|
A. Apa Itu Liturgi?
Apakah ibadah Kristen itu ? Dalam bahasa Inggris, istilah yang
dipakai untuk "ibadah” adalah worship, yang berasal
dari kata Inggris kuno weorthscipe. Weorth (=worthy)
berarti "layak" dan scipe (=ship) menunjukkan
atribut respek atau hormat kepada seseorang. Jadi, ibadah
(worship) adalah suatu pemujaan; pernyataan hormat kepada
Tuhan yang dianggap layak disembah. Dalam bahasa Ibrani (PL),
dipakai kata shachah yang berarti "menundukkan diri."
Dalam bahasa Yunani (PB) digunakan kata proskuneo yang
berarti menyembah atau "mencium tangan kepada." Jadi, ibadah
adalah ungkapan penyembahan manusia di hadapan AllahNya. Namun
dalam ibadah Kristen, komunikasi yang terjadi bukan hanya satu
arah, melainkan dua arah. Martin Luther mendefinisikan ibadah
sebagai saat dimana Allah berbicara kepada jemaat lewat
FirmanNya (revelation) dan jemaat berbicara kepadaNya (merespons)
dalam doa dan pujian. Jadi, dalam ibadah terjadi dialog (komunikasi)
antara Allah dan jemaat. Masing-masing saling berinteraksi.
Tuhan lebih dahulu berinisiatif menyatakan diri, baru kemudian
jemaat menanggapi. Adanya dua pihak yang terlibat ini
tergambar jelas dalam istilah bahasa Jerman untuk "ibadah":
Gottesdienst. Kata ini bermakna ganda: Pelayanan Allah
(God's service) dan pelayanan kita kepada Allah (our
service to God).
Menarik sekali, bahwa kata "liturgi' berasal dari kata
berbahasa Yunani: leitourgia. Asal katanya adalah
laos (artinya rakyat) dan ergon (artinya pekerjaan).
Jadi, liturgi adalah pekerjaan publik atau pekerjaan yang
dilakukan oleh rakyat/jemaat secara bersama-sama. Jadi,
liturgi adalah kegiatan peribadahan dimana seluruh anggota
jemaat harus terlibat secara aktif dalam pekerjaan bersama
untuk menyembah dan memuliakan nama Tuhan. Dengan pengertian
ini, dapat dikatakan bahwa "liturgi" adalah "ibadah." Setiap
ibadah Kristen (apapun denominasinya) harus bersifat liturgis;
artinya melibatkan setiap orang yang hadir didalamnya. Ibadah
dimana jemaat hanya menjadi penonton yang pasif bukanlah
ibadah sesungguhnya. Oleh karena semua anggota jemaat harus
terlibat aktif, perlu ditentukan kapan giliran mereka
berpartisipasi dalam ibadah dan bagaimana bentuk
partisipasinya (apakah menyanyi, berdoa, memberi persembahan,
dll). Dari sini muncullah "tata ibadah"yang mengatur giliran
partisipasi setiap orang. Tata ibadah sering disebut
liturgi dalam arti sempit.
Banyak orang memiliki konsep yang keliru tentang ibadah. Kita
cenderung memandang ibadah seperti pertunjukan teater. Yang
menjadi aktor adalah pendeta dan pelayan ibadah lainnya.
Penontonnya adalah anggota jemaat yang hadir, sedangkan
sutradaranya adalah Tuhan. Konsep ini keliru karena memandang
jemaat hanya sebagai penonton! Soren Kierkegaard, seorang
teolog Eropa abad ke-19, mengatakan bahwa dalam ibadah
Kristen, aktornya adalah jemaat. Sutradaranya adalah para
pelayan ibadah (pendeta, liturgos, pemusik), sedangkan
penontonnya adalah Tuhan! Tata ibadah adalah skenario drama
yang harus dimainkan oleh anggota jemaat sebagai para pemeran.
B. Ibadah yang Hidup
Setiap gereja tentu ingin memiliki ibadah yang hidup dan
menyegarkan. Belakangan ini banyak orang mencoba membuat
ibadah di jemaatnya `lebih hidup' dengan mengganti liturgi
yang ada dengan liturgi yang lebih populer atau trendy. Yang
lainnya mengubah jenis nyanyian atau alat musik yang dipakai.
Cara ini memang bisa membuat ibadah lebih semarak, lebih ramai,
lebih populer, namun belum tentu menjadi lebih hidup! Sebuah
ibadah baru dikatakan hidup jika melaluinya terjadi penyatuan
dengan Allah (union with God), dimana lewat komunikasi selama
ibadah, jemaat menjadi "sehati sepikir" dengan Allah. Jemaat
menjadi sadar apa yang menjadi kehendak Allah bagi mereka. Apa
hasilnya? Tuhan dimuliakan (glorification) dan orang percaya
dikuduskan (sanctification). Jadi, ibadah yang hidup adalah
ibadah yang melaluinya seseorang bisa mengalami perjumpaan
dengan Tuhan dan perjumpaan itu mentransformasi hidupnya.
Orang bisa rnerasakan kehadiran Tuhan menyapa mereka.
Sebenarnya Tuhan hadir dimana-mana, tidak hanya di gedung
gereja saat ibadah berlangsung. Namun demikian, kerapkali kita
lebih dapat merasakan kehadiran Allah dalam ibadah di gereja,
sebab pada saat itu kita benar-benar memfokuskan diri kepada
Tuhan. Hal ini dapat diumpamakan seperti selembar kertas yang
tergeletak di sebuah lapangan parkir pada siang hari yang
panas. Cahaya matahari bersinar merata di segala sudut, namun
tidak dapat membakar kertas itu. Hanya jika ada orang membawa
kaca pembesar lalu memfokuskan cahaya matahari ke atas kertas
itu, kertas dapat terbakar. Begitu pula dalam ibadah. Saat
jemaat sungguh mengarahkan hatinya kepada Tuhan, barulah
mereka dapat merasakan hadirNya dan ditransformasi olehNya.
Persoalannya, bagaimanakah liturgi GKI bisa menciptakan
transformasi hati didalam ibadah? Untuk itu kita perlu
melakukan 'bedah liturgi' lebih dahulu. Kita perlu memahami
benar pola dasar liturgi kita, sebelum bisa membangun strategi
untuk menghidupkan ibadah lewat liturgi kita.
C. Mengenal Pola Ibadah Kita
Liturgi yang kita pakai di GKI berasal dari tradisi gereja
Reformasi yang berbentuk dialog. Jadi, dalam liturgi GKI, dari
awal sampai akhir terjadi dialog antara Tuhan dan jemaat.
Dialog itu terjadi dalam empat babak. Itu sebabnya, pola
ibadah yang kita pakai dikenal juga dengan nama The
Fourfold Pattern of Worship (Empat Langkah Pola Ibadah).
Pola ini diambil dari Yesaya 6:1-9 yang menjelaskan bagaimana
nabi Yesaya menghadap Tuhan. Mari kita melihatnya lebih jauh.
|

|
LANGKAH PERTAMA: BERHIMPUN
 |
Ibadah dimulai
dengan langkah berhimpun, yang bertujuan mempersatukan
hati jemaat. Prosesnya dimulai saat jemaat memasuki ruang
ibadah. Orang perlu mengambil waktu sejenak untuk berdiam
diri agar ia dapat menyadari kehadiran Allah. Kesadaran
ini akan membuat hatinya terbuka dan siap untuk berdialog
dengan Tuhan dalam ibadah. |
Nyanyian Prosesi berfungsi
menyatukan hati jemaat untuk datang menghadap Tuhan (Contoh:
KJ 15 - "Berhimpun Semua"). Setelah itu, diadakan seremoni
Penyerahan Alkitab (entry of the Bible) dari
pemimpin ibadah kepada Pendeta,untuk menunjukkan bahwa ibadah
didasari oleh Firman Tuhan. Pendeta lalu mengucapkan Votum
dengan mengutip Mzm 124:8 "Pertolongan kita adalah dalam
nama TUHAN yang menjadikan langit dan bumi." Lewat votum,
jemaat mengaku bahwa mereka dapat beribadah hanya karena Tuhan
memanggil dan rnenolong: menghimpun mereka menjadi satu.
Pengakuan itu diaminkan dengan nyanyian "Amin."
Selanjutnya, Pendeta menyampaikan Salam (greeting
saluation) untuk mengingatkan jemaat bahwa Kristus hadir
di tengah-tengah mereka. Lalu, untuk lebih menyatukan jemaat
dan memfokuskan perhatian mereka pada ibadah, Pendeta
memberikan Kata Pembuka. Bisa dengan membacakan Nats
Pengantar yang akan mewarnai topik dialog hari itu, atau
menyampaikan informasi tentang tema, tahun liturgi, atau
memperkenalkan pengkhotbah tamu dari jemaat/gereja lain.,
sehingga mereka tidak lagi menjadi orang asing, melainkan
dihimpun dan dipersatukan dengan jemaat.
Setelah dipersatukan, kini jemaat dibawa menghadap hadirat
Tuhan dalam doa. Karena jemaat hadir sebagai umat yang berdosa
di hadapan Allah yang suci, diadakanlah ritual Pengakuan
Dosa. Setelah doa pengakuan dipanjatkan, Berita
Anugerah (assurance of pardon) disampaikan. Pendeta
sebagai hamba Allah menyatakan janji pengampunan Tuhan yang
obyektif (tertera di dalam Alkitab), bukan subyekif (diampuni
karena kuasa gereja). Ketika menerima pengampunan dosa, jemaat
diperdamaikan kembali dengan Allah dan sesamanya. Oleh sebab
itu mereka lalu saling bersalaman sambil berkata "Damai
besertamu" (Peace be with you) dalam ritus Salam
Damai (peace). Dalam liturgi lama, masih dibacakan
Petunjuk Hidup Baru. Mengapa? Karena orang yang sudah diampuni
dosanya harus diberi nasehat agar tidak jatuh lagi ke dalam
dosa yang sama. Petunjuk Hidup Baru merupakan sebuah nasehat
positif, yang direspons dengan Nyanyian Kesanggupan, sebagai
pernyataan tekad bahwa jemaat bersedia mematuhi petunjuk itu.
Dalam liturgi baru, Petunjuk Hidup Baru dimasukkan dalam
langkah kedua: Firman. Setelah lagu kesanggupan dinaikkan,
langkah pertama selesai. Jemaat telah berhimpun dan
membereskan dosa-dosanya. Kini mereka siap menerima Firman
Tuhan.
LANGKAH KEDUA: FIRMAN
 |
Sebelum Firman Tuhan dibacakan,
dinaikkan Doa Penerangan (prayer of illumination).
Mengapa? Karena untuk dapat mengerti FirmanNya, hati kita
perlu diterangi oleh kuasa Roh Kudus (2 Kor 3:14-16). Setelah
itu barulah diadakan Pembacaan Alkitab. Dalam liturgi
lama, hanya satu bagian Alkitab yang dibacakan. Namun dalam
liturgi baru, dibacakanlah satu set bacaan (lection),
mengikuti daftar bacaan (leksionari).Di antara pembacaan
diselingi nyanyian Mazmur atau himne. Setelah itu, khotbah
disampaikan. |
Gereja Reformasi berpandangan
bahwa Allah menyatakan diriNya dalam ibadah lewat Alkitab yang
dibacakan dan dikhotbahkan. Saat Firman dibacakan dan
dikhotbahkan, Yesus Kristus sendiri hadir di tengah jemaat dan
menyapa jemaat. Tugas pengkhotbah adalah "menghidupkan”
kata-kata dalam Alkitab hingga menjadi relevan bagi pendengar
masa kini. Setelah mendengarkan Firman, jemaat memberi tiga
jenis respons.
-
Respon pribadi dalam bentuk
Saat Teduh. Jemaat masuk dalam keheningan untuk
merenungkan apa makna firman yang baru disampaikan bagi mereka.
-
Respon bersama dalam bentuk
Pengakuan Iman (Affirmation of Faith). Pengakuan
Iman berisi rangkuman seluruh isi Injil. Ketika mengucapkannya,
jemaat menegaskan kembali keyakinan mereka (" Aku percaya" )
akan berita Firman yang telah diberitakan. Pengakuan Iman juga
mempersatukan jemaat sebagai bagian dari gereja segala abad
dan tempat.
-
Respon bersama sebagai Imamat
Rajani, dengan menaikkan Doa Syafaat bagi dunia
(Prayers of the People). Lewat doa syafaat jemaat "menjangkau
dunia." Oleh sebab itu doa syafaat hendaknya tidak hanya
bersifat lokal, melainkan "seluas kasih Tuhan dan sama
spesifiknya seperti belas kasihNya pada orang yang terlemah di
antara kita." Doa syafaat ditutup dengan Doa Bapa Kami; induk
segala doa.
LANGKAH KETIGA: PENGUCAPAN SYUKUR
|
 |
Setelah menerima Firman, jemaat
mengucap syukurr. Langkah ini diawali dengan memberi
Persembahan. Di jemaat mula-mula, orang Kristen membawa roti
dan air anggur sebagai persembahan, yang ditaruh di dekat
pintu masuk. Ketika ibadah berlangsung, para diaken
menyisihkan sebagian persembahan itu untuk dipakai pada
Perjamuan Kudus. Setelah pemberitaan firman selesai, roti dan
air anggur dibawa masuk menuju meja altar dan Perjamuan Kudus
pun dimulai. |
Roti dan anggur adalah makanan dan
minuman sehari-hari masyarakat Timur Tengah. Mempersembahkan
makanan dan minuman ke meja altar merupakan lambang
persembahan hidup bagi Tuhan (Rom 12:1 ). Melaluinya jemaat
mengakui: "Dari pada-Mulah segala-galanya , dan dari tangan-Mu
sendirilah persembahan yang kami berikan kepada-Mu" (1Taw
29:14). Selain roti dan air anggur, jemaat mula-mula juga
mengumpulkan persembahan uang untuk orang miskin sesudah
kebaktian selesai (di kotak persembahan). Uang itu, beserta
sisa roti dan air anggur dibagikan kepada orang miskin.
LANGKAH KEEMPAT: DIUTUS KE DALAM DUNIA
|
 |
Langkah terakhir dalam liturgi
adalah mempersiapkan jemaat kembali berkiprah dalam dunia
sehari-hari. Ibarat mobil yang sudah diservis, jemaat kini
harus bertugas kembali di dalam dunia. diutus ke dalam
dunia.Ibadah di gedung gereja harus dilanjutkan dengan ibadah
dalam hidup sehari-hari. Untuk menyiapkannya, jemaat perlu
diutus. |
Bentuknya berupa Nyanyian
Pengutusan yang berfungsi menegaskan kembali pesan Firman
Tuhan hari itu, sekaligus mengekspresikan tekad jemaat untuk
siap diutus ke dalam dunia. Juga dalam bentuk rumusan kalimat
Pengutusan (charge) yang diberikan oleh Pendeta. Agar sanggup
melakukan tugas pengutusannya, dibutuhkan berkat. Oleh sebab
itu Pengutusan disusul dengan Berkat (blessing/ benediction),"
yang diambil dari Ul 6:24-26, Rom 15:13, atau rumusan lainnya.
Berkat disambut dengan aklamasi "Haleluya!" (atau "Hosiana”/"Maranatha"
sesuai tahun liturgi). Pada akhir ibadah, diadakan Penyerahan
kembali Alkitab yang menandai kebaktian telah dijalankan
sesuai Firman Tuhan.
D. Bagaimana Menghidupkan Liturgi?
Ada tiga faktor yang mempengaruhi hidup-tidaknya sebuah
ibadah. (1) Faktor Pribadi; (2) Faktor Liturgi; (3) Faktor
Gereja. Jika ketiga faktor di atas bisa bekerjasama dengan
baik, terjadilah ibadah yang hidup. Sebaliknya, jika ketiga
faktor diatas tidak dapat berkerjasama atau terjadi
disintegrasi di antaranya, maka ibadah akan berjalan secara
mekanis. Muncullah ritualisme, dimana orang menjalankan
ritual ibadah tanpa penghayatan. Misalnya:
-
Faktor pribadi. Sepasang
suami-istri baru saja bertengkar, lalu mengikuti ibadah dengan
hati jengkel. Selama beribadah mereka tidak dapat
berkonsentrasi menyembah Tuhan. Muncul ritualisme karena
faktor pribadi.
-
Faktor liturgi. Seorang
anggota jemaat tidak pernah mendapat pendidikan liturgi.
Walaupun sudah bertahun-tahun ikut beribadah, ia tidak tahu
apa artinya votum. Ia menganggap Pengakuan Iman Rasuli
adalah doa bersama_ Ia tidak tahu mengapa harus ada Doa
Pengakuan Dosa sebelum pemberitaan Firman. Akibatnya, setiap
minggu ia menjalankan ritual-ritual itu secara mekanis, tanpa
mengerti maknanya. Terjadilah ritualisme karena faktor liturgi.
-
Faktor gereja. Yang
dimaksud adalah sarana-prasarananya (gedung gereja dan
peralatan ibadahnya) serta Sumber Daya Manusia (SDM) yang
mengelola ibadah. Jika suara Pendeta di mimbar tidak dapat
jelas terdengar karena masalah sound system, ibadah
pasti terganggu. Juga nilai SDM-nya tidak siap (misalnya:
khotbah tidak jelas atau iringan musik tidak dapat menggugah
jemaat mengekspresikan isi hatinya).
Untuk menciptakan ibadah yang
hidup, ketiga faktor di atas perlu menyatu dan berkerjasama
dengan baik, sehingga terjadilah ritual yang sinergistik (saling
mendukung). Untuk menentukan hidup matinya sebuah ibadah,
Douglas Erickson membuat garis skala partisipasi seperti
terlihat dalam gambar berikut. Erickson berpendapat bahwa
skala partisipasi seseorang dalam ibadah berubah-ubah di
antara nilai 0 sampai dengan 10 di sepanjang ibadah. Ibadah
yang hidup terjadi jika skala pratisipasi bergerak makin ke
kanan, namun dalam prakteknya, skala partisipasi tiap orang
berubah-ubah di sepanjang kebaktian!
E. Faktor Pribadi
Setiap pribadi yang hadir dalam ibadah sangat menentukan
tercapai atau tidaknya ibadah yang hidup. Sehebat apapun
disain sebuah ibadah, jika anggota jemaatnya tidak punya hati
yang sungguh-sungguh ingin beribadah, tidak dapat menciptakan
ibadah yang hidup. Mari kita melihat hambatan-hambatan apa
saja yang dapat menghalangi anggota jemaat beribadah bisa
berpartisi secara penuh dalam ibadah.
|
 |
-
Adanya Masalah pribadi.
Pergumulan hidup, kesehatan yang terganggu, rasa bersalah,
krisis iman, semuanya dapat membuat seseorang tidak dapat
berkonsentrasi dalam ibadah dan berpartisipasi sepenuhnya.
Begitu pula jika seseorang datang beribadah dengan motivasi
yang keliru (misalnya, untuk mencari jodoh), maka hatinya
menjadi tidak dapat sungguh-sungguh beribadah.
-
Konsep yang keliru. Banyak
orang datang ke gereja dengan pola pikir yang konsumtif. "Saya
harus mendapat sesuatu" dalam ibadah, bukannya "saya harus
menyumbangkan sesuatu." Mereka menempatkan diri sebagai
penonton, bukan sebagai pemain yang turut rnenentukan
hidup-tidaknya ibadah.
-
Hatinya belum diterangi,
Ibadah Kristen hanya bisa bermakna bagi mereka yang sudah
diterangi hatinya oleh Roh Kudus (illumination of the
heart). Orang hanya bisa mengalami perjumpaan dengan Allah
jika hatinya telah"diterangi” (2Kor 13:14-16), dalam artian ia
telah memiliki iman kepada Kristus (Kis 26:18, Rom 8:5, Why
21:5, Yoh 9:39). Jika anggota jemaat belum lahir baru, sulit
baginya untuk dapat menikmati ibadah. Baginya, ritus-ritus
ibadah hanyalah ritual kosong yang membosankan.
-
Tidak memahami tata ibadahnya.
Jemaat perlu memahami apa yang terjadi di dalam ibadah.
Mengapa kita beribadah seperti sekarang ini? Bagaimana
melakukannya dengan benar?Disini diperlukan penerangan pikiran
(illumination of the mind). Mereka memerlukan
pengetahuan tentang liturgi.
Bagaimana kita dapat menolong jemaat mengatasi
hambatan-hambatan ini?
-
1.Berikan jemaat waktu untuk
hening. Jika jemaat hadir dengan pikiran yang kusut atau
hati yang jengkel, mereka perlu menenangkan diri lebih dulu
agar dapat memasuki suasana ibadah. Kita dapat menolong dengan
memberikan mereka kesempatan berdiam diri di hadapan Tuhan.
Kesadaran dan kepekaan akan Tuhan bisa muncul di tengah
keheningan. Suasana hening bisa kita sediakan sebelum ibadah
dimulai, jika perlu diiringi musik lembut yang meneduhkan hati.
Dalam Doa Pengakuan Dosa, jemaat dapat diberi kesempatan untuk
berdoa pribadi lebih dulu sebelum Pemimpin menaikkan doa
bersama. Sesudah khotbah disampaikan, keheningan dapat
diciptakan dengan memberikan waktu teduh agar jemaat dapat
merenung. Doa dan Pembacaan Alkitab juga jangan dilakukan
secara terburu-buru. Berikan waktu diam selama 5-6 hitungan
sebelum seseorang memimpin doa atau membaca Alkitab, sehingga
jemaat mendapat kesempatan untuk mengarahkan hati pada Tuhan.
-
Berikan pendidikan/formasi
liturgi pada jemaat. Untuk bisa beribadah dengan baik,
jemaat harus familiar dan menguasai liturginya
(predictable). Jika tidak, mereka akan merasa menjadi
orang asing (outsider) dan tidak bisa menikmati ibadah.
Menguasai liturgi sama seperti belajar menyetir mobil atau
bermain piano: Pertama-tama terasa kaku, namun pengulangan
ribuan kali membuat kita makin mahir. Dengan mengulang
ritus-ritus dari minggu ke minggu, liturgi akan menyatu dengan
jemaat dan menjadi bagian dari gaya ibadah mereka. Oleh sebab
itu, kepada anggota jemaat yang baru, perlu kita informasikan
tata ibadah yang dipakai, agar mereka bisa mempelajarinya.
Tata ibadah juga sebaiknya jangan sering diubah-ubah.Jemaat
membutuhkan kontinuitas. Kalaupun diubah, jangan terlalu
radikal. Bedakan mana elemen yang tetap (ordinarium)
dan mana yang variabel (proprium). Ingat bahwa ibadah
bukanlah tontonan film di TV yang harus terus menerus diganti
supaya orang tidak bosan. lbadah adalah sebuah ritual untuk
menghadap Tuhan yang harus menyatu dengan jemaat.
Lebih jauh lagi, jemaat juga harus mengerti mengapa mereka
beribadah seperti sekarang ini. Mengapa urutannya dibuat
sedemikian rupa? Apa artinya Votum? Kita perlu memahami dan
memdalami tata ibadah yang kita pakai. Tanpa semuanya itu,
kita tidak mampu menghayatinya sungguh-sungguh.
F. Faktor Liturgi
Liturgi harus disusun sedemikian rupa sehingga berfokus pada
tema yang ditetapkan. Baik pemilihan lagu, nats, maupun
doa-doa yang dinaikkan, semuanya harus berfokus pada tema
liturgi. Hambatan yang sering muncul adalah:
-
Liturgi tidak dapat
mengekspresikan dengan tepat apa yang menjadi pergumulan
jemaat, sehingga jemaat tidak merasa terlibat didalamnya.
-
Liturgi sarat dengan kata namun
miskin refleksi dan aksi. Ini dapat membuat ibadah terasa
terlalu verbal: hanya menyentuh pikiran tetapi tidak menyentuh
hati.
Untuk mengatasi hambatan ini, apa
yang dapat kita lakukan?
-
Carilah kata-kata yang tepat; yang
dapat mengungkapkan pergumulan iman jemaat dengan tepat. Kita
memerlukan kata yang tepat untuk mengeskpresikan pergumulan
iman jemaat. Kita dapat mencarinya dari Alkitab, buku-buku
liturgi/ doa tertulis (written prayer), atau membuatnya
sendiri dari kalimat yang dipilih dengan cermat. Walaupun doa
spontan itu baik, namun ada kelemahannya: orang cenderung
memakai kata-kata yang terbatas dan berulang-ulang karena
kekurangan waktu berpikir. Disini doa tertulis dapat menolong.
-
Libatkan partisipasi multi-indera
(Multisensate Participation). Ketika Kristus diutus menjadi
manusia, orang bisa melihat Allah lebih jelas karena
kehadiranNya dapat ditangkap oleh panca indera. Dalam ibadah
modern-pun diperlukan komunikasi multi-indera, bukan hanya
komunikasi verbal. Komunikasi non-verbal dapat diwujudkan
dalam tindakan, raut wajah, gerak tubuh seperti berdiri,
berlutut, menengadah, mengangkat tangan (orans), berpegangan
tangan, memegang roti/cawan, berjalan, dll. Ini akan menolong
jemaat mengekspresikan imannya secara lebih maksimal. Namun
semuanya perlu disesuaikan dengan konsensus yang berlaku di
jemaat setempat.
-
Libatkan Anggota Jemaat dalam
liturgi. Karena gereja adalah Imamat Rajani, anggota jemat
harus diberi peran dalam ibadah, sesuai karunia masing-masing.
a. Paduan Suara (choristers). Peran paduan suara yang utama
bukanlah unjuk kebolehan, melainkan menolong jemaat bernyanyi.
d.Cantor/Cantoria. Selain memimpin jemaat bernyanyi, ia dapat
memperkenalkan lagu baru kepada jemaat dan mengoreksi
kesalahan menyanyi.
e. Lektor. Sejak ibadah di sinagoge, kitab Taurat dibacakan
oleh saIah seorang lelaki dewasa yang hadir (bdk. Luk
4:16-17). Tradisi pembacaan Alkitab oleh anggota jemaat perlu
dilanjutkan. Kita dapat menunjuk anggota jemaat untuk dilatih
membaca Alkitab dengan hidup. Disini diperlukan latihan dan
pendampingan.
F. Faktor Gereja
Berbicara tentang faktor gereja, kita perlu menyinggung dua
hal: sarana-prasarana yang ada (gedung, perlengkapan,
peraturan gereja, maupun iklim jemaatnya), dan Sumber Daya
Manusianya.
Sarana-prasarana. Akustik ruang ibadah, pengaturan suara
(sound system), maupun tata ruang bisa mempengaruhi suasana
ibadah. Oleh sebab itu, perhatikan beberapa saran berikut ini.
1. Persiapkan segala peralatan sebelum ibadah. Saat ini
banyak gereja mengandalkan alat elektronik (microphone, LCD
proyektor, alat musik elektronik) dalam ibadah. Ini disebut
dengan Hightech Worship. Kelemahan high-tech worship
adalah ketergantungannya pada aliran listrik dan alat-alat
elektronik. Jika tidak bekerja dengan baik, kebaktian menjadi
kacau. Oleh sebab itu, gereja dengan high-tech worship harus
benar-benar mempersiapkan peralatannya sebelum ibadah dimulai.
2. Ciptakanlah "Suasana Gereja." Ruang ibadah adalah "jendela
sorga." Ia adalah sanctuary: tempat berteduh bagi jiwa yang
penat. Oleh sebab itu hindarilah kabel-kabel yang berserakan.
Tata cahaya, rangkaian bunga, tanaman, lilin, kaca patri
berwarna, bendera dengan warna liturgis, suara lonceng,
semuanya dapat menciptakan suasana religius yang menolong
orang menyadari kehadiran Tuhan. Jika perlu, dekorlah ruang
ibadah sesuai dengan tema atau suasana yang ingin diciptakan
dalam ibadah.
Sumber Daya Manusia. Para petugas ibadah (Pengkhotbah,
Liturgos, Pemusik, Paduan Suara, dll) sangat mempengaruhi
tercipta atau tidaknya ibadah yang hidup.
-
Pengkhotbah yang tidak siap bisa
mengacaukan ibadah.
-
Pemusik yang keliru memainkan
tempo atau gaya lagu dapat menghambat jemaat bernyanyi dengan
sepenuh hati.
-
Liturgos yang mengucapkan
kalimat-kalimat klise membuat ibadah tidak mengalir lancar dan
jemaat merasa bosan.
-
Paduan Suara yang menyanyikan lagu
yang tidak sesudai dengan tema ibadah dapat mengacaukan fokus
ibadah.
Disini diperlukan kerjasama yang
baik antar pelayan ibadah, agar segala unsur yang terlibat
dapat berpadu menjadi kesatuan yang sinergis. Hal ini akan
kita kupas lebih jauh dalam sesi selanjutnya. Namun, secara
garis besar, ada tiga hal yang perlu diperhatikan:
1. Setiap pelayan ibadah harus berdedikasi. Syarat
utama pelayan ibadah adalah adanya dedikasi. Dedikasi (to
dedicate) artinya melakukan sesuatu dengan kerelaan
berkorban (baik waktu, tenaga, pikiran dan perasaan) karena
yakin bahwa apa yang dilakukan sangat penting. Seorang yang
berdedikasi akan datang tepat waktu. Ia tetap bertugas
sekalipun ada tawaran acara lain yang lebih menarik. Jika
terpaksa tidak bisa datang, ia sudah mempersiapkan pengganti.
Tanpa dedikasi, seorang pelayan ibadah dapat menjadi
pengganggu ibadah.
2. Pelayan Ibadah perlu ikut beribadah. Pemimpin ibadah
harus menenggelamkan dirinya sendiri dalam ibadah. Ia tidak
boleh bersikap seperti wasit yang hanya mengamati orang
bermain bola tanpa ia sendiri ikut terlibat bermain!
Menghidupkan ibadah ternyata tidak sulit. Cukup dengan memakai
liturgi yang ada, yang dikelola dengan serius.
DAFTAR PUSTAKA
Allmen,J-.J von. Worship: Its Theology and Practice.
London: Lutterworth, 1965.
Bower, Peter C., Ed. The Companion to The Book of Common
Worship (Louisville: Geneva Press, 2003), 23.
Davies, J.G & A.Raymond George, Eds. The Worship of The
Reformed Church. Richmond: John Knox Press, 1966.
Duck, Ruth C. Finding Words For Worship: A Guide for
Leaders. Louisville: Westminster John Knox,1995.
Erickson, Craig Douglas. Participating in Worship: History,
Theory, and Practice, Louisville: Westminster/John Knox,
1998.
Fletcher, Jeremy & Christopher Cocksworth. The Spirit and
Liturgy. Cambridge; Grove Books, 1998.
Johnson, Susanne. Christian Spiritual Formation in the
Church and Classroom. Nashville: Abingdon Press, 1989.
Keifert, Patrick R.. Welcoming The Stranger: A Public
Theology of Worship and Evangelism. Mineapolis: Fortress
Press, 1992.
Leech, John. Living Liturgy. Eastbourne: Kingsway
Publications, 1997.
Rice, Howard L. & James C.Huffstutler. Reformed Worship.
Louisville: Geneva Press, 2001.
Ramshaw, Elaine. Ritual and Pastoral Care.
Philadelphia: Fortress, 1987.
Urban, Linwood. Sejarah Singkat Pemikiran Kristen.
Jakarta: SPK Gunung Mulia, 2003.
Vatican Council II. The Constitution on the Sacred Liturgy.
White, James F. Introduction to Christian Worship: Third
Edition. Nashville: Abingdon, 2000.
Willemon, William H. The Service of God: How Worship and
Ethics Are Related. Nashville: Abingdon, 1990.
(Nantikan artikel pembinaan
selanjutnya!)
|