|
1 . Pengantar
Ibadah atau beribadah adalah hal yang sangat umum dan sangat
berkaitan erat dengan hidup kita keseharian. Ibadah juga
memiliki makna yang sangat luas mengingat bahwa setiap bangsa,
suku bangsa dan agama-agama yang ada mempunyai ritual yang
berbeda-beda dalam hal beribadah. Dari sisi budaya manusia
secara universal kita juga mengenal pelbagai ragam, bentuk dan
ritual ibadah. Bahasan kita kali ini tidak hendak mendalami
ibadah yang banyak ragamnya itu.
Bahasan kita hanya akan membicarakan beberapa hal mengenai
ibadah Kristiani antara lain:
-
Apa sebenarnya makna sebuah ibadah dan mengapa kita beribadah.
-
Apa sebenarnya yang sedang terjadi selama sebuah ibadah
berlangsung.
-
Apa yang dikatakan Alkitab mengenai ibadah.
2. Bukan sekadar ritual atau rutinitas
Yang kita maknakan dengan ibadah bukan hanya berkaitan dengan
apa yang kelihatan dari luar, misalnya berbondong-bandongnya
orang mengunjungi gedung gereja pada setiap hari Minggu.
Ibadah juga bukan hanya berkaitan dengan sebuah ritual disaat
orang berkumpul lalu bernyanyi dan berdoa.
Nilai sebuah ibadah tidaklah terletak pada ritual dan
rutinitas dari orang-orang yang melakukannya. Tapi ibadah
menjadi bermakna kepada apa yang mendasarinya. Contoh: apabila
seseorang hampir tidak pernah absen ke gereja pada setiap hari
Minggu, dinilai ia "rajin beribadah". Penilaian ini belum
tentu betul karena bisa saja terjadi bahwa "kerajinan" itu
hanya bersifat rutinitas. Penilaian ini akan memberi makna
apabila "kerajinan" yang dimaksud adalah kerajinan berdasarkan
iman dan bukan kerajinan dalam arti rutinitas. Karena ibadah
yang sesungguhnya bukanlah sekedar seseorang hadir atau
menghadirkan diri dalam ibadah melainknn sebuah kehadiran yang
hendak menjawab pernyataan kasih Allah yang teralami dalam
hidup setiap hari. Ibadah berkaitan erat dengan apa yang kita
kerjakan setiap hari dan harus menjadi bagian hidup yang utuh
dari iman serta tidak terpenggal-penggal. Contohnya dapat kita
ikuti dalam ilustrasi dibawah ini.
3. Ilustrasi
Buku 10 Renungan Hidup Berkemenangan karya Pdt. Ayub Yahya
memuat ilustrasi ini:
Seorang pejabat mengunjungi tempat di mana sebuah gedung
sedang dibangun. Ia melihat tiga orang tukang bangunan tengah
bekerja; meletakkan batu satu demi satu dan menyemennya. "sedang
apa kalian?" tanya sang pejabat kepada ketiganya.
Ketiga tukang bangunan itu memberi jawaban yang berbeda.
Tukang bangunan pertama menjawab, "Saya sedang meletakkan batu
ini." Tukang bangunan kedua, "Saya sedang mendirikan
tembok." Dan tukang bangunan ketiga , "Saya sedang membangun
gedung."
Satu pertanyaan diajukan pada situasi yang sama kepada
orang-orang yang berbeda, ternyata jawabannya berbeda. Hal itu
menunjukkan bahwa "nilai" sebuah perbuatan tidak hanya diukur
dari apa yang tampak, tetapi juga dari hati yang mendasari,
Seperti ketiga tukang bangunan itu; mereka mengerjakan satu
hal yang sama, tetapi visi dan motivasinya berbeda. Hasilnya
pasti akan berbeda juga.
Misalnya, kita umpamakan apa yang dikerjakan oleh ketiga
tukang bangunan itu adalah ibadah. Tukang bangunan pertama
menganggap pekerjaannya sebagai rutinitas sa ja. Ia tidak tahu
untuk apa melakukannya atau mungkin tidak mau tahu. Pokoknya
itu adalah pekerjaannya, maka ia lakukan. Titik. Sama dengan
contoh ini: kita pergi ke gereja. Kenapa? Ya, karena kita
orang kristiani. Sebagai orang kristiani sudah seharusnya kita
ke gereja. Selesai.
Tukang bangunan kedua tidak hanya melihat pekerjaannya sebagai
rutinitas, tetapi juga mempunyai tujuan melalui pekerjaannya.
Sayangnya, ia hanya melihat pada peker jaannya sendiri, yaitu
mendirikan tembok. Hanya parsial. Ia tidak melihat bahwa
mendirikan tembok adalah bagian atau salah satu pekerjaan dari
keseluruhan pekerjaan membangun gedung.
Akibat yang bisa terjadi, dia sangat baik dalam mengerjakan
tugasnya mendirikan tembok, tetapi tidak mau peduli atau
sembarangan dengan pekerjaan lain. Misalnya membuat atap dan
memasang tegel, yang adalah juga bagian dari pekerjaan
membangun gedung. Padahal semua pekerjaan itu saling terkait;
tidak bisa yang satu diperhatikan dan yang lain diabaikan.
Melanjutkan contoh tadi: kita ke gereja bukan sekedar karena
kebiasaan sebagai orang kristiani, melainkan untuk beribadah
kepada Tuhan. Sayangnya kita lupa, bahwa ibadah menyangkut
keseluruhan hidup kita. Pergi ke gereja hanyalah salah satu
bagian dari ibadah. Akibatnya bisa begini: di gereja kita
menjadi orang yang sangat baik, tetapi di luar gereja -entah
itu dirumah, di jalan raya, atau juga di tempat kerja kelakuan
kita sangat bertentangan.
Tukang bangunan ketiga memberi jawaban paling baik. Ia
mempunyai visi yang utuh, yaitu membangun gedung. Maka di
samping pekerjaannya sendiri, dia juga tentunya akan
memperhatikan pekerjaan lainnya.
Hidup beribadah juga seperti itu; tidak terpilah-pilah atau
terpisah-pisah. Bahwa kita bekerja, bukan sekedar tuntutan
kebutuhan; bahwa kita mendidik dan membesarkan anak, bukan
sekedar memenuhi kewajiban sebagai orangtua; bahwa kita
melakukan ini dan itu, bukan sekedar karena tanggung jawab.
Semua itu kita Iakukan pula dalam rangka ibadah kepada Tuhan.
Dengan motivasi beribadah kepada Tuhan, kita tidak akan
melihat semua itu sebagai beban. Kita akan sungguh-sungguh
mengerjakannya. Sepenuh hati. Dengan sukacita, tidak dengan
bersungut-sungut. Dan memang, hidup akan terasa lebih indah
kalau kita hayati sebagai ibadah kepada Tuhan.
4. Ibadah Menurut Alkitab
Agar uraian mengenai ibadah tidak terlalu panjang, maka hanya
akan dipilih dua kata yang menjadi latarbelakang dan memberi
makna mengenai ibadah dalam Alkitab.
Yang pertama adalah kata avoda (bhs Ibrani) /
latreia (bhs Yunani). Kata-kata ini berarti pelayanan
karena mula-mula kata ini dipakai untuk pekerjaan para budak
atau orangorang upahan. Pekerjaan mereka adalah melayani sang
majikan. Mereka harus bekerja dan melayani sesuai dengan
perintah yang diberikan oleh majikan. Setiap pekerjaan yang
diiakukan hanya ditujukan untuk kepentingan bagi yang memberi
perintah.
Pemahaman yang terkait kepada makna ini maka kata avoda /
latreia digunakan untuk memberi bentuk dan isi dalam
ibadah umat / jemaat kepada Tuhan. Ibadah pertama-tama
bukanlah tertuju kepada manusia tetapi kepada Allah sebagai
Pencipta dan Pemelihara. lahirnya ibadah didasarkan kepada
perintah Allah dan bukan kepada inisiatif manusia untuk
mengadakannya. Ibadah adalah jawaban manusia atas panggilan
dan perintah Allah.
Terciptanya ibadah karena Allah sendiri yang berinisiatif
memanggil manusia untuk datang kepada-Nya dan bertobat. Ibadah
adalah tindakan Allah untuk menyatakan kasih-Nya dan manusia
dipanggil untuk menjawab perbuatan kasih-Nya dan melayani-Nya.
Martin Luther merumuskan demikian:
Ibadah adalah saat di mana Allah Yang Pengasih itu sendiri
berbicara kepada kita melalui firman-Nya yang kudus dan bahwa
kita pada gilirannya berbicara kepada-Nya dalam doa dan
nyanyian pujian.
Beberapa kutipan dari Alkitab mengenai ibadah yang dimaknakan
dengan avoda / latreia sebagai berikut:
- "Tetapi kamu harus beribadah kepada TUHAN Allahmu;
maka Ia akan memberkati roti makananmu dan air minummu ..." (Keluaran
23: 25)
"... tetapi janganlah berhenti mengikuti TUHAN, melainkan
beribadahlah kepada TUHAN dengan segenap hatimu" (1 Samuel
12:20)
"... supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan
yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah; itu
adalah ibadahmu yang sejati (Roma 12:1)
Yang kedua adalah kata hisytokhawa (bhs Ibrani) /
proskuneo (bhs. Yunani), yang berarti tiarap atau
bertiarap. Dalam Alkitab diterjemahkan dengan: sujud
menyembah / tersungkur.
Dari pemahaman ini hendak dimaknakan bahwa ibadah adalah suatu
pernyataan penaklukan diri manusia di hadapan Allah. Ibadah
dengan merebahkan diri / sujud menyembah mau menyatakan
ketidaklayakan diri kita di hadapan Allah.
Perbuatan dosa telah menciptakan jurang pemisah antara Allah
dan manusia. Tidak mungkin lagi terjadi perjumpaan antara
Allah yang suci dan manusia yang berdosa. -manusia kini telah
menjadi seteru Allah (Ratapan 2:5, Roma 5:10)
Tetapi ketika kenyataannya Allah masih mau mencari dan menyapa
manusia bahkan menunjukkan kasih-Nya untuk mengampuni, manusia
hanya bisa menyambutnya dengan tersungkur dalam rasa takut,
hormat dan kagum. Ada rasa syukur tapi juga rasa takut dan
gentar.
"Segeralah Musa berlutut ke tanah, Ialu sujud menyembah.
(Keluaran 34:8)
"Biarlah segenap bumi takut kepada TUHAN, biarlah semua
penduduk dunia gentar terhadap Dia! Sujudlah menyembah
kepada TUHAN, ... gentarlah di hadapanNya hai segenap
bumi" (Mazmur 33:8, 96:9)
Sikap sujud menyembah / tersungkur adalah sikap yang paling
layak untuk sebuah ibadah atau saat beribadah, ketika kita mau
menyambut pernyataan kasih Allah yang besar itu.
"Maka tersungkurlah kedua puluh empat tua-tua itu di
hadapan Dia yang duduk di atas takhta itu dan mereka menyembah
Dia yang hidup sampai selama-lamanya" (Wahyu 4:10)
Saat ini cara kita beribadah tidak dengan sujud sembah dan
tersungkur. Kita bisa saja beribadah dengan cara duduk atau
berdiri. Tapi hati yang kita bawa dalam ibadah harus berisikan
hisytakhawa / proskuneo. Sebab hanya ibadah dengan hati yang
remuk yang mengundang kehadiran Allah (Yesaya 57:15). Hanya
ibadah dengan hati yang tulus ikhlas, Allah berkenan dijumpai
(1 Tawarikh 28:9). Ibadah dengan jiwa yang hancur, dengan hati
yang patah dan remuk tidak akan dipandang-Nya hina (Mazmur
51:19).
5. Rangkuman dan Penutup
Di bagian penutup ini kami kutipkan sebagai rangkuman beberapa
rumusan mengenai ibadah.
- "Allah sendirilah yang membuat ibadah dimungkinkan ada.
Dalam anugerah-Nya, Ia mengundang penyembahan manusia tertuju
kepada -Nya. Ibadah selalu berfokus tunggal yaitu ketika Allah
bertindak menyatakan kasih-Nya kepada kita dan Ia jugalah yang
mendorong tanggapan kita atas semua pernyataan kasih-Nya."
(J.J. Van Almen: Worship, Its Theology and Practice) "Ibadah
adalah jawaban manusia terhadap panggilan Allah, terhadap
tindakan-tindakan-Nya yang penuh kuasa yang berpuncak pada
tindakan pendamaian dalam Kristus. Ibadah adalah kegiatan
puji-pujian dalam penyembahan yang mensyukuri kasih Allah yang
merangkul kita dan kebaikan kasih-Nya yang menebus kita dalam
Kristus, Tuhan kita"
(Eve Underhill : Worship)
"Ibadah (baca; kebaktian) adalah suatu ‘bakti’ dan persembahan
kepada Allah. Persembahan yang dinaikkan bukan sekedar ritus
batiniah tetapi persembahan yang juga dihaturkan dari tengah
pergumulan kehidupan sesehari yang nyata"
(Warta Jemaat GKI Pondok Indah - 8 Januari 2006) "Pengudusan
manusia oleh Allah dan pemuliaan Allah oleh manusia, keduanya
merupakan karakteristik dalam ibadah" (Kat. Roma - Konsili
Vatikan II 1963)
"Ibadah yang sejati tidak hanya terbatas pada ritual-ritual
keagamaan. Atau sebatas misalnya pergi ke gereja, ikut
persekutuan ini dan itu. Betul, semua itu adalah ibadah. Namun
tidak hanya sebatas itu. Ibadah yang sejati juga menyangkut
kehidupan sehari-hari, kapan saja dan di mana saja."
(Pdt. Ayub Yahya: Kita orang Berhutang)
(Nantikan artikel lainnya!)
|