|
Pengantar
Topik ini pernah dibahas dalam Pemahaman Alkitab di bulan
April yang lalu. Dimunculkan topik ini karena para peserta PA
ingin mendapatkan kejelasan apa itu “dosa turunan” dan
bagaimana kita memahaminya dari segi iman Kristen.
Pemahaman yang suka didengar dan dikisahkan mengenai “dosa
turunan” biasanya dikaitkan dengan penderitaan, kesusahan,
sakit-penyakit, malapetaka atau setiap “nasib buruk” yang
selalu menimpa seseorang atau keluarganya. Lalu berkesimpulan
: Ah, jangan-jangan saya atau keluarga saya sedang termasuk
golongan orang-orang yang terkena “dosa turunan”.
Artinya dosa dari ayah atau ibu, juga bisa dari kakek atau
nenek yang saat ini sedang dibalaskan Tuhan kepada
keturunannya.
Buktinya :
Usaha saya tidak maju-maju. Pelbagai upaya diberdayakan,
tetapi tetap saja tidak membuahkan hasil. Selalu mengalami
kerugian.
Musibah seringkali menimpa diri dan keluarga.
Sakit-penyakit secara terus-menerus bergantian menimpa
anggota keluarga.
Seringkali mengalami kenyataan hidup sebagai orang yang
apes.
Pertanyaannya adalah, apakah benar ketika seseorang mengalami
kenyataan-kenyataan hidup seperti ini, ia sedang menanggung
yang namanya “dosa turunan” ?
Mari kita ikuti pembahasannya dan kesimpulan yang diambil
bersama peserta Pemahaman Alkitab saat itu.
Apa yang sesungguhnya dikatakan Alkitab
Bukan pembalasan tapi kasih setia.
Ada yang berpegang pada pemahaman bahwa Allah memang akan
membalaskan dosa orangtua (ayah/ibu) kepada anaknya, kepada
cucu bahkan sampai kepada cicitnya. Dasar yang dipakai adalah
Keluaran 20:5 “….. sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah
yang cemburu, yang akan membalaskan kesalahan bapa kepada
anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat ….”
Secara harfiah, ayat ini dapat dimaknakan seperti itu. Tapi
dalam ayat ini pemahaman yang benar bukanlah pemahaman harfiah.
Sebab ayat ini harus dipahami keutuhannya bersamaan dengan
pemberian Dasatitah/Dekalog yang secara lengkap disabdakan
dalam Kel. 20:1-17. Pemberian Dasatitah/Sepuluh Hukum bukan
didasari pada perin
tah yang berisikan larangan, ancaman atau pembalasan tapi
didasari pada pemberi
taan tentang kasih setia Allah yang masih mau dinyatakan-Nya
kepada manusia berdosa, turun-temurun.
Bahwa Dia bukanlah Allah pembalas kejahatan/dosa ayah kepada
keturunannya, dengan jelas difirmankan dalam Ulangan 24 : 16 -
“Janganlah ayah dihukum mati karena anaknya, janganlah juga
anak dihukum mati karena ayahnya; setiap orang harus dihukum
mati karena dosanya sendiri”.
“Dosa Turunan”
Ungkapan istilah ini, tidak kita temukan dalam Alkitab.
Istilah ini muncul ketika orang hendak mendalami lanjut
peristiwa kejatuhan manusia dalam dosa sebagaimana dikisahkan
dalam Kejadian 3.
Setelah peristiwa ini, ada banyak pertanyaan yang
manusiasendiri ingin memperoleh jawabannya.
Antara lain :
Setelah Allah murka, menghukum dan mengusir Adam dan Hawa
dari taman Eden karena telah berbuat dosa, apa statusnya
sekarang di hadapan Allah
Setelah keduanya menjalani masa penghukuman seumur hidupnya
(Kej. 3:17), bagaimana status generasi yang lahir kemudian?
Bukankah generasi yang lahir berikutnya adalah generasi baru
yang tidak ikut dalam persepakatan untuk berbuat dosa?.
Ternyata lembaran-lembaran Alkitab terus berkisah tentang
manusia sebagai penyan
dang dosa dari generasi ke generasi.
Bahkan dikatakan tidak ada lagi seorangpun yang benar, tidak
ada yang berbuat baik, seorangpun tidak (Mazmur 14:1-3, Roma
3:10-12).
Sejak awal kejatuhan manusia ke dalam dosa maka dosa telah
menjalar dan menye
lusup masuk dalam hidup manusia turun-temurun. Tidak ada
generasi yang lahir tanpa dosa. Tidak ada seorang insanpun
yang lahir tanpa menyandang dosa.
Dosa telah menyelubungi hidup manusia secara universal.
Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma menjelaskan “dosa turunan”
dengan kalimat-kalimat berikut :
“Sama seperti dosa telah masuk kedalam dunia oleh satu orang
dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah
menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat
dosa.
Oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman.
Oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi
orang berdosa”. (Roma 5 : 12-21)
Yohanes Calvin, salah seorang Pembaharu Gereja, menjelaskan
“dosa turunan” dan menguraikannya panjang lebar dalam bukunya
“INSTITUTIO”.
Antara lain Yohanes Calvin menuliskannya sbb. :
“Maka kita yang dihasilkan dari benih yang cemar, semuanya
lahir ternoda ketularan dosa; bahkan sebelum kita melihat
cahaya, hidup kita sudah ketularan dan najis dimata Tuhan.
Dari akar yang busuk, hanya cabang-cabang busuklah yang keluar,
yang menyebarkan kebusukannya ke semua ranting yang mereka
hasilkan; demikian pula anak-anak telah ketularan didalam
orangtua mereka dan menjadi sebab dari pengotoran turunan
mereka. Artinya, awal kerusakan yang terdapat dalam diri Adam
adalah sedemikian rupa, hingga menjalar bagaikan arus yang
terus-menerus dari orangtua ke anak”. (INSTITUTIO : Pengajaran
Agama Kristen, hal 60. Terbitan PT. BPK Gunung Mulia cetakan
ke 4 – 2003 BPK/2141/1230/03).
Bukan pembayar hutang.
Setiap kelahiran adalah kelahiran dalam dosa sebagaimana
pengakuan Daud : “Sesungguhnya, dalam kesalahan aku
diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku” (Mazmur 51 : 7)
Itulah status yang dimeteraikan dalam hidup manusia sejak
kejatuhannya dalam dosa.
“Karena semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan
kemuliaan Allah (Roma 3 : 23).
Dengan demikian, anak yang dilahirkan bukanlah menjadi
penanggung dosa atau pembayar hutang dosa bapaknya atau ibunya.
“Sebab tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya sendiri …..
Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya”.
(Galatia 6 : 5, 7).
Kesimpulan
1. Istilah “dosa turunan” bukanlah untuk dipahami sebagai dosa
atau perbuatan salah orangtua secara pribadi yang menurun
kepada anak-cucunya.
2. Iman Kristen percaya bahwa Allah adalah kasih. Ia bukanlah
Allah pendendam, yang membalasakan kesalahan bapa kepada
anaknya.
3. Apabila Allah harus menjatuhkan penghukuman maka Ia akan
melaksanakannya berdasarkan pertimbangan-Nya yang adil :
“bahwa orang yang membajak kejahatan dan menabur kesusahan, ia
menuainya juga” (Ayub 4 : 8).
4. “Dosa turunan” hendaknya dipahami sebagai dosa yang
diwariskan sejak awal kejatuhan manusia karena tergoda dan mau
menjadi seperti Allah (Kej. 3 : 5). Sejak manusia pertama
berpaling dari Allah dan meninggalkan Dia maka seluruh ciptaan
Nya, langit, bumi dan segenap isinya, telah dirasuki dosa dan
dirusakkan.
Inilah yang diwariskan dalam hidup manusia turun-temurun.
Penutup
Pembahasan “dosa turunan” akan meninggalkan pertanyaan lanjut
yang membutuhkan jawaban yaitu :
Apabila pewarisan dosa terus berlangsung secara
turun-temurun, berarti manusia tidak punya masa depan lagi.
Apakah manusia dapat diberi kesempatan agar kehi
dupan dosanya direhabilitasi?
Jawaban atas pertanyaan ini telah diberikan juga oleh Alkitab,
bahwa hidup dosa manusia telah direhabilitasi.
“Sebab Kristus telah mati, sekali, untuk segala dosa kita. Ia
yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia
membawa kita kepada Allah.
Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali
dan untuk selama-lamanya dan kehidupanNya adalah kehidupan
bagi Allah.
….. kamu telah mati bagi dosa tetapi kamu hidup bagi Allah
dalam Kristus Yesus”
(I Petrus 3 : 18, Roma 6 : 10, 11).
(Nantikan
Seri Pembinaan selanjutnya!)
|