiliki wibawa yang sama dengan keempat Injil dalam Alkitab? Apakah beritanya sama dengan yang ditulis dalam keempat Injil?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan kita bahas bersama dalam Buletin Pembinaan kita kali ini. Pemahaman kita tentang Injil dan isinya menjadi jalan masuk untuk mengkritisi IB.

Kemunculan “Injil” Barnabas
Pada tahun 1709, Cramer, seorang penasihat Raja Prusia (sekarang Jerman), memberikan kepada John Toland sebuah naskah berjudul ‘Injil Barnabas’ dalam bahasa Italia di Amsterdam. Naskah aslinya sampai saat ini masih tersimpan di The Imperial Library Wina. Pada tahun 1718 IB mulai disebut dalam karangan John Toland yang berjudul 'Nazarenus or Jewish, Gentile and Mohamedan Christianity'.
Buku ini mulai menghebohkan ketika diterbitkan terjemahannya ke dalam bahasa Inggris oleh Lonsdale Ragg dan Laura Ragg dan diberi judul 'The Gospel of Barnabas' (Oxford, 1907). Pada tahun 1908 buku ini diterjemahkan oleh Khalil Saada (seorang Kristen) ke dalam bahasa Arab, dan pada akhirnya diperkenalkan ke Indonesia oleh Ahmad Shalaby. Beberapa terjemahan dalam bahasa Indonesia ditulis antara lain oleh J. Bachtiar Affandie (Jasana, 1969); Husein Abubakar & Abubakar Basjmeleh (Pelita, 1970, diterjemahkan dari bahasa Arab) – yang berisi a.l. banyak catatan pinggir ayat-ayat Alkitab yang diambil dari terjemahan Lonsdale dan Laura Ragg, dan Rahnip M. (Bina Ilmu, 1980) – dengan diberi notasi ayat-ayat Quran.

Barnabas?
Lalu, penggunaan nama Barnabas sendiri menimbulkan pertanyaan di sana sini. Apakah memang “injil” ini ditulis oleh Barnabas, rekan sekerja Paulus ? Atau oleh Barnabas lainnya, mengingat ada banyak nama itu pada zaman dahulu? Atau bisa jadi menggunakan nama Barnabas – rekan kerja Paulus - untuk memberi wibawa pada “injil” yang ditulis tsb., seperti: surat Titus yang menggunakan nama Paulus.
Selain IB yang sempat menjadi kontroversi, ada juga kitab 'Kisah Barnabas' - yang merupakan kitab Apokrifa - yang didasarkan pada kitab ‘Kisah Para Rasul’ dan menceritakan dengan lebih jelas perjalanan Barnabas dan Paulus, dan pertentangan soal Markus. Kitab ini memberi kesan ditulis oleh Markus, tetapi menurut penelitian diketahui bahwa kitab ini ditulis sekitar abad II sampai V. Ada juga 'Surat Barnabas' yang mempersoalkan apakah Perjanjian Lama itu untuk orang Yahudi atau juga untuk orang Kristen dan juga berisi beberapa pengajaran moral. Kitab ini tidak diakui sah, dan diperkirakan ditulis seorang pemimpin gereja sesudah ditulisnya kitab terakhir dalam Alkitab (abad II).
Sampai di sini kita belum bisa menyimpulkan siapa Barnabas yang dimaksud. Oleh karena itu, marilah kita masuk pada bagian selanjutnya.

Mengurai isi “Injil” Barnabas
IB berisi 222 pasal, cukup tebal bila kita bandingkan dengan keempat Injil (yang berjumlah 79 pasal). Memang isinya merupakan gabungan dari keempat Injil dan berbagai unsur lainnya. Dalam IB pasal 1-9 kita dapat melihat kisah mengenai: pemberitahuan tentang kelahiran Yesus; mimpi Yusuf; sensus penduduk; kelahiran Yesus; para gembala; Yesus disunat; para majus; mimpi para majus; Yesus diserahkan kepada Tuhan di Bait Allah; pembunuhan kanak-kanak di Yerusalem; pengungsian ke Mesir; dan tindakan Yesus di Bait Allah. Kalau dicermati, urut-urutan kisah tsb. merupakan gabungan dari Injil Matius dan Injil Lukas.
Pada bagian selanjutnya, diuraikan segala kejadian lain dari hidup Yesus dan ajaran-Nya dengan tekanan pada ajaran Yesus. Isinya kurang lebih dua pertiga diambil dari keempat Injil. Misalnya: Yesus menyembuhkan seorang kusta (ps. 11), Yesus memilih 12 rasul (ps. 14) , perlu tidaknya membayar pajak kepada kaisar (ps. 31) dst. Ada juga bagian-bagian yang tidak berkaitan dengan keempat Injil, misalnya judul ps. 22 yang berbunyi, “Keadaan yang menyedihkan dari orang yang tidak disunat: seekor anjing lebih baik daripada mereka”, atau percakapan antara Abraham dan ayahnya (ps. 26). Dalam ps. 35 kita dapat membaca tentang terjadinya pusat (= pusar): setan meludahi manusia dan Gabriel membuang ludah itu dan terjadilah pusat.
Dalam IB, peranan Ismael amat menonjol: di antara 10 orang kusta yang disembuhkan terdapat seorang Ismaeli (ps. 19); Abraham harus mengorbankan anaknya Ismael (ps. 44) ; dan Allah adalah Allah Abraham, Ismael dan Ishak (ps. 212). Dalam pasal2 yang terakhir, kita dapat menjumpai banyaknya perbedaan dengan keempat Injil. Sesudah perjamuan Paskah dan pengkhianatan Yudas, Yesus mau ditangkap. Ketika serdadu-serdadu mendekati Yesus “tibalah para malaikat kudus dan diambilnya Yesus dari jendela yang menghadap ke sebelah selatan. Diangkatnya Yesus dan diletakkannya di sorga yang ketiga di tengah-tengah para malaikat yang memuji-muji Allah untuk selama-lamanya” (ps. 215). “Dan berubahlah wajah Yudas menjadi wajah Yesus, sehingga Yudas ditangkap dan disalibkan, padahal disangka Yesus yang dibunuh! Ketika Yudas meninggal dan dikubur, para murid Yesus datang dan mencari mayat Yudas, karena disangkanya tubuh Yesus” (ps. 218).
Dalam ps. 220 Yesus berbicara kepada Barnabas, katanya, “Meskipun Aku tiada bersalah di dunia, Aku disebut ‘Allah’ dan ‘Anak Allah’, maka supaya Aku tidak akan diejek oleh setan2 pada hari kiamat, Allah berkehendak agar aku diejek oleh manusia dengan matinya Yudas yang dikira Akulah yang telah mati di kayu salib. Dan ejekan itu akan terus berlangsung sampai datangnya Muhammad Rasul Allah, yang apabila ia datang akan mengungkapkan penipuan kepada mereka yang percaya akan syariat Allah”. (Ayat ini aneh sekali. Andaikata Barnabas dikarang pada abad pertama, pengarangnya sudah tahu bahwa kitabnya akan tersembunyi sampai datangnya Muhammad. Lalu mengapa kitabnya itu ditulisnya?) Ps. 222 merupakan pasal terakhir yang berisi serangan atas mereka yang menyebut Yesus sebagai Anak Allah seperti yang dilakukan oleh Paulus.
Selain perbedaan2 di atas, ada juga perbedaan tentang tahun Yobel . Dalam ps. 82 disebut bahwa tahun Yobel dirayakan setiap 100 tahun, padahal dalam Perjanjian Lama (Imamat 25:8-55;27:16-25) disebut bahwa tahun Yobel lamanya 50 tahun. Ini menunjukkan bahwa kitab IB baru ditulis setelah tahun 1300 karena pada tahun itu Paus Bonifacius VII mendekritkan perubahan tahun Yobel menjadi 100 tahun.
Ada satu hal lagi yang cukup menonjol dalam IB, yaitu mengenai keberadaan Yohanes Pembaptis, sebagai perintis jalan bagi karya Yesus malah tidak disebut-sebut dalam IB. Sangat mungkin penulis IB menganggap bahwa Yesuslah yang bertindak sebagai perintis jalan, semacam Yohanes Pembaptis bagi Muhammad. Padahal, Yohanes Pembaptis disebut dalam Al Quran (Q 19:12-15). Tentu ini menjadi pertanyaan penting, mengapa IB menghapus peranan Yohanes Pembaptis.
Setelah kita melihat uraian di atas, jelas bahwa isi IB kira-kira sama banyaknya dengan gabungan keempat Injil ditambah dongeng tradisi Yahudi, Kristen dan Islam, yang disatukan dengan cerita-cerita keempat Injil kanonik. IB pun merupakan usaha sistematis untuk menyelaraskan keempat Injil menjadi satu Injil yang dibumbui dengan tradisi agama Yahudi, Kristen dan Islam.

Otentisitas “Injil” Barnabas

Setelah kita mengenal isi IB, maka kita dapat memunculkan sejumlah keraguan terhadap kebenaran isinya, karena sangat berbeda dengan keempat Injil yang kita kenal. Ada cukup banyak tradisi Yahudi yang muncul dan nafas Islamnya sangat terlihat . Namun, sebelum kita menyimpulkan demikian, alangkah baiknya jika kita meninjau ulang berbagai studi kritis terhadap IB.
Di samping naskah berbahasa Italia yang disinggung di atas, ada juga naskah bahasa Spanyol, yang diterjemahkan dan diberi kata pengantar oleh Mustafa de Aranda. Di dalam kata pengantarnya, dikisahkan riwayat tentang Fra Marino dan penemuan “injil” ini. Dalam naskah tersebut dikisahkan bahwa Fra Marino, seorang uskup, yang hidup pada abad ke-16, berkunjung ke istana Paus Sixtus V (1521-1590). Sejak semula ia mempunyai kerinduan untuk dapat membaca IB. Karena terlalu lelah, Paus tertidur di muka tamunya itu. Guna memanfaatkan waktu, Fra Marino masuk ke perpustakaan Paus dan menemukan IB di dalamnya. Ia sangat tertarik terhadap “injil” tsb., dan mengingat ia yakin bahwa kitab yang berharga itu tidak boleh dipinjamnya, maka ia berniat mencurinya. IB pun dimasukkan dalam jubahnya dan begitu Paus terbangun, ia pamitan pulang. Di rumah, ia membaca “injil” itu dan akhirnya secara spontan ia memeluk Islam.
Terhadap catatan itu, para ahli banyak mengajukan keberatan, sebab gambaran kisah tsb. sebenarnya terdapat juga dalam IB, yaitu dalam ps. 192, yang mengatakan:

Seluruh kitab itu saya tidak sempat membacanya, sebab Imam tertinggi agama itu – di dalam perpustakaan miliknya di mana saya membaca – melarang saya, mengatakan bahwa seorang Ismaeli telah menulisnya.

J. Slomp - salah seorang penulis buku Seluk-beluk Buku yang disebut Injil Barnabas - menyatakan bahwa Fra Marino dan Mustafa de Aranda adalah orang yang sama. Para ahli lain berpendapat bahwa penulis “injil” ini adalah Fra Marino, yang tidak lain adalah Mustafa de Aranda sendiri. Jadi, penulis dan penerjemah adalah orang yang sama.
Dari kata pengantar IB bahasa Spanyol, para ahli merekonstruksikan beberapa fakta sbb:
a. Pengarang adalah seorang penganut, atau yang kemudian menjadi penganut agama Islam dan memanfaatkan tafsir populer dari tradisi kaum Muslimin terhadap Kekristenan.
b. Penunjukkan secara khusus nama Paulus, mengawali penulisan IB dan pasal2 selanjutnya memperkembangkan anggapan itu. Di sini, kisah tentang Fra Marino yang mencari IB - yang disebut Ireneus untuk menyerang Paulus - sejajar dengan pasal2 IB yang memaki2 Paulus sebagai penyesat dan penyeleweng ajaran Yesus yang asli.
c. Dalam IB, juga ada kisah tentang seorang imam yang menemukan Taurat asli yang ditulis Musa dan Yosua di perpustakaan Imam Agung – yang berisi bahwa Ismail adalah nenek moyang Mesias, sedangkan Ishak adalah nenek moyang dari utusan Mesias; lalu taruhan hukuman mati apabila kebenaran itu diungkap (ps. 191-192). Kisah tsb. sesungguhnya menggambarkan sandiwara pengarang sendiri yang hidup di bawah tekanan2 gereja dengan inkuisisinya.

Selanjutnya, jika kita memperhatikan daftar kanon yang muncul pada abad2 pertama Masehi, maka kita tidak menjumpai IB di dalamnya. Namun beberapa penulis Islam mempunyai cara untuk menangkalnya. Lalu, dalam terbitan ulang terjemahan IB oleh Abubakar & Basjmeleh, ada sisipan catatan kecil yang berisi kata sambutan dari Prof. Abdul Kahar Muzakir, Dekan FH UII Yogyakarta, yang menyatakan bahwa ada 35 Injil apokrif. Semua Injil-injil tsb. telah musnah dan hanya tinggal namanya saja, kecuali IB yang telah diketemukan pada masa yang lalu. Selain tidak tercantum dalam daftar kanon, IB pun tidak pernah disinggung atau dikutip dalam tulisan2 yang muncul pada abad I dan II M (lih. daftar selengkapnya dalam Bambang Noorsena, Telaah Kritis atas Injil Barnabas (Yogyakarta: ANDI, 1990), h. 15-16).

Beberapa kejanggalan lainnya dari “Injil” Barnabas
Pemaparan di atas telah meragukan otentisitas IB. Berikut ini ada sejumlah kejanggalan yang dikemukakan oleh IB sendiri, yaitu:
a. Kejanggalan Linguistik
Ada sebuah cara lain untuk menguji otentisitas IB, yaitu dengan melakukan kritiks teks . Para ahli yang mempelajari bahasa Italia dalam IB menemukan banyak kesalahan. Sering kali huruf ‘H’ ditambahkan, padahal hal itu tidak lazim dalam bahasa Italia, mis: kata Anno (= tahun) ditulis Hanno. Ada juga kata Chrissto (= Kristus) ditulis dengan dua huruf ‘S’ padahal lazimnya satu saja. Bahasa Italia yang digunakan pun bukan bahasa Italia yang baik. Secara keseluruhan, nampak bahwa IB ditulis dalam dialek Toscan dan Venezian. M. De Epalza, seorang cendekiawan dan frater Yesuit Spanyol mengatakan bahwa banyaknya kesalahan ejaan di atas adalah khas bagi seorang yang menggunakan bahasa Spanyol sebagai bahasa ibu (lingua franca). Ditambahkan pula, bahwa naskah Italia itu bukanlah terjemahan dari bahasa lain, sebab sebuah karya terjemahan biasanya masih menampakkan bahasa aslinya secara samar -samar. Jadi, dapat dikatakan bahwa IB memang ditulis dalam
bahasa Italia, bahasa yang belum ada pada zaman Yesus dan baru muncul tiga belas abad sesudahnya.
Pada pinggiran naskah bahasa Italia, ada banyak halaman yang dibubuhi notasi-notasi dalam bahasa Arab. Namun bahasa Arab yang digunakan kualitasnya sangat jelek. Para ahli telah menyimpulkan adanya pengaruh Turki dalam catatan pinggir bahasa Arab tsb. Beberapa pengamat segera menghubungkannya dengan Kata Pengantar dalam bahasa Spanyol yang mengisahkan pelarian Mustafa de Aranda ke Istambul (Turki). Dari fakta ini sangatlah logis untuk memperkirakan bahwa di tempat hijrahnya inilah Mustafa de Aranda mempelajari bahasa Arab, sehingga pengaruh Turki yang diperlihatkan dalam catatan itu dapat ditelusuri. Maka jelaslah bahwa catatan2 pinggir tsb. dibubuhkan oleh orang yang sama yang juga menulis IB.

b. Kejanggalan Historis
Dalam IB ps. 3 dimuat kisah kelahiran Yesus sbb:

Di sana ketika itu Herodes memerintah atas tanah Yudea dengan titah Kaisar Agustus dan Pilatus adalah Gubernur, sedangkan jabatan kepala agama dipegang oleh Hannas dan Kayafas.

Menurut sejarah – dan sesuai dengan Perjanjian Baru, Pilatus baru menjabat sebagai gubernur atau wali negeri di wilayah itu pada tahun 29 M, sedangkan Yesus dilahirkan k.l. 4/5 SM. Kekeliruan nama pun tidak mungkin, karena Kaisar Agustus menetapkan pemerintahan langsung atas Yudea oleh seorang wali negeri baru pada tahun 6 M.

c. Kejanggalan Geografis
Dalam ps. 20 dikisahkan bahwa Yesus pergi ke Galilea dengan
sebuah perahu dan berlayar ke kota Nazaret. Peta bumi Palestina menunjukkan bahwa Nazaret adalah sebuah kota yang terletak di dataran tinggi, di mana jarak antara Nazaret dan laut Galilea k.l. 20 km. Lalu dalam ps. 21 dikisahkan bahwa setelah dari Nazaret, Yesus pergi naik ke Kapernaum (Jesus went up to Capernaum). Padahal, Kapernaum adalah sebuah kota pesisir yang terletak di pantai laut Galilea, tinggi permukaannya tentu saja lebih rendah daripada kota Nazaret. Jadi tidaklah mungkin IB ditulis oleh seorang yang pernah tinggal di Palestina atau bahkan seorang murid Yesus di abad 1 M.

d. Kejanggalan Budaya
Dalam ps. 145-150 dikisahkan bahwa orang-orang Farisi menjadi rahib, tidak kawin, dan berjubah istimewa, dan perilaku tersebut berasal dari nabi Elia. Ini sebenarnya gambaran kekristenan pada abad-abad pertengahan setelah timbulnya kerahiban. Bahkan dikisahkan juga bahwa pada masa Nabi Elia, telah ada orang-orang Farisi, padahal aliran Farisi dalam agama Yahudi baru berkembang pada zaman Perjanjian Baru.
Dalam ps. 152 dikisahkan tentang prajurit Romawi yang bergulingan - seperti tong anggur kosong dari kayu - ke luar dari bait Allah. Kenyataannya, pada masa Yesus orang Romawi tidak diperkenankan masuk bait Allah, dan pembuatan tong-tong anggur dari kayu adalah budaya abad pertengahan. Ps. 69 menyebut para imam berpakaian indah dan naik kuda, padahal dalam Injil kanonik para imam tidak pernah disebut naik kuda. Dalam ps. 56-58, 135 ada diskripsi tentang tujuh dosa pokok dan tujuh tingkat dalam neraka. Ini adalah hasil teologia Katolik abad pertengahan.
 
e. Kejanggalan Perekonomian
Dalam ps. 54, tertulis nama mata uang Spanyol kuno, yang
ditempatkan dalam pembicaraan Yesus dengan para muridnya: “Barang siapa menukarkan satu ‘Denarius’ ia mesti memperoleh 60 ‘Minuti’.” Kedua istilah di atas merupakan pembagian dalam satuan mata uang Spanyol kuno.
Lalu dalam kisah tentang Yesus memberi makan orang banyak, disebutkan dalam ps. 98 bahwa 200 keping emas tidaklah cukup untuk memberi makan 5000 orang. Padahal dalam Injil kanonik, disebutkan 200 dinar – yang terbuat dari perak (Mrk. 6:37). Dengan 200 keping emas, maka Tuhan Yesus tidak perlu mengadakan mujizat karena uang sebanyak itu pastilah cukup memberi makan 5000 orang sekaligus.
Selain berbagai kejanggalan di atas, ada juga beberapa pengaruh abad pertengahan yang terekam dengan baik dalam IB, spt: Model Liturgi Gerejawi yang khas abad pertengahan (di mana puasa 40 hari mulai ditetapkan bnd. IB ps. 91-92 yang mengisahkan Tuhan Yesus dan para murid berpuasa selama 40 hari untuk memenuhi syariat, doa Tuhan Yesus bdk. 1 Ptr. 5:8 bnd. IB ps. 61); perkembangan Mariologi (dalam IB ps. 3 dikisahkan tentang Maria yang melahirkan dengan tidak merasakan sakit); pengaruh filsafat Skolastik yang berkembang pada abad 13 M (ps. 105 yang memuat pembagian diri manusia: Roh, tubuh dan jiwa); dan situasi kapitalistis (ps. 194 yang mengisahkan bahwa Lazarus dan kedua saudarinya digambarkan memiliki tempat tinggal di dua desa: Magdala dan Betania).

Kesimpulan terhadap “Injil” Barnabas
Berdasarkan pemaparan di atas, maka kita dapat mengambil kesimpulan bersama bahwa buku yang berjudul ‘Injil Barnabas’ adalah sebuah buku yang sengaja ditulis pada akhir abad pertengahan, k.l. abad 13-16 M dengan menggunakan bahasa Italia yang cukup kentara pengaruh aksen Spanyolnya. Ditulis oleh seseorang yang hidup pada masa diberlakukannya inkuisisi oleh Gereja Katolik Roma, dan kemungkinan ia (baru) memeluk agama Islam. Isinya sedikit banyak sejalan dengan ajaran dan pemahaman agama Islam , tetapi bertentangan dengan tradisi dan sejarah Yahudi serta keyakinan Kristen. Buku tsb. sengaja menggunakan nama Barnabas – rekan sekerja Paulus yang kemudian berpisah – untuk memberi wibawa pada “injil” tsb. Jadi, meskipun IB mengandung banyak bahan dari Injil kanonik, arah dan tujuan utamanya jelas berlainan dengan arah dan tujuan Injil kanonik.

Bagaimana posisinya terhadap Alkitab?
Alkitab bersifat kanonik (Yun: canon = ukuran, patokan). Arti sederhananya adalah bahwa Alkitab yang kita miliki sekarang ini tidak lagi bisa ditambahi atau dikurangi, sekalipun pada masa kini diketemukan berbagai kitab asli dari zaman PB seperti kumpulan naskah dari Qumran yang ditemukan k.l. tahun 1940-an atau sekalipun menurut penilaian kita ada kitab-kitab yang terasa kurang pas untuk dimasukkan dalam kanon Alkitab (mis: Kitab Esther yang tidak menyebut kata Tuhan di dalamnya). Selain itu, Alkitab sudah menjadi ukuran atau patokan yang cukup bagi iman kita, di mana melaluinya kita dapat mengenal jalan keselamatan yang dikerjakan oleh Yesus Kristus.
Dengan berpegang pada sifat di atas, maka kita harus menganggap kitab-kitab apokrifa sebagai kitab-kitab rohani biasa yang tidak memiliki wibawa yang kuat bagi iman kita. Kitab-kitab itu hanya dapat kita gunakan sebagai pembanding dan juga studi ilmiah. Namun, karena IB tidak tergolong sebagai kitab apokrifa, karena isinya yang tidak sesuai dengan Alkitab bahkan kitab-kitab apokrifa itu sendiri, maka kita harus menganggapnya sebagai buku biasa dengan nilai kebenaran yang keliru bila dipandang dari sudut iman Kristen.

Refleksi Teologis : bagaimana sikap kita?
Satu hal penting yang harus kita sadari bersama adalah bahwa di samping Alkitab yang kita miliki saat ini, ada juga kitab-kitab lainnya dari abad pertama dan sesudahnya yang berkisah tentang Tuhan Yesus, para murid dan rasul-Nya ataupun tentang orang lain pada masa Yesus hidup dan sesudahnya (yaitu kitab Apokrif), terlepas dari apakah isinya sesuai dengan Alkitab atau tidak. Sekalipun demikian, keberadaan kitab Apokrif tersebut seharusnya tidaklah mengendurkan apalagi menggugurkan iman kita. Rasul Paulus sendiri mengemukakan kenyataan akan adanya “injil” lain dan bagaimana sikap kita terhadapnya sebagaimana yang tertulis dalam Galatia 1:6-10.
Keberadaan kitab-kitab Apokrif seharusnya kita pandang positif dalam rangka memperluas wawasan dan memperteguh iman kita. Di situlah esensi dialog terjadi, yaitu ketika kita mendialogkan apa yang kita yakini dengan apa yang kita ketahui dari sumber lain, sehingga kita semakin diperkaya olehnya. Pun demikian seharusnya sikap kita setelah mengenal dan menyelidiki seluk beluk IB.
Ungkapan “Blessing in Disguise”, “Ada hikmah di balik musibah” ataupun keyakinan “... Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia ...” (Rm.8:28) rasanya terasa pas kita kemukakan dalam pembahasan mengenai IB. Sepatutnyalah kita bersyukur dengan kemunculan IB ini, karena setidaknya, dengan mengenal IB, maka kita lebih mengenal Injil Yesus Kristus sebagaimana yang tertulis dalam keempat Injil.
Selain itu, kemunculan buku terjemahan “Injil” Barnabas di Indonesia sebenarnya diprakarsai oleh kalangan Islam. Keberadaan buku terjemahan itu sebenarnya baik sejauh ia dapat menolong kita untuk dapat lebih memahami isi dari buku asing itu. Namun sayang, bahwa ternyata keberadaan buku terjemahan itu malah digunakan untuk menunjukkan kekurangan atau kesalahan dari agama lain, d.h.i. Kristen. Memang kenyataannya demikian karena buku ini kemudian digunakan sebagai sarana dakwah bagi orang Kristen, walaupun beberapa ahli Islam menolak IB sebagai suatu kebenaran.
Tentunya, amatlah tidak adil menyatakan pihak lain salah atau sesat dan kemudian menyatakan diri sendiri sebagai yang benar dengan mendasarkan pernyataannya pada sesuatu yang nilai kebenarannya diragukan, yaitu IB. Dan kurang etis juga apabila kita kemudian menuding para penerjemah IB ke dalam bahasa Indonesia sebagai orang-orang yang telah menyebarkan fitnah dan kekejian. Mengapa? Karena barangkali orang Kristen pun tidak luput dari perilaku yang sama, yaitu menyatakan pihak lain salah atau sesat dengan mendasarkannya pada sesuatu yang tidak valid. Lagipula “dialog” yang demikian bukanlah dialog yang sehat, karena mempertentangkan apa yang diyakini oleh masing-masing pihak.
Marilah kita ingat apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus kepada orang banyak saat berkotbah di atas bukit dan yang juga ditujukan kepada kita saat ini, “Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Mat. 7:2).


Bacaan Acuan
Drewes, B.F. dan Slomp, J. Seluk Beluk Buku yang disebut Injil
Barnabas. Jakarta: BPK Gunung Mulia dan Yogyakarta: Kanisius, 1983.
M, Rahnip. Terjemah Injil Barnabas, cet. ke-2. Surabaya: Bina Ilmu,
1981.
Noorsena, Bambang. Telaah Kritis atas Injil Barnabas, edisi revisi.
Yogyakarta: ANDI, 1990.


(Nantikan Seri Pembinaan selanjutnya!)
 

| A R S I P |

 

 

Sahabat Surgawi
Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja
antar denominasi OnLine

www.sahabatsurgawi.net
webmaster@sahabatsurgawi.net
Copyright © 2002, Tim Sahabat Surgawi