» Media Pelayanan Antar Jemaat, Antar Gereja, Antar Denominasi OnLine
Serba - Serbi Rohani
   
 
Fasilitas Pencarian


» Home
» Acara Hari Ini
» Gereja
» Gereja Dunia
» Permohonan Doa
» Form Konsultasi
» Solusi Problema
» Form Kesaksian
» Kumpulan Kesaksian
» Pelangi Jiwa
» Renungan Kecik
» YAMARI
» YASUMA
» PPK Tabitha
» RPUK Muara Kasih
» PA.ASIH LESTARI
» Humor
» Kartu Ucapan
» Peluang Karier
» Donasi














 

 

 

 

 

 

 

 














 











 
» Pembinaan Iman Kristen

 Seri Pembinaan Iman Kristen ini merupakan kumpulan artikel yang diambil dari Buletin Pembinaan yang diterbitkan oleh
Majelis Jemaat GKI Kayu Putih Jakarta Timur.
Topik hangat dan relevan untuk jemaat ini, dirancang oleh
Tim Pengerja GKI Kayu Putih disajikan dengan rasa syukur untuk sahabat sekalian
 


Ibadah
 


1 . Pengantar
Ibadah atau beribadah adalah hal yang sangat umum dan sangat berkaitan erat dengan hidup kita keseharian. Ibadah juga memiliki makna yang sangat luas mengingat bahwa setiap bangsa, suku bangsa dan agama-agama yang ada mempunyai ritual yang berbeda-beda dalam hal beribadah. Dari sisi budaya manusia secara universal kita juga mengenal pelbagai ragam, bentuk dan ritual ibadah. Bahasan kita kali ini tidak hendak mendalami ibadah yang banyak ragamnya itu.
Bahasan kita hanya akan membicarakan beberapa hal mengenai ibadah Kristiani antara lain:
- Apa sebenarnya makna sebuah ibadah dan mengapa kita beribadah.
- Apa sebenarnya yang sedang terjadi selama sebuah ibadah berlangsung.
- Apa yang dikatakan Alkitab mengenai ibadah.

2. Bukan sekadar ritual atau rutinitas
Yang kita maknakan dengan ibadah bukan hanya berkaitan dengan apa yang kelihatan dari luar, misalnya berbondong-bandongnya orang mengunjungi gedung gereja pada setiap hari Minggu. Ibadah juga bukan hanya berkaitan dengan sebuah ritual disaat orang berkumpul lalu bernyanyi dan berdoa.
Nilai sebuah ibadah tidaklah terletak pada ritual dan rutinitas dari orang-orang yang melakukannya. Tapi ibadah menjadi bermakna kepada apa yang mendasarinya. Contoh: apabila seseorang hampir tidak pernah absen ke gereja pada setiap hari Minggu, dinilai ia "rajin beribadah". Penilaian ini belum tentu betul karena bisa saja terjadi bahwa "kerajinan" itu hanya bersifat rutinitas. Penilaian ini akan memberi makna apabila "kerajinan" yang dimaksud adalah kerajinan berdasarkan iman dan bukan kerajinan dalam arti rutinitas. Karena ibadah yang sesungguhnya bukanlah sekedar seseorang hadir atau menghadirkan diri dalam ibadah melainknn sebuah kehadiran yang hendak menjawab pernyataan kasih Allah yang teralami dalam hidup setiap hari. Ibadah berkaitan erat dengan apa yang kita kerjakan setiap hari dan harus menjadi bagian hidup yang utuh dari iman serta tidak terpenggal-penggal. Contohnya dapat kita ikuti dalam ilustrasi dibawah ini.

3. Ilustrasi
Buku 10 Renungan Hidup Berkemenangan karya Pdt. Ayub Yahya memuat ilustrasi ini:
Seorang pejabat mengunjungi tempat di mana sebuah gedung sedang dibangun. Ia melihat tiga orang tukang bangunan tengah bekerja; meletakkan batu satu demi satu dan menyemennya. "sedang apa kalian?" tanya sang pejabat kepada ketiganya.
Ketiga tukang bangunan itu memberi jawaban yang berbeda. Tukang bangunan pertama menjawab, "Saya sedang meletakkan batu ini." Tukang bangunan kedua, "Saya sedang
mendirikan tembok." Dan tukang bangunan ketiga , "Saya sedang membangun gedung."
Satu pertanyaan diajukan pada situasi yang sama kepada orang-orang yang berbeda, ternyata jawabannya berbeda. Hal itu menunjukkan bahwa "nilai" sebuah perbuatan tidak hanya diukur dari apa yang tampak, tetapi juga dari hati yang mendasari, Seperti ketiga tukang bangunan itu; mereka mengerjakan satu hal yang sama, tetapi visi dan motivasinya berbeda. Hasilnya pasti akan berbeda juga.
Misalnya, kita umpamakan apa yang dikerjakan oleh ketiga tukang bangunan itu adalah ibadah. Tukang bangunan pertama menganggap pekerjaannya sebagai rutinitas sa ja. Ia tidak tahu untuk apa melakukannya atau mungkin tidak mau tahu. Pokoknya itu adalah pekerjaannya, maka ia lakukan. Titik. Sama dengan contoh ini: kita pergi ke gereja. Kenapa? Ya, karena kita orang kristiani. Sebagai orang kristiani sudah seharusnya kita ke gereja. Selesai.
Tukang bangunan kedua tidak hanya melihat pekerjaannya sebagai rutinitas, tetapi juga mempunyai tujuan melalui pekerjaannya. Sayangnya, ia hanya melihat pada peker jaannya sendiri, yaitu mendirikan tembok. Hanya parsial. Ia tidak melihat bahwa mendirikan tembok adalah bagian atau salah satu pekerjaan dari keseluruhan pekerjaan membangun gedung.
Akibat yang bisa terjadi, dia sangat baik dalam mengerjakan tugasnya mendirikan tembok, tetapi tidak mau peduli atau sembarangan dengan pekerjaan lain. Misalnya membuat atap dan memasang tegel, yang adalah juga bagian dari pekerjaan membangun gedung. Padahal semua pekerjaan itu saling terkait; tidak bisa yang satu diperhatikan dan yang lain diabaikan.
Melanjutkan contoh tadi: kita ke gereja bukan sekedar karena kebiasaan sebagai orang kristiani, melainkan untuk beribadah kepada Tuhan. Sayangnya kita lupa, bahwa ibadah menyangkut keseluruhan hidup kita. Pergi ke gereja hanyalah salah satu bagian dari ibadah. Akibatnya bisa begini: di gereja kita menjadi orang yang sangat baik, tetapi di luar gereja -entah itu dirumah, di jalan raya, atau juga di tempat kerja kelakuan kita sangat bertentangan.
Tukang bangunan ketiga memberi jawaban paling baik. Ia mempunyai visi yang utuh, yaitu membangun gedung. Maka di samping pekerjaannya sendiri, dia juga tentunya akan memperhatikan pekerjaan lainnya.
Hidup beribadah juga seperti itu; tidak terpilah-pilah atau terpisah-pisah. Bahwa kita bekerja, bukan sekedar tuntutan kebutuhan; bahwa kita mendidik dan membesarkan anak, bukan sekedar memenuhi kewajiban sebagai orangtua; bahwa kita melakukan ini dan itu, bukan sekedar karena tanggung jawab. Semua itu kita Iakukan pula dalam rangka ibadah kepada Tuhan.
Dengan motivasi beribadah kepada Tuhan, kita tidak akan melihat semua itu sebagai beban. Kita akan sungguh-sungguh mengerjakannya. Sepenuh hati. Dengan sukacita, tidak dengan bersungut-sungut. Dan memang, hidup akan terasa lebih indah kalau kita hayati sebagai ibadah kepada Tuhan.

4. Ibadah Menurut Alkitab
Agar uraian mengenai ibadah tidak terlalu panjang, maka hanya akan dipilih dua kata yang menjadi latarbelakang dan memberi makna mengenai ibadah dalam Alkitab.
Yang pertama adalah kata avoda (bhs Ibrani) / latreia (bhs Yunani). Kata-kata ini berarti pelayanan karena mula-mula kata ini dipakai untuk pekerjaan para budak atau orangorang upahan. Pekerjaan mereka adalah melayani sang majikan. Mereka harus bekerja dan melayani sesuai dengan perintah yang diberikan oleh majikan. Setiap pekerjaan yang diiakukan hanya ditujukan untuk kepentingan bagi yang memberi perintah.
Pemahaman yang terkait kepada makna ini maka kata avoda / latreia digunakan untuk memberi bentuk dan isi dalam ibadah umat / jemaat kepada Tuhan. Ibadah pertama-tama bukanlah tertuju kepada manusia tetapi kepada Allah sebagai Pencipta dan Pemelihara. lahirnya ibadah didasarkan kepada perintah Allah dan bukan kepada inisiatif manusia untuk mengadakannya. Ibadah adalah jawaban manusia atas panggilan dan perintah Allah.
Terciptanya ibadah karena Allah sendiri yang berinisiatif memanggil manusia untuk datang kepada-Nya dan bertobat. Ibadah adalah tindakan Allah untuk menyatakan kasih-Nya dan manusia dipanggil untuk menjawab perbuatan kasih-Nya dan melayani-Nya.
Martin Luther merumuskan demikian:
Ibadah adalah saat di mana Allah Yang Pengasih itu sendiri berbicara kepada kita melalui firman-Nya yang kudus dan bahwa kita pada gilirannya berbicara kepada-Nya dalam doa dan nyanyian pujian.
Beberapa kutipan dari Alkitab mengenai ibadah yang dimaknakan dengan avoda / latreia sebagai berikut:
- "Tetapi kamu harus beribadah kepada TUHAN Allahmu; maka Ia akan memberkati roti makananmu dan air minummu ..." (Keluaran 23: 25)
"... tetapi janganlah berhenti mengikuti TUHAN, melainkan beribadahlah kepada TUHAN dengan segenap hatimu" (1 Samuel 12:20)
"... supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah; itu adalah ibadahmu yang sejati (Roma 12:1)
Yang kedua adalah kata hisytokhawa (bhs Ibrani) / proskuneo (bhs. Yunani), yang berarti tiarap atau bertiarap. Dalam Alkitab diterjemahkan dengan: sujud menyembah / tersungkur.
Dari pemahaman ini hendak dimaknakan bahwa ibadah adalah suatu pernyataan penaklukan diri manusia di hadapan Allah. Ibadah dengan merebahkan diri / sujud menyembah mau menyatakan ketidaklayakan diri kita di hadapan Allah.
Perbuatan dosa telah menciptakan jurang pemisah antara Allah dan manusia. Tidak mungkin lagi terjadi perjumpaan antara Allah yang suci dan manusia yang berdosa. -manusia kini telah menjadi seteru Allah (Ratapan 2:5, Roma 5:10)
Tetapi ketika kenyataannya Allah masih mau mencari dan menyapa manusia bahkan menunjukkan kasih-Nya untuk mengampuni, manusia hanya bisa menyambutnya dengan tersungkur dalam rasa takut, hormat dan kagum. Ada rasa syukur tapi juga rasa takut dan gentar.
"Segeralah Musa berlutut ke tanah, Ialu sujud menyembah. (Keluaran 34:8)
"Biarlah segenap bumi takut kepada TUHAN, biarlah semua penduduk dunia gentar terhadap Dia! Sujudlah menyembah kepada TUHAN, ... gentarlah di hadapanNya hai segenap bumi" (Mazmur 33:8, 96:9)

Sikap sujud menyembah / tersungkur adalah sikap yang paling layak untuk sebuah ibadah atau saat beribadah, ketika kita mau menyambut pernyataan kasih Allah yang besar itu.
"Maka tersungkurlah kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Dia yang duduk di atas takhta itu dan mereka menyembah Dia yang hidup sampai selama-lamanya" (Wahyu 4:10)

Saat ini cara kita beribadah tidak dengan sujud sembah dan tersungkur. Kita bisa saja beribadah dengan cara duduk atau berdiri. Tapi hati yang kita bawa dalam ibadah harus berisikan hisytakhawa / proskuneo. Sebab hanya ibadah dengan hati yang remuk yang mengundang kehadiran Allah (Yesaya 57:15). Hanya ibadah dengan hati yang tulus ikhlas, Allah berkenan dijumpai (1 Tawarikh 28:9). Ibadah dengan jiwa yang hancur, dengan hati yang patah dan remuk tidak akan dipandang-Nya hina (Mazmur 51:19).

5. Rangkuman dan Penutup
Di bagian penutup ini kami kutipkan sebagai rangkuman beberapa rumusan mengenai ibadah.
- "Allah sendirilah yang membuat ibadah dimungkinkan ada. Dalam anugerah-Nya, Ia mengundang penyembahan manusia tertuju kepada -Nya. Ibadah selalu berfokus tunggal yaitu ketika Allah bertindak menyatakan kasih-Nya kepada kita dan Ia jugalah yang mendorong tanggapan kita atas semua pernyataan kasih-Nya."
(J.J. Van Almen: Worship, Its Theology and Practice) "Ibadah adalah jawaban manusia terhadap panggilan Allah, terhadap tindakan-tindakan-Nya yang penuh kuasa yang berpuncak pada tindakan pendamaian dalam Kristus. Ibadah adalah kegiatan puji-pujian dalam penyembahan yang mensyukuri kasih Allah yang merangkul kita dan kebaikan kasih-Nya yang menebus kita dalam Kristus, Tuhan kita"
(Eve Underhill : Worship)
"Ibadah (baca; kebaktian) adalah suatu ‘bakti’ dan persembahan kepada Allah. Persembahan yang dinaikkan bukan sekedar ritus batiniah tetapi persembahan yang juga dihaturkan dari tengah pergumulan kehidupan sesehari yang nyata"
(Warta Jemaat GKI Pondok Indah - 8 Januari 2006) "Pengudusan manusia oleh Allah dan pemuliaan Allah oleh manusia, keduanya merupakan karakteristik dalam ibadah" (Kat. Roma - Konsili Vatikan II 1963)
"Ibadah yang sejati tidak hanya terbatas pada ritual-ritual keagamaan. Atau sebatas misalnya pergi ke gereja, ikut persekutuan ini dan itu. Betul, semua itu adalah ibadah. Namun tidak hanya sebatas itu. Ibadah yang sejati juga menyangkut kehidupan sehari-hari, kapan saja dan di mana saja."
(Pdt. Ayub Yahya: Kita orang Berhutang)


(Nantikan artikel lainnya!)

| A R S I P |

 

 

Sahabat Surgawi
Media pelayanan antar jemaat, antar Gereja
antar denominasi OnLine

www.sahabatsurgawi.net
webmaster@sahabatsurgawi.net
Copyright © 2002, Tim Sahabat Surgawi